home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Mengenal Natrium Termasuk Fungsi dan Asupan Hariannya

Mengenal Natrium Termasuk Fungsi dan Asupan Hariannya

Natrium, atau juga dikenal sebagai sodium, sering kali dikaitkan dengan meningkatnya risiko terhadap penyakit hipertensi. Padahal, tak selamanya memberi efek buruk, natrium juga dapat memberikan manfaat untuk fungsi kerja tubuh Anda.

Natrium dan fungsinya untuk tubuh

fungsi natrium
Sumber: ThoughtCo

Natrium adalah jenis mineral yang mudah untuk Anda temukan pada berbagai makanan, terutama garam. Garam sendiri dikenal dengan nama sodium klorida dan merupakan sumber natrium terbanyak hingga 40% dengan sisanya terdiri atas klorida.

Orang-orang menggunakan garam sebagai penambah rasa agar makanan tidak hambar. Garam juga berfungsi sebagai pengikat komponen makanan serta sebagai penstabil dan pengawetan makanan.

Banyak orang menganggap natrium berbahaya bagi tubuh dan bisa menimbulkan berbagai kondisi kesehatan seperti penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi) atau penyakit jantung.

Padahal, belum ada penelitian yang benar-benar membuktikan bahwa natrium sendiri dapat menyebabkan penyakit-penyakit tersebut. Malahan, natrium dalam garam memiliki fungsi yang baik untuk tubuh.

Sebagai elektrolit, mineral ini bantu menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. Hal ini amat diperlukan agar Anda tidak mengalami kondisi dehidrasi.

Tubuh juga membutuhkan natrium untuk membantu impuls saraf atau sinyal listrik pada sel saraf yang bertugas sebagai alat komunikasi saraf dengan organ-organ tubuh lainnya.

Sedikit kerusakan pada impuls saraf bisa mempengaruhi kondisi tubuh Anda. Pada otak misalnya, impuls yang terganggu dapat menimbulkan demensia bagi yang mengalaminya.

Selain itu, natrium memiliki fungsi penting dalam kemampuan tubuh untuk mengencangkan dan mengendurkan otot serta menjaga cairan pada darah yang akan mencegah Anda dari anemia.

Berapa banyak kebutuhan natrium per harinya?

Setiap orang memiliki kebutuhan natrium yang berbeda-beda. Dikutip dari Peraturan Menteri Kesehatan tahun 2019, di bawah ini merupakan angka kecukupan natrium harian berdasarkan usia dan jenis kelamin.

  • Bayi 0 – 5 bulan: 120 miligram
  • Bayi 6 – 11 bulan: 370 miligram
  • Balita, 1 – 3 tahun: 800 miligram
  • Anak-anak 4 – 6 tahun: 900 miligram
  • Anak-anak 7 – 9 tahun: 1.000 miligram
  • Anak laki-laki 10 – 12 tahun: 1.300 miligram
  • Remaja laki-laki 13 – 15 tahun: 1.500 miligram
  • Remaja laki-laki 16 – 18 tahun: 1.700 miligram
  • Anak perempuan 10 – 12 tahun: 1.400 miligram
  • Remaja perempuan 13 – 15 tahun: 1.500 miligram
  • Remaja perempuan 16 – 18 tahun: 1.600 miligram
  • Dewasa 19 – 49 tahun: 1.500 miligram
  • Laki-laki 50 tahun ke atas: 1.300 miligram
  • Perempuan 50 tahun ke atas: 1.400 miligram

Anda tak perlu mencari sumber nutrium, karena hampir semua bahan makanan termasuk buah, sayur, daging, dan olahan susu paling tidak mengandung sedikit kadar mineral ini.

Belum lagi, nantinya Anda juga pasti akan menambahkan garam saat mengolah bahan-bahan makanan tersebut.

Konsumsilah secukupnya, jangan terlalu sedikit atau berlebihan

Seperti zat gizi lainnya, sesuatu yang dikonsumsi terlalu sedikit atau berlebihan tentu efeknya tidak baik, begitu juga dengan natrium.

Memang, kekurangan natrium atau yang biasa disebut hiponatremia sangat jarang terjadi di Indonesia. Namun, kondisi ini tetap ada dan bisa Anda alami bila pola makan tanpa garam Anda jalani secara ekstrem.

Hiponatremia adalah istilah yang merujuk pada rendahnya jumlah natrium dalam darah. Sebenarnya, kondisi ini lebih sering dialami pada orang-orang yang lebih tua atau menjalani perawatan di rumah sakit dalam jangka panjang.

Gejala hiponatremia meliputi mual, muntah, sakit kepala, linglung, lesu, kejang-kejang, dan pada kasus yang parah bisa membuat Anda koma.

Di sisi lain, kelebihan natrium dari garam bisa menimbulkan kondisi hipernatremia. Seringnya, kondisi ini dialami lansia dengan kondisi yang membuat mereka tidak nafsu makan atau minum, demam tinggi, atau infeksi yang menyebabkan dehidrasi parah.

Gejala kelebihan natrium serupa dengan hiponatremia. Hanya saja, orang-orang yang mengalami hipernatremia juga merasakan kehilangan nafsu makan dan rasa haus yang intens. Tak hanya itu, kelebihan sodium erat kaitannya dengan hipertensi.

Perlu diketahui bahwa sodium bersifat menarik dan menahan air. Terlalu banyak konsumsi makanan bersodium dapat meningkatkan volume cairan dalam darah sehingga berisiko meningkatkan tekanan darah.

Bila tak terkendali, tekanan darah tinggi bisa berujung pada penyakit lainnya seperti kerusakan pada jantung, penyakit ginjal, dan stroke.

Bagaimanapun, natrium tetap memilik fungsi yang berguna untuk tubuh. Pastikan Anda mengonsumsi makanan bergaram dalam jumlah yang cukup.

Bila perlu, konsultasikan pada dokter atau ahli gizi untuk bantu menyusun menu makan dengan kadar garam yang terjaga.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. (2019). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Retrieved 30 March 2021, from http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No__28_Th_2019_ttg_Angka_Kecukupan_Gizi_Yang_Dianjurkan_Untuk_Masyarakat_Indonesia.pdf

Salt and Sodium. (n.d.). Harvard T.H. Chan School of Public Health. Retrieved 30 March 2021, from https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/salt-and-sodium/

Sodium in Your Diet. (n.d.). U.S. Food and Drug Administration. Retrieved 30 March 2021, from https://www.fda.gov/food/nutrition-education-resources-materials/sodium-your-diet

Hite, A., Feinman, R. and Guzman, G., 2010. In the face of contradictory evidence: Report of the Dietary Guidelines for Americans Committee. Nutrition, 26(10), pp.915-924. Retrieved 30 March 2021.

Jana Katharina Wrosch, Vicky von Einem, Katharina Breininger, et. al. Rewiring of Neunoral Networks During Synaptic Silencing. Scientific Reports, 2017; 7 (1). Retrieved 30 March 2021.

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Winona Katyusha Diperbarui 07/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro