Jangan Sembarangan Memberi Anak Makanan Manis! Ini 6 Bahayanya

    Jangan Sembarangan Memberi Anak Makanan Manis! Ini 6 Bahayanya

    Rasanya hampir tak ada anak yang tidak suka makanan manis. Apalagi, orangtua juga suka memberi hadiah kepada anak dengan makanan manis karena telah berperilaku baik. Namun, memberikan makanan manis pada anak tak selalu membawa dampak yang baik. Di balik itu, ada bahaya yang timbul untuk anak jika sering makan makanan manis.

    Bahaya makanan manis untuk kesehatan anak

    Batas asupan gula yang aman untuk anak adalah 25 gram atau setara dengan 6 sendok teh makan per hari.

    Jika ditakar untuk seminggu, batas asupan gula untuk anak yakni tidak lebih dari 8 ons atau sekitar 240 ml minuman manis.

    Rekomendasi ini ditujukan untuk anak yang berusia 2-18 tahun. Sementara anak berusia di bawah 2 tahun tidak boleh mendapat gula tambahan sama sekali.

    Ironisnya, Cleveland Clinic menyebut bahwa banyak anak tidak hanya makan gula dalam jumlah berlebih, tetapi juga makan berbagai jenis gula seperti yang ada pada makanan ringan.

    Bahkan, jumlahnya pun ditemukan cukup tinggi, contohnya pada minuman dan jus untuk anak yang dijual di pasaran.

    Lalu, apa dampak atau bahaya makanan manis untuk anak? Pada dasarnya, anak-anak membutuhkan asupan gula sebagai sumber energi dan untuk menunjang pertumbuhannya.

    Namun, asupan gula atau makanan manis tetap harus terkontrol jumlahnya.

    Asupan gula yang tidak terkontrol justru dapat menimbulkan bahaya seperti berikut untuk anak.

    1. Kecanduan

    Makanan manis membuat anak-anak merasa senang sehingga mereka menginginkan lebih.

    Jika dibiarkan tanpa terkendali, kegemaran anak-anak terhadap makanan manis justru bisa berbahaya untuk kesehatan fisik maupun psikologisnya.

    Salah satu yang paling mudah dilihat adalah kecanduan. Anak yang kecanduan makanan manis biasanya menunjukkan gejala jika keinginannya tidak dituruti.

    Anak menjadi tantrum dan berperilaku kompulsif saat meminta makanan manis. Ini sering ditunjukkan dengan menangis, merengek, berteriak, hingga memukul atau menendang.

    Tubuh anak juga bisa menjadi lesu atau justru menegang dan gemetar karena marah. Perubahan perilaku pun sering terjadi pada anak yang kecanduan.

    2. Pembusukan gigi

    karies botol

    Pembusukan gigi biasanya terjadi karena menumpuknya sisa gula pada celah gigi. Bakteri mulut menjadikan gula sebagai makanannya dan menghasilkan zat asam.

    Gabungan bakteri, sisa gula, zat asam, dan liur kemudian membentuk plak gigi. Lambat laun, plak bisa semakin merusak gigi anak Anda.

    Kerusakan gigi akibat makanan manis bisa memberi dampak yang bahaya dan berkepanjangan untuk kesehatan gigi anak. Melansir Mayo Clinic, berikut adalah dampak tersebut.

    • Sakit gigi pada anak.
    • Abses gigi yang terjadi karena infeksi bakteri.
    • Pembengkakan atau keluarnya nanah di sekitar gigi.
    • Gigi anak patah.
    • Anak mengalami masalah mengunyah.
    • Gigi anak copot.
    • Gigi anak bergeser karena ada yang copot.

    3. Obesitas

    Anak-anak yang sering makan makanan manis akan lebih berisiko terkena obesitas jika tidak diimbangi dengan makanan bergizi seimbang.

    Ini terjadi karena kalori dari makanan manis yang dimakan akan menumpuk di tubuhnya dan menyebabkan berat badan anak Anda bertambah.

    Jika tidak terkontrol dan ditambah dengan aktivitas fisik yang kurang, berat badan akan terus menerus naik hingga menyebabkan obesitas.

    Bahaya makanan manis ini tentu tak berhenti saat anak masih kecil. Anak-anak obesitas akan terus mengalami kondisi ini hingga dewasa jika pola makannya tidak diperbaiki.

    Ia juga berisiko lebih besar mengalami masalah kesehatan, seperti penyakit kronis, asma pada anak, hingga anak depresi karena sering mendapat ejekan dari teman-temannya.

    4. Penyakit kronis

    anak mimpi buruk

    Hal yang mungkin paling bahaya adalah timbulnya penyakit kronis pada anak akibat makan makanan manis yang berlebihan yaitu diabetes pada anak, terutama tipe 2.

    Hal itu lebih mungkin terjadi bila anak mengalami obesitas akibat makan makan manis seperti yang disebutkan sebelumnya. Bagaimana penjelasannya?

    Jaringan lemak pada tubuh anak obesitas bisa menyebabkan sel tubuh resisten terhadap insulin. Insulin itu sendiri dibutuhkan untuk mengubah gula darah menjadi energi.

    Jika gula darah tak dapat diproses dengan baik, gula bisa menumpuk dalam darah dan menyebabkan gejala gula darah tinggi.

    5. Menurunkan kemampuan belajar

    Bukan cuma kesehatan fisik, anak yang terlalu banyak makan makanan manis bisa berdampak negatif pada kemampuan kognitifnya.

    Ini termasuk kemampuan belajar dan memori hingga berdampak pada nilai akademis anak di sekolah.

    Sebuah penelitian dari University of Montreal and Boston College menemukan fakta bahwa ada kaitan antara konsumsi gula berlebihan dengan penurunan memori dan kemampuan kognitif lainnya.

    Sementara itu, penelitian lain menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi fruktosa (salah satu bentuk lain dari gula) dan kaitannya dengan penuaan sel.

    6. Gangguan perilaku

    gymnastic untuk anak

    Bahaya makanan manis juga bisa menyebabkan anak hiperaktif atau gangguan perilaku anak lainnya. Bagaimana bisa?

    Setelah dicerna dan diserap, gula akan memasuki aliran darah dengan cepat. Hal ini memicu kenaikan gula darah secara drastis dan membuat Anak menjadi lebih aktif dari biasanya.

    Berkaitan dengan hal tersebut, memberi makanan untuk anak tanpa gula tambahan diyakini bisa menjadi salah satu cara untuk memperbaiki perilaku anak yang hiperaktif.

    Jadi, sudah menjadi tanggung jawab orangtua untuk memastikan bahwa makanan manis yang dikonsumsi anak berasal dari sumber yang menyehatkan.

    Pilihlah makanan manis yang lebih baik, seperti buah-buahan. Anda pun bisa berperan lebih aktif dengan membuat camilan manis sendiri menggunakan bahan yang menyehatkan.

    Dengan begitu, anak Anda akan terhindar dari bahaya makanan manis yang berlebihan.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Carla Pramudita Susanto

    General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


    Ditulis oleh Ihda Fadila · Tanggal diperbarui 20/04/2022

    Iklan
    Iklan
    Iklan
    Iklan