Uji Remdesivir Sebagai Obat COVID-19 Belum Berhasil, Apa Artinya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Amerika Serikat belum lama ini melaporkan hasil uji coba remdesivir terhadap pasien COVID-19 di salah satu rumah sakit di Chicago. Uji coba tersebut dinyatakan berhasil karena gejala COVID-19 tampak berkurang usai pasien diberikan suntikan remdesivir. Namun, uji klinis terbaru justru menunjukkan bahwa remdesivir belum berhasil mengobati pasien.

Remdesivir adalah satu dari empat jenis obat yang sedang diuji karena dianggap berpotensi menjadi obat COVID-19. Obat ini semakin naik daun karena diklaim dapat meringankan gejala COVID-19, bahkan pada pasien dengan keluhan berat. Lantas, apa kata hasil uji coba terbaru tentang remdesivir?

Remdesivir belum terbukti mengatasi COVID-19

uji coba remdesivir covid-19

Selagi uji klinis remdesivir dilakukan di Chicago, beberapa negara pun mengadakan uji coba yang sama. Terhitung hingga akhir April, terdapat total 2.400 pasien dengan gejala COVID-19 berat yang menjalani uji coba di 152 lokasi berbeda.

Salah satu hasil uji coba yang paling dinantikan adalah yang baru-baru ini dilaporkan. Uji klinis tersebut dilakukan di Tiongkok dan menjadi standar emas bagi uji klinis lain di seluruh dunia. Total pasien yang diteliti berjumlah 237 orang. 

Pasien dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari 158 pasien yang diberikan remdesivir secara rutin. Sementara itu, kelompok kedua terdiri dari 79 pasien yang diberikan perawatan COVID-19 standar tanpa remdesivir.

Hasilnya, tidak ada perbedaan khusus antara kelompok yang diberikan remdesivir dan yang tidak. Kedua kelompok membutuhkan waktu yang sama untuk pulih.

Temuan ini berbeda dengan hasil penelitian di Chicago, yang menyebutkan bahwa gejala pasien berkurang drastis setelah diberikan remdesivir selama sekitar satu minggu.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

951,651

Confirmed

772,790

Recovered

27,203

Death
Distribution Map

Selain itu, sebanyak 14% pasien dari kelompok pertama meninggal dalam perawatan. Sementara pada kelompok kedua, ada 13% pasien yang meninggal dunia. Dari hasil uji coba inilah para peneliti menyimpulkan remdesivir belum berhasil menjadi obat yang berpotensi.

Uji coba juga harus dihentikan lebih awal karena adanya efek samping. Sebanyak 18 pasien dari kelompok pertama mengalami efek samping, lebih banyak dari kelompok kedua dengan hanya empat pasien yang mengalami efek samping perawatan.

Tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang efek apa yang dialami pasien. Akan tetapi, remdesivir memang diketahui memiliki efek samping yang beragam, mulai dari gagal ginjal akut, tekanan darah rendah, hingga kegagalan organ.

Mengapa hasil uji coba remdesivir bisa berbeda-beda?

risiko covid-19 pada pasien cuci darah

Uji coba remdesivir yang dilakukan di Chicago pada dasarnya bukan gagal sama sekali. Penelitian tersebut malah cukup menjanjikan, apalagi di tengah pandemi yang masih merebak. Hanya saja, uji coba tersebut memiliki kekurangan.

Pada suatu penelitian, harus ada dua kelompok. Salah satu kelompok diberikan terapi obat, sedangkan kelompok satunya adalah kelompok kontrol yang tidak diberikan obat. Peneliti dan subjek sama-sama tidak tahu terapi apa yang diberikan pada masing-masing kelompok.

Para peneliti di Chicago memberikan remdesivir pada semua pasien yang diteliti. Akan tetapi, tidak ada kelompok kontrol. Tanpa adanya kelompok kontrol, semua pasien yang pulih di Chicago seakan membaik karena diberikan remdesivir.

Padahal, peneliti tidak bisa memastikan apakah pasien betul-betul pulih karena remdesivir atau karena perawatan COVID-19 saja.

ibuprofen covid-19

Penelitian tersebut juga tergolong singkat dengan jumlah pasien yang sedikit. Apabila jumlah pasien terlalu sedikit, hasil penelitian tidak bisa digunakan untuk membuat suatu kesimpulan. Ini sebabnya sebuah penelitian dapat melibatkan hingga ratusan peserta.

Hal yang sama ditemukan pada uji coba oleh Tiongkok awal April lalu. Sejumlah peneliti sudah menguji beberapa obat pada pasien COVID-19. Walaupun menjanjikan, hasil uji coba tersebut masih perlu dikaji lebih lanjut karena jumlah pasiennya kurang.

‘Obat’ COVID-19 yang sudah ada saat ini

Para ilmuwan hingga kini masih mengembangkan obat dan vaksin COVID-19. Selama menantikan hasil uji coba terbaru, langkah terbaik yang dapat Anda lakukan adalah melindungi diri sendiri dan keluarga dari penularan COVID-19.

Melansir World Health Organization (WHO), cara paling efektif untuk mencegah tertular COVID-19 adalah:

Cara Karantina Diri Sendiri di Rumah untuk Cegah Penularan COVID-19

Uji coba remdesivir sebagai obat COVID-19 yang dilakukan hingga kini mungkin belum berhasil, tetapi ilmuwan dari dalam maupun luar negeri masih akan terus berupaya mengembangkannya.

Sebagai individu, Anda dapat berperan aktif mencegah penyebaran COVID-19 dengan menerapkan upaya pencegahan.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perkembangan Uji Klinis Vaksin Sinovac di Indonesia

Vaksin Sinovac buatan China sedang diuji coba secara klinis pada ribuan orang di Bandung, Indonesia. Bagaimana perkembangannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Parosmia, Gejala Long COVID-19 Bikin Pasien Mencium Bau Tak Sedap

Pasien COVID-19 melaporkan gejala baru yang disebut parosmia, yakni mencium bau amis ikan dan beberapa bau tidak sedap lain yang tidak sesuai kenyataan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Semua tentang Vaksin COVID-19: Keamanan, Efek Samping, dan Lainnya

Berikut beberapa informasi umum seputar vaksin COVID-19, keamanan, efek samping, dan pelaksanaan imunisasinya di Indonesia.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

Vaksin COVID-19 Tidak Mencegah Penularan, Masyarakat Masih Harus Menerapkan 3M

Para ahli mengingatkan, berjalannya vaksinasi COVID-19 tidak serta merta mencegah penularan dan membuat bisa kembali hidup normal seperti sebelum pandemi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

vitamin pasien covid-19

Rekomendasi Vitamin untuk Pasien Covid-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
donor plasma konvalesen

Bagaimana Cara Donor Plasma Konvalesen Pasien COVID-19 Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
psikotik covid-19

Infeksi COVID-19 Bisa Menyebabkan Gejala Psikotik Seperti Delusi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
jamu covid-19

Potensi Jamu dan Obat Tradisional dalam Penanganan COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit