Semua Hal Seputar Ruptur Uteri, Komplikasi Saat Melahirkan Karena Rahim Robek

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/01/2020 . 12 menit baca
Bagikan sekarang

Kelancaran proses persalinan diiringi dengan lahirnya bayi yang sehat merupakan dambaan semua ibu. Namun terkadang, melahirkan bayi yang sehat bisa tidak disertai dengan persalinan yang lancar. Ya, ini artinya bisa saja ada komplikasi yang muncul saat proses melahirkan. Salah satu yang mungkin terjadi yakni ruptur uteri alias rahim robek.

Bukan hanya berbahaya bagi ibu, terjadinya ruptur uteri selama melahirkan juga dapat mengancam kesehatan bayi. Agar dapat mencegah risiko ini, simak ulasan selengkapnya mengenai rahim robek berikut ini.

Apa itu ruptur uteri?

proses melahirkan normal

Rahim robek atau yang dalam istilah medis disebut dengan ruptur uteri adalah kondisi yang terjadi ketika ada robekan pada dinding rahim.

Sesuai dengan namanya, komplikasi melahirkan yang satu ini dapat membuat seluruh lapisan dinding rahim robek sehingga membahayakan kesehatan ibu dan bayinya.

Tidak menutup kemungkinan, ruptur uteri dapat mengakibatkan perdarahan hebat pada ibu dan bayi yang tertahan di dalam rahim. Meski begitu, risiko terjadinya rahim robek selama proses persalinan sangatlah kecil.

Angka ini berkisar kurang dari 1 persen atau hanya 1 dari 3 wanita yang berisiko mengalami ruptur uteri saat melahirkan. Komplikasi melahirkan ruptur uteri ini biasanya terjadi saat persalinan normal atau melalui vagina.

Risiko juga meningkat bagi Anda yang menjalani proses melahirkan normal setelah operasi caesar. Ya, vaginal birth after caesar (VBAC) atau dikenal sebagai melahirkan normal setelah caesar dapat meningkatkan risiko Anda mengalami ruptur uteri.

Peluang terjadinya rahim robek dapat semakin meningkat setiap kali Anda menjalani operasi melahirkan caesar dan kemudian beralih ke persalinan normal. Itulah mengapa umumnya dokter lebih cenderung menyarankan ibu hamil untuk menghindari persalinan normal melalui vagina bila sebelumnya pernah operasi caesar.

Namun, bukan berarti benar-benar tidak ada kesempatan bagi ibu hamil untuk melahirkan normal setelah pernah caesar sebelumnya. Hanya saja, tidak semua kondisi tubuh wanita memungkinkannya untuk melakukan persalinan normal jika sebelumnya pernah melahirkan dengan operasi caesar.

Dokterlah yang akan mempertimbangkan dan menentukan pilihan metode persalinan terbaik sesuai kondisi kesehatan Anda dan bayi di dalam kandungan. Penting untuk dipahami, ruptur uteri adalah komplikasi melahirkan yang sangat jarang terjadi.

Terutama jika Anda belum pernah melahirkan dengan operasi caesar sebelumnya, menjalani operasi pada rahim, maupun mengalami rahim robek. Risiko untuk mengalami ruptur uteri saat melahirkan normal tentu sangatlah kecil.

Meski sebagian besar ruptur uteri biasanya terjadi selama proses persalinan, tapi kondisi ini juga bisa berkembang sebelum persalinan.

Apa saja gejala ruptur uteri saat melahirkan?

induksi melahirkan

Ruptur uteri atau robekan pada rahim biasanya sudah mulai muncul di awal persalinan. Selanjutnya, robekan tersebut dapat semakin berkembang seiring berjalannya persalinan normal.

Dokter mungkin akan menyadari gejala awal ruptur uteri karena adanya kelainan pada detak jantung bayi di dalam kandungan. Bukan itu saja, ibu juga akan mengalami gejala berupa sakit perut hebat, perdarahan pada vagina, hingga nyeri di dada.

Anda bisa merasakan nyeri pada dada karena adanya iritasi diafragma akibat perdarahan internal tubuh. Atas dasar inilah, kondisi ibu hamil dan bayinya yang menjalani persalinan normal setelah sebelumnya pernah operasi caesar perlu terus diperhatikan.

Pemantauan yang dilakukan oleh dokter beserta tim medis ini bertujuan untuk mendeteksi kalau-kalau muncul komplikasi berbahaya. Dengan begitu, tindakan medis bisa dilakukan secepat mungkin.

Secara keseluruhan, berikut ini berbagai gejala ketika ibu mengalami ruptur uteri atau rahim robek selama persalinan:

  • Perdarahan dari vagina dalam jumlah yang berlebihan.
  • Timbul rasa sakit hebat di sela-sela kontraksi saat melahirkan normal.
  • Kekuatan kontraksi saat melahirkan cenderung melambat, melemah, dan kurang intens.
  • Nyeri atau sakit pada perut yang tidak biasa.
  • Kepala bayi terhenti di jalan lahir ketika dikeluarkan melalui vagina.
  • Timbul rasa sakit tiba-tiba pada bekas sayatan operasi caesar sebelumnya di rahim.
  • Kekuatan otot-otot pada rahim menghilang.
  • Detak jantung ibu berubah menjadi lebih cepat.
  • Tekanan darah ibu rendah.
  • Denyut jantung bayi abnormal.
  • Persalinan normal tidak mengalami perkembangan.

Apa penyebab ruptur uteri saat melahirkan?

tanda-tanda mau melahirkan tanda-tanda persalinan

Kebanyakan kasus ruptur uteri saat proses persalinan terjadi tepat di area bekasi luka dari operasi caesar sebelumnya. Kemudian ketika menjalani persalinan normal, pergerakan bayi akan memberikan tekanan kuat pada rahim.

Saking kuatnya, tekanan yang ditimbulkan dari pergerkan bayi tersebut dapat memengaruhi bekas luka operasi caesar. Hal inilah yang membuat ruptur uteri karena rahim seolah menahan berat dan tekanan dari pergerakan bayi.

Robekan pada rahim ini biasanya sangat terlihat di area bekas luka pada operasi caesar sebelumnya. Ketika ruptur uteri terjadi, bayi yang ada di dalam rahim dapat naik dan mengarah kembali ke perut ibu.

Ya, alih-alih keluar dari rahim, seluruh isi rahim termasuk bayi justru akan masuk ke perut ibu. Kondisi rahim robek paling berisiko terjadi pada ibu yang memiliki sayatan vertikal bekasi operasi caesar di bagian atas rahim.

Selain itu, jika Anda pernah melakukan berbagai jenis operasi pada rahim sebelumnya, hal ini bisa menjadi penyebab ruptur uteri.

Operasi pengangkatan tumor jinak atau fibroid pada rahim dan melakukan perbaikan pada rahim yang bermasalah bisa jadi salah satu penyebabnya. Sementara kemungkinan rahim robek padahal kondisinya tergolong sehat sangat jarang terjadi.

Kondisi rahim sehat di sini maksudnya belum pernah melahirkan sebelumnya, tidak pernah menjalani operasi pada rahim, maupun pernah melahirkan tapi dengan metode normal.

Akan tetapi, meski kondisi rahim Anda sehat, tetap tidak menutup kemungkinan komplikasi melahirkan yang satu ini bisa saja terjadi, tergantung dari faktor risiko yang Anda miliki.

Apa saja faktor yang meningkatkan risiko ruptur uteri?

proses induksi

Ada beberapa faktor risiko yang dapat memperbesar peluang terjadinya ruptur uteri saat melahirkan meski rahim dalam kondisi sehat, seperti:

  • Pernah melahirkan 5 kali atau lebih.
  • Posisi plasenta yang berada terlalu masuk di dalam dinding rahim.
  • Kontraksi yang terlalu sering dan kuat. Entah karena pengaruh pemberian obat-obatan seperti oksitosin dan prostaglandin, maupun terpisahnya plasenta dari dinding rahim (solusio plasenta).
  • Proses persalinan memakan waktu cukup lama karena ukuran bayi terlalu besar ketimbang ukuran panggul ibu.

Selain itu, masih ada faktor risiko lain dari ruptur uteri, meliputi:

Lagi-lagi, pernah menjalani operasi caesar sebelumnya dan menempuh metode melahirkan normal di kelahiran selanjutnya menempatkan Anda pada risiko tinggi mengalami rahim robek.

Bahkan, melahirkan dengan metode normal sebelumnya turut menempatkan Anda pada peluang mengalami rahim robek. Hanya saja, melansir dari South Australian Perinatal Practice Guideline, peluang terjadinya kondisi tersebut berbeda pada metode melahirkan normal dan caesar.

Kemungkinan terjadinya ruptur uteri cenderung lebih besar jika Anda pernah melahirkan caesar sebelumny  dan menjalani persalinan normal setelahnya. Sementara pada persalinan normal di kehamilan pertama dan kedua, peluang ruptur uteri jauh lebih kecil.

Kondisi rahim terlalu buncit atau besar juga bisa menjadi salah satu faktor risiko ruptur uteri atau rahim robek. Perubahan pada bentuk rahim ini biasanya terjadi karena pengaruh dari jumlah cairan ketuban yang terlalu banyak maupun pernah hamil anak kembar dua, tiga, atau lebih.

Pernah mengalami kecelakaan mobil yang berpengaruh pada rahim maupun menjalani tindakan external cephalic version dapat menjadi faktor risiko ruptur uteri. External cephalic version adalah prosedur untuk mengubah posisi bayi sungsang saat persalinan.

Apa komplikasi yang bisa muncul jika mengalami ruptur uteri?

asfiksia pada bayi baru lahir

Kemungkinan terjadinya rahim robek selama proses persalinan sebenarnya jarang sekali terjadi. Komplikasi yang mungkin muncul karena rahim robek ketika melahirkan dapat berisiko fatal bagi ibu dan bayi di dalam kandungan.

Bagi ibu, misalnya, dapat menyebabkan perdarahan dalam jumlah banyak. Sementara pada bayi, ruptur uteri dapat menimbulkan masalah kesehatan yang jauh lebih besar.

Setelah menemukan adanya ruptur uteri selama persalinan, dokter dan tim medis akan segera bertindak cepat untuk mengeluarkan bayi dari dalam rahim ibu. Ini karena jika tidak segera dikeluarkan dalam kurun waktu sekitar 10-40 menit, hal ini bisa berakibat fatal pada bayi.

Kemungkinan besar bayi akan meninggal karena kekurangan oksigen di dalam kandungan. Itu sebabnya, sebelum waktu melahirkan dokter biasanya akan menentukan metode persalinan yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan Anda dan bayi.

Jika Anda memang memiliki faktor risiko yang memperbesar peluang munculnya ruptur uteri, dokter dan tim medis biasanya menyarankan untuk tidak melahirkan normal.

Namun, apabila karena satu dan lain hal dokter memperbolehkan Anda untuk menempuh metode melahirkan normal, pengawasan akan selalu dilakukan selama persalinan berlangsung.

Bagaimana cara mendiagnosis ruptur uteri?

persalinan sungsang bayi sungsang

Adanya ruptur uteri biasanya baru bisa didiagnosis selama proses melahirkan. Ini karena gejala ruptur uteri baru bisa dengan mudah terlihat ketika proses persalinan sedang berlangsung.

Sementara sebelum persalinan dimulai, adanya robekan pada rahim cenderung sulit dideteksi karena gejalanya tidak terlalu spesifik. Dokter dapat mencurigai adanya ruptur uteri selama proses persalinan.

Untuk memastikan hal tersebut, biasanya dokter akan melihat gejala ruptur uteri pada ibu dan bayi. Berbagai gejala tersebut seperti detak jantung bayi yang tampak melambat, penurunan tekanan darah ibu, perdarahan vagina dalam jumlah banyak, dan lain sebagainya.

Intinya, diagnosis rahim robek hanya bisa dilakukan oleh dokter selama persalinan berlangsung. Sebab, di sinilah gejala rahim robek sangat mudah terlihat ketimbang sebelum masuk waktu melahirkan.

Bagaimana cara menangani ruptur uteri saat melahirkan?

setelah operasi angkat rahim

Jika dokter melihat rahim Anda robek saat proses melahirkan normal sedang berlangsung, operasi caesar akan segera dilakukan. Itu artinya, proses melahirkan normal dengan vagina tidak bisa terus dilanjutkan, dan diganti dengan persalinan caesar.

Melahirkan dengan operasi caesar bertujuan untuk mencegah risiko fatal pada ibu dan bayi. Cara ini dapat menarik bayi keluar dari dalam rahim ibu sehingga peluangnya untuk bertahan hidup bisa lebih besar.

Dokter kemudian akan memberikan perawatan lanjutan untuk bayi seperti pemberian oksigen tambahan. Dalam kasus lain, bila rahim robek ini menimbulkan perdarahan yang sangat banyak, dokter mungkin akan menempuh prosedur histerektomi.

Histerektomi adalah prosedur medis untuk mengangkat rahim dari sistem reproduksi wanita. Bukan hanya oleh dokter, keputusan untuk melakukan histerektomi ini juga harus dipertimbangkan dengan matang oleh Anda.

Pasalnya, setelah menempuh operasi angkat rahim, otomatis Anda sudah tidak bisa lagi hamil. Bahkan, menstruasi yang seharusnya rutin Anda alami setiap bulan juga akan ikut terhenti. Dokter juga dapat memberikan transfusi darah guna mengganti darah yang hilang dari tubuh Anda.

Apakah semua ibu yang melakukan VBAC berisiko ruptur uteri?

penyebab kematian bayi

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, melahirkan normal setelah pernah operasi caesar tentu berpeluang mengalami ruptur uteri. Meski begitu, tidak semua kasus melahirkan normal setelah caesar (VBAC) selalu dapat menyebabkan ruptur uteri.

Ada kondisi operasi caesar yang masih diperbolehkan dokter untuk melahirkan normal di kehamilan selanjutnya. Ini biasanya terjadi jika bekas sayatan operasi caesar yang Anda miliki berbentuk garis horizontal, yang terletak rendah di bawah perut.

Dijelaskan oleh American College of Obstetricians and Gynecologits (ACOG), dalam American Pregnancy Association. Jika Anda memiliki riwayat operasi caesar dengan sayatan horizontal dibagian bawah perut dan ingin melahirkan normal pada anak berikutnya, ada risiko tersendiri.

Dalam hal ini, risiko terjadinya ruptur uteri adalah 0,2%-1,5% atau sama dengan 1 per 500 persalinan. Sementara itu, dokter tidak menganjurkan Anda untuk melakukan VBAC bila bekas sayatan operasi caesar berbentuk garis vertikal. Berbeda dengan sayatan horizontal, sayatan vertikal ini terletak di bagian atas rahim dan perut.

Bentuk sayatan vertikal atau ‘klasik’ dengan bentuk huruf T inilah yang paling berisiko tinggi untuk mengalami ruptur uteri.

Robekan pada rahim dengan sayatan vertikal bisa dengan mudah terjadi saat Anda sedang mengejan guna mengeluarkan bayi selama melahirkan normal.

Maka itu, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan pada kondisi Anda dan bayi. terlebih dahulu. Jika dirasa tidak memungkinkan untuk melahirkan normal setelah pernah caesar (VBAC), persalinan selanjutnya tetap akan ditempuh dengan operasi caesar lagi.

Namun, bila dokter mengizinkan Anda untuk melakukan VBAC, dokter dan tim medis akan selalu memantau kondisi Anda serta bayi selama persalinan berlangsung.

Adakah cara untuk mencegah ruptur uteri saat melahirkan?

deteksi dini penyakit jantung bawaan pada bayi sejak hamil

Satu-satunya cara untuk mencegah ruptur uteri yakni dengan menempuh operasi caesar untuk melahirkan. Cara ini biasanya akan disarankan dokter sebelum memasuki waktu persalinan dengan tetap mempertimbangkan kondisi Anda dan bayi.

Alangkah baiknya untuk rutin memeriksakan kandungan, serta mengonsultasikan semua rencana-rencana terkait persalinan nantinya dengan dokter Anda. Pastikan juga dokter mengetahui semua riwayat kesehatan, beserta riwayat mengenai kehamilan dan melahirkan sebelumnya.

Dengan begitu, dokter dapat menentukan keputusan terbaik untuk Anda dan bayi sesuai dengan kondisi yang dialami.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengulik Fungsi dan Organ Penting Dalam Sistem Reproduksi Manusia

Dengan mengenal sistem reproduksi manusia, Anda dapat mengetahui dengan pasti bagaimana cara menjaga kesehatan tubuh Anda sendiri.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Fakta Unik 16/02/2019 . 7 menit baca

Serba-serbi Oogenesis, Proses Pembentukan Sel Telur Wanita

Bisa dikatakan, proses oogenesis adalah tahapan awal dari serangkaian proses reproduksi pada wanita. Cari tahu proses oogenesis dalam artikel ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Fakta Unik 07/11/2018 . 6 menit baca

Ablasi Endometrium, Tindakan Medis untuk Mengatasi Haid Berkepanjangan

Ablasi endometrium bisa dijadikan pilihan perawatan terakhir untuk mengobati masalah perdarahan rahim. Bagaimana prosedurnya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Hidup Sehat, Fakta Unik 09/09/2018 . 5 menit baca

Mengangkat Tumor Rahim Jinak Dengan Miomektomi, Apakah Efektif?

Tumor rahim harus diatasi dengan tepat dan cepat. Apalagi jika masih berencana untuk hamil, miomektomi adalah penanganan yang tepat untuk tumor rahim.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Hidup Sehat, Tips Sehat 09/09/2018 . 5 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

kista saat hamil di usia tua

Apa yang Akan Terjadi Jika Muncul Kista Saat Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . 5 menit baca
asfiksia pada bayi baru lahir

Asfiksia pada Bayi Baru Lahir, Saat Persediaan Oksigen Bayi Tidak Mencukupi

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2019 . 7 menit baca
menjaga kesehatan reproduksi

5 Prinsip Menjaga Kesehatan Reproduksi Bagi Pria dan Wanita

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 09/07/2019 . 6 menit baca
nyeri ovulasi mittelschmerz

Serba-serbi Nyeri Ovulasi (Mittelschmerz) yang Penting Diketahui Wanita

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 31/03/2019 . 3 menit baca