home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apakah Lansia Boleh Melakukan Diet?

Apakah Lansia Boleh Melakukan Diet?

Rasanya, hampir setiap orang mendambakan bentuk badan yang ideal dan hidup yang lebih sehat, tak terkecuali orang yang sudah lanjut usia. Mungkin ada beberapa lansia yang ingin menjaga berat badannya tetap ideal atau menurunkan berat badannya dengan cara menerapkan diet. Lantas, apakah boleh melakukan diet untuk lansia? Apa ada aturan khususnya?

Diet untuk lansia, perlukah dilakukan?

Mungkin yang sering Anda tahu, kalau diet lebih banyak dilakukan di kalangan usia muda hingga dewasa. Ya, memang tidak mengherankan karena banyak orang, terutama di kalangan anak muda, yang mendambakan memiliki berat badan ideal dan akhirnya melakukan diet.

Meski begitu, tak jarang lansia yang ingin melakukan diet. Namun tak sedikit juga yang mempertanyakan apakah diet untuk lansia ini aman dilakukan. Memang, bagi yang memiliki berat badan berlebih maka diet dengan menurunkan berat badan dipercaya bisa mengurangi risiko terserang penyakit.

Akan tetapi, diet yang populer saat ini cukup ekstrem bagi kesehatan lansia. Bahkan tak hanya membuat berat badan turun, tapi juga bisa mengurangi massa otot lansia. Belum lagi, diet ekstrem dapat membuat lansia mengalami kekurangan zat gizi tertentu. Hal ini tentu saja berisiko bagi kesehatan para lansia.

Itu sebabnya, mengapa diet yang populer saat ini tidak terlalu disarankan bagi lansia.

Lalu sebenarnya, diet apa yang dianjurkan untuk lansia?

Meski tidak terlalu dianjurkan, bukan berarti lansia tidak bisa mendapatkan berat badan ideal dan menurunkan risiko penyakit. Sebagai gantinya, Anda bisa menjaga agar berat badan tidak melonjak naik, dengan cara menerapkan pola makan harian yang sehat.

Sebab pada dasarnya, diet tidak melulu soal menurunkan berat badan. Diet sebenarnya bertujuan mengubah pola makan menjadi lebih sehat dan seimbang. Singkatnya, dengan melakukan diet, Anda berupaya untuk menjaga kesehatan dengan menerapkan pola makan yang sehat, misalnya dengan membatasi asupan lemak, gula, garam serta memperbanyak makan makanan sumber protein, serat, vitamin, mineral, dan zat gizi lainnya.

Dengan begitu, tubuh akan senantiasa sehat meskipun usia semakin bertambah. Diet yang sehat juga bisa membantu Anda untuk mempertahankan berat badan normal, mencukupi kebutuhan nutrisi, bahkan menyuplai sejumlah energi bagi tubuh. Akhirnya, akan menurunkan risiko munculnya penyakit kronis.

pola makan lansia

Diet yang sehat juga berfungsi sebagai pengobatan untuk lansia

Menerapkan diet yang sehat bukan hanya bertujuan untuk mencegah munculnya penyakit, tapi juga bisa sebagai salah satu cara guna mengobati serangan penyakit. Pasalnya, tidak menutup kemungkinan bahwa seiring bertambahnya usia, maka tubuh akan lebih rentan mengalami masalah kesehatan, seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, osteoporosis, kolesterol tinggi, dan kondisi medis lainnya.

Nah, disinilah peran diet yang sehat dibutuhkan oleh lansia. Misalnya, ketika Anda didiagnosis memiliki diabetes, tekanan darah tinggi, atau kolesterol tinggi. Artinya, Anda harus mengontrol pola makan dengan makan makanan yang kaya nutrisi, tapi rendah kalori, gula, dan lemak jenuh. Intinya, diet yang dimaksud adalah menyesuaikan pola makan dengan penyakit yang Anda derita.

Bahkan, dokter bisa saja membatasi beberapa asupan makanan yang diyakini dapat menghambat proses metabolisme obat yang Anda konsumsi. Ambil contoh, ketika Anda sedang rutin minum obat warfarin, yakni obat pengencer darah, biasanya Anda disarankan untuk menghindari makan buah grapefruit atau jeruk bali merah.

Alasannya karena buah grapefruit bisa menurunkan kemampuan tubuh dalam mencerna obat warfarin. Di sisi lain, Anda mungkin akan lebih dianjurkan untuk menambah konsumsi beberapa jenis makanan, dikutip dari laman Healthline.

Maka itu, bila Anda sedang rutin minum obat, pastikan untuk mengetahui makanan dan minuman apa saja yang boleh dan tidak boleh Anda konsumsi. Lagi-lagi, hal ini dimaksudkan untuk menerapkan diet dengan pola makan yang sehat dan seimbang.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Healthy Eating for Seniors. https://www.healthline.com/health/healthy-eating-for-seniors Diakses pada 28 Mei 2018.

7 Ways to Lose Weght When You’re Over 60. https://www.prevention.com/weight-loss/a20476245/lose-weight-after-60/ Diakses pada 28 Mei 2018.

How Your Nutritional Needs Change as You Age. https://www.healthline.com/nutrition/nutritional-needs-and-aging#section3 Diakses pada 28 Mei 2018.

Obesity and the Elderly. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22772735 Diakses pada 28 Mei 2018.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Tanggal diperbarui 21/06/2018
x