Sindrom Antifosfolipid (APS)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 19 November 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu antiphospholipid syndrome (APS)?

Antiphospholipid syndrome (sindrom antifosfolipid), atau yang biasa disingkat dengan APS, adalah salah satu jenis penyakit autoimun, di mana sistem kekebalan justru menyerang jaringan tubuh yang normal hingga menimbulkan kerusakan.

Pada keadaan normal, sistem kekebalan tubuh dilengkapi dengan antibodi, yaitu jenis protein yang biasanya membantu mempertahankan tubuh terhadap infeksi. Namun, sindrom antifosfolipid (APS) adalah penyakit yang membuat antibodi tubuh tidak bekerja dengan normal dan berbalik menyerang fosfolipid, jenis lemak dalam tubuh.

Jika antibodi menyerang fosfolipid, sel-sel menjadi rusak. Kerusakan ini menyebabkan gangguan pembekuan darah berupa pembentukan gumpalan darah dalam arteri tubuh dan pembuluh darah.

Pembekuan darah adalah proses normal pada tubuh yang mencegah Anda mengalami perdarahan berlebihan. Namun, sindrom antifosfolipid, atau disebut juga sindrom Hughes, memicu pembekuan darah berlebihan. Akibatnya, bekuan atau gumpalan darah bisa menyumbat aliran darah dan merusak organ tubuh.

Pada kasus yang jarang terjadi, APS dapat memicu terjadinya penyakit atau gangguan pada trombosit. Hal ini tentu berkaitan erat dengan masalah pembekuan darah yang disebabkan oleh sindrom ini, sehingga kadar trombosit di dalam tubuh pun bisa terpengaruh.

Seberapa umumkah kondisi ini?

APS adalah penyakit yang dapat terjadi pada orang-orang dari segala usia. Namun, berdasarkan informasi dari situs Genetics Home Reference, sebanyak 20% orang berusia di bawah 50 tahun yang mengidap stroke juga diduga memiliki sindrom ini.

Selain itu, penyakit ini lebih sering ditemukan pada pasien berjenis kelamin wanita. Sekitar 70% dari penderita penyakit APS adalah wanita.

Sindrom ini juga cukup banyak terjadi pada orang-orang yang menderita gangguan autoimun atau masalah rematik, misalnya lupus. Diperkirakan 10-15% pasien SLE (systemic lupus erythematosus) mengidap sindrom ini juga.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-­tanda dan gejala sindrom antifosfolipid?

Tanda-tanda dan gejala dari sindrom antifosfolopid (APS) adalah:

  • Nyeri dada dan sesak napas
  • Nyeri, kemerahan, terasa panas, dan pembengkakan pada tungkai
  • Sakit kepala yang sedang berlangsung
  • Perubahan cara bicara
  • Ketidaknyamanan tubuh bagian atas pada lengan, punggung, leher, dan rahang
  • Mual (merasa sakit perut)
  • Penurunan jumlah trombosit (trombositopenia)

Gejala stroke, seperti bicara cadel, kelumpuhan, mati rasa, kelemahan, kehilangan penglihatan, dan masalah menelan juga bisa terjadi jika Anda mengalami penyakit ini.

Bagian lain dari tubuh yang terganggu termasuk paru-paru, saluran pencernaan, ginjal, dan kulit.

Kemungkinan ada tanda-­tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus menghubungi dokter jika Anda memiliki salah satu dari gejala berikut:

  • Mengalami tanda-tanda atau gejala yang tercantum di atas
  • Wanita hamil dengan APS
  • Menunjukkan tanda-tanda overdosis setelah mengonsumsi obat antikoagulan (pengencer darah)

Penyebab

Apa penyebab sindrom antifosfolipid (APS)?

Antiphospholipid syndrome (APS) adalah kondisi yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh membuat antibodi (protein) yang menyerang fosfolipid. Fosfolipid adalah jenis lemak yang terdapat di sel-sel tubuh, termasuk sel darah dan dinding pembuluh darah.

Ketika antibodi menyerang fosfolipid di dalam sel, terjadi interaksi yang memengaruhi proses pembekuan darah. Akibatnya, penderitanya memiliki kecenderungan untuk mengalami trombosis (gumpalan darah) di dalam pembuluh darahnya, baik di pembuluh vena maupun pembuluh arteri. Gumpalan darah tersebut berisiko menyebabkan serangan jantung dan stroke.

Namun, hingga saat ini belum diketahui apa penyebab antibodi menyerang fosfolipid di dalam tubuh, serta bagaimana antibodi dapat menyebabkan darah lebih mudah kental dan membeku.

Peluang seseorang semakin tinggi untuk terkena APS jika mengalami:

  • Rheumatoid arthritis (RA)
  • Sindrom Scheel
  • Sindrom Sjogren

Obat-obatan tertentu seperti hydralazine quinidine, phenytoin, serta amoxicillin juga dapat menyebabkan APS.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk terkena sindrom antifosfolipid (APS)?

Ada banyak faktor risiko yang memicu antiphospholipid syndrome (APS), di antaranya adalah:

  • Orang yang memiliki gangguan autoimun atau kondisi reumatik lainnya
  • Orang yang aktif merokok
  • Istirahat berkepanjangan (bed rest)
  • Jarang menggerakkan tubuh
  • Kehamilan dan periode setelah melahirkan
  • Mengonsumsi pil KB dan terapi hormon
  • Mengidap kanker dan penyakit ginjal

Komplikasi

Apa saja komplikasi kesehatan yang diakibatkan oleh sindrom ini?

Tergantung pada organ tubuh mana yang terdampak oleh penggumpalan darah akibat APS, sindrom ini adalah situasi yang dapat memberikan komplikasi kesehatan serius jika tidak ditangani dengan tepat.

Berikut adalah beberapa gangguan kesehatan serius yang dapat terjadi akibat sindrom antifosfolipid:

  • Gagal ginjal
  • Stroke
  • Masalah jantung dan pembuluh darah
  • Trombosis vena dalam (DVT) atau trombosis arteri
  • Masalah pada paru-paru, seperti emboli paru

Jika wanita hamil terkena sindrom ini, ia berisiko terkena berbagai macam komplikasi kehamilan, seperti:

  • Tekanan darah tinggi selama kehamilan (preeklampsia)
  • Kelahiran prematur
  • Keguguran
  • Janin meninggal di dalam kandungan (stillbirth)

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja pilihan pengobatan untuk menyembuhkan sindrom antifosfolipid (APS)?

Antiphospholipid syndrome (APS) adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara total, tetapi penggunaan obat-obatan dapat membantu mencegah komplikasi.

Tujuan pengobatan adalah untuk mencegah penggumpalan darah dan menjaga gumpalan darah yang ada agar tidak menjadi lebih membesar.

Dokter Anda mungkin memberikan Anda heparin dan warfarin. Tes darah rutin diperlukan untuk memantau tingkat kekentalan darah.

Jika APS disebabkan oleh penyakit lain, penting untuk mengobati penyakit itu juga. Wanita hamil yang memiliki APS biasanya diobati dengan heparin dan aspirin dosis rendah. Warfarin tidak digunakan sebagai pengobatan selama kehamilan karena dapat membahayakan janin.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis sindrom antifosfolipid?

Dokter Anda dapat menggunakan tes darah untuk memastikan diagnosis antiphospholipid syndrome (APS). Tes ini berfungsi untuk memeriksa apakah darah Anda memiliki salah satu dari tiga antibodi APS, yaitu:

  • Antikoagulan lupus
  • Anti-cardiolipin
  • Beta-2 glikoprotein I

Anda mungkin perlu tes darah kedua untuk mengkonfirmasi hasil yang lebih positif. Hal ini karena tes yang dilakukan hanya satu kali dapat merupakan hasil dari infeksi jangka pendek. Tes darah kedua sering dilakukan pada saat 12 minggu atau lebih setelah pemeriksaan darah pertama.

Pengobatan di rumah

Apa saja ­perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi ini?

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi sindrom antifosfolipid atau APS:

  • Hindari aktivitas olahraga yang melibatkan kontak fisik langsung.
  • Gunakan sikat gigi yang lembut.
  • Gunakan mesin cukur listrik.
  • Berhati-hatilah saat menggunakan pisau, gunting dan benda tajam lainnya.
  • Batasi makan makanan yang mengandung vitamin K seperti brokoli, sawi, kacang kedelai. Vitamin K dapat membuat kinerja warfarin kurang efektif.
  • Konsultasikan dengan dokter Anda sebelum menggunakan obat atau suplemen

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Minum Paracetamol Saat Hamil, Apakah Aman?

Terkadang ibu hamil mungkin merasa demam dan nyeri. Hal ini membuat ibu hamil memerlukan paracetamol. Namun, apakah aman minum paracetamol saat hamil?

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan, Hidup Sehat, Tips Sehat 18 November 2020 . Waktu baca 3 menit

Apakah Pemanis Buatan Aman untuk Ibu Hamil?

Pemanis buatan saat hamil mungkin diperlukan oleh ibu yang memiliki diabetes gestasional atau yang kelebihan berat badan. Tapi, apakah memang lebih aman?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 18 November 2020 . Waktu baca 3 menit

Seberapa Besar Kemungkinan Bayi Prematur Bertahan Hidup?

Kebanyakan bayi prematur lahir pada usia kehamilan 34-36 minggu. Lalu, bagaimana kemungkinan bayi prematur bertahan hidup jika usianya masih 24 minggu?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Melahirkan, Perkembangan Janin, Kehamilan, Hidup Sehat, Fakta Unik 17 November 2020 . Waktu baca 3 menit

Mengenal Sistem Rhesus dalam Golongan Darah Anda

Jika ibu memiliki rhesus negatif sedangkan janinnya memiliki rhesus positif, ada berbagai komplikasi yang bisa terjadi, termasuk kematian bayi.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Penyakit Kelainan Darah, Golongan Darah 17 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

waktu bermain video game

Berapa Lama Waktu Bermain Video Game yang Pas untuk Anak?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit
nutrisi trimester ketiga

Nutrisi yang Harus Dipenuhi Ibu Hamil di Trimester Ketiga

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Apa Akibatnya Jika Ibu Mengandung Bayi Besar?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 5 menit
berapa kali hamil

Berapa Kali Hamil dan Melahirkan yang Aman Bagi Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit