Komplikasi Hipertensi yang Mungkin Terjadi Jika Tidak Segera Diatasi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit
Bagikan sekarang

Hipertensi pada umumnya tidak bisa dirasakan dan tidak menunjukkan gejala darah tinggi yang berarti. Oleh karena itu, banyak orang tidak menyadari kalau mereka punya darah tinggi. Bahkan, beberapa orang malah menyepelekan kondisi ini. Padahal, hipertensi yang dibiarkan atau tidak dirawat dengan baik dapat berdampak pada komplikasi serius bagi kesehatan tubuh.

Meski tanpa gejala, seseorang dapat mengetahui bahwa dirinya menderita tekanan darah tinggi melalui pengukuran tekanan darah secara rutin. Adapun tekanan darah yang tergolong hipertensi yaitu mencapai 140/90 mmHg atau lebih. Sementara tekanan darah normal, yaitu berada di bawah 120/80 mmHg. Bila tekanan darahnya berada di antara kisaran itu, seseorang dikatakan memiliki jenis hipertensi lain, yaitu prehipertensi.

Komplikasi hipertensi yang harus diwaspadai

8 Komplikasi Hipertensi yang Harus Anda Waspadai

Tekanan darah tinggi terjadi ketika aliran darah mendorong atau menekan pembuluh darah dengan sangat kuat. Penyebab hipertensi beragam, meski sebagian besarnya tidak diketahui secara pasti.

Tekanan darah yang kuat dapat melemahkan dan merusak dinding pembuluh darah arteri. Padahal, seyogyanya, pembuluh darah arteri memiliki bentuk yang elastis, kuat, dan fleksibel. Bagian dinding dalamnya pun bertekstur lembut, sehingga darah dapat mengalir dengan lancar dan menyuplai organ-organ penting di dalam tubuh dengan oksigen dan gizi lainnya.

Dengan demikian, bila pembuluh darah arteri rusak, aliran darah menjadi terganggu dan suplai oksigen ke organ-organ penting dalam tubuh menjadi terbatas. Bila hal ini terjadi, penyakit lain akibat hipertensi akan sangat mungkin muncul. Bahkan, penyakit-penyakit tersebut pun tidak jarang dapat menyebabkan kematian.

Berikut beberapa komplikasi yang harus Anda waspadai bila Anda memiliki riwayat hipertensi:

1. Aterosklerosis

Saat pembuluh darah Anda rusak, lemak yang masuk melalui makanan Anda dapat menumpuk di dinding pembuluh darah arteri. Penumpukan ini lama-lama akan menjadi plak (timbunan lemak) serta membuat dinding pembuluh darah tebal dan kaku sehingga terjadi penyempitan. Penyempitan pada pembuluh darah ini disebut dengan aterosklerosis.

Bila terjadi aterosklerosis, aliran darah dari pembuluh arteri ke organ-organ lainnya menjadi terhambat. Dengan demikian, organ-organ tubuh Anda akan kekurangan suplai darah yang mengandung oksigen dan gizi lainnya, sehingga menimbulkan berbagai masalah pada organ tubuh, seperti jantung, otak, ginjal, atau organ lainnya.

2. Aneurisma

Aterosklerosis akibat tekanan darah tinggi dapat membentuk tonjolan di dinding pembuluh darah arteri. Tonjolan ini disebut dengan aneurisma.

Komplikasi hipertensi berupa aneurisma biasanya tidak menyebabkan tanda atau gejala selama bertahun-tahun. Adapun rasa sakit seperti berdenyut yang dirasakan merupakan kondisi medis yang perlu mendapat penanganan segera. Lebih parahnya, jika aneurisma terus membesar dan akhirnya pecah, ini bisa menyebabkan perdarahan internal yang mengancam jiwa.

Aneurisma dapat terbentuk di arteri mana pun, tetapi kondisi ini paling sering terjadi di arteri yang terbesar pada tubuh Anda atau yang disebut dengan aorta.

3. Penyakit arteri perifer

Aterosklerosis akibat hipertensi dapat mempersempit arteri perifer, yaitu pembuluh darah arteri yang terdapat di kaki, perut, lengan, dan kepala. Kondisi ini disebut dengan penyakit arteri perifer.

Penyakit arteri perifer paling sering memengaruhi arteri di kaki. Gejala yang paling umum, yaitu kram dan nyeri atau terasa lelah pada otot kaki atau pinggul saat berjalan atau menaiki tangga. Biasanya, rasa sakit ini akan hilang dengan istirahat dan muncul kembali ketika Anda berjalan lagi.

Pada kasus yang jarang, penyakit arteri perifer dapat menimbulkan kematian jaringan (gangrene) yang bisa berujung pada kehilangan anggota tubuh atau amputasi, bahkan kematian.

4. Penyakit arteri koroner

Hipertensi bisa memicu komplikasi kesehatan pada jantung. Hal ini bisa terjadi bila hipertensi yang Anda derita menyebabkan kerusakan dan penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis) yang menuju jantung (arteri koroner). Kondisi ini disebut dengan penyakit arteri koroner.

Penyakit arteri koroner menyebabkan suplai darah menuju otot jantung menjadi terganggu. Tanpa suplai darah yang memadai, jantung menjadi kekurangan oksigen dan nutrisi penting yang dibutuhkan jantung untuk bekerja dengan baik. Kondisi ini kemudian dapat menyebabkan nyeri dada (angina), serangan jantung, atau detak jantung tidak beraturan (aritmia).

5. Pembesaran ventrikel kiri jantung

Masalah jantung lain yang bisa timbul akibat hipertensi adalah hipertrofi ventrikel kiri. Hipertrofi ventrikel kiri atau disebut juga dengan pembesaran ventrikel (bilik) kiri jantung, yaitu kondisi ketika ventrikel kiri jantung menebal dan membesar, sehingga tidak dapat memompa darah dengan baik.

Pada kondisi ini, jantung perlu memompa darah lebih keras dari biasanya untuk memenuhi suplai darah seluruh tubuh. Bila tidak segera diatasi, kondisi ini bisa berkembang ke serangan jantung, gagal jantung, hingga henti jantung.

6. Serangan jantung

penyebab serangan jantung

Hipertensi bisa menyebabkan serangan jantung bila tidak mendapat perawatan yang tepat. Kondisi ini terjadi bila hipertensi yang Anda miliki telah menyebabkan penyempitan atau arterosklerosis pada pembuluh darah arteri koroner atau penyakit arteri koroner.

Akibat penyempitan tersebut, aliran darah ke otot-otot jantung akan terganggu sehingga otot jantung tidak mendapatkan asupan oksigen dan nutrisi yang cukup. Ketika ini terjadi, jaringan otot jantung akan mulai rusak dan bahkan mati perlahan sehingga menyebabkan serangan jantung.

Serangan jantung merupakan kondisi darurat. Kondisi ini memerlukan penanganan medis sesegera mungkin sebab dapat berakibat fatal. Saat serangan jantung terjadi, umumnya seseorang akan merasakan beberapa gejala, seperti dada terasa seperti tertekan, nyeri, atau sensasi seperti diremas dan menyebar ke leher, rahang, atau punggung, mual, gangguan pencernaan, mulas, atau sakit perut, sesak napas, keringat dingin, kelelahan, serta sakit kepala ringan atau pusing mendadak.

7. Gagal jantung

Hipertensi yang dibiarkan dan tidak ditangani dengan tepat juga bisa menyebabkan komplikasi jantung lainnya, yaitu gagal jantung. Adapun gagal jantung, yaitu kondisi di mana jantung Anda tidak bisa memberikan darah yang cukup untuk tubuh.

American Heart Association (AHA) menyebut, hal ini bisa terjadi karena pembuluh darah arteri menjadi sempit akibat tekanan darah yang tinggi. Adapun pembuluh arteri yang menyempit membuat darah sulit untuk mengalir ke seluruh tubuh.

Kondisi ini pada akhirnya memaksa jantung untuk memompa darah lebih keras. Seiring waktu, beban kerja yang lebih tinggi menyebabkan jantung menebal dan membesar. Adapun jantung yang semakin besar, akan semakin sulit pula untuk bekerja dalam memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah.

Gejala umum dari gagal jantung adalah sesak napas, kelelahan, bengkak di pergelangan tangan, kaki, perut, dan pembuluh darah di leher.

8. Glomerulosklerosis

Ginjal dan tekanan darah tinggi sangat berhubungan. Ginjal bekerja dengan cara membuang sisa makanan dan cairan berlebih dari tubuh. Adapun proses ini sangat bergantung pada pembuluh darah yang sehat.

Jika Anda menderita tekanan darah tinggi, hal tersebut berisiko merusak pembuluh darah yang mengarah dan berasal dari ginjal. Kondisi ini memicu terjadinya komplikasi hipertensi berupa nefropati, sekumpulan penyakit yang menyerang ginjal.

Salah satu masalah pada ginjal yang mungkin terjadi, yaitu glumerulosklerosis. Glumerulosklerosis adalah luka yang terdapat di glomeruli, yaitu pembuluh-pembuluh darah kecil yang terdapat di ginjal. Fungsi dari glomeruli adalah menyaring cairan dan sisa pembuangan dari darah.

Glumerulosklerosis juga merupakan salah satu pemicu utama terjadinya gagal ginjal.

9. Aneurisma arteri ginjal

Aneurisma juga dapat terbentuk pada dinding pembuluh darah di ginjal. Jika aneurisma muncul di arteri menuju ginjal, kondisi ini disebut dengan aneurisma arteri ginjal. Sebagaimana aneurisma pada umumnya, aneurisma arteri ginjal juga terjadi akibat aterosklerosis, yang salah satu penyebabnya adalah tekanan darah tinggi.

10. Penyakit ginjal kronis

Tekanan darah tinggi atau hipertensi yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkan komplikasi pada ginjal lainnya, yaitu penyakit ginjal kronis (chronic kidney disease). Penyakit ginjal kronis merupakan hilangnya fungsi ginjal yang terjadi secara bertahap.

Penyakit ini dapat terjadi karena tekanan darah yang tinggi menurunkan fungsi ginjal dalam membuang cairan berlebih dari dalam tubuh. Penurunan fungsi ginjal ini dapat memburuk dan menyebabkan kerusakan ginjal selama beberapa bulan atau tahun.

Pada tahap awal, penyakit ginjal kronis hanya menimbulkan gejala ringan. Seiring waktu, gejala yang dirasakan semakin kuat sejalan dengan perkembangan kerusakan ginjalnya. Bila semakin parah, penyakit ginjal kronis dapat berkembang ke gagal ginjal atau end-stage renal disease (ESRD).

11. Gagal ginjal

Komplikasi pada ginjal akibat hipertensi lainnya, yaitu gagal ginjal. American Kidney Fund mengatakan, gagal ginjal atau end-stage renal disease (ESRD) merupakan kondisi di mana ginjal sudah tidak bisa bekerja dengan baik untuk membuang cairan berlebih dari dalam tubuh.

Gagal ginjal bisa terjadi karena tekanan darah yang tinggi. Ini merupakan penyakit ginjal yang sudah fatal. Pada kondisi ini, ginjal menjadi rusak, dan tidak dapat menyaring sisa pembuangan dari darah Anda. Lama-kelamaan, cairan berlebih akan menumpuk di ginjal dan Anda perlu menjalani proses cuci darah (dialisis) atau transplantasi ginjal agar bisa bertahan hidup.

12. Kebutaan

mencegah kebutaan

Tak hanya bisa memengaruhi pembuluh darah di ginjal, hipertensi juga bisa memicu terjadinya komplikasi pada pembuluh darah di mata. Pembuluh darah di mata juga bisa rusak, kemudian menyempit dan menebal akibat tekanan darah tinggi.

Bila hal ini terjadi, aliran darah ke mata akan menjadi terbatas. Adapun kurangnya aliran darah ke retina menyebabkan penglihatan kabur atau hilangnya penglihatan secara total (kebutaan). Kondisi ini disebut juga dengan retinopati hipertensi.

Selain retinopati, kebutaan pada penderita hipertensi juga bisa terjadi karena adanya penumpukan cairan di bawah retina (koroidopati) atau kerusakan saraf (neuropati optik). Neuropati optik terjadi karena aliran darah yang terhambat merusak saraf optik. Kondisi ini merusak sel-sel saraf di mata Anda sehingga menimbulkan kelihatan penglihatan semenara atau permanen.

13. Stroke

Selain jantung dan mata, organ lainnya yang mungkin terpengaruh akibat hipertensi, yaitu otak. Salah satu gangguan pada otak yang sering terjadi, yaitu stroke. Adapun stroke merupakan kondisi ketika aliran darah kaya oksigen dan nutrisi ke sebagian area otak terganggu, sehingga menyebabkan sel-sel otak mati.

Stroke bisa disebabkan oleh hipertensi atau tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan pembuluh darah di otak pecah. Kondisi tersebut menyebabkan aliran darah ke otak terhalang dan terjadilah stroke.

Gejala stroke meliputi kelumpuhan atau mati rasa pada wajah, tangan, dan kaki, kesulitan berbicara, dan kesulitan melihat.

14. Transcient ischemic attack atau stroke ringan

Selain stroke secara umum, hipertensi juga bisa menyebabkan transcient ischemic attack (TIA) atau yang juga disebut dengan stroke ringan. TIA merupakan gangguan sementara pasokan darah ke otak Anda.

Sama halnya dengan stroke, kondisi ini bisa terjadi ketika aliran darah yang menuju otak terganggu akibat pembuluh darah arteri yang menyempit. Namun, kondisi ini tidak separah stroke. TIA sering merupakan peringatan bahwa Anda berisiko terkena stroke.

15. Kesulitan dalam mengingat, fokus atau demensia

Hipertensi yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkan komplikasi berupa perubahan kognitif. Anda mungkin akan mengalami masalah dalam berpikir, mengingat, dan belajar.

Tanda-tanda komplikasi hipertensi ini bisa berupa kesulitan dalam menemukan kata-kata saat berbicara, dan kehilangan fokus saat dalam pembicaraan.

Komplikasi yang terjadi dari kondisi ini, apabila hipertensi tidak segera ditangani, adalah demensia. Demensia merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan gejala-gejala hilang ingatan, kebingungan, sulit berbicara, serta sulit memahami atau menerima informasi.

Demensia sebagai komplikasi hipertensi ini biasanya bersifat progresif. Artinya, gejala-gejala akan semakin memburuk seiring dengan berjalannya waktu. Jenis demensia yang biasanya terjadi akibat komplikasi hipertensi adalah demensia vaskuler.

Penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah pada penderita hipertensi dapat menyebabkan komplikasi berupa bermasalahnya suplai darah menuju otak. Hal ini yang dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi hipertensi berupa demensia.

16. Sindrom metabolik

sindrom metabolik buncit obesitas

Sindrom metabolik merupakan kumpulan dari kelainan metabolisme dalam tubuh. Salah satu faktor risikonya adalah tekanan darah tinggi, sehingga sindrom metabolik termasuk dalam komplikasi hipertensi.

Tekanan darah tinggi yang dibarengi dengan kondisi kadar gula darah tinggi, kadar kolesterol tinggi (kadar kolesterol baik rendah dan kadar trigliserida tinggi), dan lingkar pinggang besar didiagnosis sebagai sindrom metabolik. Kondisi ini memungkinkan penderita hipertensi terserang diabetes, penyakit jantung, dan stroke.

17. Disfungsi seksual

Seiring dengan bertambahnya usia, kerusakan dinding pembuluh darah akibat komplikasi hipertensi juga dapat memengaruhi fungsi organ reproduksi.

Pada pria, komplikasi hipertensi dapat menyebabkan impotensi, yaitu ketidakmampuan pria untuk mencapai atau mempertahankan ereksi. Sementara itu, wanita juga mungkin akan mengalami komplikasi hipertensi berupa penurunan gairah seksual, vagina kering, atau kesulitan mencapai orgasme saat berhubungan seksual.

Meski Anda memiliki riwayat tekanan darah tinggi, Anda masih bisa menghindari komplikasi-komplikasi tersebut. Selain rutin melakukan cek tekanan darah, Anda pun perlu menerapkan gaya hidup sehat, seperti melakukan diet hipertensi dengan mengurangi asupan garam, memperbanyak konsumsi buah-buahan dan sayuran, berolahraga, tidak merokok, mengurangi asupan alkohol, dan mengurangi stres.

Bila perlu, dokter akan memberikan obat darah tinggi untuk dapat mengontrol tekanan darah Anda lebih baik. Anda pun perlu ingat untuk selalu berkonsultasi dengan dokter mengenai perkembangan kesehatan Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenali Gejala dan Bahaya Tekanan Darah Tinggi Setelah Melahirkan

Hipertensi atau tekanan darah tinggi setelah melahirkan dikenal dengan istilah postpartum preeklampsia. Apa saja gejala dan bahayanya? Cari tahu di sini.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hipertensi, Kesehatan Jantung 13 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

5 Penyakit yang Banyak Menyerang Lansia di Indonesia

Semakin bertambah usia seseorang, pada umumnya semakin banyak penyakit yang diderita. Apa saja penyakit pada lansia yang sering terjadi?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Hidup Sehat, Tips Sehat 12 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

8 Cara Ampuh Mencegah Penyakit Jantung dan Kekambuhannya

Kabar baik, berbagai masalah jantung dapat Anda cegah. Cara mencegah penyakit jantung pun beragam. Apa saja tindakan pencegahan penyakit jantung?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Penyakit Jantung, Kesehatan Jantung 5 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

Apa Sebenarnya Pengaruh Alkohol untuk Kesehatan Jantung?

Konsumsi alkohol ternyata memengaruhi kondisi jantung Anda. Lantas, apa pengaruh baik dan buruk minum alkohol untuk kesehatan jantung?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Penyakit Jantung, Kesehatan Jantung 1 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

syok hipovolemik

Syok Hipovolemik

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 24 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit
ibu hamil makan daging kambing

Bolehkah Ibu Hamil Makan Daging Kambing?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
bahaya makanan asin

Kenapa Kita Tak Boleh Terlalu Banyak Makan Makanan Asin?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
atrofi otot

Informasi Lengkap Atrofi Otot, Mulai dari Gejala Hingga Pengobatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 18 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit