home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenal Kandungan Gizi dan 5 Manfaat Kesehatan Buah Ciplukan

Mengenal Kandungan Gizi dan 5 Manfaat Kesehatan Buah Ciplukan

Buah ciplukan adalah buah yang mungkin Anda temukan di sekitar kebun, pekarangan rumah, hingga di sela-sela tanaman liar. Dari luar, wujud buah ini memang terlihat seperti kuntum bunga, tetapi saat Anda kupas, terdapat daging buah dan biji berwarna kuning terang di bagian dalamnya. Buah ciplukan memiliki kandungan gizi yang memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Apa saja? Simak penjelasannya berikut ini, ya.

Kandungan gizi dalam buah ciplukan

Nama latin dari buah ciplukan adalah Physialis peruviana. Dalam bahasa Inggris, buah ini juga dikenal sebagai morel berry, golden berry, atau goose cape berry. Dalam takaran 100 gram buah ciplukan, terdapat kandungan nutrisi sebagai berikut:

  • Air: 85.4 gram
  • Energi: 53 kcal
  • Protein: 1.9 gram
  • Lemak: 0.7 gram
  • Serat: 6 gram
  • Kalsium: 9 miligram (mg)
  • Zat besi: 1 mg
  • Fosfor: 40 mg
  • Asam askorbat (Vitamin C): 11 mg
  • Thiamin (Vitamin B1): 0.11 mg
  • Riboflavin (Vitamin B2): 0.04 mg
  • Niasin (Vitamin B3): 2.8 mg
  • Vitamin A: 36 mikrogram

Manfaat kesehatan buah ciplukan

Berbagai kandungan gizi dalam buah ciplukan dapat memberikan manfaat kesehatan seperti berikut:

1. Mencegah kerusakan sel

Buah ciplukan adalah salah satu buah yang kaya akan antioksidan. Menurut sebuah penelitian yang dimuat pada Pharmacognosy Review, antioksidan adalah zat yang dapat melindungi dan memperbaiki kerusakan sel dalam tubuh akibat efek radikal bebas.

Contoh paling umum dari kerusakan sel akibat radikal bebas yang dapat terjadi adalah penuaan dini dan penyakit kronis seperti peradangan, penyakit jantung, katarak, dan kanker. Antikanker mungkin jadi salah satu manfaat ciplukan yang sayang untuk dilewatkan.

Buah ini memang mengandung fenolik dan antioksidan tinggi lainnya yang dapat melawan perkembangan sel kanker payudara dan kanker usus besar. Oleh sebab itu, mengonsumsi buah ciplukan juga dapat memberikan manfaat pencegahan terhadap penyakit-penyakit yang mungkin muncul jika terjadi kerusakan sel.

2. Melawan peradangan

Senyawa bernama withanolides dalam buah ciplukan memiliki manfaat untuk membantu melawan efek peradangan yang mengakibatkan penyakit radang usus. Hal ini disebutkan dalam sebuah penelitian yang dimuat pada Hawai’i Journal of Medicine & Public Health.

Lalu, penelitian lain yang dimuat pada Journal of Chron’s and Colitis menyatakan bahwa buah ciplukan juga dapat membantu mengurangi peradangan pada inflammatory bowel disease (IBD). Meski begitu, manfaat ciplukan ini masih diamati sebatas pada tikus.

Masih belum ada penelitian pada manusia secara langsung yang dapat membuktikan manfaat dari buah ciplukan ini. Akan tetapi, percobaan pada sel manusia membuktikan pertanda baik mengenai efek buah ini dalam mengatasi peradangan.

3. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh

Sebuah penelitian pada tahun 2017 menyatakan buah ciplukan memiliki manfaat untuk membantu menguatkan sistem kekebalan atau imunitas tubuh berkat kandungan polifenolnya.

Polifenol adalah senyawa antioksidan yang bekerja untuk menghalangi pelepasan penanda sistem kekebalan tertentu ketika terjadi peradangan. Selain itu, buah ciplukan juga kaya akan kandungan vitamin C yang memiliki peranan penting dalam sistem kekebalan tubuh.

Dalam 100 gram buah ciplukan, terdapat 11 miligram (mg) vitamin C yang kurang lebih memenuhi 21% kebutuhan vitamin C harian untuk wanita dan 17% vitamin C harian untuk pria.

4. Meningkatkan kesehatan tulang

Buah ciplukan memiliki kandungan vitamin K yang cukup tinggi. Vitamin K dalam buah ciplukan memiliki manfaat dalam proses metabolisme tulang, sehingga memiliki peranan penting dalam menjaga kesehatan tulang Anda.

Vitamin ini memang termasuk ke dalam komponen penting dari tulang dan tulang rawan pada proses metabolisme tulang, yaitu saat tulang terbentuk kembali setelah patah.

Sebuah penelitian yang dimuat dalam International Journal of Endocrinology menyatakan bahwa vitamin K sebaiknya dikonsumsi bersama dengan vitamin D untuk untuk meningkatkan kesehatan tulang secara optimal.

Selain menjaga kesehatan tulang, vitamin K pada buah ciplukan juga dapat membantu menjaga kesehatan kulit dan tekanan darah normal.

5. Meningkatkan fungsi penglihatan mata

Buah ciplukan memiliki kandungan zat lutein, beta karoten, dan beberapa jenis karotenoid lainnya. Kandungan yang terdapat dalam buah ciplukan ini memiliki manfaat dalam menurunkan risiko degenerasi makula yang dapat menyebabkan kebutaan.

Bahkan, zat lutein yang terdapat di dalam buah ciplukan memiliki khasiat dalam mencegah berbagai penyakit mata dan melindungi mata Anda dari kebutaan yang disebabkan oleh penyakit diabetes.

Efek samping yang perlu mungkin timbul dari buah ciplukan

Meski memiliki banyak kandungan nutrisi dan memberikan berbagai manfaat untuk kesehatan, ada efek samping yang perlu Anda waspadai saat mengonsumsi buah ciplukan. Buah ini kemungkinan dapat beracun jika Anda mengonsumsinya dalam keadaan mentah.

Risiko ini lebih berbahaya jika Anda memiliki beberapa masalah kesehatan tertentu. Oleh sebab itu, agar Anda bisa mengonsumsinya secara aman, makanlah buah ciplukan yang sudah matang dan berwarna kuning keemasan. Jangan mengonsumsi buah ini jika masih berwarna hijau atau mentah.

Biasanya, buah ciplukan mentah mengandung solanin, yaitu racun yang secara alami ditemukan dalam sayuran seperti kentang dan tomat. Solanin dapat menyebabkan gangguan pencernaan termasuk kram pada perut dan diare. Efek racun ini juga mungkin berakibat fatal pada kasus tertentu, meski hal ini jarang terjadi.

Selain itu, perlu Anda ingat bahwa mengonsumsi buah ini dalam jumlah banyak mungkin dapat berbahaya. Dalam sebuah penelitian yang menggunakan jus buah ciplukan dosis tinggi, terlihat munculnya risiko kerusakan jantung pada tikus jantan. Untuk lebih lengkapnya tentang efek samping buah ini, baiknya konsultasikan ke dokter.

Cara mengonsumsi buah ciplukan

Anda dapat mengonsumsi langsung ciplukan atau terlebih dahulu mengeringkan buahnya setelah mengupas kulit tipisnya. Berikut adalah beberapa cara untuk mengonsumsi buah ciplukan:

  • Makan utuh sebagai camilan.
  • Blender menjadi smoothie.
  • Iris tipis-tipis untuk topping bubur oatmeal, yogurt dan granola, atau salad buah.
health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Yıldız, G., İzli, N., Ünal, H., & Uylaşer, V. (2015). Physical and chemical characteristics of goldenberry fruit (Physalis peruviana L.). Journal of food science and technology52(4), 2320–2327. https://doi.org/10.1007/s13197-014-1280-3

Phaniendra, A., Jestadi, D. B., & Periyasamy, L. (2015). Free radicals: properties, sources, targets, and their implication in various diseases. Indian journal of clinical biochemistry : IJCB30(1), 11–26. https://doi.org/10.1007/s12291-014-0446-0

Buscemi, S., Corleo, D., Di Pace, F., Petroni, M. L., Satriano, A., & Marchesini, G. (2018). The Effect of Lutein on Eye and Extra-Eye Health. Nutrients10(9), 1321. https://doi.org/10.3390/nu10091321
Murillo, A. G., & Fernandez, M. L. (2016). Potential of Dietary Non-Provitamin A Carotenoids in the Prevention and Treatment of Diabetic Microvascular Complications. Advances in nutrition (Bethesda, Md.)7(1), 14–24. https://doi.org/10.3945/an.115.009803
van Ballegooijen, A. J., Pilz, S., Tomaschitz, A., Grübler, M. R., & Verheyen, N. (2017). The Synergistic Interplay between Vitamins D and K for Bone and Cardiovascular Health: A Narrative Review. International journal of endocrinology2017, 7454376. https://doi.org/10.1155/2017/7454376
Carr, A. C., & Maggini, S. (2017). Vitamin C and Immune Function. Nutrients9(11), 1211. https://doi.org/10.3390/nu9111211
Mier-Giraldo, H., Díaz-Barrera, L. E., Delgado-Murcia, L. G., Valero-Valdivieso, M. F., & Cáez-Ramírez, G. (2017). Cytotoxic and Immunomodulatory Potential Activity of Physalis peruviana Fruit Extracts on Cervical Cancer (HeLa) and Fibroblast (L929) Cells. Journal of evidence-based complementary & alternative medicine22(4), 777–787. https://doi.org/10.1177/2156587217718751

Lobo, V., Patil, A., Phatak, A., & Chandra, N. (2010). Free radicals, antioxidants and functional foods: Impact on human health. Pharmacognosy reviews4(8), 118–126. https://doi.org/10.4103/0973-7847.70902

Castro, J., Ocampo, Y., & Franco, L. (2015). Cape Gooseberry [Physalis peruviana L.] Calyces Ameliorate TNBS Acid-induced Colitis in Rats. Journal of Crohn’s & colitis9(11), 1004–1015. https://doi.org/10.1093/ecco-jcc/jjv132
Chang, L. C., Sang-Ngern, M., Pezzuto, J. M., & Ma, C. (2016). The Daniel K. Inouye College of Pharmacy Scripts: Poha Berry (Physalis peruviana) with Potential Anti-inflammatory and Cancer Prevention ActivitiesHawai’i journal of medicine & public health : a journal of Asia Pacific Medicine & Public Health75(11), 353–359.
Etzbach, L., Pfeiffer, A., Weber, F., & Schieber, A. (2018). Characterization of carotenoid profiles in goldenberry (Physalis peruviana L.) fruits at various ripening stages and in different plant tissues by HPLC-DAD-APCI-MSnFood chemistry245, 508–517. https://doi.org/10.1016/j.foodchem.2017.10.120
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Annisa Hapsari Diperbarui 26/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x