Apa Bedanya Ketosis dan Ketoasidosis?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 21/04/2019 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Ketosis dan ketoasidosis, dua istilah yang serupa namun tak sama. Terkadang banyak orang yang menganggap bahwa kondisi ini serupa. Padahal, ketosis dan ketoasidosis memiliki perbedaan yang mendasar. Seperti apa penjelasannya?

Perbedaan ketosis dan ketoasidosis

Terlepas dari kemiripan nama, sebenarnya kondisi ini adalah dua hal yang berbeda. Perbedaan ketosis dan ketoasidosis tampak jelas pada kondisi yang mendasarinya. Mari kita lihat lebih jelas dalam definisi berikut.

Definisi ketosis

Perbedaan ketosis dengan ketoasidosis, salah satunya adalah ketosis merupakan kondisi adanya keton dalam tubuh. Kondisi ini umumnya tidak berbahaya.

Keton adalah bahan kimia yang diproduksi tubuh Anda saat membakar lemak yang tersimpan. Ketosis bisa terjadi apabila Anda sedang diet rendah karbohidrat, puasa, atau jika terlalu banyak mengonsumsi alkohol.

Ketika mengalami ketosis, artinya tubuh Anda memiliki tingkat keton dalam darah atau urine yang lebih tinggi dari biasanya. Namun, belum cukup tinggi untuk menyebabkan asidosis.

Biasanya, orang yang memiliki ketosis adalah mereka yang memilih diet rendah karbohidrat untuk menurunkan berat badan. Jika, Anda mau mengadopsi jenis diet ini, pastikan untuk berkonsultasi dulu dengan dokter.

Definisi ketoasidosis

Ketoasidosis mengacu pada kondisi ketoasidosis diabetik (DKA) yang merupakan komplikasi dari diabetes mellitus tipe 1 atau tipe 2. Kondisi ini merupakan kondisi yang mengancam jiwa karena kadar keton dan gula darah yang sangat tinggi.

Kombinasi itu membuat darah Anda terlalu asam sehingga berdampak pada organ internal, seperti hati dan ginjal Anda. Ketoasidosis diabetik dapat terjadi dengan sangat cepat, kurang dari 24 jam.

Beberapa hal dapat menyebabkan DKA, termasuk penyakit, diet yang tidak tepat, atau tidak mengonsumsi insulin dalam dosis yang memadai.

Perbedaan gejala ketosis dan ketoasidosis

Oleh karena dua kondisi ini berbeda, itu sebabnya gejala yang dimunculkan olehnya juga memiliki perbedaan. Apa saja?

Gejala ketosis

Salah satu gejala ketosis adalah bau mulut. Hal ini terjadi lantaran lemak yang dipecah untuk sumber tenaga menghasilkan keton dan juga aseton. Aseton inilah yang kemudian dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk urine dan napas.

Gejala ketoasidosis

hilangkan bau mulut

Beberapa gejala ketoasidosis, antara lain:

  • Haus yang ekstrem
  • Sering buang air kecil
  • Dehidrasi
  • Mual
  • Muntah
  • Sakit perut
  • Kelelahan
  • Napas yang berbau buah
  • Sulit untuk bernapas
  • Linglung

Pemicu ketosis dan ketoasidosis

Perbedaan antara ketosis dan ketoasidosis juga tampak jelas pada pemicu terjadinya dua kondisi ini. Kondisi ketosis biasanya dipicu oleh diet rendah karbohidrat (diet ketogenik).

Diet ketogenik membuat tubuh membakar lemak untuk digunakan sebagai sumber energi. Pembakaran ini kemudian menghasilkan keton dalam tubuh.

Sementara itu, ketoasidosis dipicu oleh kurangnya insulin sehingga gula darah tidak dapat dipecah menjadi energi oleh sel tubuh dalam proses metabolisme. Akibatnya, tubuh mulai memecah lemak untuk digunakan sebagai energi dan melepaskan keton ke aliran darah.

Lepasnya keton ke dalam darah yang juga penuh mengandung gula darah menyebabkan ketidakseimbangan kimiawi dalam darah yang disebut asidosis metabolik. Kondisi ini dapat mengancam jiwa.

Ketoasidosis jarang terjadi pada orang tanpa diabetes, tetapi dapat terjadi pada kasus kelaparan. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada Oktober 2015 dalam Journal of Medical Case Reports menemukan bahwa diet rendah karbohidrat yang dikombinasikan dengan laktasi berpotensi memicu ketoasidosis pada wanita tanpa diabetes.

Namun, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini.

Bagaimana ketosis dan ketoasidosis didiagnosis?

tes ph urine

Meski ketosis dan ketoasidosis memiliki perbedaan, umumnya cara mendiagnosis kedua kondisi ini cukup mirip. Anda bisa melakukan tes darah sederhana untuk mendeteksi tingkat keton dalam darah Anda.

Tes ini dapat dilakukan untuk menentukan apakah Anda memiliki ketosis atau ketoasidosis. Tes urine juga dapat dilakukan di rumah dengan menempatkan dipstick dalam sampel urine Anda. Dipstick akan berubah warna berdasarkan tingkat keton dalam urine Anda.

Mungkin kondisi ketosis tidak segawat kondisi ketoasidosis. Itu sebabnya, penderita diabetes perlu waspada karena berisiko lebih tinggi terkena ketoasidosis saat kadar keton meningkat dan gula darah berada di atas 250 mg/dL. Sebaiknya lakukan tes keton darah untuk memastikan hal ini.

Saat gula darah Anda lebih tinggi dari 240 mg/dL, The American Diabetes Association merekomendasikan untuk memeriksa keton setiap 4-6 jam. Anda dapat memantau gula darah dan keton dengan alat tes yang tersedia di pasaran.

Pengobatan ketosis dan ketoasidosis

penyakit menular di rumah sakit

Lantaran ada perbedaan kegawatan antara ketosis dan ketoasidosis, maka pengobatannya pun berbeda. Penderita ketosis mungkin tak memerlukan perawatan intensif.

Sedangkan, ketoasidosis mungkin membuat Anda perlu dilarikan ke ruang gawat darurat atau menjalani rawat inap di rumah sakit jika merupakan komplikasi diabetes.

Perawatan ketoasidosis biasanya melibatkan:

  • Cairan melalui mulut atau melalui vena
  • Penggantian elektrolit, seperti klorida, natrium atau kalium
  • Insulin intravena sampai kadar gula darah Anda di bawah 240 mg/dL

Kondisi ketoasidosis pada orang dengan diabetes umumnya akan membaik dalam waktu 48 jam. Untuk mencegahnya dokter mungkin akan meninjau ulang perencanaan pola makan dan pengobatan Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pemerintah Musnahkan Jamur Enoki yang Tercemar Bakteri, Apa Bahayanya?

Jamur Enoki yang diimpor dari Korea Selatan ini terbukti terkontaminasi bakteri listeria monocytogenes yang menyebabkan penyakit listeria.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Berita Dalam Negeri, Berita 11/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Segudang Manfaat yang Ditawarkan dari Memelihara Ikan

Selain anjing dan kucing, binatang yang cukup populer dijadikan peliharaan adalah ikan. Yuk, kenali apa saja manfaat dari memelihara ikan untuk kesehatan.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Fakta Unik 11/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Benarkah Kalung Antivirus Corona Mengandung Eucalyptus Bisa Tangkal COVID-19?

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memperkenalkan produk kalung yang diklaim bisa digunakan sebagai antivirus corona. Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 10/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Kapan Balita Perlu Diberi Minum Obat Cacing?

Cacingan pada balita dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangannya. Terapkan langkah preventif ini dan pemberian obat cacing untuk balita.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Kesehatan Anak, Parenting 10/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mengusir biang keringat

3 Bahan Alami yang Bisa Mengusir Biang Keringat

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Dipublikasikan tanggal: 13/07/2020 . Waktu baca 3 menit
makanan cair untuk orang sakit

Mengenal Makanan Cair dan Manfaatnya untuk Orang Sakit

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 13/07/2020 . Waktu baca 6 menit
bullying di tempat kerja

Begini Dampak yang Ditimbulkan dari Bullying di Tempat Kerja

Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 12/07/2020 . Waktu baca 5 menit
duduk meningkatkan risiko kanker

Studi Terbaru: Terlalu Lama Duduk Dapat Sebabkan Kanker

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 12/07/2020 . Waktu baca 5 menit