Semua Hal Seputar Ruptur Uteri, Komplikasi Saat Melahirkan Karena Rahim Robek

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Kelancaran proses persalinan diiringi dengan lahirnya bayi yang sehat merupakan dambaan semua ibu. Sayangnya, kadang melahirkan bayi yang sehat bisa tidak disertai dengan persalinan yang lancar. Ya, ini artinya ada suatu komplikasi pada proses melahirkan Anda. Salah satu yang mungkin terjadi yakni ruptur uteri alias rahim robek.

Bukan hanya berbahaya bagi ibu, terjadinya ruptur uteri selama persalinan juga dapat mengancam kesehatan bayi. Agar dapat mencegah risiko ini, simak ulasan selengkapnya mengenai rahim robek berikut ini.

Apa itu ruptur uteri?

proses melahirkan normal

Rahim robek, atau yang dalam istilah medis disebut dengan ruptur uteri adalah kondisi yang terjadi ketika ada robekan pada dinding rahim. Sesuai dengan namanya, komplikasi melahirkan berupa rahim robek ini dapat membuat seluruh lapisan dinding rahim robek, sehingga membahayakan kesehatan ibu dan bayinya.

Tidak menutup kemungkinan, ruptur uteri dapat mengakibatkan perdarahan hebat pada ibu dan bayi tertahan di dalam rahim. Meski begitu, risiko terjadinya rahim robek selama proses persalinan sangatlah kecil.

Kurang dari 1 persen atau hanya 1 dari 3 wanita hamil, yang mengalami ruptur uteri saat melahirkan. Komplikasi melahirkan serius ini biasanya terjadi saat persalinan normal atau melalui vagina.

Khususnya bagi Anda yang menjalani proses melahirkan normal setelah operasi caesar sebelumnya. Ya, vaginal birth after caesar (VBAC) atau dikenal sebagai melahirkan normal setelah caesar, dapat meningkatkan risiko Anda mengalami rahim robek.

Peluang terjadinya rahim robek dapat semakin meningkat setiap kali Anda menjalani operasi melahirkan caesar, dan kemudian beralih ke persalinan normal. Itulah mengapa umumnya dokter lebih cenderung menyarankan ibu hamil untuk menghindari persalinan normal melalui vagina, bila sebelumnya pernah operasi caesar.

Namun, bukan berarti benar-benar tidak ada kesempatan bagi ibu hamil untuk melahirkan normal setelah pernah caesar sebelumnya. Hanya saja, tidak semua kondisi tubuh wanita memungkinkannya untuk melakukan persalinan normal jika sebelumnya pernah melahirkan dengan operasi caesar.

Dokter yang akan mempertimbangkan dan menentukan pilihan metode persalinan terbaik sesuai kondisi kesehatan Anda dan bayi di dalam kandungan. Penting untuk dipahami, ruptur uteri adalah komplikasi melahirkan yang sangat jarang terjadi.

Terutama jika Anda belum pernah melahirkan dengan operasi caesar sebelumnya, menjalani operasi pada rahim, maupun mengalami rahim robek. Risiko untuk mengalami rahim robek saat melahirkan normal tentu sangatlah kecil.

Meski sebagian besar ruptur uterus biasanya terjadi selama proses persalinan, tapi kondisi ini juga bisa berkembang sebelum persalinan.

Apa saja gejala ruptur uteri saat melahirkan?

induksi melahirkan

Ruptur uteri atau robekan pada rahim biasanya sudah mulai muncul di awal persalinan. Selanjutnya, robekan tersebut dapat semakin berkembang seiring berjalannya persalinan normal.

Dokter mungkin akan menyadari gejala awal rahim robek karena adanya kelainan pada detak jantung bayi di dalam kandungan. Bukan itu saja, ibu juga akan mengalami gejala berupa sakit perut hebat, perdarahan pada vagina, hingga nyeri di dada.

Anda bisa merasakan nyeri pada dada karena adanya iritasi diafragma akibat perdarahan internal tubuh. Atas dasar inilah, kondisi ibu hamil dan bayinya yang menjalani persalinan normal setelah pernah operasi caesar sebelumnya perlu terus diperhatikan.

Pemantauan yang dilakukan oleh dokter beserta tim medis ini bertujuan untuk mendeteksi jika muncul komplikasi berbahaya. Dengan begitu, tindakan medis bisa dilakukan secepat mungkin.

Secara keseluruhan, berikut ini berbagai gejala ketika ibu mengalami ruptur uteri atau rahim robek selama persalinan:

  • Perdarahan dari vagina dalam jumlah yang berlebihan.
  • Timbul rasa sakit hebat di sela-sela kontraksi saat melahirkan normal.
  • Kekuatan kontraksi saat melahirkan cenderung melambat, melemah, dan kurang intens.
  • Nyeri atau sakit pada perut yang tidak biasa.
  • Kepala bayi terhenti di jalan lahir ketika dikeluarkan melalui vagina.
  • Timbul rasa sakit tiba-tiba pada bekas sayatan operasi caesar sebelumnya di rahim.
  • Kekuatan otot-otot pada rahim menghilang.
  • Detak jantung ibu berubah menjadi lebih cepat.
  • Tekanan darah ibu rendah.
  • Detak jantung bayi abnormal.
  • Persalinan normal tidak mengalami perkembangan.

Apa penyebab ruptur uteri saat melahirkan?

tanda-tanda mau melahirkan tanda-tanda persalinan

Kebanyakan kasus ruptur uteri saat proses persalinan terjadi tepat di area bekasi luka dari operasi caesar sebelumnya. Kemudian ketika menjalani persalinan normal, pergerakan bayi akan memberikan tekanan kuat pada rahim.

Saking kuatnya, tekanan yang ditimbulkan dari pergerkan bayi tersebut dapat memengaruhi bekas luka operasi caesar. Hal inilah yang membuat rahim Anda robek karena seolah menahan berat dan tekanan dari pergerakan bayi.

Robekan pada rahim ini biasanya sangat terlihat di area bekas luka pada operasi caesar sebelumnya. Ketika ruptur uteri terjadi, bayi yang ada di dalam rahim dapat naik dan mengarah kembali ke perut ibu.

Ya, alih-alih keluar dari rahim, seluruh isi rahim termasuk bayi justru akan masuk ke perut ibu. Kondisi rahim robek paling berisiko terjadi pada ibu hamil yang pernah menjalani operasi caesar sebelumnya.

Terutama ibu yang memiliki sayatan vertikal bekasi operasi caesar di bagian atas rahim. Selain itu, jika Anda pernah melakukan berbagai jenis operasi pada rahim sebelumnya, ini bisa menjadi penyebab ruptur uteri.

Misalnya operasi pengangkatan tumor jinak atau fibroid pada rahim, dan melakukan perbaikan pada rahim yang bermasalah. Sementara kemungkinan rahim robek padahal tidak kondisinya sehat sangat jarang terjadi.

Kondisi rahim sehat di sini maksudnya belum pernah melahirkan sebelumnya, tidak pernah menjalani operasi pada rahim, maupun pernah melahirkan tapi dengan metode normal. Akan tetapi, rahim robek meski kondisinya sehat tidak menutup kemungkinan bisa saja terjadi, tergantung dari faktor risiko yang Anda miliki.

Apa saja faktor risiko ruptur uteri?

proses induksi

Ada beberapa faktor risiko yang dapat memperbesar peluang terjadinya ruptur uteri saat melahirkan meski rahim dalam kondisi sehat, seperti:

  • Pernah melahirkan 5 kali atau lebih.
  • Posisi plasenta yang berada terlalu masuk di dalam dinding rahim.
  • Kontraksi yang terlalu sering dan kuat. Entah karena pengaruh pemberian obat-obatan seperti oksitosin dan prostaglandin, maupun terpisahnya plasenta dari dinding rahim (solusio plasenta).
  • Proses persalinan memakan waktu cukup lama, karena ukuran bayi terlalu besar ketimbang ukuran panggul ibu.

Selain itu, masih ada faktor risiko lain dari ruptur uteri, meliputi:

  • Pernah melakukan operasi caesar sebelumnya.
  • Pernah melahirkan normal atau melalui vagina.
  • Melakukan induksi persalinan.
  • Ukuran bayi terlalu besar.

Lagi-lagi, pernah menjalani operasi caesar sebelumnya dan menempuh metode melahirkan normal di kelahiran selanjutnya, menempatkan Anda pada risiko tinggi mengalami rahim robek.

Bahkan, melahirkan dengan metode normal sebelumnya turut menempatkan Anda pada peluang mengalami rahim robek. Hanya saja, melansir dari South Australian Perinatal Practice Guideline, peluang terjadinya kondisi tersebut berbeda pada metode melahirkan normal dan caesar.

Kemungkinan terjadinya rahim robek cenderung lebih besar jika Anda pernah melahirkan caesar sebelumnya, dan menjalani persalinan normal setelahnya. Sementara pada persalinan normal di kehamilan pertama dan kedua, peluang rahim robek jauh lebih kecil.

Kondisi rahim terlalu buncit atau besar juga bisa menjadi salah satu faktor risiko ruptur uteri atau rahim robek. Perubahan pada bentuk rahim ini biasanya terjadi karena pengaruh dari jumlah cairan ketuban yang terlalu banyak, maupun pernah hamil anak kembar dua, tiga, atau lebih.

Pernah mengalami kecelakaan mobil yang berpengaruh pada rahim, maupun menjalani tindakan external cephalic version dapat menjadi faktor risiko ruptur uteri. External cephalic version adalah prosedur untuk mengubah posisi bayi sungsang saat persalinan.

Apa komplikasi yang bisa muncul jika mengalami ruptur uteri?

asfiksia pada bayi baru lahir

Kemungkinan terjadinya rahim robek selama proses persalinan sebenarnya jarang sekali terjadi. Komplikasi yang mungkin muncul karena rahim robek ketika melahirkan dapat berisiko fatal bagi ibu dan bayi di dalam kandungan.

Bagi ibu, misalnya, dapat menyebabkan perdarahan dalam jumlah banyak. Sedangkan pada bayi, ruptur uteri dapat menimbulkan masalah kesehatan yang jauh lebih besar.

Setelah menemukan adanya ruptur uteri selama persalinan, dokter dan tim medis akan segera bertindak cepat untuk mengeluarkan bayi dari dalam rahim ibu. Ini karena jika tidak segera dikeluarkan dalam kurun waktu sekitar 10-40 menit, bisa berakibat fatal pada bayi.

Kemungkinan besar bayi akan meninggal karena kekurangan oksigen di dalam kandungan. Itu sebabnya, sebelum waktu melahirkan dokter biasanya akan menentukan metode persalinan yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan Anda dan bayi.

Jika Anda memang memiliki faktor risiko yang memperbesar peluang munculnya ruptur uteri, dokter dan tim medis biasanya menyarankan untuk tidak melahirkan normal.

Namun, apabila karena satu dan lain hal dokter memperbolehkan Anda untuk menempuh metode melahirkan normal, pengawasan akan selalu dilakukan selama persalinan berlangsung.

Bagaimana cara mendiagnosis ruptur uteri?

persalinan sungsang bayi sungsang

Adanya ruptur uteri biasanya baru bisa didiagnosis selama proses melahirkan. Ini karena gejala ruptur uteri baru bisa dengan mudah terlihat ketika proses persalinan sedang berlangsung.

Sedangkan sebelum persalinan dimulai, adanya robekan pada rahim cenderung sulit dideteksi karena gejalanya tidak terlalu spesifik. Dokter dapat mencurigai adanya rahim robek selama proses persalinan.

Untuk memastikan hal tersebut, biasanya dokter akan melihat gejala ruptur uteri pada ibu dan bayi. Misalnya detak jantung bayi yang tampak melambat, penurunan tekanan darah ibu, perdarahan vagina dalam jumlah banyak, dan lain sebagainya.

Intinya, diagnosis rahim robek hanya bisa dilakukan oleh dokter selama persalinan berlangsung. Sebab di sinilah, gejala rahim robek sangat mudah terlihat ketimbang sebelum masuk waktu melahirkan.

Bagaimana cara menangani ruptur uteri saat melahirkan?

setelah operasi angkat rahim

Jika dokter melihat rahim Anda robek saat proses melahirkan normal melalui vagina sedang berlangsung, operasi caesar akan segera dilakukan. Itu artinya, proses melahirkan normal dengan vagina tidak bisa terus dilanjutkan, dan diganti dengan persalinan caesar.

Melahirkan dengan operasi caesar bertujuan untuk mencegah risiko fatal pada ibu dan bayi. Cara ini dapat menarik bayi keluar dari dalam rahim ibu, sehingga peluangnya untuk bertahan hidup bisa lebih besar.

Dokter kemudian akan memberikan perawatan lanjutan untuk bayi, seperti pemberian oksigen tambahan. Dalam kasus lain, bila rahim robek ini menimbulkan perdarahan yang sangat banyak, dokter mungkin akan menempuh prosedur histerektomi.

Histerektomi adalah prosedur medis untuk mengangkat rahim dari sistem reproduksi wanita. Bukan hanya oleh dokter, keputusan untuk melakukan histerektomi ini juga harus dipertimbangkan dengan matang oleh Anda.

Pasalnya, setelah menempuh operasi angkat rahim, otomatis Anda sudah tidak bisa lagi hamil. Bahkan, menstruasi yang seharusnya rutin Anda alami setiap bulan juga akan ikut terhenti. Dokter juga dapat memberikan transfusi darah guna mengganti darah yang hilang dari tubuh Anda.

Apakah semua ibu yang melakukan VBAC berisiko ruptur uteri?

penyebab kematian bayi

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, melahirkan normal setelah pernah operasi caesar sebelumnya tentu berpeluang mengalami rahim robek. Meski begitu, tidak semua kasus melahirkan normal setelah caesar (VBAC) selalu dapat menyebabkan ruptur uteri.

Ada kondisi operasi caesar yang masih diperbolehkan dokter untuk melahirkan normal di kehamilan selanjutnya. Ini biasanya terjadi jika bekas sayatan operasi caesar yang Anda miliki berbentuk garis horizontal, yang terletak rendah di bawah perut.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologits (ACOG), jika Anda memiliki riwayat operasi caesar dengan sayatan horizontal dibagian bawah perut dan ingin melahirkan normal pada anak berikutnya maka risiko terjadinya ruptur uteri adalah 0,2%-1,5% atau sama dengan 1 per 500 persalinan.

Sementara dokter tidak menganjurkan Anda untuk melakukan VBAC, bila bekas sayatan operasi caesar berbentuk garis vertikal. Berbeda dengan sayatan horizontal, sayatan vertikal ini terletak di bagian atas rahim dan perut.

Bentuk sayatan vertikal atau ‘klasik’ dengan bentuk huruf T inilah yang paling berisiko tinggi untuk mengalami ruptur uteri. Robekan pada rahim dengan sayatan vertikal bisa dengan mudah terjadi saat Anda sedang mengejan guna mengeluarkan bayi selama melahirkan normal.

Maka itu, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan pada kondisi Anda dan bayi. terlebih dahulu. Jika dirasa tidak memungkinkan untuk melahirkan normal setelah pernah caesar (VBAC), persalinan selanjutnya tetap akan ditempuh dengan operasi caesar lagi.

Namun, bila dokter mengizinkan Anda untuk melakukan VBAC, dokter dan tim medis akan selalu memantau kondisi Anda serta bayi selama persalinan berlangsung.

Adakah cara untuk mencegah ruptur uteri saat melahirkan?

deteksi dini penyakit jantung bawaan pada bayi sejak hamil

Satu-satunya cara untuk mencegah ruptur uteri yakni dengan menempuh operasi caesar untuk melahirkan. Cara ini biasanya akan disarankan dokter sebelum memasuki waktu persalinan, dengan tetap mempertimbangkan kondisi Anda dan bayi.

Alangkah baiknya untuk rutin memeriksakan kandungan, serta mengonsultasikan semua rencana-rencana terkiat persalinan nantinya dengan dokter Anda. Pastikan juga dokter mengetahui semua riwayat kesehatan, beserta riwayat mengenai kehamilan dan melahirkan sebelumnya.

Dengan begitu, dokter dapat menentukan keputusan terbaik untuk Anda dan bayi sesuai dengan kondisi yang dialami.

Baca Juga:

Sumber
Pantau Perkembangan Janin Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan janin dalam kandungan.
Error message goes here
Pantau Bayi Saya
Tak tahu kapan akan melahirkan? Hitung di sini! *Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anda hamil [num] minggu! Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Kapan hari pertama menstruasi terakhir Anda?
Hitung!
Error message goes here
Anda hamil [num] minggu! Perkiraan Melahirkan: [num] Dapatkan info setiap hari, sesuai dengan kebutuhan pribadi Anda dan bayi.
Error message goes here
Pantau sekarang!
Hitung ulang!
Yang juga perlu Anda baca