home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenal Pitocin, Obat untuk Induksi Persalinan yang Paling Sering Diberikan

Mengenal Pitocin, Obat untuk Induksi Persalinan yang Paling Sering Diberikan

Apabila Anda belum menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan walaupun waktunya sudah tiba, dokter mungkin akan melakukan induksi persalinan. Meskipun induksi persalinan bisa dilakukan dengan berbagai cara, metode pemberian obat pitocin melalui infus merupakan yang paling populer.

Apa itu pitocin?

Pitocin adalah obat cair yang merupakan bentuk sintetis dari oksitosin. Oksitosin sendiri merupakan hormon yang diproduksi tubuh secara alami untuk memicu rahim berkontraksi.

Obat ini sering digunakan untuk menginduksi persalinan dan mengendalikan perdarahan setelah melahirkan. Tidak hanya itu, obat ini juga bisa digunakan untuk merangsang kontraksi rahim pada wanita yang terancam keguguran atau telah keguguran.

Meski begitu, penggunaan obat ini tidak selalu dibutuhkan pada setiap persalinan. Pasalnya, induksi persalinan hanya dilakukan saat kondisi bayi lebih berisiko untuk tetap berada di dalam rahim. Biasanya dokter akan memberikan pitocin apabila pasien dalam keadaan tertentu seperti:

  • Usia kehamilan sudah mendekati 42 minggu, namun belum terjadi kontraksi.
  • Kantung ketuban sudah pecah tetapi Anda tidak mengalami kontraksi.
  • Anda mengalami infeksi pada rahim atau chorioamnionitis
  • Bayi dalam kandungan sudah berhenti tumbuh
  • Cairan ketuban sedikit atau tidak cukup mengelilingi bayi (oligohidramnion)
  • Kondisi plasenta mulai memburuk
  • Anda mengalami abrupsio plasenta
  • Anda memiliki riwayat bayi lahir mati pada kehamilan sebelumnya
  • Anda mempunyai kondisi medis yang berisiko bagi Anda dan bayi, seperti hipertensi, preeklampsia, atau diabetes gestasional
  • Jika bius epidural justru memperlambat proses persalinan, dan dibutuhkan induksi untuk melanjutkan proses persalinan.

Bagaimana cara kerja obat ini?

Untuk menginduksi persalinan, obat pitocin biasanya disuntikkan oleh perawat ke dalam pembuluh darah melalui infus. Lalu tidak lama setelahnya, hormon tersebut dalam tubuh Anda akan berikatan dengan reseptor di dalam rahim yang kemudian mengaktifkan otot rahim untuk mendorong kontraksi. Nah, kontraksi ini secara bertahap akan membuat serviks (leher rahim atau saluran tempat jalan keluarnya bayi dari rahim menuju vagina) terbuka/melebar sehingga bayi bisa bergerak mendorong tubuhnya melewati jalan lahir.

Perawat mungkin akan meningkatkan dosis pitocin sekitar setengah jam sekali atau lebih sesuai dengan kebutuhan pasien. Intinya, perawat akan secara bertahap menaikkan dosis pitocin sampai Anda mengalami kontraksi teratur setiap 2-3 menit sekali.

Apa saja efek samping pitocin?

Seperti kebanyakan obat lainnya, pitocin juga berpotensi berbahaya jika tidak diberikan dan dipantau dengan benar. Obat ini memang akan memicu kontraksi yang diperlukan untuk persalinan, namun kontraksi rahim yang berlebihan juga bisa terjadi. Jika hal tersebut terjadi, ini tentu akan membahayakan bayi Anda.

Pasalnya, setiap kontraksi yang dirasakan wanita menjelang persalinan akan menekan pembuluh darah sehingga bisa mengurangi suplai darah ke plasenta. Padahal, kebutuhan oksigen bayi bergantung pada aliran darah ibu ke plasenta. Nah, itu sebabnya kontraksi berlebihan bisa meningkatkan risiko bayi kekurangan oksigen sehingga membuat denyut jantung bayi jadi melemah.

Selain terjadinya kontraksi berlebihan, ada beberapa efek samping obat pitocin lainnya, yaitu:

  • Perdarahan setelah melahirkan. Induksi persalinan juga dapat meningkatkan risiko otot rahim Anda mengalami kontraksi yang buruk setelah persalinan (atonia uteri). Hal ini menyebabkan perdarahan serius setelah melahirkan.
  • Infeksi. Risiko infeksi pada ibu dan bayi meningkat saat Ada mendapatkan induksi persalinan.
  • Ruptur uterus. Meskipun sangat jarang, pitocin juga berpotensi menyebabkan pecahnya rahim atau robekan di dinding rahim jika kontraksi terlalu kuat. Hal ini berlaku bagi wanita yang sebelumnya pernah melakukan operasi caesar dan kemudian berusaha melahirkan secara normal, risiko ini bisa meningkat sekitar 1,5 persen.
  • Operasi caesar.Operasi caesar diperlukan saat induksi persalinan tidak bekerja pada Anda, terutama jika Anda belum pernah melahirkan sebelumnya dan leher rahim Anda belum siap untuk proses persalinan.
  • Retensi cairan. Efek samping potensial lainnya adalah penumpukan air. Hal ini terjadi karena pitocin mirip strukturnya dengan ADH yaitu hormon antidiuretik. Nah, jika diberikan dalam dosis berlebihan, ini dapat menyebabkan penumpukan cairan di dalam tubuh.
  • Kontraksi yang lebih menyakitkan. Meskipun sulit untuk menilai secara objektif, banyak wanita melaporkan mengalami kontraksi yang lebih menyakitkan apabila menggunakan obat induksi persalinan. Meski begitu, efek samping ini mungkin akan berbeda pada setiap orang karena efek tersebut akan tergantung pada bagaimana Anda merespons obat ini.

Selalu bicarakan dengan dokter dalam mempersiapkan persalinan untuk buah hati Anda, sehingga segala sesuatu yang buruk saat melahirkan dapat diantisipasi dengan baik.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Pitocin Induction: The Risks and Benefits  – https://www.healthline.com/health/pregnancy/pitocin-induction#risks diakses pada 30 November 2017

Inducing Labor With Pitocin: Making The Choice  – https://www.babble.com/pregnancy/inducing-labor-pitocin/ diakses pada 30 November 2017

The Lowdown On Using Pitocin During Labor – https://www.thebump.com/a/pitocin diakses pada 30 November 2017

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Tanggal diperbarui 09/12/2017
x