Mengenal Bahaya Terlalu Sering Minum Minuman Ringan

    Mengenal Bahaya Terlalu Sering Minum Minuman Ringan

    Menenggak minuman ringan dingin tentu terasa menyegarkan di kala cuaca panas terik. Akan tetapi, di balik kesegaran minuman tersebut, ada berbagai risiko yang mengintai dan membahayakan kesehatan tubuh Anda.

    Kandungan gizi dalam minuman ringan

    Minuman ringan atau soft drink ada banyak jenisnya, mulai minuman bersoda, minuman energi, teh atau kopi siap minum, vitamin water, yoghurt, jus buah, hingga air kelapa kemasan.

    Macam-macam minuman yang telah diproses sedemikian rupa yang kemudian dikemas siap minum dikategorikan sebagai minuman ringan.

    Anda mungkin menyangka bahwa jus buah kemasan mengandung buah asli. Padahal, mungkin kandungan buah asli dalam jus tersebut hanya beberapa persen saja.

    Kandungan terbesar dari soft drink biasanya adalah air dan gula. Jadi, minuman ini kurang bernutrisi karena minim zat gizi bermanfaat.

    Gula yang ditambahkan dalam minuman kemasan umumnya berupa pemanis buatan seperti sirup jagung tinggi fruktosa atau sukrosa.

    Tak jarang, kandungan gulanya juga besar sehingga minuman kemasan tinggi kalori.

    Apa saja bahaya minuman ringan untuk kesehatan?

    mengatasi kecanduan soda

    Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), konsumsi minuman ringan terkait dengan kecenderungan seseorang untuk mengabaikan kesehatannya.

    Orang yang biasa mengonsumsi minuman ringan cenderung memiliki gaya hidup tidak sehat, seperti merokok, tidak cukup olahraga, kurang tidur, dan berlebihan mengonsumsi makanan cepat saji.

    Itulah mengapa konsumsi soft drink membuat Anda lebih berisiko terkena berbagai penyakit kronis.

    Sejumlah bahaya soft drink bagi kesehatan antara lain memicu terjadinya obesitas, diabetes, penyakit jantung, dan penyakit ginjal.

    1. Obesitas

    Gula dalam minuman ringan berasal dari pemanis buatan, terutama fruktosa dalam kadar tinggi.

    Fruktosa adalah gula sederhana yang tidak menimbulkan rasa kenyang sehingga lebih berisiko membuat Anda mengonsumsinya secara berlebihan.

    Akibatnya, asupan kalori harian orang yang rutin minum soft drink menjadi berlebih. Hal ini bisa memicu pertambahan berat badan yang lama-kelamaan menyebabkan obesitas.

    2. Diabetes

    Diabetes adalah penyakit yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam aliran darah.

    Asupan fruktosa berlebihan dari minuman ringan bisa menyebabkan resistensi insulin. Kondisi ini merupakan salah satu faktor risiko utama dari penyakit diabetes tipe 2.

    Para ahli dari Stanford Prevention Research Center menemukan bahwa risiko diabetes tipe 2 meningkat sekitar 1,1% pada orang yang mendapatkan tambahan 150 kalori gula per hari.

    3. Penyakit jantung

    Selain diabetes, orang yang sering mengonsumsi jenis minuman ini lebih rentan untuk mengalami penyakit jantung.

    Asupan gula bisa meningkatkan sejumlah faktor risiko penyakit jantung, seperti gula darah, trigliserida, dan kolesterol LDL (kolesterol jahat) dalam darah.

    Studi dalam jurnal Circulation (2012) juga menemukan rutin minum soft drink per hari meningkatkan 20% risiko mengalami atau meninggal akibat serangan jantung.

    4. Batu ginjal

    Meski mencukupi kebutuhan air mampu mencegah penyakit ginjal, tetapi hal yang sama tidak berlaku bila Anda terlalu sering minum minuman ringan.

    Penelitian telah menguji efek konsumsi minuman ringan dengan kadar gula tinggi, seperti teh, kopi, dan jus buah dalam kemasan yang memicu pembentukan batu ginjal.

    Studi dalam Clinical Journal of the American Society of Nephrology (2013) menemukan orang yang minum satu atau lebih porsi soft drink setiap hari berisiko 23% lebih tinggi terkena batu ginjal daripada yang minum kurang dari seporsi per minggu.

    Dengan adanya berbagai risiko kesehatan tersebut, tentu para dokter dan ahli kesehatan tidak menganjurkan Anda untuk sering-sering mengonsumsi soft drink.

    Berapa batas konsumsi minuman ringan dalam sehari?

    minum soda setelah olahraga

    Untuk mengetahui batas aman konsumsi minuman ringan, Anda harus terlebih dahulu tahu berapa batas konsumsi gula per hari yang wajar.

    Menurut Pedoman Gizi Seimbang dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, asupan gula harian tidak lebih dari 50 gram atau setara 4 sendok makan per hari.

    Untuk anak-anak, batas ini tentu akan lebih rendah, yakni sekitar 12–25 gram per hari atau setengah dari batas konsumsi orang dewasa.

    Sementara itu, dalam sekaleng minuman bersoda ukuran 200 ml umumnya memiliki kadar gulanya mencapai 21 gram.

    Hal ini bahkan sudah memenuhi hampir setengah batas konsumsi gula harian. Belum lagi, Anda juga mengonsumsi nasi dan makanan ringan yang meningkatkan asupan gula.

    Jika ditotal rata-rata, Anda bisa mengonsumsi gula lebih dari 80 gram per hari. Tentu, hal ini akan membuat risiko akan penyakit kronis di atas naik berkali-kali lipat.

    Jadi, konsumsi minuman ringan sekaleng setiap hari saja sudah termasuk berlebihan. Bila Anda tetap ingin mengonsumsinya, sebaiknya kurangi takaran atau batasi paling banyak minum dua kali seminggu.

    Bagaimana cara agar tidak berlebihan?

    Untuk mempercepat pencernaan dan mengurangi risiko penyakit akibat kebanyakan konsumsi minuman ringan, Anda sebaiknya perlu lebih memperhatikan gaya hidup sehat.

    Hal ini bisa Anda lakukan dengan pola makan sehat, rutin berolahraga, mengendalikan berat badan agar tetap ideal, serta istirahat yang cukup.

    Selain membatasi konsumsi minuman ringan, Anda bisa mencoba alternatif minuman lain yang lebih sehat, termasuk air mineral dan infused water.

    Lama-lama, kebiasaan ini akan membuat Anda terbebas dari rasa ngidam minum soft drink.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Sugary Drinks. The Nutrition Source – Harvard T.H. Chan School of Public Health. (2022). Retrieved 2 February 2022, from https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/healthy-drinks/sugary-drinks/

    Sugar-Sweetened Beverages and Consumption. Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved 2 February 2022, from https://www.cdc.gov/nutrition/data-statistics/sugar-sweetened-beverages-intake.html

    How Much Is Too Much?. University of California San Francisco. Retrieved 2 February 2022, from http://sugarscience.ucsf.edu/the-growing-concern-of-overconsumption.html

    Why It’s Time to Start Replacing Your Daily Soda. Cleveland Clinic. (2020). Retrieved 2 February 2022, from https://health.clevelandclinic.org/soda-do-you-drink-it-every-day/

    Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Retrieved 6 September 2021, from http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK%20No.%2041%20ttg%20Pedoman%20Gizi%20Seimbang.pdf

    Page, K. A., Chan, O., Arora, J., Belfort-Deaguiar, R., Dzuira, J., Roehmholdt, B., Cline, G. W., Naik, S., Sinha, R., Constable, R. T., & Sherwin, R. S. (2013). Effects of fructose vs glucose on regional cerebral blood flow in brain regions involved with appetite and reward pathways. JAMA, 309(1), 63–70. https://doi.org/10.1001/jama.2012.116975

    Basu, S., Yoffe, P., Hills, N., & Lustig, R. H. (2013). The relationship of sugar to population-level diabetes prevalence: an econometric analysis of repeated cross-sectional data. PloS one, 8(2), e57873. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0057873

    Ferraro, P. M., Taylor, E. N., Gambaro, G., & Curhan, G. C. (2013). Soda and other beverages and the risk of kidney stones. Clinical journal of the American Society of Nephrology : CJASN, 8(8), 1389–1395. https://doi.org/10.2215/CJN.11661112

    Welsh, J. A., Sharma, A., Cunningham, S. A., & Vos, M. B. (2011). Consumption of added sugars and indicators of cardiovascular disease risk among US adolescents. Circulation, 123(3), 249–257. https://doi.org/10.1161/CIRCULATIONAHA.110.972166

    Vartanian, L. R., Schwartz, M. B., & Brownell, K. D. (2007). Effects of soft drink consumption on nutrition and health: a systematic review and meta-analysis. American journal of public health, 97(4), 667–675. https://doi.org/10.2105/AJPH.2005.083782

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui Feb 18
    Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan