backup og meta
Kategori
Tanya Dokter
Simpan
Cek Kondisi
Konten

Kapan Hasil USG Bisa Mendeteksi Cacat pada Bayi?

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 20/11/2023

Kapan Hasil USG Bisa Mendeteksi Cacat pada Bayi?

Pemeriksaan kehamilan melalui USG merupakan salah satu cara untuk mengetahui kondisi janin. Dari hasil USG, dokter juga bisa mendeteksi risiko bayi lahir cacat sedini mungkin. Dengan begitu, ibu hamil dan dokter bisa menentukan tindakan terbaik.

Kapan hasil USG bisa menunjukkan cacat pada bayi?

Pemeriksaan USG (ultrasonografi) sudah bisa mendeteksi kelainan pada janin sejak usia kehamilan ke-18 minggu sampai 20 minggu.

Pada beberapa kondisi, hasil USG bahkan bisa menunjukkan cacat pada bayi lebih dini.

Meski begitu, ibu hamil sudah bisa mulai melakukan pemeriksaan kehamilan dengan USG sejak janin berusia tujuh minggu.

Anda setidaknya harus melakukan USG sebanyak 2–3 kali selama kehamilan. Namun, jika ada risiko bayi cacat, Anda mungkin perlu melakukannya lebih sering.

Untuk memastikan kecacatan janin, tidak jarang dokter juga menyarankan pasiennya mengikuti pemeriksaan tambahan selain USG, seperti non-invasive prenatal test (NIPT), amniosentesis, dan masih banyak lagi.

Jenis dan ciri cacat bayi dari hasil USG

usg 3d dan 4d

Perlu diingat bahwa tidak semua kelainan bawaan bayi bisa terdeteksi sejak di dalam rahim. Pasalnya, ada juga kecacatan yang baru terlihat saat bayi sudah lahir.

Namun, bukan berarti Anda tidak perlu melakukan pemeriksaan USG. Pemeriksaan yang mengandalkan gelombang suara ini tetap bermanfaat untuk mendeteksi berbagai kelainan janin seperti berikut sedini mungkin.

1. Spina bifida

USG merupakan salah satu metode terbaik untuk mendiagnosis spina bifida. Spina bifida adalah kelainan pembentukan tabung saraf yang menyebabkan celah pada ruas-ruas tulang belakang.

Jenis cacat pada bayi ini mulai bisa terdeteksi oleh hasil USG sejak memasuki trimester kedua.

Melansir dari laman Radiopedia, saat diperiksa melalui USG, bayi dengan spina bifida akan memiliki tulang belakang yang lebih lebar.

2. Hidrosefalus

Saat diperiksa menggunakan USG, janin dengan hidrosefalus biasanya menunjukkan kantong cairan otak yang membesar.

Kondisi tersebut akan semakin terlihat jelas saat janin berusia 24 minggu. Untuk memastikan hidrosefalus yang terdeteksi USG, dokter biasanya menyarankan pemeriksaan dengan MRI.

Karena disebabkan oleh penumpukan cairan pada otak, bayi hidrosefalus memang dicirikan terlahir dengan ukuran kepala yang besar.

Namun, bukan sekedar ukuran, penumpukan cairan tersebut juga bisa menyebabkan tekanan pada berbagai bagian otak. Akibatnya, bayi bisa mengalami gangguan fungsi otak.

3. Anensefali

Bayi dengan anensefali memiliki bentuk kepala yang berbeda karena sebagian otak dan tengkoraknya tidak terbentuk sempurna.

Berikut ini adalah beberapa gejala bayi cacat anensefali yang bisa Anda deteksi melalui hasil USG.

  • Cairan ketuban yang lebih banyak dari seharusnya (polihidramnion).
  • Mata janin terlihat lebih maju atau keluar.
  • Bentuk otak tidak sempurna.
  • Hasil pengukuran panjang janin (crown rump length) lebih pendek.

Kecacatan ini terjadi karena tabung saraf tidak menutup sempurna pada minggu pertama perkembangan janin.

Tentang anensefali

Sebagian besar bayi yang terlahir dengan anensefali meninggal sesaat setelah dilahirkan. Pemenuhan asupan gizi, khususnya asam folat, merupakan langkah penting untuk mencegah anensefali.

4. Kaki bengkok

Club foot atau kaki bengkok merupakan kondisi saat pergelangan kaki berputar ke dalam. Kondisi ini bisa terjadi hanya pada salah satu kaki atau keduanya.

Bayi dengan kaki bengkok akan terlihat cukup jelas melalui USG. Namun, terkadang posisi kaki seperti itu bisa terjadi karena janin tidak memiliki cukup ruang untuk bergerak.

Dengan begitu, Anda perlu memastikan cacat kaki bengkok pada bayi melalui hasil USG selanjutnya.

Perawatan untuk kaki bengkok bisa dilakukan setelah bayi dilahirkan. Dengan perawatan yang tepat dan sedini mungkin, bayi dengan kaki bengkok bisa memiliki bentuk kaki yang normal.

5. Bibir sumbing

Cacat janin selanjutnya yang bisa dilihat melalui hasil USG kehamilan adalah bibir sumbing. Kondisi ini bahkan bisa dideteksi lebih awal, yakni saat usia kehamilan memasuki 12 minggu.

Saat dilihat dengan USG, janin dengan bibir sumbing akan menunjukkan celah seperti sayatan pada bagian bibir. Selain itu, pada beberapa kasus yang cukup parah, mungkin terjadi polihidramnion.

Operasi bedah merupakan salah satu metode perawatan untuk bibir sumbing. Tindakan ini disarankan untuk dilakukan saat usia bayi masih di bawah satu tahun.

6. Down syndrome

Untuk bayi dengan cacat Down syndrome, hasil USG hanya berperan sebagai skrining, bukan diagnostik.

Maka, jika janin diduga memiliki Down syndrome, dokter biasanya menyarankan pemeriksaan tambahan untuk menegakkan diagnosis, baik melalui NIPT, amniosentesis, atau chorionic villus sampling (CVS).

Melalui pemeriksaan skrining dengan USG, berikut adalah beberapa gejala Down syndrome yang bisa terlihat.

  • Tulang hidung lebih kecil atau bahkan tidak tampak sama sekali.
  • Kelainan pada perkembangan jantung, saraf pusat, saluran pencernaan, hingga saluran kemih.
  • Tulang paha yang lebih pendek. 
  • Penumpukan air kencing di dalam ginjal janin (pyelectasis).

7. Gastroschisis

Gastroschisis merupakan cacat lahir yang ditandai dengan adanya lubang pada dinding perut bayi.

Cacat bayi ini tampak pada hasil USG dalam bentuk keberadaan free floating bowel atau usus yang mengapung karena dinding perut tidak terbentuk sempurna.

Selain usus, organ lain seperti lambung dan hati juga bisa keluar dari perut janin. Ketika bersentuhan dengan ketuban, organ tersebut bisa mengalami kerusakan.

Apa yang harus dilakukan jika hasil USG menunjukkan risiko bayi cacat?

Bila ditemukan risiko kecacatan janin melalui USG, penting untuk segera membicarakan penanganan terbaik dengan dokter.

Dengan deteksi sedini mungkin lewat USG, ada cacat lahir yang bisa diatasi sejak janin masih berada di dalam rahim. Salah satu contohnya adalah spina bifida.

Penanganan spina bifida dapat dilakukan dengan cara pembedahan rahim untuk menutup lubang pada punggung janin.

Namun, penanganan ini tidak bisa menyembuhkan spina bifida, melainkan mengurangi risiko keparahannya.

Sebagian besar kasus kelainan janin memang tidak bisa disembuhkan secara total.

Perawatan untuk kasus seperti hidrosefalus, spina bifida, atau Down syndrome biasanya diberikan dengan tujuan meningkatkan harapan hidup, bukan menyembuhkan.

Pada beberapa kondisi yang menyebabkan tingkat kecacatan semakin parah sehingga janin sulit bertahan meski dilahirkan, dokter mungkin menawarkan opsi menggugurkan.

Di Indonesia, tindakan tersebut hanya diizinkan jika terjadi kondisi darurat medis yang mengancam nyawa ibu atau janin.

Ada pula kelainan yang bisa disembuhkan, seperti gastroschisis, bibir sumbing, dan kaki bengkok. Meski begitu, perawatan memang baru bisa dilakukan saat bayi sudah dilahirkan.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 20/11/2023

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan