7 Efek Samping Makanan Fermentasi yang Perlu Diwaspadai

    7 Efek Samping Makanan Fermentasi yang Perlu Diwaspadai

    Banyak makanan sehari-hari yang merupakan hasil dari proses fermentasi, seperti tempe, tape, oncom, dan yoghurt. Makanan fermentasi kaya akan probiotik yang baik untuk kesehatan. Namun, ada efek samping yang perlu Anda waspadai dari konsumsi makanan fermentasi.

    Efek samping makanan fermentasi

    Berikut beberapa risiko yang bisa muncul dari makanan fermentasi, terutama jika Anda mengonsumsinya terlalu banyak.

    1. Kembung

    kembung merupakan efek samping makanan fermentasi yang umum dijumpai

    Efek samping makanan fermentasi yang paling sering dijumpai adalah menumpuknya gas di perut hingga Anda merasa kembung.

    Makanan fermentasi bisa menambah jumlah bakteri baik di dalam perut.

    Untuk menjaga keseimbangan mikrobiota dalam saluran pencernaan, bakteri baik akan membunuh bakteri jahat, sambil melepaskan gas.

    Artinya, jumlah bakteri baik yang terlalu banyak bisa menyebabkan penumpukan gas di perut. Jumlah gas di perut bisa makin cepat meningkat bila Anda mengonsumsi makanan fermentasi tinggi gula, seperti kombucha.

    Di dalam usus besar, gula akan berinteraksi dengan mikrobiota dan menghasilkan gas karbondioksida dan menyebabkan kembung.

    2. Sakit kepala

    Risiko makanan fermentasi bisa menyebabkan sakit kepala dan migrain jika dikonsumsi bersamaan dengan makanan tertentu.

    Probiotik bisa memecah kandungan asam amino pada makanan dan menghasilkan senyawa bernama histamin dan tiramin.

    Histamin dan tiramin bisa mengganggu sistem saraf pusat di otak.

    Selain itu, kedua senyawa ini bisa mempersempit pembuluh darah sehingga tekanan darah yang mengalir ke kepala pun meningkat.

    3. Intoleransi makanan

    Tubuh umumnya bisa mencerna senyawa histamin pada makanan yang melalui proses fermentasi.

    Namun, efek samping makanan fermentasi bila dikonsumsi terlalu banyak bisa meningkatkan kadar histamin di tubuh. Hal ini membuat histamin sulit dicerna dan menyebabkan intoleransi.

    Histamin merupakan salah satu senyawa pemicu reaksi alergi. Nah, gejala intoleransi histamin yang muncul pun menyerupai reaksi alergi, seperti:

    • sakit kepala,
    • diare,
    • sesak napas,
    • kulit iritasi dan kering,
    • sakit perut,
    • ruam dan gatal,
    • hidung tersumbat.
    • cemas, dan
    • hipertensi.

    4. Keracunan makanan

    Makanan fermentasi memang kaya probiotik, tetapi pengolahannya yang tidak higienis menyebabkan kontaminasi mikroba berbahaya.

    Tempe yang Anda makan bisa saja terkontaminasi jamur berbahaya, seperti Fusarium spp. dan Aspergillus flavus.

    Di dalam tubuh, kedua jamur ini bisa menghasilkan racun aflatoksin hingga memicu infeksi bernama aflatoksin. Gejala yang timbul, di antaranya:

    • kulit gatal,
    • sakit perut,
    • mual dan muntah,
    • sakit kuning, dan
    • perdarahan.

    Selain itu, tempe rentan terkontaminasi bakteri Salmonella yang menyebabkan keracunan makanan salmonellosis dengan gejala:

    • diare,
    • sakit perut,
    • mual dan muntah,
    • menggigil,
    • sakit kepala,
    • BAB berdarah, dan
    • demam.

    5. Infeksi dari probiotik

    Efek samping makanan fermentasi bisa memicu infeksi berbahaya probiotik pada beberapa orang dengan gangguan sistem imun.

    Studi terbitan BMJ Case Report (2017) menemukan bahwa ada seseorang pasien diabetes tipe 2 memiliki nanah di liver akibat mengonsumsi probiotik Lactobacillus paracasei.

    Diabetes membuat kekebalan tubuh seseorang melemah sehingga lebih rentan terkena infeksi, bahkan dari bakteri baik sekalipun.

    Makanan tinggi probiotik juga memungkinkan memicu infeksi serius, seperti pneumonia, sepsis, dan endokarditis.

    6. Resistensi antibiotik

    Probiotik memang menyehatkan saluran pencernaan. Namun, efek samping makanan fermentasi mengganggu fungsi obat antibiotik yang sedang dikonsumsi.

    Bakteri baik ternyata memiliki gen yang sama dengan resistensi obat antibiotik.

    Kondisi resistensi antibiotik muncul akibat bakteri penyebab penyakit justru berkembang lebih kuat. Akibatnya, obat antibiotik tak lagi mampu membunuh bakteri tersebut.

    Gen resistensi antibiotik yang paling sering muncul dari makanan fermentasi adalah resistensi eritromisin dan tetrasiklin.

    Beberapa strain Lactobacillus dari fermentasi asam laktat pada kefir bisa menyebabkan resistensi terhadap banyak jenis antibiotik, seperti ampisilin, penisilin, dan tetrasiklin.

    7. Meningkatkan risiko kanker

    Efek samping makanan fermentasi ini biasanya ditemukan pada acar yang difermentasi selama beberapa minggu hingga bulan.

    Asinan sayur yang difermentasi akan menghasilkan senyawa bernama n-nitroso. Selain itu, jamur yang digunakan untuk proses fermentasi bisa menghasilkan racun atau mikotoksin.

    N-nitroso dan mikotoksin merupakan senyawa pemicu kanker atau karsinogenik. Terlebih, acar yang diasinkan juga tinggi garam. Ini berisiko membuat pelindung lambung mudah terkikis.

    Kedua kondisi tersebut bisa meningkatkan risiko kanker lambung.

    Tempe mentah atau tempe yang diproduksi tak higienis juga mengandung racun berbahaya aflatoksin B1. Racun ini bisa mengubah gen di liver sehingga timbul mutasi dan memicu kanker liver.

    Kesimpulan

    • Makanan fermentasi memang sehat, tetapi orang dengan kondisi kesehatan tertentu bisa mengalami efek samping dari konsumsinya.
    • Efek samping berkaitan dengan proses produksi yang tidak higienis, terlalu tinggi garam atau gula, dan konsumsi dalam jumlah besar dan sering.
    • Agar lebih aman, pastikan Anda mengonsumsi secukupnya.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Andreas Wilson Setiawan

    General Practitioner · None


    Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari · Tanggal diperbarui 2 hari lalu

    Iklan
    Iklan
    Iklan
    Iklan