Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Uji Remdesivir Sebagai Obat COVID-19 Belum Berhasil, Apa Artinya?

Uji Remdesivir Sebagai Obat COVID-19 Belum Berhasil, Apa Artinya?

“font-weight: 400;”>Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Amerika Serikat belum lama ini melaporkan hasil uji coba remdesivir terhadap pasien COVID-19 di salah satu rumah sakit di Chicago. Uji coba tersebut dinyatakan berhasil karena gejala COVID-19 tampak berkurang usai pasien diberikan suntikan remdesivir. Namun, uji klinis terbaru justru menunjukkan bahwa remdesivir belum berhasil mengobati pasien.

Remdesivir adalah satu dari empat jenis obat yang sedang diuji karena dianggap berpotensi menjadi obat COVID-19. Obat ini semakin naik daun karena diklaim dapat meringankan gejala COVID-19, bahkan pada pasien dengan keluhan berat. Lantas, apa kata hasil uji coba terbaru tentang remdesivir?

Remdesivir belum terbukti mengatasi COVID-19

uji coba remdesivir covid-19

Selagi uji klinis remdesivir dilakukan di Chicago, beberapa negara pun mengadakan uji coba yang sama. Terhitung hingga akhir April, terdapat total 2.400 pasien dengan gejala COVID-19 berat yang menjalani uji coba di 152 lokasi berbeda.

Salah satu hasil uji coba yang paling dinantikan adalah yang baru-baru ini dilaporkan. Uji klinis tersebut dilakukan di Tiongkok dan menjadi standar emas bagi uji klinis lain di seluruh dunia. Total pasien yang diteliti berjumlah 237 orang.

Pasien dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari 158 pasien yang diberikan remdesivir secara rutin. Sementara itu, kelompok kedua terdiri dari 79 pasien yang diberikan perawatan COVID-19 standar tanpa remdesivir.

Hasilnya, tidak ada perbedaan khusus antara kelompok yang diberikan remdesivir dan yang tidak. Kedua kelompok membutuhkan waktu yang sama untuk pulih.

Temuan ini berbeda dengan hasil penelitian di Chicago, yang menyebutkan bahwa gejala pasien berkurang drastis setelah diberikan remdesivir selama sekitar satu minggu.

Selain itu, sebanyak 14% pasien dari kelompok pertama meninggal dalam perawatan. Sementara pada kelompok kedua, ada 13% pasien yang meninggal dunia. Dari hasil uji coba inilah para peneliti menyimpulkan remdesivir belum berhasil menjadi obat yang berpotensi.

Uji coba juga harus dihentikan lebih awal karena adanya efek samping. Sebanyak 18 pasien dari kelompok pertama mengalami efek samping, lebih banyak dari kelompok kedua dengan hanya empat pasien yang mengalami efek samping perawatan.

Tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang efek apa yang dialami pasien. Akan tetapi, remdesivir memang diketahui memiliki efek samping yang beragam, mulai dari gagal ginjal akut, tekanan darah rendah, hingga kegagalan organ.

Mengapa hasil uji coba remdesivir bisa berbeda-beda?

risiko covid-19 pada pasien cuci darah

Uji coba remdesivir yang dilakukan di Chicago pada dasarnya bukan gagal sama sekali. Penelitian tersebut malah cukup menjanjikan, apalagi di tengah pandemi yang masih merebak. Hanya saja, uji coba tersebut memiliki kekurangan.

Pada suatu penelitian, harus ada dua kelompok. Salah satu kelompok diberikan terapi obat, sedangkan kelompok satunya adalah kelompok kontrol yang tidak diberikan obat. Peneliti dan subjek sama-sama tidak tahu terapi apa yang diberikan pada masing-masing kelompok.

Para peneliti di Chicago memberikan remdesivir pada semua pasien yang diteliti. Akan tetapi, tidak ada kelompok kontrol. Tanpa adanya kelompok kontrol, semua pasien yang pulih di Chicago seakan membaik karena diberikan remdesivir.

Padahal, peneliti tidak bisa memastikan apakah pasien betul-betul pulih karena remdesivir atau karena perawatan COVID-19 saja.

ibuprofen covid-19

Penelitian tersebut juga tergolong singkat dengan jumlah pasien yang sedikit. Apabila jumlah pasien terlalu sedikit, hasil penelitian tidak bisa digunakan untuk membuat suatu kesimpulan. Ini sebabnya sebuah penelitian dapat melibatkan hingga ratusan peserta.

Hal yang sama ditemukan pada uji coba oleh Tiongkok awal April lalu. Sejumlah peneliti sudah menguji beberapa obat pada pasien COVID-19. Walaupun menjanjikan, hasil uji coba tersebut masih perlu dikaji lebih lanjut karena jumlah pasiennya kurang.

‘Obat’ COVID-19 yang sudah ada saat ini

Para ilmuwan hingga kini masih mengembangkan obat dan vaksin COVID-19. Selama menantikan hasil uji coba terbaru, langkah terbaik yang dapat Anda lakukan adalah melindungi diri sendiri dan keluarga dari penularan COVID-19.

Melansir World Health Organization (WHO), cara paling efektif untuk mencegah tertular COVID-19 adalah:

Cara Karantina Diri Sendiri di Rumah untuk Cegah Penularan COVID-19

Uji coba remdesivir sebagai obat COVID-19 yang dilakukan hingga kini mungkin belum berhasil, tetapi ilmuwan dari dalam maupun luar negeri masih akan terus berupaya mengembangkannya.

Sebagai individu, Anda dapat berperan aktif mencegah penyebaran COVID-19 dengan menerapkan upaya pencegahan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

First trial for potential Covid-19 drug shows it has no effect. (2020). Retrieved 28 April 2020, from https://www.theguardian.com/world/2020/apr/23/high-hopes-drug-for-covid-19-treatment-failed-in-full-trial

Data on Gilead’s remdesivir show no benefit for coronavirus patients. (2020). Retrieved 28 April 2020, from https://www.statnews.com/2020/04/23/data-on-gileads-remdesivir-released-by-accident-show-no-benefit-for-coronavirus-patients/

Q&A on coronaviruses (COVID-19). (2020). Retrieved 28 April 2020, from https://www.who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses#:~:text=protect

Gilead data suggests coronavirus patients are responding to treatment. (2020). Retrieved 28 April 2020, from https://www.statnews.com/2020/04/16/early-peek-at-data-on-gilead-coronavirus-drug-suggests-patients-are-responding-to-treatment/

Accidentally Released Results Suggest Potential COVID-19 Drug Failed a Human Trial. (2020). Retrieved 28 April 2020, from https://www.sciencealert.com/inadvertently-released-results-suggest-covid-1-drug-failed-in-human-trial

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 31/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro