Hipertensi Sekunder

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/04/2020
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu hipertensi sekunder?

Hipertensi sekunder adalah jenis tekanan darah tinggi yang disebabkan oleh penyakit atau kondisi kesehatan tertentu. Jenis lain dari hipertensi adalah hipertensi esensial, di mana kenaikan tekanan darah tidak memiliki penyebab yang pasti.

Beberapa penyakit dan kondisi kesehatan yang memicu terjadinya hipertensi sekunder adalah penyakit ginjal, masalah pada kelenjar tiroid, penyempitan pembuluh aorta dan gangguan tidur (sleep apnea).

Selain itu, faktor-faktor risiko seperti konsumsi obat-obatan tertentu, berat badan berlebihan, kehamilan, serta stress juga dapat memperbesar peluang seseorang untuk menderita kondisi ini.

Penanganan untuk hipertensi sekunder umumnya fokus pada penyakit atau kondisi kesehatan yang menjadi penyebab utamanya. Selain itu, penanganan berupa operasi mungkin juga dilakukan pada beberapa pasien, terutama dengan kasus kelainan pembuluh darah atau tumor.

Seberapa umumkah hipertensi sekunder terjadi?

Hipertensi adalah kondisi kesehatan yang umum terjadi. Di seluruh dunia, terdapat sekitar lebih dari 1 miliar orang yang menderita tekanan darah tinggi.

Menurut Everyday Health, hipertensi jenis sekunder hanya terjadi pada 5-10% penderita tekanan darah tinggi. Kebanyakan kasus hipertensi umumnya tidak memiliki penyebab yang jelas. Lebih dari 90% kasus tergolong dalam hipertensi esensial.

Hipertensi sekunder dapat diatasi dengan cara mengendalikan faktor-faktor risiko yang ada. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai kondisi kesehatan ini, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter.

Tanda-tanda dan gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala dari hipertensi sekunder?

Tanda-tanda dan gejala dari hipertensi sekunder mungkin akan bervariasi pada masing-masing penderita. Hal ini tergantung pada penyakit atau kondisi kesehatan yang menjadi penyebab utama hipertensi.

Beberapa tanda dan gejala yang paling umum adalah:

  • Sakit kepala.
  • Berkeringat berlebihan.
  • Jantung berdetak lebih cepat.
  • Kenaikan berat badan yang tidak wajar, atau justru turun drastis.
  • Tubuh terasa lemas.
  • Kecemasan.

Dalam beberapa kasus, penderita mungkin juga akan mengalami sesak napas atau mimisan. Namun, umumnya gejala-gejala tersebut baru muncul ketika kondisi ini sudah memasuki tahap yang lebih parah.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Apabila Anda memiliki kekhawatiran akan gejala-gejala tertentu segera periksakan diri ke dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Gejala-gejala yang perlu Anda waspadai adalah nyeri dada, sesak napas, dan refleks tubuh menurun. Ada kemungkinan organ tubuh Anda mungkin telah terpengaruh dan kondisi yang Anda alami berkembang menjadi kasus hipertensi yang jauh lebih serius.

Tubuh masing-masing penderita menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. Agar Anda mendapatkan penanganan yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, periksakan apapun gejala yang muncul ke dokter atau pusat layanan kesehatan terdekat.

Penyebab

Apa saja penyebab hipertensi sekunder?

Hipertensi sekunder dapat disebabkan oleh penyakit atau kondisi kesehatan tertentu. Berikut adalah beberapa di antaranya:

1. Penyakit ginjal

Ketika terjadi penyakit ginjal, atau ada penyempitan di pembuluh arteri pada ginjal, hal tersebut menyebabkan suplai darah menuju ginjal berkurang. Kondisi ini memicu peningkatan produksi hormon yang disebut dengan renin.

Kadar renin yang berlebihan dapat merangsang produksi senyawa tertentu, seperti molekul protein angiotensin II. Senyawa tersebut dapat meningkatkan tekanan darah.

2. Penyakit pada kelenjar adrenal

Kelenjar adrenal adalah organ yang terletak di atas ginjal dan berperan dalam produksi hormon dalam tubuh. Jika terjadi masalah pada kelenjar tersebut, hormon di dalam tubuh menjadi tidak seimbang dan memicu masalah-masalah kesehatan, seperti:

  • Pheochromocytoma: tumor di kelenjar adrenal yang memproduksi hormon epinefrin dan norepinefrin secara berlebihan, sehingga tekanan darah pun naik
  • Sindrom Conn atau aldosteronisme: kondisi ketika tubuh memproduksi terlalu banyak hormon aldosteron, sehingga tubuh tidak dapat membuang garam dengan baik dan tekanan darah menjadi tinggi.
  • Sindrom Cushing: mengakibatkan produksi hormon kortisol secara berlebihan, sehingga tekanan darah dan metabolisme karbohidrat dalam tubuh terganggu.

3. Hiperparatiroidisme

Pada kondisi ini, kelenjar paratiroid memproduksi hormon parathormone secara berlebihan. Hormon ini berpotensi memicu kenaikan kadar kalsium di dalam darah. Hal ini menyebabkan tekanan darah dapat meningkat.

4. Masalah pada tiroid

Gangguan yang terjadi pada kelenjar tiroid, seperti hipotiroidisme, juga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi akibat ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh.

5. Koarktasio aorta

Koarktasio aorta merupakan penyempitan yang terjadi di pembuluh aorta. Jika kondisi ini terjadi, aliran darah dapat terganggu dan tekanannya pun naik.

6. Sleep apnea obstruktif

Sleep apnea adalah kondisi ketika napas Anda berhenti sebentar saat tidur. Jika kondisi ini sering terjadi, tekanan darah dapat naik.

7. Konsumsi obat-obatan tertentu

Beberapa jenis obat juga dapat memicu terjadinya hipertensi sekunder, seperti:

  • Obat kontrasepsi.
  • Obat non-steroidal anti-inflammatory agent (NSAID).
  • Pil diet.
  • Obat antidepresan.
  • Obat penekan sistem imun.
  • Obat dekongestan.
  • Obat-obatan kemoterapi.

8. Kondisi kesehatan lainnya

Hipertensi juga dapat dipicu oleh beberapa kondisi kesehatan yang meliputi:

  • Berat badan berlebih (obesitas).
  • Resistensi insulin dalam tubuh.
  • Minum minuman beralkohol terlalu sering.
  • Terlalu banyak mengonsumsi garam.
  • Kurang asupan kalium dan kalsium.
  • Kadar lemak dalam darah meningkat (dislipidemia).
  • Stres.
  • Jarang beraktivitas fisik atau berolahraga.

Diagnosis dan pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana dokter mendiagnosis hipertensi sekunder?

Tekanan darah dapat dikatakan tinggi apabila berada di angka sistolik dan diastolik tertentu. Angka sistolik merupakan angka yang menunjukkan tekanan saat jantung memompa darah, sedangkan angka diastolik menunjukkan tekanan ketika jantung beristirahat dan tidak memompa darah.

Penghitungan tekanan darah biasanya dikategorikan sebagai berikut:

  • Tekanan darah naik (prehipertensi): Angka sistolik berada di kisaran 120-129 mmHg, dan angka diastolik di bawah 80 mmHg. Kondisi ini belum tergolong dalam hipertensi.
  • Hipertensi tahap 1: Jika angka sistolik berada di kisaran 130-139 mmHg atau diastolik berada di angka 80-89 mmHg, kemungkinan Anda menderita hipertensi tahap 1.
  • Hipertensi tahap 2: Jika angka sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, dan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, Anda mungkin menderita hipertensi tahap 2.

Dokter akan mengukur tekanan darah Anda dengan alat khusus. Jika tekanan darah Anda tinggi, ada kemungkinan Anda menderita hipertensi.

Namun, sebelum mendiagnosis apakah Anda menderita hipertensi sekunder atau tidak, dokter biasanya akan mencari tahu apakah Anda memiliki faktor-faktor tertentu, seperti:

  • Usia di bawah 30 tahun dengan hipertensi.
  • Menderita hipertensi resisten (hipertensi tidak membaik walau sudah ditangani dengan obat-obatan antihipertensi).
  • Tidak menderita obesitas.
  • Tidak ada anggota keluarga yang menderita hipertensi.
  • Adanya tanda-tanda dan gejala dari penyakit lain.

Selain itu, dokter juga mungkin akan merekomendasikan tes lainnya berupa:

  • Tes fungsi tiroid.
  • Mengukur kadar kalsium dan kalium di dalam darah.
  • Tes fungsi ginjal.
  • Tes urine.
  • USG ginjal.
  • CT atau MRI scan untuk mengecek kelenjar adrenal.

Bagaimana hipertensi sekunder diobati?

Perubahan gaya hidup biasanya merupakan cara utama dalam mengobati hipertensi. Berikut adalah beberapa hal yang perlu Anda lakukan untuk menurunkan tekanan darah:

  • Olahraga setidaknya 30 menit sehari. Konsultasikan dengan dokter olahraga seperti apa yang sesuai dengan kondisi Anda.
  • Turunkan berat badan apabila Anda memiliki massa tubuh yang berlebihan.
  • Berhenti merokok
  • Batasi konsumsi alkohol. Bila perlu, jangan minum minuman beralkohol sama sekali.
  • Kelola stres dengan baik.
  • Konsumsi makanan yang rendah garam, kaya akan kalium, serta berserat tinggi.

Namun, jika hipertensi sekunder yang Anda derita berkaitan dengan masalah pada ginjal, pastikan Anda berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter mengenai batasan kalium untuk tubuh Anda.

Obat-obatan

Apabila perubahan gaya hidup tidak cukup membantu, dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan antihipertensi. Beberapa di antaranya adalah:

  • beta-blocker, seperti metoprolol (Lopressor).
  • calcium channel blocker, seperti amlodipine (Norvasc).
  • diuretik, seperti hydrochlorothiazide/HCTZ (Microzide).
  • angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor, seperti captopril (Capoten).
  • angiotensin II receptor blocker (ARB), seperti losartan (Cozaar).
  • renin inhibitor, seperti aliskiren (Tekturna).

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Mengenal Ometaphobia, Ketika Seseorang Takut Berlebihan pada Mata

    Seseorang yang memiliki fobia ini selalu merasa khawatir, terancam, dan ketakutan akan bahaya yang dapat menimpa mata mereka. Apa itu ommetaphobia?

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Winona Katyusha

    Punya Psoriasis? Waspada, 5 Obat Ini Bisa Jadi Pemicu Gejalanya Makin Parah

    Berbagai hal bisa memicu kambuhnya psoriasis, salah satunya adalah penggunaan obat. Oleh sebab itu, hindarilah konsumsi obat-obatan pemicu psoriasis ini.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Fidhia Kemala

    Berbagai Macam Upaya Pencegahan agar Terhindar dari Pneumonia

    Pencegahan pneumonia bisa dimulai dari hal kecil, seperti menjalani pola hidup sehat dan melakukan vaksinasi. Simak cara-cara mencegah pneumonia berikut ini

    Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Fajarina Nurin

    Liburan Cuma di Rumah? Usir Rasa Bosan dengan 5 Kegiatan Seru Ini

    Dengan aktivitas yang tepat, liburan hanya di rumah sekalipun bisa tetap terasa menyenangkan. Apa saja kegiatan yang bisa Anda lakukan?

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Diah Ayu

    Direkomendasikan untuk Anda

    penyebab anda masih melajang

    Jomblo Bukan Nasib Tapi Pilihan, Ini Penyebab Anda Masih Saja Melajang

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Fidhia Kemala
    Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020
    obat untuk infeksi jamur kulit

    Cara Memilih Obat untuk Kulit yang Gatal Karena Infeksi Jamur Kulit

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Maria Amanda
    Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020
    pantangan makanan divertikulitis

    Pantangan Makanan bagi Penderita Divertikulitis (Radang Kantung Usus Besar)

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Diah Ayu
    Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020
    diagnosis hiv

    Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020