Membedakan Kelainan Trombosit dan Gangguan Pembekuan Darah

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Bagi kebanyakan orang, luka berdarah bisa cepat sembuh hanya dengan perawatan sederhana. Akan tetapi tidak demikian bagi orang yang memiliki masalah pada proses pembekuan darah atau kelainan trombosit. Dua kondisi ini berbeda, tapi sama-sama bisa menyebabkan darah sulit menggumpal, sehingga lebih sering mengalami perdarahan atau lama sembuhnya. Apa bedanya gangguan pembekuan darah dengan kelainan trombosit?

Pahami dulu bagaimana proses pembekuan darah

Tubuh memiliki mekanisme tersendiri untuk menyembuhkan luka berdarah. Proses pembekuan darah disebut dengan hemostasis. Trombosit, atau yang biasa disebut platelet, adalah satu sel darah yang berperan penting membantu terjadinya pembekuan darah.

Ketika terjadi luka terbuka, normalnya pembuluh darah di sekitar lokasi itu akan mulai menyempit untuk mengurangi aliran darah. Proses penyempitan ini juga akan memungkinkan sel-sel pembuluh darah yang robek untuk memulihkan diri dan “menjahit” kembali sobekan tersebut. Namun sampai di sini saja belum dapat menghentikan perdarahan secara total.

Barulah peran trombosit diperlukan untuk tahap selanjutnya. Daerah pembuluh darah yang rusak akan mengeluarkan sinyal agar trombosit datang dan menempel di sana. Penempelan trombosit ini akan mengaktifkan pelepasan molekul Adenosine diphosphate (ADP) yang bertugas untuk mengundang semakin banyak trombosit lainnya untuk menempel dan membentuk plak platelet.

Reaksi di atas kemudian akan mengaktifkan enzim trombin untuk memulai pembentukan jalinan fibrin. Fibrin adalah protein faktor pembeku darah berupa serat-serat benang untuk membantu mengokohkan plak platelet. Anyaman fibrin juga bertugas untuk menyumbat bagian pembuluh yang rusak agar menghentikan darah yang keluar.

Setelah jaringan kulit dan pembuluh darah yang rusak sudah selesai diperbaiki, maka dimulailah terjadi proses pembekuan darah. Selama proses pembekuan darah ini, anyaman fibrin dan plak platelet akan dihancurkan karena sudah tidak dibutuhkan lagi.

Adanya penyakit atau kondisi tertentu dapat menyebabkan kelainan trombosit ataupun gangguan penggumpalan darah.

Lalu, apa bedanya kelainan trombosit dengan gangguan pembekuan darah?

Baik kelainan trombosit maupun gangguan pembekuan darah bisa menyebabkan Anda mudah mengalami perdarahan atau luka berdarah yang sulit sembuh. Bedanya adalah apa yang menyebabkannya dan gejala yang timbul.

Penyebab gangguan pembekuan darah

Gangguan pembekuan darah adalah kondisi yang mengganggu proses koagulasi alias pembekuan darah. Normalnya, darah akan langsung mulai membeku setelah cedera terjadi untuk mencegah Anda mengalami kehilangan banyak darah yang bisa berakibat fatal.

Proses pembekuan darah bisa terganggu jika Anda tidak memiliki faktor pembeku darah yang mencukupi. Ada 13 faktor pembeku darah. Termasuk di antaranya adalah fibrinogen pembuat fibrin (Faktor I) dan enzim protrombin (Faktor II). Kehilangan faktor VIII atau faktor IX, misalnya, meski langka bisa menyebabkan hemofilia. Kebanyakan kasus gangguan koagulasi adalah kondisi genetik yang diwariskan dari orangtua ke anak.

Namun, beberapa gangguan pembekuan darah dapat disebabkan oleh kondisi medis tertentu, seperti penyakit hati. Pasalnya, faktor pembekuan darah dibentuk oleh sel-sel hati.

Gangguan pembekuan darah juga bisa disebabkan oleh:

  • Defisiensi vitamin K
  • Efek samping obat-obatan tertentu, misalnya antikoagulan (yang memang bekerja menghambat proses pembekuan darah).

Penyebab kelainan trombosit

Sementara itu, berbeda dengan kelainan trombosit. Kelainan trombosit bisa diakibatkan oleh gangguan pada jumlah trombosit atau kelainan fungsi trombosit. Kelainan trombosit tidak selalu disebabkan oleh genetik.

Jumlah trombosit yang normal adalah 150.000-450000 trombosit per mikroliter darah. Jika gangguan menyebabkan produksi trombosit berlebihan, kondisi ini disebut dengan trombositosis. Trombositosis menyebabkan perkembangan sumbatan darah di pembuluh darah tubuh. Trombositosis meningkatkan risiko Anda terhadap trombosis vena dalam (DVT), varises, serangan jantung, hingga stroke.

Kebalikan dengan trombositopenia. Trombositopenia adalah kelainan jumlah trombosit hingga di bawah 150.000 keping per mikroliter darah, bahkan bisa jauh di bawah 10 ribu. Jumlah trombosit yang sangat rendah dapat menyebabkan perdarahan internal yang berakibat fatal. Komplikasi ini khususnya terjadi di otak maupun saluran pencernaan.

Trombositopenia dapat terjadi akibat gangguan pada sumsum tulang (tempat produksi sel darah) atau penyakit hati berat. Penurunan jumlah trombosit juga bisa terjadi karena proses penghancuran trombosit yang meningkat pesat (bisa disebabkan oleh kondisi hipersplenisme atau demam berdarah dengue).

Beda pula gejala keduanya

Pada kelainan trombosit, karakteristiknya adalah gangguan produksi jumlah trombosit (bisa lebih banyak atau jadi lebih sedikit). Pada gangguan faktor pembekuan, kadar trombositnya masih normal. Hal ini dapat memengaruhi beda perwujudan gejala keduanya.

Kelainan trombosit umumnya ditandai dengan gejala mudah berdarah dan pendarahan yang sulit berhenti. Kelainan trombosit juga menimbulkan bintik-bintik kemerahan pada kulit yang disebut ptekie.

Meski gangguan pembekuan darah juga mengakibatkan mudah berdarah, tapi gejalanya sedikit berbeda dengan kelainan trombosit. Kelainan faktor pembekuan darah ditandai dengan mudah mengalami lebam dan memar, perdarahan yang sulit berhenti, atau perdarahan yang bisa berhenti cepat, namun kemudian berdarah lagi.

Beda jenis pemeriksaannya untuk meresmikan diagnosis

Baik kelainan trombosit dan gangguan pembekuan darah perlu diperiksa lewat tes laboratorium untuk mendapatkan diagnosis resminya. Akan tetapi, jenis tes yang diperlukan berbeda.

Pada masalah faktor pembekuan, dokter akan melakukan cek PT (Prothrombin Time) dan aPTT (activated Partial Thromboplastin Time). Hasil PT yang memanjang menunjukkan gangguan pada faktor ekstrinsik, sedangkan aPTT yang memanjang menunjukkan gangguan pada faktor intrinsik. Bila kedua parameter sama-sama memanjang, gangguan dapat terjadi pada kedua jalur.

Sementara itu, pemeriksaan laboratorium untuk diagnosis kelainan trombosit adalah dengan melihat jumlah trombosit apakah berada dalam rentang normal dan pengecekan lama waktu berdarah (BT/Bleeding Time).

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca