Sulfonilurea adalah salah satu golongan obat yang paling banyak digunakan untuk pengobatan pasien diabetes melitus (DM) tipe 2. Golongan obat maksudnya adalah nama kelompok obat-obatan yang cara kerjanya sama, memiliki memiliki struktur kimia yang mirip, dan sering digunakan untuk mengobati penyakit serupa. Sulfonilurea adalah obat lawas tapi efektif, secara umum aman, dan harga yang bersahabat.

Generasi pertama dan kedua, apakah ada bedanya?

Sejarah sulfonilurea dimulai pada tahun 1937 dengan pengamatan aktivitas hipoglikemik (penurunan glukosa darah) dari senyawa sulfur atau belerang sintetis. Lima tahun kemudian, Marcel Janbon dan timnya menemukan bahwa ketika pasien demam tifoid diberi suatu antimikroba sulfa, para pasien mengalami penurunan glukosa darah. Akhirnya penelitian lebih lanjut membuktikan bahwa senyawa turunan tersebut mampu merangsang pelepasan hormon insulin dari sel beta pankreas.

Tolbutamid adalah obat anggota sulfonilurea yang pertama kali muncul, dipasarkan pada tahun 1950-an di Jerman, diikuti oleh anggota lain yaitu klorpropamida, asetoheksamide, dan tolazamide. Obat-obat inilah yang disebut sebagai sulfonilurea generasi pertama.

Seiring majunya ilmu pengetahuan, muncullah sulfonilurea generasi kedua yaitu glipizid dan gliburid (atau di Indonesia lebih terkenal dengan nama glibenklamid) pada tahun 1984. Anggota sulfonilurea selanjutnya yaitu glimepirid, yang kadang-kadang disebut sebagai agen generasi ketiga, diluncurkan pada tahun 1995.

Ada dua hal penting yang membedakan generasi pertama dan kedua, yaitu kekuatan dan risiko efek sampingnya. Sebagai contoh, untuk klorpropamid (generasi pertama) membutuhkan dosis harian 250-500 mg untuk memberikan efek, untuk glibenklamid (generasi kedua) hanya memerlukan dosis 2,5-10 mg untuk menghasilkan efek yang sama, sehingga dikatakan generasi kedua lebih poten (lebih kuat).

Selain itu, obat diabetes golongan ini pada generasi pertama juga lebih banyak menimbukan efek samping. Efek samping yang dilaporkan antara lain hiponatremia (kekurangan natrium/ garam), gejala-gejala seperti kulit memerah dan sulit bernapas, serta bisa memengaruhi kerja jantung. Karena itulah generasi pertama kini mulai ditinggalkan para dokter dan sudah jarang dipakai.

Sulfonilurea bisa menimbulkan efek samping hipoglikemia

Hipoglikemia adalah keadaan di mana kadar gula darah turun di bawah normal. Gejala yang dialami pada keadaan ini adalah pusing, keringat dingin, gelisah, bingung, sulit bicara, bahkan tidak sadarkan diri.

Efek hipoglikemia karena sulfonilurea ini lebih sering terjadi pada pasien yang:

  • Melewatkan waktu makan atau setelah olahraga berat
  • Minum obat dengan dosis tinggi
  • Menggunakan sulfonilurea dengan aksi panjang seperti glibenklamid dan klorpropamid
  • Menggunakan obat bersamaan dengan salisilat, sulfonamid, gemfibrozil, dan warfarin
  • Minum obat dengan alkohol
  • Baru keluar setelah rawat inap di rumah sakit

Efek hipoglikemia juga lebih mungkin terjadi pada pasien dengan usia lanjut, kekurangan gizi atau lemah, gangguan ginjal dan hati parah, serta kekurangan adrenal dan/ atau hipofisis. Efek hipoglikemia karena sulfonilurea juga bisa terjadi pada orang sehat yang tidak sengaja meminum obat ini. Maka, obat diabetes ini harus disimpan jauh-jauh dari jangkauan anak-anak.

minum obat kusta

Obat sulfonilurea generasi kedua mana yang paling baik?

Obat-obat tersebut secara umum tidak berbeda keampuhannya. Namun, yang membedakan adalah bagaimana nasib obat dalam tubuh seperti seberapa cepat obat memberikan efek, lama kerjanya, dan lewat organ mana obat dikeluarkan. Berdasarkan perbedaan inilah, dokter mempertimbangkan obat mana yang akan diresepkan dengan kondisi pasien yang tentu berbeda-beda. Akan tetapi, berikut penjelasan obat-obat yang perlu mendapat perhatian lebih.

Gliburid atau glibenklamid

Glibenklamid memiliki efek hipoglikemik yang kuat sehingga Anda perlu melakukan jadwal makan yang ketat. Artinya jangan pernah meninggalkan sarapan, makan siang, atau makan malam. Pasalnya, metabolit dari glibenklamid juga memiliki kemampuan menurunkan gula darah. Berdasarkan Kriteria Beers (AGS, 2015), obat ini dihindari penggunaannya untuk lansia karena potensi hipoglikemia yang berat.

Glipizid

Glipizid termasuk dalam obat dengan waktu paruh yang pendek, dan kejadian hipoglikemik lebih rendah dari glibenklamid.

Glikuidon

Obat ini memiliki efek hipoglikemik yang sedang dan jarang menimbulkan serangan hipoglikemia. Obat ini hampir seluruhnya dikeluarkan melalui empedu dan usus, sehingga boleh diberikan pada pasien yang memiliki gangguan fungsi hati dan ginjal.

Glikazid

Berdasarkan Canadian Diabetes Association, kejadian hipoglikemia paling sedikit dengan gliklazid dibandingkan dengan obat diabetes golongan sulfonilurea lainnya (misalnya glimepirid, glibenklamid).

Glimepirid

Glimepirid termasuk dalam agen yang lebih baru dan lebih dipilih untuk pasien diabetes yang juga memiliki penyakit jantung atau gagal ginjal non-dialisis.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca