home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Mengenal Kandungan Makanan Cepat Saji (Fast Food) dan Risikonya

Mengenal Kandungan Makanan Cepat Saji (Fast Food) dan Risikonya

Makan di restoran cepat saji memang menggoda, terlebih berkat kepraktisan, harga terjangkau, dan rasanya yang nikmat. Namun, konsumsi makanan cepat saji tentu memiliki sejumlah dampak buruk yang perlu Anda waspadai.

Apa itu makanan cepat saji?

kandungan fast food

Makanan cepat saji atau fast food adalah jenis makanan yang bisa dipersiapkan dan disajikan dalam waktu cepat sehingga dapat segera dikonsumsi.

Jenis makanan ini umumnya populer karena harganya yang relatif mudah, rasanya yang enak, serta praktis mudah dibawa ke mana saja.

Tak heran, fast food sering menjadi pilihan menu makan siang ketika Anda tengah menjalani rutinitas harian yang padat.

Istilah makanan cepat saji yang populer dengan sebutan fast food sering disamakan dengan junk food, padahal keduanya berbeda.

Fast food merujuk pada penyajian makanan yang cepat dan praktis, sedangkan junk food mengacu pada makanan dengan nilai gizi yang sangat rendah.

Tidak semua fast food tergolong junk food karena sebagian masih tergolong bernutrisi dan bermanfaat bagi tubuh Anda, misalnya burger atau salad.

Di sisi lain, junk food jelas tidak baik untuk kesehatan karena minim zat gizi penting, seperti bahaya kentang goreng yang tinggi kandungan lemak jenuh.

Kandungan makanan cepat saji

Sebagian besar fast food terbuat dari produk beku, misalnya daging burger dan kentang goreng yang akan dipanaskan atau digoreng kembali sebelum disajikan.

Proses penyimpanan dan pemasakan ini membuat makanan siap saji tinggi kandungan bahan-bahan seperti berikut ini.

1. Gula

Saus, salad dressing, hingga minuman ringan dalam makanan cepat saji tinggi kandungan gula yang sangat mudah diserap oleh tubuh Anda.

Makan terlalu banyak gula bisa meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.

2. Garam

Garam atau natrium digunakan untuk menambahkan rasa makanan. Hal ini juga bermanfaat sebagai zat pengawet untuk memperpanjang umur simpan fast food.

Makanan cepat saji yang tinggi garam terkait dengan risiko tekanan darah tinggi (hipertensi), diabetes, dan penyakit ginjal.

3. Lemak

Proses penggorengan fast food meningkatkan lemak trans yang menyebabkan peningkatan kadar kolesterol jahat atau LDL (low-density lipoprotein) dalam aliran darah.

Kondisi ini akan memicu kolesterol tinggi sehingga Anda makin berisiko mengalami penyakit kardiovaskular atau stroke.

Selain gula, garam, dan lemak, fast food juga mengandung sejumlah zat aditif lain, termasuk pengawet dan pewarna makanan.

Dampak buruk konsumsi fast food secara berlebihan

burger untuk diet

Makan makanan siap saji sesekali memang tidak ada salahnya, tetapi sebagian orang kadang mengonsumsinya terlalu sering atau dalam porsi berlebihan.

Kandungan fast food yang tinggi gula, garam, dan lemak telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kronis, seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.

Maka dari itu, penting bagi Anda untuk mengetahui sejumlah dampak buruk dari konsumsi fast food seperti berikut ini.

1. Meningkatkan risiko penyakit kronis

Makanan cepat saji tinggi akan kandungan gula, garam, dan lemak yang dapat meningkatkan tekanan darah dan kadar gula darah pada tubuh Anda.

Hal ini tentu akan menyebabkan peningkatan risiko penyakit kronis, seperti obesitas, diabetes, penyakit jantung, hingga stroke.

Studi dalam jurnal Circulation (2012) mencatat kebiasaan makan 2–3 kali fast food per minggu meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung koroner dan diabetes tipe 2.

2. Menimbulkan masalah pernapasan

Makan fast food secara berlebihan akan memperbanyak asupan kalori harian. Hal ini tentu dapat menyebabkan Anda mengalami kenaikan berat badan.

Obesitas juga bisa menimbulkan gangguan pernapasan, termasuk asma dan sesak napas.

Masalah pernapasan ini dapat terjadi karena penambahan berat badan akan memberikan tekanan ekstra pada jantung dan paru-paru.

Akibatnya, Anda lebih berisiko mengalami kesulitan bernapas, terutama saat berjalan kaki, menaiki tangga, atau berolahraga.

3. Membuat gigi dan tulang keropos

Gula dalam makanan siap saji bisa meningkatkan keasaman mulut. Kemudian, asam ini dapat merusak lapisan enamel gigi sehingga lebih mudah berlubang.

Obesitas juga dapat memengaruhi kepadatan tulang. Tulang akan semakin keropos dan rapuh karena tidak mampu menopang berat badan Anda.

Akibatnya, orang dengan obesitas juga lebih rentan jatuh dan berisiko mengalami patah tulang.

4. Menyebabkan gangguan kesuburan

Di samping gula, garam, dan lemak, bahan tambahan lain dalam makanan cepat saji bisa saja berdampak pada kesuburan Anda.

Sebuah studi dalam Environmental Health Perspectives (2016) menemukan bahwa fast food mengandung ftalat (phthalates) yang bisa mengganggu kerja hormon reproduksi.

Paparan bahan kimia dalam jumlah tinggi dan terus-menerus dapat memengaruhi kualitas sperma dan menimbulkan gangguan kesuburan pada pria.

Tips sehat makan makanan cepat saji

salad sayuran

Seperti dalam penjelasan di atas, tak selamanya makanan siap saji merupakan junk food yang berdampak buruk bagi kesehatan tubuh Anda.

Asalkan memilih jenis fast food yang tepat, Anda masih bisa mendapatkan diet sehat dari makanan cepat saji yang tetap bergizi seimbang.

Berikut ini adalah sejumlah tips makan sehat di restoran fast food yang perlu Anda perhatikan.

  • Pesan menu makanan dengan porsi terkecil, bila perlu pertimbangkan menu makanan untuk anak-anak.
  • Pilih opsi makanan yang dipanggang, daripada makanan yang digoreng dan bertepung, seperti ayam krispi atau fish fillet.
  • Jika tidak tersedia, pilihlah dada ayam atau daging sapi tanpa lemak yang lebih sehat.
  • Hanya konsumsi menu pendamping yang sehat, seperti salad sayuran, buah-buahan segar, yoghut, atau kentang panggang.
  • Hindari menggunakan saus sambal, saus tomat, atau salad dressing secara berlebihan.
  • Pesan minuman dengan kandungan kalori rendah, seperti air mineral, es teh tanpa pemanis, atau soda diet.

Sementara itu, konsumsi makanan cepat saji sebenarnya juga dapat Anda padukan dengan makanan tinggi serat dan nutrisi lainnya.

Anda bisa mengganti roti burger dengan roti gandum gandum utuh yang lebih sehat. Tambahan buah-buahan dan sayuran segar sebagai salah juga bisa jadi opsi terbaik.

Hal yang terpenting adalah hindari makan fast food secara berlebihan. Selalu perhatikan porsi dan imbangi dengan diet sehat setelah Anda mengonsumsinya.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Fast Food Facts. Center for Young Women’s Health. (2019). Retrieved 21 December 2021, from https://youngwomenshealth.org/2013/12/05/fast-food/

Rice, A. (2020). Making Healthy Choices at Fast Food Restaurants. American Academy of Family Physicians. Retrieved 21 December 2021, from https://familydoctor.org/making-healthy-choices-fast-food-restaurants/

Smith, M., & Robinson, L. (2021). Healthy Fast Food. HelpGuide.org. Retrieved 21 December 2021, from https://www.helpguide.org/articles/healthy-eating/healthier-fast-food.htm

Fast food: Tips for choosing healthier options. Mayo Clinic. (2021). Retrieved 21 December 2021, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/in-depth/fast-food/art-20047179

Khasin, L., Della Rosa, J., Petersen, N., Moeller, J., Kriegsfeld, L., & Lishko, P. (2020). The Impact of Di-2-Ethylhexyl Phthalate on Sperm Fertility. Frontiers In Cell And Developmental Biology, 8. https://doi.org/10.3389/fcell.2020.00426

Zota, A., Phillips, C., & Mitro, S. (2016). Recent Fast Food Consumption and Bisphenol A and Phthalates Exposures among the U.S. Population in NHANES, 2003–2010. Environmental Health Perspectives, 124(10), 1521-1528. https://doi.org/10.1289/ehp.1510803

Odegaard, A., Koh, W., Yuan, J., Gross, M., & Pereira, M. (2012). Western-Style Fast Food Intake and Cardiometabolic Risk in an Eastern Country. Circulation, 126(2), 182-188. https://doi.org/10.1161/circulationaha.111.084004

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui 4 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan