home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Polifenol, Senyawa Alami Dalam Sayur dan Buah yang Punya Segudang Manfaat

Polifenol, Senyawa Alami Dalam Sayur dan Buah yang Punya Segudang Manfaat

Anda mungkin sering mendengar polifenol sebagai senyawa yang terkandung dalam sayur dan buah. Senyawa ini mungkin sering disebut ketika Anda membaca tentang manfaat sayur dan buah bagi kesehatan. Namun, sebenarnya apa itu polifenol? Apa saja manfaat polifenol untuk kesehatan?

Polifenol adalah salah satu alasan penting mengapa kita harus makan sayur dan buah

Polifenol merupakan senyawa fitokimia yang secara alami terkandung dalam tanaman. Senyawa inilah yang memberikan berbagai warna pada makanan. Tak hanya itu, polifenol juga berfungsi untuk melindungi tanaman dari bahaya.

Tak hanya mampu melindungi tanaman, polifenol yang masuk ke dalam tubuh kita juga mampu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Itu mengapa, polifenol dapat bertindak sebagai antioksidan dalam tubuh.

Senyawa ini bisa Anda temukan pada buah, sayuran, dan sereal secara alami. Buah, seperti buah anggur, apel, pir, ceri, dan buah beri mengandung polifenol hingga 200-300 miligram (mg) per 100 gram. Jumlah yang cukup bisa melindungi sel tubuh Anda dari kerusakan. Ini adalah salah satu alasan mengapa banyak makan sayur dan buah itu sangat penting.

Apa saja manfaat polifenol untuk kesehatan?

Tak main-main, manfaat polifenol sangat banyak bagi kesehatan. Bahkan menurut banyak penelitian, konsumsi makanan tinggi polifenol secara rutin dalam waktu lama dapat melindungi tubuh dari perkembangan kanker, penyakit jantung, diabetes, osteoporosis, dan penyakit neurodegeneratif. Lebih jelasnya, simak informasi lengkap berikut ini.

1. Mencegah pertumbuhan sel kanker

Antioksidan dalam polifenol mampu melindungi tubuh dari bahaya radikal bebas, yang bisa menjadi penyebab kanker. Radikal bebas bisa Anda dapatkan dari mana saja, seperti dari polusi, asap rokok, makanan, bahkan tubuh Anda sendiri juga memproduksi radikal bebas.

Jenis dari polifenol, seperti katekin, lignan, resveratrol, quercetin, dan kurkumin, telah terbukti dapat menjadi agen antikanker. Polifenol juga bisa menjadi agen antiproliferasi, antiradang, dan mencegah oksidasi sebagai upaya untuk mencegah kanker.

2. Mencegah penyakit jantung

Sejumlah penelitian membuktikan bahwa konsumsi polifenol dapat mencegah penyakit jantung koroner, seperti dikutip dari jurnal Oxidative Medicine and Cellular Longevity. Hal ini mungkin terjadi karena polifenol dapat membantu memperbaiki fungsi pembuluh darah dan membantu memperlambat penggumpalan darah.

Selain itu, polifenol juga bisa menjadi penghambat oksidasi lemak jahat, sehingga pembentukan aterosklerosis yang jadi penyebab penyakit jantung bisa terhambat. Efek antioksidan, antiplatelet, dan antiradang yang dimiliki polifenol juga dapat membantu mencegah Anda dari penyakit jantung.

3. Mencegah diabetes

Mengonsumsi makanan yang mengandung polifenol bisa membuat kadar gula darah Anda lebih terkendali. Hal ini dilakukan polifenol dengan cara menghambat penyerapan glukosa dalam usus. Beberapa penelitian juga telah melaporkan bahwa polifenol mempunyai sifat antidiabetes.

Salah satunya adalah penelitian yang diterbitkan oleh Clinical and Experimental Pharmacology and Physiology tahun 2005, yang menunjukkan bahwa senyawa polifenol jenis katekin dalam teh dapat melindungi Anda dari perkembangan komplikasi diabetes. Tak hanya ketekin, polifenol jenis lain, seperti resveratrol dan quercetin juga bisa bertindak sebagai agen antidiabetes.

sayur rendah karbohidrat

Makanan apa saja yang mengandung polifenol?

Polifenol bisa dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu asam fenolik, flavonoid, stilben (resveratrol), dan lignan. Masing-masing sayur dan buah mungkin mengandung salah satu dari keempat jenis polifenol tersebut. Contohnya, buah anggur, buah beri, kiwi, apel, dan ceri yang mengandung asam fenolik.

Polifenol umumnya terdapat dalam sayur dan buah yang berwarna cerah, seperti merah, oranye, kuning, ungu, putih, dan hijau. Hal ini karena senyawa polifenol yang bertanggung jawab untuk memberi warna pada buah dan sayur.

Tak cuma sayur dan buah, makanan lain seperti teh hijau dan dark chocolate pun mengandung polifenol dengan jenis flavonoid. Senyawa ini membuat teh hijau dan dark chocolate bermanfaat bagi kesehatan. Selain itu, berbagai kacang-kacangan juga mengandung polifenol dengan jenis yang berbeda-beda.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Lehman, S. (2017). What Are Polyphenols and Which Foods Are Good Sources?. [online] Available at: https://www.verywell.com/what-are-polyphenols-2507085 [Accessed 16 Aug. 2017].

Rose, G. (2017). Benefits of Polyphenols. [online] LIVESTRONG.COM. Available at: http://www.livestrong.com/article/173125-benefits-of-polyphenols/ [Accessed 16 Aug. 2017].

Pandey, K. and Rizvi, S. (2017). Plant Polyphenols as Dietary Antioxidants in Human Health and Disease. Oxidative Medicine and Cellular Longevity, Vol. 2(5): 270-278. [online] Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2835915/ [Accessed 16 Aug. 2017].

Boyd, J. (2015). Foods High in Polyphenols. [online] LIVESTRONG.COM. Available at: http://www.livestrong.com/article/74380-foods-high-polyphenols/ [Accessed 16 Aug. 2017].

Rizvi, S., Zaid, M., Anis, R. and Mishra, N. (2005). Protective role of tea catechins against oxidation-induced damage of type 2 diabetic erythrocytes. Clinical and Experimental Pharmacology and Physiology, 32(1-2), pp.70-75. [online] Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15730438 [Accessed 16 Aug. 2017].

Rodder, S. (2016). 5 foods containing potentially heart-healthy polyphenols. [online] Available at: http://www.utswmedicine.org/stories/articles/year-2016/polyphenols.html [Accessed 16 Aug. 2017].

Foto Penulis
Ditulis oleh Arinda Veratamala Diperbarui 18/12/2020
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus