Mengenal Berbagai Jenis Lemak Baik dan Lemak Jahat

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Mungkin Anda mengetahui jenis-jenis lemak dengan nama jenis lemak baik dan lemak jahat. Namun, apakah Anda mengetahui lemak yang bagaimana yang disebut sebagai si baik dan si jahat? Umumnya, kita mengidentikkan lemak dengan makanan yang berminyak dan digoreng. Kita juga mengenal lemak pada daging dan masih banyak lagi makanan lainnya yang mengandung berbagai jenis lemak. Lemak juga dibuat oleh tubuh dari kelebihan kalori yang ada.

Jenis lemak baik

Lemak baik pada umumnya terdapat dalam jenis lemak tidak jenuh. Jenis lemak tidak jenuh ini dapat ditemukan dalam bentuk cair di temperatur ruang, seperti minyak zaitun, minyak kacang, dan minyak jagung. Asam lemak tidak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol baik dalam darah, menurunkan peradangan,dan  menstabilkan ritme jantung.

Jenis-jenis lemak baik antara lain:

1. Asam lemak tak jenuh tunggal

Jenis lemak ini ditemukan pada berbagai makanan dan minyak, seperti alpukat, minyak zaitun, minyak kanola, dan kacang-kacangan, seperti kacang almond dan hazelnut. Asam lemak ini membantu mempertahankan kadar kolesterol HDL dan menurunkan kadar kolesterol LDL. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan tinggi asam lemak tidak jenuh tunggal dapat meningkatkan kadar kolesterol darah yang dapat menurunkan risiko penyakit jantung. Penelitian juga menunjukkan bahwa asam lemak ini bermanfaat untuk mengontrol kadar insulin dan kadar gula darah yang akan menurunkan risiko penyakit diabetes melitus tipe 2.

2. Asam lemak tidak jenuh ganda

Jenis lemak ini banyak ditemukan di makanan yang ditanam, seperti buah-buahan dan sayuran, serta juga dapat ditemukan dalam minyak sayur. Asam lemak ini membantu menurunkan kadar kolesterol LDL. Penelitian juga menunjukkan bahwa konsumsi makanan tinggi asam lemak tidak jenuh ganda dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah sehingga dapat menurunkan risiko penyakit jantung dan diabetes melitus tipe 2.

Terdapat dua jenis asam lemak tidak jenuh ganda, yaitu asam lemak omega-3 dan asam lemak omega-6. Omega-3 dan omega-6 tidak dapat diproduksi oleh tubuh sehingga harus diperoleh dari makanan. Asam lemak omega-3 dapat menurunkan risiko penyakit jantung koroner. Omega-3 dapat ditemukan dalam berbagai jenis ikan, di antaranya pada ikan salmon, tuna, makerel, sarden, dan ikan hering. Sumber omega-3 lainnya, yaitu minyak kanola, minyak kedelai, dan kacang-kacangan. Sedangkan, asam lemak omega-6 dapat ditemukan di beberapa kacang-kacangan dan minyak sayur, seperti minyak jagung.

Jenis lemak jahat

Lemak jahat dapat diperoleh tubuh dari jenis lemak jenuh dan lemak trans. Lemak yang mempunyai kandungan lemak jenuh yang tinggi atau mengandung lemak trans terdapat dalam bentuk padat pada temperatur ruangan. Oleh sebab itu, mereka biasanya disebut dengan lemak padat. Sumber lemak ini terdapat pada lemak daging, mentega, dan margarin.

Jenis lemak jahat yang harus kita kurangi konsumsinya adalah:

1. Lemak jenuh

Lemak jenuh terdapat pada makanan, seperti daging merah, ayam, produk susu, seperti keju dan es krim, santan, mentega, dan margarin. Lemak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL. Jenis kolesterol inilah yang meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes melitus tipe 2.

2. Lemak trans

Jenis lemak ini biasanya terdapat dalam jumlah sedikit pada makanan, seperti pada daging dan produk susu. Sebagian besar lemak trans dapat ditemukan dalam makanan yang digoreng. Makanan yang melalui proses penggorengan mengandung lemak trans karena minyak sayur yang dipakai untuk menggoreng mengalami proses hidrogenasi parsial yang menghasilkan lemak trans pada makanan tersebut. Hidrogenasi parsial lemak trans dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL serta menurunkan kadar kolesterol HDL. Oleh karena itu, terlalu banyak mengonsumsi makanan yang digoreng dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Lemak trans dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Asupan lemak trans direkomendasikan tidak lebih dari 2% energi yang didapat dari makanan.

Jika Anda ingin menurunkan risiko penyakit jantung, sebaiknya Anda mengurangi asupan lemak dan mengganti asupan lemak jenuh menjadi asupan lemak tidak jenuh. Ini bertujuan untuk menurunkan kadar kolesterol jahat dalam darah.

Kenapa makanan berlemak meningkatkan kolesterol?

Terdapat dua jenis kolesterol dalam tubuh, yaitu low density lipoprotein (LDL) atau biasa disebut dengan kolesterol jahat dan high density lipoprotein (HDL) atau biasa disebut dengan kolesterol baik. Terlalu banyak kolesterol LDL dalam darah dapat menyebabkan penumpukan lemak di pembuluh darah arteri. Hal ini dapat menyebabkan terhambatnya aliran darah ke jantung dan otak sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Berlawanan dengan kolesterol LDL, kolesterol HDL membawa dampak positif bagi tubuh. Kolesterol ini akan mengambil kelebihan kolesterol di bagian tubuh dan menyalurkannya ke hati untuk dibuang.

Kadar kolesterol darah sangat dipengaruhi oleh lemak yang Anda makan. Kolesterol sebagian besar diproduksi di hati dari berbagai jenis lemak yang dimakan oleh Anda. Sehingga, jika Anda terlalu banyak makan makanan yang mengandung lemak trans, maka kadar kolesterol LDL Anda akan meningkat. Jenis lemak yang kita makan mempengaruhi jumlah total kolesterol HDL dan LDL dalam darah.

Sebenarnya, kolesterol diperlukan oleh tubuh untuk berbagai fungsi, antara lain untuk pencernaan lemak, vitamin D, dan hormon, seperti hormon testosteron dan hormon estrogen. Kolesterol juga merupakan komponen dari membran sel dan myelin untuk melindungi sel saraf Anda. Oleh karena itu, tubuh tetap membutuhkan kolesterol dalam jumlah yang cukup untuk menjalankan fungsinya. Walaupun, tubuh dapat memproduksi kolesterol sendiri sesuai kebutuhannya.

BACA JUGA

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

4 Alternatif Sehat Pengganti Kopi di Pagi Hari

Tahukah Anda bahwa minum kopi sebaiknya tidak dilakukan di pagi hari? Lalu apa yang bisa jadi alternatifnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Monika Nanda
Tips Makan Sehat, Nutrisi 5 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Kolesterol Ldl

Kolesterol LDL tinggi adalah kondisi ketika kolesterol "jahat" menumpuk pada dinding arteri, membuat keras dan sempit. Bagaimana menanganinya?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan Jantung, Kolesterol 2 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

7 Minuman Penurun Kolesterol yang Baik untuk Kesehatan dan Nikmat Dikonsumsi

Ternyata tidak hanya makanan yang dapat menjadi penurun kolesterol, tapi minuman juga. Yuk, simak berbagai minuman sehat yang dapat menurunkan kolesterol.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Jantung, Kolesterol 31 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

5 Jenis Makanan yang Sebaiknya Dihindari Saat Sarapan

Nasi uduk atau donat mungkin menjadi pilihan sarapan Anda. Sayangnya,keduanya termasuk sarapan tidak sehat. Yuk, cek makanan yang harus dihindari pagi hari.

Ditulis oleh: Monika Nanda
Tips Makan Sehat, Nutrisi 30 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pilihan beras untuk menurunkan berat badan

Beras Merah vs Beras Shirataki, Mana yang Efektif untuk Diet?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
olahraga untuk mantan penderita sembuh dari pasien kanker survivor

Panduan Olahraga untuk Mantan Penderita Kanker

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
makanan untuk penderita maag makanan untuk penderita asam lambung

11 Makanan dan Minuman Terbaik untuk Penderita Sakit Maag

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 11 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit
medical checkup

Perlukah Melakukan Medical Check Up secara Rutin?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 7 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit