6 Manfaat Buah Ciplukan, Buah yang Biasa Tumbuh Liar

6 Manfaat Buah Ciplukan, Buah yang Biasa Tumbuh Liar

Buah ciplukan atau cecendet yang biasanya tumbuh liar di semak-semak ternyata memiliki sejumlah kandungan gizi yang bermanfaat untuk kesehatan. Apa saja?

Kandungan gizi

Buah ciplukan atau cecendet adalah buah yang mungkin pernah Anda temui di sekitar kebun, pekarangan rumah, hingga semak-semak pinggir jalan.

Dari luar, wujud buah ini memang terlihat seperti kuntum bunga, tetapi saat Anda kupas, terdapat daging buah sehat dan biji berwarna kuning terang.

Nama latin dari buah ciplukan adalah Physalis peruviana. Dalam bahasa Inggris, buah ini juga dikenal sebagai morel berry, golden berry, atau goose cape berry.

Pada 100 gram buah ciplukan, terdapat kandungan zat gizi sebagai berikut.

  • Air: 85,4 gram (g).
  • Energi: 53 kalori.
  • Protein: 1,9 g.
  • Lemak: 0,7 g.
  • Serat: 6 g.
  • Kalsium: 9 miligram (mg).
  • Zat besi: 1 mg.
  • Fosfor: 40 mg.
  • Asam askorbat (Vitamin C): 11 mg.
  • Thiamin (Vitamin B1): 0,11 mg.
  • Riboflavin (Vitamin B2): 0,04 mg.
  • Niasin (Vitamin B3): 2,8 mg.
  • Vitamin A: 36 mikrogram (mcg).

Manfaat kesehatan buah ciplukan

Berbagai kandungan gizi dalam buah ciplukan dapat memberikan manfaat kesehatan seperti berikut.

1. Mencegah kerusakan sel

Buah ciplukan adalah salah satu buah yang kaya akan antioksidan.

Menurut sebuah penelitian pada Pharmacognosy Review, antioksidan adalah zat yang dapat melindungi dan memperbaiki kerusakan sel dalam tubuh akibat efek radikal bebas.

Contoh umum dari kerusakan sel akibat radikal bebas yang dapat terjadi adalah penuaan dini dan penyakit kronis seperti peradangan, penyakit jantung, katarak, dan kanker.

Buah ini memang mengandung fenolik dan antioksidan tinggi lainnya yang dapat melawan perkembangan sel kanker payudara dan kanker usus besar.

Oleh sebab itu, mengonsumsi buah ciplukan dapat memberikan manfaat pencegahan terhadap penyakit akibat kerusakan sel.

2. Melawan peradangan

Senyawa bernama withanolides dalam buah cecendet memiliki manfaat membantu mengatasi radang usus.

Hal tersebut tercatat dalam sebuah penelitian yang dimuat pada Hawai’i Journal of Medicine & Public Health (2016).

Buah ciplukan juga dapat membantu mengurangi peradangan pada inflammatory bowel disease (IBD). Khasiat ini diketahui dari penelitian yang diamati pada tikus.

Memang belum ada penelitian pada manusia secara langsung. Namun, percobaan pada sel manusia menunjukkan potensi buah ini dalam mengatasi peradangan.

3. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh

Buah cecendet bisa membantu menguatkan sistem kekebalan berkat kandungan polifenolnya.

Polifenol adalah senyawa antioksidan yang berperan dalam mencegah peradangan.

Selain itu, buah ciplukan kaya akan kandungan vitamin C yang memiliki peranan penting dalam sistem kekebalan tubuh.

Konsumsi 100 gram buah cecendet dapat memenuhi 21% kebutuhan vitamin C harian untuk wanita dan 17% vitamin C harian untuk pria.

4. Meningkatkan kesehatan tulang

Buah ciplukan memiliki kandungan vitamin K yang cukup tinggi. Vitamin K dalam buah cecendet berperan dalam menjaga kesehatan tulang Anda.

Vitamin K merupakan komponen penting yang bisa ikut membentuk ulang bagian tulang yang rusak atau retak.

Studi dalam International Journal of Endocrinology (2017) menyatakan vitamin K sebaiknya dikonsumsi bersama dengan vitamin D untuk untuk meningkatkan kesehatan tulang secara optimal.

Selain menjaga kesehatan tulang, vitamin K pada buah ciplukan dapat membantu menjaga kesehatan kulit dan tekanan darah normal.

5. Meningkatkan fungsi penglihatan mata

hilang penglihatan tiba-tiba

Buah ciplukan memiliki kandungan zat lutein, beta karoten, dan beberapa jenis karotenoid lainnya.

Kandungan ini memiliki manfaat dalam menurunkan risiko degenerasi makula yang dapat menyebabkan kebutaan.

Bahkan, zat lutein bisa mencegah berbagai penyakit mata dan melindungi mata Anda dari kebutaan yang disebabkan oleh penyakit diabetes.

6. Mengontrol gula darah

Buah cecendet juga mengandung senyawa yang memperlambat penyerapan gula.

Rutin makan buah ini membantu mengendalikan kadar gula darah. Pasalnya, buah ciplukan rendah kalori dan indeks glikemik.

Indeks glikemik menunjukkan seberapa cepat karbohidrat diproses menjadi glukosa dalam tubuh.

Nilai IG yang rendah menyatakan konsumsi buah itu tidak cepat membuat kadar gula darah melonjak.

Selain itu, buah ini bisa menjadi pilihan yang tepat untuk menurunkan berat badan dan mencegah obesitas.

Cara mengonsumsi buah ciplukan

Anda dapat mengonsumsi langsung buah ini, atau terlebih dahulu mengeringkan buahnya setelah mengupas kulitnya.

Berikut beberapa cara untuk mengonsumsi buah ciplukan.

  • Makan utuh sebagai camilan.
  • Blender menjadi smoothie.
  • Iris tipis-tipis untuk topping oatmeal, yoghurt, granola, atau salad buah.

Efek samping dari buah cecendet

buah ciplukan

Meski memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, ada efek samping yang perlu Anda waspadai saat mengonsumsi buah cecendet.

Buah ini mungkin beracun jika Anda mengonsumsinya dalam keadaan belum matang.

Makanlah buah cecendet yang sudah ranum, cirinya berwarna kuning keemasan. Jangan mengonsumsi buah ini jika masih berwarna hijau.

Biasanya, buah yang masih belum matang mengandung solanin, yaitu racun yang secara alami ditemukan dalam sayuran seperti kentang dan tomat.

Solanin dapat menyebabkan gangguan pencernaan termasuk kram pada perut dan diare.

Selain itu, pastikan Anda tidak mengonsumsi buah ini secara berlebihan, apalagi menggunakannya sebagai pengganti pengobatan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Yıldız, G., İzli, N., Ünal, H., & Uylaşer, V. (2015). Physical and chemical characteristics of goldenberry fruit (Physalis peruviana L.). Journal of food science and technology, 52(4), 2320–2327. https://doi.org/10.1007/s13197-014-1280-3

Phaniendra, A., Jestadi, D. B., & Periyasamy, L. (2015). Free radicals: properties, sources, targets, and their implication in various diseases. Indian journal of clinical biochemistry : IJCB, 30(1), 11–26. https://doi.org/10.1007/s12291-014-0446-0

Buscemi, S., Corleo, D., Di Pace, F., Petroni, M. L., Satriano, A., & Marchesini, G. (2018). The Effect of Lutein on Eye and Extra-Eye Health. Nutrients, 10(9), 1321. https://doi.org/10.3390/nu10091321

Murillo, A. G., & Fernandez, M. L. (2016). Potential of Dietary Non-Provitamin A Carotenoids in the Prevention and Treatment of Diabetic Microvascular Complications. Advances in nutrition (Bethesda, Md.), 7(1), 14–24. https://doi.org/10.3945/an.115.009803

van Ballegooijen, A. J., Pilz, S., Tomaschitz, A., Grübler, M. R., & Verheyen, N. (2017). The Synergistic Interplay between Vitamins D and K for Bone and Cardiovascular Health: A Narrative Review. International journal of endocrinology, 2017, 7454376. https://doi.org/10.1155/2017/7454376

Carr, A. C., & Maggini, S. (2017). Vitamin C and Immune Function. Nutrients, 9(11), 1211. https://doi.org/10.3390/nu9111211

Mier-Giraldo, H., Díaz-Barrera, L. E., Delgado-Murcia, L. G., Valero-Valdivieso, M. F., & Cáez-Ramírez, G. (2017). Cytotoxic and Immunomodulatory Potential Activity of Physalis peruviana Fruit Extracts on Cervical Cancer (HeLa) and Fibroblast (L929) Cells. Journal of evidence-based complementary & alternative medicine, 22(4), 777–787. https://doi.org/10.1177/2156587217718751

Lobo, V., Patil, A., Phatak, A., & Chandra, N. (2010). Free radicals, antioxidants and functional foods: Impact on human health. Pharmacognosy reviews, 4(8), 118–126. https://doi.org/10.4103/0973-7847.70902

Castro, J., Ocampo, Y., & Franco, L. (2015). Cape Gooseberry [Physalis peruviana L.] Calyces Ameliorate TNBS Acid-induced Colitis in Rats. Journal of Crohn’s & colitis, 9(11), 1004–1015. https://doi.org/10.1093/ecco-jcc/jjv132

Chang, L. C., Sang-Ngern, M., Pezzuto, J. M., & Ma, C. (2016). The Daniel K. Inouye College of Pharmacy Scripts: Poha Berry (Physalis peruviana) with Potential Anti-inflammatory and Cancer Prevention Activities. Hawai’i journal of medicine & public health : a journal of Asia Pacific Medicine & Public Health, 75(11), 353–359.

Etzbach, L., Pfeiffer, A., Weber, F., & Schieber, A. (2018). Characterization of carotenoid profiles in goldenberry (Physalis peruviana L.) fruits at various ripening stages and in different plant tissues by HPLC-DAD-APCI-MSn. Food chemistry, 245, 508–517. https://doi.org/10.1016/j.foodchem.2017.10.120

Are Golden Berries Good for Your Health?. (2021). Cleveland Clinic. Retrieved November 07, 2022 from https://health.clevelandclinic.org/golden-berries/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Annisa Hapsari Diperbarui 2 weeks ago
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro