home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Memahami Proses Pembekuan Darah (Koagulasi) Saat Terjadi Luka

Memahami Proses Pembekuan Darah (Koagulasi) Saat Terjadi Luka

Proses pembekuan darah, atau disebut juga dengan koagulasi, adalah kondisi di mana darah Anda menggumpal untuk menghentikan perdarahan. Kondisi ini bisa jadi hal yang menguntungkan, bisa juga buruk bagi kesehatan, tergantung kondisi setiap orang. Pasalnya, mekanisme pembekuan darah memang diperlukan dalam situasi tertentu. Namun, dapat membahayakan juga. Bagaimana seluk-beluk prosesnya?

Komponen yang berperan dalam proses pembekuan darah (koagulasi)

trombosit, keping darah

Apa yang terjadi ketika kulit terluka, cedera, atau lecet? Kebanyakan luka akan mengeluarkan darah, alias perdarahan sekalipun lukanya kecil atau mungkin darahnya tidak banyak. Nah, ternyata tubuh manusia memiliki cara tersendiri untuk mengobati luka, yaitu dengan respons berupa proses pembekuan darah atau koagulasi.

Koagulasi ini membuat darah yang tadinya berbentuk cair berubah menjadi padat atau menggumpal. Proses ini penting untuk mencegah tubuh kehilangan darah terlalu banyak saat terjadi luka atau cedera. Dalam dunia medis, proses koagulasi ini disebut juga dengan istilah hemostasis.

Saat terjadi perdarahan, entah itu sedikit atau banyak, tubuh akan langsung memberikan sinyal ke otak untuk melakukan proses pembekuan darah. Dalam hal ini, bagian tubuh yang sangat diandalkan untuk membekukan darah adalah faktor pembekuan darah, yaitu suatu protein yang terdapat di dalam darah.

Sebelum mengetahui bagaimana prosesnya, ada baiknya Anda mengetahui terlebih dahulu apa saja komponen-komponen utama di dalam tubuh yang berperan.

Beberapa komponen atau unsur-unsur dalam darah yang membantu hemostasis atau pembekuan darah, antara lain:

1. Trombosit

Trombosit, atau yang dikenal juga dengan keping darah, adalah sel berbentuk kepingan yang terkandung di dalam darah. Trombosit dihasilkan oleh sel-sel di dalam sumsum tulang bernama megakariosit.

Peran utama trombosit adalah membentuk gumpalan atau bekuan darah, sehingga perdarahan dapat dihentikan atau diperlambat.

2. Faktor koagulasi atau pembekuan darah

Faktor koagulasi, atau memiliki sebutan lain faktor pembekuan darah, adalah jenis protein yang diproduksi oleh hati untuk membekukan darah.

Menurut situs National Hemophilia Foundation, ada sekitar 10 jenis protein atau faktor pembekuan darah yang berperan dalam mekanisme pembekuan darah. Nantinya, faktor-faktor tersebut akan bekerja sama dengan trombosit untuk menciptakan gumpalan atau bekuan darah saat terjadi luka.

Keberadaan faktor koagulasi sangat dipengaruhi oleh kadar vitamin K dalam tubuh. Tanpa vitamin K yang cukup, tubuh tidak dapat menghasilkan faktor pembekuan darah dengan baik.

Itu sebabnya, orang-orang defisiensi atau kekurangan vitamin K lebih rentan mengalami perdarahan berlebih karena faktor koagulasinya yang tidak bekerja dengan baik.

Bagaimana proses pembekuan darah terjadi?

penanganan luka tusuk

Mekanisme atau proses pembekuan darah terjadi dalam rangkaian interaksi kimiawi yang cukup kompleks. Berikut penjelasan rincinya:

1. Pembuluh darah menyempit

Ketika tubuh terluka dan mengeluarkan darah, artinya telah terjadi kerusakan pembuluh darah. Nah, saat itu juga pembuluh darah akan mengejang, sehingga terjadi vasokonstriksi atau penyempitan pembuluh darah.

2. Sumbatan dari trombosit terbentuk

Pada bagian pembuluh darah yang rusak, trombosit akan segera menempel dan membentuk sumbatan agar tidak banyak darah yang keluar. Agar proses pembentukan sumbatan dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya, trombosit akan menghasilkan zat kimia tertentu untuk mengundang trombosit-trombosit lainnya.

3. Faktor koagulasi membentuk bekuan darah

Di saat yang bersamaan, faktor-faktor koagulasi atau pembekuan akan membentuk reaksi yang disebut dengan kaskade koagulasi. Pada kaskade koagulasi, faktor pembekuan fibrinogen akan diubah menjadi benang-benang halus yang disebut dengan fibrin. Benang-benang fibrin ini akan bergabung dengan trombosit untuk memperkuat sumbatan.

4. Proses pembekuan darah berhenti

Agar pembekuan darah tidak terjadi secara berlebihan, faktor-faktor koagulasi akan berhenti bekerja dan trombosit diambil kembali oleh darah. Setelah luka berangsur-angsur membaik, benang fibrin yang sebelumnya terbentuk pun akan hancur, sehingga tidak ada lagi sumbatan pada luka.

Masalah yang bisa terjadi dalam proses pembekuan darah

tanda mimisan parah

Meski menjadi respons pertama saat terjadi luka, tak selamanya proses pembekuan darah berjalan mulus. Beberapa orang yang memiliki gangguan pembekuan darah tentu akan memengaruhi proses ini dan kondisi kesehatannya, seperti:

Pembekuan darah terganggu

Dalam beberapa kasus, ada orang-orang yang terlahir dengan mutasi genetik sehingga tubuhnya kekurangan faktor pembekuan darah tertentu.

Ketika jumlah faktor pembekuan darah tidak mencukupi, proses pembekuan darah pun terganggu. Akibatnya, perdarahan dapat berlangsung lebih lama dan sulit dihentikan, misalnya saja orang dengan hemofilia.

Pada kasus yang lebih parah, perdarahan dapat terjadi meski orang tersebut tidak terluka atau mengalami cedera apa pun. Bahkan, perdarahan juga dapat terjadi di organ dalam tubuh, atau perdarahan internal. Kondisi ini dapat mengancam nyawa.

Hiperkoagulasi

Hiperkoagulasi adalah kondisi yang berlawanan dengan gangguan pembekuan darah, di mana proses pembekuan darah terjadi secara berlebihan meski tidak ada luka apa pun.

Kondisi ini juga sama bahayanya karena gumpalan darah bisa menyumbat pembuluh arteri dan vena. Apabila pembuluh darah tersumbat, tubuh tidak dapat mengalirkan darah yang mengandung oksigen dengan maksimal. Hal ini dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi mematikan, seperti:

Selama kehamilan, gumpalan darah dapat terbentuk pada pembuluh darah pelvis atau kaki, menyebabkan komplikasi kehamilan serius seperti persalinan prematur, keguguran, dan kematian ibu. Itu sebabnya, hiperkoagulasi adalah kondisi yang tak boleh disepelekan.

Salah satu tes yang dilakukan untuk memeriksa adanya gangguan darah adalah tes konsentrasi faktor pembekuan darah. Tes ini berguna untuk mengetahui jenis faktor pembeku darah apa yan berkurang dari dalam tubuh.

Tergantung pada gangguan perdarahan yang Anda alami, dokter akan memberikan rencana pengobatan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda. Untuk perdarahan yang sulit berhenti, obat yang umum diberikan adalah konsentrat pengganti faktor pembekuan darah yang berkurang di dalam tubuh. Sementara itu, gangguan penggumpalan darah biasanya dapat diatasi dengan obat pengencer darah.

Dengan melakukan pengobatan dini pada gangguan koagulasi darah, hal ini sangat membantu mengurangi risiko terjadinya komplikasi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

LaPelusa, A., Dave, HD. (2020). Physiology, Hemostasis. StatPearls Publishing.

The Blood Clotting Process – National Hemophilia Foundation. (n.d.). Retrieved July 20, 2020, from https://hemaware.org/bleeding-disorders-z/blood-clotting-process

What is a Bleeding Disorder? – National Hemophilia Foundation. (n.d.). Retrieved July 20, 2020, from https://www.hemophilia.org/Bleeding-Disorders/What-is-a-Bleeding-Disorder#:~:text=Some%20bleeding%20disorders%2C%20such%20as,including%20aspirin%2C%20heparin%20and%20warfarin.

Coagulation Disorders – Riley Children’s Health. (n.d.). Retrieved July 20, 2020, from https://www.rileychildrens.org/health-info/coagulation-disorders

Blood Clotting Disorders (Hypercoagulable States) – Cleveland Clinic. (2019). Retrieved July 20, 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/16788-blood-clotting-disorders-hypercoagulable-states

What Is Excessive Blood Clotting (Hypercoagulation)? – American Heart Association. (n.d.). Retrieved July 20, 2020, from https://www.heart.org/en/health-topics/venous-thromboembolism/what-is-excessive-blood-clotting-hypercoagulation

Bleeding Disorders – Lab Tests Online. (2019). Retrieved July 20, 2020, from https://labtestsonline.org/conditions/bleeding-disorders

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Tamara Alessia Diperbarui 26/10/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.