home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Hidrosefalus

Hidrosefalus
Definisi|Tanda dan gejala|Penyebab|Faktor-faktor Risiko|Komplikasi|Diagnosis dan Pengobatan|Pencegahan

Definisi

Apa itu hidrosefalus?

Sumber: Mom Junction

Hidrosefalus adalah kondisi yang ditandai oleh ukuran kepala bayi yang membesar secara tidak normal.

Mengutip dari American Association of Neurological Surgeons, kondisi ini bisa terjadi akibat adanya penumpukan cairan di dalam rongga ventrikel otak.

Jadi, bisa dikatakan bahwa hidrosefalus adalah penumpukan cairan serebrospinal pada rongga otak (ventrikel) sehingga menyebabkan otak membengkak.

Normalnya, cairan serebrospinal ini akan mengalir melalui otak dan sumsum tulang belakang lalu diserap oleh pembuluh darah.

Sayangnya, tekanan pada cairan serebrospinal yang terlalu banyak ini dapat merusak jaringan otak sehingga menyebabkan berbagai masalah terkait fungsi otak.

Hampir semua bagian tubuh anak akan terkena dampak dari hidrosefalus, mulai dari gangguan tumbuh kembang hingga penurunan kecerdasan anak.

Jika tidak segera ditangani, hal ini dapat menyebabkan kerusakan otak dan gangguan kesehatan lainnya pada penderita, khususnya anak-anak.

Meski lebih sering dialami oleh bayi dan anak, hidrosefalus juga bisa terjadi pada orang dewasa.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Hidrosefalus adalah cacat bawaan lahir umumnya dialami oleh bayi yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor pendukung.

Adanya infeksi pada rahim selama masa kehamilan dapat menjadi penyebab peradangan pada jaringan otak janin.

Selain itu, infeksi sistem saraf pusat serta lesi atau tumor pada otak dan sumsum tulang belakang pada bayi juga bisa membuatnya mengalami meningitis.

Meski kebanyakan dialami oleh bayi, hidrosefalus adalah kondisi yang bisa dialami pada usia berapa pun.

Selain bayi, kondisi ini juga banyak dialami oleh orang dewasa yang berusia di atas 60 tahun.

Namun, jangan khawatir Anda dapat mengurangi risiko bayi terserang penyakit ini dengan mengurangi faktor risiko yang dimilikinya.

Konsultasikan dengan dokter Anda untuk mencari tahu informasi lebih lanjut.

Tanda dan gejala

Apa saja tanda dan gejala hidrosefalus?

Hidrosefalus dapat mengakibatkan kerusakan permanen pada otak dan rongga kepala anak.

Itu sebabnya, penting untuk mengenali tanda dan gejala apa saja yang mungkin terjadi bila anak Anda mengalami kondisi ini agar bisa sesegera mungkin mencari pertolongan medis.

Gejala hidrosefalus pada bayi baru lahir

Anda mungkin sudah tahu bahwa gejala hidrosefalus pada anak yang paling umum adalah pembesaran ukuran kepala dari ukuran normal.

Akan tetapi, gejala kondisi ini pada anak cenderung berbeda-beda, tergantung dari usianya.

Berbagai gejala hidrosefalus pada bayi baru lahir atau anak usia kurang dari satu tahun, yakni:

  • Muncul benjolan lunak tidak normal di bagian atas kepala (fontanel)
  • Perubahan cepat lingkar kepala
  • Ukuran lingkar kepala sangat besar lebih dari yang seharusnya
  • Titik tonjolan lunak (fontanel) di atas kepala yang menonjol dan sangat terlihat
  • Kulit kepala yang tipis dan mengkilap dengan aliran darah vena yang mudah terlihat
  • Ukuran besar kepala tidak normal
  • Pandangan mata ke bawah
  • Mudah rewel
  • Menolak makan
  • Mudah mengantuk
  • Otot melemah
  • Pertumbuhan terhambat
  • Tidak mau makan atau nafsu makan menurun
  • Bayi muntah
  • Mudah mengantuk
  • Kejang tubuh
  • Penurunan kekuatan otot atau tubuh bayi melemah
  • Bayi menangis, rewel, atau mudah marah
  • Pertumbuhan tubuh tidak berjalan dengan baik

Gejala hidrosefalus pada anak-anak

Hidrosefalus juga dapat dialami oleh anak-anak usia 1 sampai 5 tahun alias usia pra sekolah.

Selain ditandai dengan pembesaran ukuran kepala, gejala hidrosefalus pada anak usia 1 sampai 5 tahun yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Sakit kepala
  • Menangis sebentar tapi suaranya meninggi
  • Mata juling
  • Penglihatan kabur atau mata juling
  • Perubahan struktur wajah
  • Pertumbuhan terhambat
  • Mudah mengantuk
  • Susah makan
  • Keseimbangan tubuh tidak stabil
  • Kehilangan koordinasi otot
  • Mudah marah
  • Kemampuan kognitif terganggu
  • Kejang otot
  • Mual dan muntah
  • Sulit berkonsentrasi

Perubahan perilaku dan kognitif pada bayi dan anak

Beberapa perubahan perilaku dan kognitif yang terjadi sebagai gejala hidrosefalus pada bayi dan anak adalah sebagai berikut:

  • Sulit berkonsentrasi
  • Mudah marah dan rewel
  • Perubahan kepribadian
  • Kemampuan di sekolah menurun
  • Mengalami keterlambatan atau masalah dengan kemampuan yang sudah mampu dilakukan sebelumnya, seperti belajar berjalan dan berbicara

Gejala hidrosefalus pada orang dewasa

Selain pada bayi dan anak, gejala hidrosefalus juga bisa dialami oleh orang dewasa.

Berikut gejala hidrosefalus pada orang dewasa:

  • Sering jatuh secara tiba-tiba
  • Sakit kepala hebat
  • Mual
  • Sulit berjalan
  • Penglihatan terganggu
  • Sulit mengingat kejadian
  • Sulit konsentrasi
  • Masalah pada kandung kemih
  • Kejang

Kapan harus periksa ke dokter?

Jika Anda melihat si kecil memiliki tanda-tanda di atas atau pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Kondisi kesehatan tubuh masing-masing orang berbeda.

Selalu konsultasikan ke dokter agar mendapatkan penanganan terbaik terkait kondisi kesehatan Anda dan bayi.

Berdasarkan Mayo Clinic, berikut tanda dan gejala yang menganjurkan Anda untuk segera memeriksakan si kecil ke dokter:

  • Sering berteriak dengan nada tinggi
  • Mengalami masalah dengan mengisap dan menyusu ASI
  • Muntah berulang kali
  • Sulit untuk berbaring dan menggerakkan kepala
  • Sulit bernapas dengan lancar
  • Tubuh kejang-kejang

Munculnya satu atau lebih tanda tersebut sebaiknya tidak dianggap sepele karena berisiko mengarah pada hidrosefalus.

Maka itu, penting untuk mendapatkan diagnosis beserta perawatan yang tepat dan cepat.

Penyebab

Apa penyebab hidrosefalus?

Otak normalnya mengandung cairan bening yang diproduksi dalam rongga ventrikel. Cairan ini disebut dengan cairan serebrospinal.

Cairan serebrospinal seharusnya mengalir dari sumsum tulang belakang ke seluruh otak untuk menunjang berbagai fungsi otak.

Fungsi cairan serebrospinal dalam jumlah yang normal adalah sebagai berikut:

  • Menjaga otak tetap segar.
  • Melindungi sekaligus mencegah cedera pada otak.
  • Menghilangkan sisa produk metabolisme pada otak.
  • Mengalir di sepanjang rongga otak dan tulang belakang guna menjaga tekanan di dalam otak.

Namun ketika jumlah cairan serebrospinal ini berlebihan justru akan mengakibatkan kerusakan permanen jaringan otak yang menyebabkan terganggunya perkembangan fisik dan intelektual anak.

Pembesaran ukuran kepala terjadi karena jumlah produksi cairan serebrospinal berlebih sehingga menekan tengkorak.

Kondisi ini juga terjadi karena cairan serebrospinalnya tidak dapat mengalir dengan baik di dalam otak.

Sebagian besar kasus hidrosefalus pada anak terjadi sejak lahir (cacat lahir bawaan/kelainan kongenital).

Dalam kondisi tertentu, cairan cerebrospinal dalam otak dapat meningkat karena berbagai hal, di antaranya:

  • Sumbatan di otak atau sumsum tulang belakang.
  • Pembuluh darah tidak mampu menyerap cairan serebrospinal.
  • Otak menghasilkan cairan serebrospinal yang terlalu banyak sehingga tidak mampu diserap sepenuhnya oleh pembuluh darah.

Apa saja jenis hidrosefalus?

Berdasarkan kondisi cacat struktural dan jumlah cairan serebrospinal di dalam otak, hidrosefalus dapat dibedakan menjadi beberapa jenis seperti:

1. Acquired hyrocephalus

Hidrosefalus yang satu ini merupakan jenis yang berkembang setelah dilahirkan atau saat dewasa.

Hidrosefalus yang satu ini biasanya disebabkan oleh adanya cedera atau penyakit.

2. Hidrosefalus bawaan (congenital hydrocephalus)

Hidrosefalus bawaan umumnya dialami saat bayi baru lahir.

Jenis hidrosefalus yang satu ini bisa disebabkan oleh adanya kondisi yang sebelumnnya berlangsung selama perkembangan janin atau sebagai akibat dari kelainan genetik.

3. Communicating hydrocephalus

Hidrosefalus jenis ini terjadi saat tidak ada halangan pada aliran cairan serebrospinal yang berlebih di dalam sistem ventrikel.

Penyebab jenis hidrosefalus yang satu ini yakni karena jumlah cairan serebrospinal yang terlalu banyak di luar normal.

4. Non-communication (obstructive) hydrocephalus

Hidrosefalus jenis ini terjadi saat aliran cairan serebrospinal tersumbat di salah satu atau lebih pada ventrikel otak.

Kondisi ini lama kelamaan menyebabkan jalur aliran cairan membesar sehingga menimbulkan tekanan di dalam otak mengalami peningkatan.

5. Hidrosefalus tekanan normal (normal pressure hydrocephalus)

Hidrosefalus tekanan normal merupakan jenis hidrosefalus yang dapat dialami oleh usia berapa saja.

Meski begitu, jenis hidrosefalus yang satu ini lebih sering terjadi pada usia tua.

Ciri yang paling khas dari jenis hidrosefalus tekanan normal yakni adanya pelebaran ventrikel dengan tekanan normal di dalam tulang belakang.

6. Hydrocephalus ex-vacuo

Jenis hidrosefalus ini paling umum dialami oleh orang dewasa yang sudah memiliki penyakit degeneratif.

Penyakit degeneratif ini misalnya Alzheimer dan stroke.

Kondisi tersebut dapat menimbulkan kerusakan pada otak sehingga mengakibatkan jaringan otak menyusut.

Faktor-faktor Risiko

Apa yang meningkatkan risiko terkena kondisi ini?

Sebenarnya, belum ditemukan secara pasti apa yang menjadi penyebab hidrosefalus selain peningkatan kelebihan cairan serebrospinal.

Akan tetapi, beberapa masalah medis maupun gangguan perkembangan bayi dapat berkontribusi sebagai faktor risiko kondisi ini.

Faktor risiko hidrosefalus pada bayi baru lahir

Ada beberapa kondisi yang memperbesar peluang terjadinya hidrosefalus pada bayi baru lahir, seperti:

  • Sistem saraf pusat tidak berkembang dengan normal sehingga menghalangi aliran cairan serebrospinal.
  • Adanya perdarahan di dalam ventrikel otak, yang memicu kemungkinan bayi lahir prematur.
  • Ibu mengalami infeksi yang menyerang rahim selama kehamilannya sehingga timbul peradangan di jaringan otak janin..

Infeksi pada rahim yang menimbulkan peradangan pada jaringan otak janin meliputi infeksi rubella, toksoplasma, gondok, dan cacar air.

Faktor risiko pendukung lainnya

Pada kasus hidrosefalus yang baru terjadi setelah anak tumbuh besar, faktor risikonya termasuk cedera pada kepala yang mengenai otak, atau:

  • Tumbuh tumor di otak atau sumsum tulang belakang
  • Infeksi pada otak atau sumsum tulang belakang
  • Perdarahan di pembuluh darah otak
  • Operasi kepala
  • Cedera kepala yang parah

Jika ada anak memiliki beberapa faktor yang meningkatkan risiko hidrosefalus, rutinlah berkonsultasi ke dokter.

Komplikasi

Apakah ada komplikasi atau efek jangka panjang dari hidrosefalus?

Komplikasi atau efek jangka panjang yand ditimbulkan dari kondisi ini sangat bervariasi dan tergantung dari beberapa faktor.

Faktor penentu tingkat keparahan komplikasi dari hidrosefalus termasuk masalah medis yang mendasarinya, keparahan gejala sejak awal, dan kecepatan waktu diagnosis dan penanganan.

Jika kondisi ini sudah mulai berkembang sejak bayi lahir, ini dapat menimbulkan masalah pada otak dan perkembangan fisik bayi.

Sebaliknya, jika kondisi ini tidak begitu parah dan bisa segera ditangani secepatnya, kemungkinan terjadinya komplikasi akan jauh lebih kecil dan ringan.

Bayi dengan hidrosefalus bawaan bisa mengalami kerusakan otak yang permanen sehingga menimbulkan komplikasi jangka panjang.

Berikut beberapa komplikasi pada bayi dengan hidrosefalus bawaan:

Jika dibiarkan, komplikasi ini bisa menghambat tumbuh kembang bayi.

Diagnosis dan Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis hidrosefalus?

Pemeriksaan terkait hidrosefalus biasanya ditentukan dari kondisi fisik secara umum, neurologis atau saraf, dan tes pencitraan otak.

Pemeriksaan sistem saraf atau neurologis ditentukan berdasarkan usia seseorang.

Dokter biasanya akan meminta si kecil untuk melakukan tes sederhana guna menilai kondisi otot, gerakan, serta fungsi indera tubuh.

Sementara pemeriksaan pencitraan otak yakni sebagai berikut:

USG

Ultrasonografi atau USG adalah pemeriksaan dengan melibatkan gelombang suara berfrekuensi tinggi. USG untuk memeriksa hidrosefalus pada bayi dapat dilakukan sejak bayi masih berada di dalam kandungan.

Magnetic resonance imaging (MRI)

MRI merupakan pemeriksaan yang menggunakan gelombang radio dan medan magnet. Tes ini bertujuan guna menghasilkan gambar mengenai kondisi otak yang lebih detail.

MRI juga dapat digunakan untuk mencari tahu penyebab hidrosefalus atau kondisi medis lainnya yang turut andil terhadap gejala.

CT scan

Computerized tomography (CT) scan adalah pemeriksaan dengan bantuan sinar-X untuk memberikan gambaran mengenai kondisi otak.

Namun, CT scan untuk mendiagnosis hidrosefalus biasanya hanya digunakan dalam kondisi darurat.

Apa saja pilihan pengobatan untuk hidrosefalus?

Memahami gejala kondisi ini pada anak itu penting dilakukan sedini mungkin. Semakin cepat Anda menemukan gejalanya, maka semakin cepat pula anak mendapatkan penanganan yang tepat dari dokter.

Ada dua perawatan yang biasanya dipakai sebagai penanganan untuk kasus hidrosefalus pada anak, yakni:

1. Sistem shunt

Sistem shunt adalah prosedur bedah dengan menempatkan kateter (tabung dengan katup) di dalam otak.

Kateter tersebut bertujuan untuk mengeluarkan cairan serebrospinal yang berlebihan dari otak ke bagian tubuh lain seperti perut, rongga dada, dan ruang jantung.

Bagian tubuh lain yang dijadikan tempat mengalirkan kelebihan cairan serebrospinal otak biasanya pada rongga peritoneum (area sekitar organ perut) dan ruang di jantung.

Ini karena kedua bagian tubuh tersebut dinilai mudah dan cepat dalam menyerap kelebihan cairan serebrospinal dari otak.

Menariknya, di dalam alat shunt terdapat katup khusus yang bertugas untuk mengontrol aliran pergerakan cairan serebrospinal.

Dengan begitu, kelebihan cairan serebrospinal yang mengalir dari otak ke bagian tubuh lain tidak akan terlalu cepat.

Prosedur penanganan hidrosefalus yang satu ini umumnya perlu dilakukan seumur hidup.

Dengan kata lain, anak dengan prosedur shunt ini harus rutin melakukan pemantauan guna memeriksa kondisi kateter dari otak ke bagian tubuh lainnya.

Prosedur pengobatan hidrosefalus ini akan membantu menjaga cairan serebrospinal pada otak bayi tetap dalam batas normalnya.

2. Ventrikulostomi

Ventrikulostomi adalah prosedur bedah dengan melibatkan penggunakan kamera video kecil untuk melihat keadaan dalam otak.

Dokter nantinya akan membuat lubang di bagian bawah salah satu ventrikel otak atau di antara ventrikal.

Hal ini bertujuan untuk memudahkan cairan serebrospinal mengalir dari dalam otak.

Setelah kelebihan cairan serebrospinal berhasil dikeluarkan dengan membuat lubang, selanjutnya endoskop atau kamera kecil diambil kembali.

Selanjutnya, dokter menutup luka atau lubang pada otak dan kepala dengan membuat jahitan.

Cairan serebrospinal nantinya akan mengalir ke luar melalui lubang guna mengurangi penyumbatan.

Pencegahan

Adakah cara yang bisa dilakukan untuk mencegah hidrosefalus?

Hidrosefalus pada anak sebenarnya bukanlah kondisi yang bisa dicegah. Namun, Anda bisa sedikit bernapas lega karena setidaknya masih ada cara untuk menurunkan risiko penyakit ini.

Bila Anda sedang atau berencana untuk hamil, pastikan selalu mendapatkan perawatan yang tepat selama masa kehamilan, misalnya dengan rutin periksa kehamilan.

Cara ini dapat membantu Anda untuk mendeteksi adanya kelainan pada janin.

Bukan itu saja, rutin periksa kehamilan juga membantu mengurangi kemungkinan bayi lahir prematur yang bisa menjadi faktor risiko atau komplikasi kondisi ini.

Periksakan kandungan Anda secara rutin dan pastikan Anda menerima imunisasi saat hamil.

Hal ini bermanfaat untuk mengatasi berbagai infeksi yang mungkin terjadi saat hamil dan mencegah risiko bayi lahir prematur, salah satu faktor risiko hidrosefalus.

Sementara itu pada anak-anak, lindungi kepala si kecil dari berbagai benturan yang dapat terjadi.

Ambil contohnya memakaikan helm saat anak bersepeda atau memasangkan car seat untuk mencegah benturan saat di mobil.

Langkah-langkah sederhana seperti ini diharapkan dapat memberikan dampak yang besar untuk menurunkan risiko kondisi ini pada anak.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Hydrocephalus. Retrieved 8 October 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hydrocephalus/symptoms-causes/syc-20373604 

Hydrocephalus. Retrieved 8 October 2020, from https://www.aans.org/en/Patients/Neurosurgical-Conditions-and-Treatments/Hydrocephalus

Symptoms Hydrocephalus. Retrieved 8 October 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/hydrocephalus/symptoms/

INA Shunt Solusi Bagi Penderita Hidrosefalus. Retrieved 8 October 2020, from https://ugm.ac.id/id/berita/12249-ina.shunt.solusi.bagi.penderita.hidrosefalus

Hydrocephalus. Retrieved 8 October 2020, from https://www.aans.org/en/Patients/Neurosurgical-Conditions-and-Treatments/Hydrocephalus

Treatment Hydrocephalus. Retrieved 8 October 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/hydrocephalus/treatment/

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Tanggal diperbarui 03/01/2021
x