Risiko Hamil di Atas Usia 35 Tahun dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 September 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Beberapa wanita mengalami kehamilan di saat usianya sudah mencapai usia 35 tahun atau lebih, entah itu kehamilan anak pertama atau kedua, dan seterusnya. Semua wanita yang hamil di usia yang sudah mencapai 35 tahun, terutama bagi mereka yang hamil anak pertama, pastinya sangat mendambakan anaknya lahir dan tumbuh dengan sehat.

Namun, tahukah Anda kehamilan di atas usia 35 tahun memiliki berbagai risiko?

Risiko kehamilan di atas usia 35 tahun

Kehamilan pada saat usia sudah di atas 35 tahun mungkin sulit tercapai. Ovum atau sel telur yang dimiliki wanita di atas usia 35 tahun mungkin sudah tidak sesubur ketika ia masih berusia muda. Selain itu, wanita mempunyai jumlah ovum yang terbatas, sehingga jumlah ovum wanita semakin lama semakin menurun mengikuti usia. Jika Anda sudah berusia di atas 35 tahun dan sedang hamil, itu merupakan suatu karunia yang harus dijaga mengingat kehamilan di atas usia 35 tahun memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan usia di bawahnya.

Beberapa risiko yang dapat dialami wanita hamil yang usianya lebih dari 35 tahun adalah:

1. Penyakit diabetes gestasional

Wanita hamil di atas usia 35 tahun memiliki risiko terkena penyakit diabetes gestasional yang lebih tinggi karena pengaruh hormon kehamilan. Oleh karena itu, Anda harus mengontrol kadar gula dalam darah Anda melalui asupan makanan yang sehat. Jangan lupa untuk tetap melakukan olahraga untuk mencegah penyakit tersebut memburuk. Beberapa kondisi mungkin mengharuskan Anda untuk mengonsumsi obat. Diabetes gestasional yang tidak diobati dapat menyebabkan bayi tumbuh lebih besar dan akan mempersulit proses kelahiran.

2. Penyakit hipertensi gestasional

Wanita hamil di atas usia 35 tahun juga rentan menderita hipertensi gestasional (tekanan darah tinggi selama kehamilan). Hipertensi gestasional dapat mengurangi suplai darah ke plasenta. Periksakan selalu kehamilan Anda ke dokter secara rutin. Dokter akan selalu memantau tekanan darah Anda serta pertumbuhan dan perkembangan janin.

Tekanan darah yang selalu dikontrol, makan makanan yang sehat, dan olahraga teratur dapat mencegah tekanan darah tinggi semakin memburuk. Jika kondisinya semakin buruk, mungkin Anda perlu mengonsumsi obat dengan resep dokter atau mungkin harus melahirkan bayi Anda sebelum waktunya untuk mencegah terjadinya komplikasi.

3. Kelahiran prematur dan bayi BBLR

Kehamilan di usia 35 tahun atau lebih berisiko untuk melahirkan bayi prematur. Hal ini dapat disebabkan oleh kondisi medis, bayi kembar, atau masalah lainnya. Wanita di atas 35 tahun mempunyai peluang yang lebih tinggi untuk hamil kembar atau lebih, terutama jika kehamilan terjadi dengan bantuan terapi kesuburan. Bayi lahir prematur (sebelum usia kandungan 37 minggu) biasanya mengalami BBLR (Berat Badan Bayi Rendah). Hal ini dikarenakan pertumbuhan dan perkembangan bayi belum sempurna saat dilahirkan. Bayi yang lahir terlalu kecil dapat meningkatkan risiko bayi memiliki masalah kesehatan pada usia selanjutnya.

4. Bayi lahir caesar

Kehamilan pada usia lebih tua atau di atas 35 tahun meningkatkan risiko ibu menderita komplikasi penyakit saat hamil sehingga bayi harus dilahirkan dengan operasi caesar. Salah satu keadaan yang menyebabkan bayi harus dilahirkan lewat operasi caesar adalah plasenta previa, yaitu keadaan plasenta yang menghalangi leher rahim (serviks).

5. Ketidaknormalan kromosom

Bayi yang lahir dari wanita yang hamil di usia 35 tahun atau lebih dapat meningkatkan risiko terkena penyakit yang disebabkan oleh kelainan kromosom, seperti Down syndrome. Semakin tua usia ibu saat hamil, semakin besar kemungkinan bayi terkena Down syndrome.

6. Keguguran atau kematian saat lahir

Kedua hal ini dapat disebabkan oleh kondisi medis ibu atau kelainan kromosom pada bayi. Risiko ini meningkat seiring dengan bertambahnya usia ibu di atas usia 35 tahun. Untuk mencegah hal ini terjadi sebaiknya periksakan kehamilan Anda secara rutin, terutama selama minggu-minggu terakhir kehamilan.

Bagaimana meminimalkan risiko yang mungkin terjadi pada kehamilan di atas usia 35 tahun?

Beberapa risiko tersebut dapat diminimalkan oleh ibu hamil dengan selalu menjaga kesehatan ibu dan janin saat kehamilan. Anda harus selalu memeriksakan kehamilan agar mengetahui kondisi kehamilan Anda. Di bawah ini merupakan cara untuk menjaga kehamilan Anda.

1. Periksakan kehamilan secara rutin

Sebaiknya periksakan kehamilan Anda ke dokter secara rutin, minimal 3 kali. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kondisi Anda dan janin serta untuk mencegah atau mengurangi risiko penyakit saat hamil. Lebih baik lagi jika Anda sudah mulai memeriksakan kondisi tubuh Anda sebelum hamil.

2. Tanyakan ke dokter Anda mengenai perawatan selama kehamilan

Anda harus mengetahui apa saja yang harus Anda lakukan dan perawatan apa yang harus Anda jalani untuk mencegah penyakit saat hamil, serta untuk mencegah bayi lahir prematur dan bayi BBLR. Tes darah untuk mengetahui risiko kelainan kromosom sebelum bayi lahir mungkin diperlukan.

3. Jaga asupan makan

Ibu hamil memerlukan banyak zat gizi yang diperlukan untuk dirinya dan janin. Memakan banyak makanan yang bervariasi membantu Anda untuk memenuhi kebutuhan zat gizi yang diperlukan tubuh. Zat gizi penting, seperti asam folat dan kalsium Sebaiknya makan lebih sering dalam porsi kecil. Anda dapat mendapatkan karbohidrat dari nasi, jagung, kentang, dan roti; sumber lemak baik dari ikan, alpukat, sayuran hijau, dan minyak nabati; sumber protein dari daging, ayam, ikan, tahu, tempe; serta sumber vitamin dan mineral dari sayuran dan buah-buahan.

4. Kontrol kenaikan berat badan

Konsultasikan dengan dokter Anda berapa kenaikan berat badan yang harus Anda capai. Semakin banyak berat badan yang Anda miliki sebelum hamil, semakin kecil kenaikan berat badan yang harus Anda capai ketika hamil. Dan sebaliknya, semakin sedikit berat badan yang Anda miliki sebelum hamil, semakin banyak berat badan yang harus Anda tambah selama kehamilan. Kenaikan berat badan yang cukup selama kehamilan dapat mengurangi risiko ibu hamil terkena penyakit diabetes gestasional dan hipertensi gestasional.

5. Olahraga teratur

Olahraga teratur dapat membantu Anda mengontrol berat badan, membuat tubuh lebih sehat, dan juga untuk mengurangi stres. Selain itu, juga dapat membantu Anda menjalani proses persalinan dengan mudah. Anda dapat mengikuti kelas senam ibu hamil atau melakukannya sendiri di rumah dengan gerakan-gerakan yang tidak memberatkan Anda dan janin. Konsultasikan dengan dokter Anda sebelum Anda melakukan olahraga.

6. Hindari stres

Wanita hamil di atas usia 35 tahun biasanya memiliki beberapa kecemasan tentang kesehatan bayi dalam kandungannya, bahkan takut mengalami keguguran. sebaiknya bicarakan apa yang Anda rasakan dengan dokter Anda dan orang sekitar Anda, seperti suami, saudara, atau teman. Hal ini bisa mengurangi beban pikiran Anda.

7. Jauhi asap rokok dan minuman beralkohol

Asap rokok dapat meningkatkan risiko penyakit pada ibu hamil dan bayi BBLR, sedangkan minum minuman beralkohol dapat meningkatkan risiko bayi mengalami keterlambatan fisik dan mental.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenali Gejala dan Bahaya Tekanan Darah Tinggi Setelah Melahirkan

Hipertensi atau tekanan darah tinggi setelah melahirkan dikenal dengan istilah postpartum preeklampsia. Apa saja gejala dan bahayanya? Cari tahu di sini.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hipertensi, Kesehatan Jantung 13 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Muncul Garis Hitam di Perut Saat Hamil, Apa Sih Artinya?

Saat hamil, Anda mungkin akan menemukan garis hitam di perut pada usia kehamilan yang mulai besar. Tapi, tidak semua ibu hamil punya garis ini. Mengapa?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Awas! Ini Bahayanya Jika Ibu Kekurangan Yodium Saat Hamil

Tidak sedikit wanita hamil yang belum mengetahui pentingnya yodium. Padahal, kekurangan yodium saat hamil memiliki dampak yang buruk bagi janin.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 7 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Kenapa Perlu Melakukan Pemeriksaan Kesehatan Pranikah (Premarital Check Up)?

Premarital check up adalah rangkaian pemeriksaan kesehatan yang penting dilakukan oleh pasangan yang akan menikah. Apa saja manfaatnya?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Penyakit Kelainan Darah, Thalasemia 5 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

ibu hamil makan daging kambing

Bolehkah Ibu Hamil Makan Daging Kambing?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
pekerjaan rumah tangga saat hamil

Pekerjaan Rumah Tangga Ini Dilarang Bagi Ibu Hamil

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Apa yang Terjadi Pada Bayi Jika Ibu Stres Saat Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
Konten Bersponsor
potret pasangan diskusi tentang persalinan normal dan caesar

Pahami Faktor Penentu Persalinan Caesar sebagai Persiapan Sambut si Kecil

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit