Mengenal Serebral Palsi, Kondisi Bahaya yang Menyerang Otak

Serebral palsi adalah kondisi ketika terjadi gangguan pada otak. Masalah kesehatan ini kerap disebut dengan nama lumpuh otak.

Apa itu serebral palsi?

Cerebral adalah kedua belah otak (hemisphere), dan palsy adalah bermacam penyakit yang menyerang pusat pengendali gerakan tubuh.

Serebra palsi (CP) diartikan sebagai sekelompok gangguan perkembangan fungsi gerak dan postur tubuh. Kondisi ini menyebabkan keterbatasan aktivitas yang berhubungan dengan gangguan nonprogresif yang terjadi saat otak janin atau bayi berkembang.

Gangguan motorik ini sering kali ditandai dengan adanya masalah pada sensasi, kognisi, komunikasi, persepsi, perilaku, dan serangan kejang. Singkatnya serebral palsi adalah pergerakan abnormal atau postur tubuh yang tidak normal akibat gangguan perkembangan otak.

Kasus serebral palsi di dunia

Di negara maju diperkirakan 2-2,5 kasus per 1000 bayi lahir hidup, sedangkan di negara berkembang sekitar 1,5-5,6 kasus per 1000 bayi lahir hidup.

Di USA, diperkirakan terdapat lebih dari 500.000 penderita. Status sosioekonomi yang rendah dapat meningkatkan faktor risiko serebral palsi. Pria lebih berisiko terkena CP. Diagnosis CP ditegakkan setelah anak berusia 1 tahun sampai 3 tahun.

Penyebab serebral palsi

Penyebab serebral palsi bisa dari berbagai hal, alias multifaktor yaitu:

Masalah saat hamil

Gangguan kesehatan yang terjadi sebelum pada masa kehamilan seperti infeksi di dalam kandungan, cacat bawaan, bahan toksik atau teratogenik, trauma perut, telah berkali-kali melahirkan, dan riwayat penyakit yang diderita ibu.

Keadaan selama hamil yang dapat meningkatkan risiko terkena CP

Beberapa kondisi selama kehamilan yang bisa menimbulkan serebral palsi seperti:

  • Polihidramnion, volume air ketuban lebih dari normal, biasanya > 2 liter
  • Perdarahan di trimester ketiga
  • Terapi ibu hamil dengan hormon tiroid, estrogen, progesteron.
  • Riwayat penyakit seperti gangguan kejang, hipertensi atau proteinuria berat, atau riwayat terpapar methyl mercury.

Masalah pada masa awal kelahiran bayi (Neonatal)

Gangguan yang menyebabkan bayi alami serebral palsi yaitu:

  • Bayi lahir prematur
  • Berat bayi saat lahir < 2500 gram,
  • Perlambatan pertumbuhan (growth retardation)
  • Perdarahan di dalam kepala (intracranial hemorrhage)
  • Perlambatan irama jantung (bradikardi)
  • Kekurangan suplai oksigen (hipoksia)
  • Tingginya kadar bilirubin dalam darah (hyperbilirubinemia)
  • Letak janin yang abnormal saat melahirkan (sungsang, lintang).

Masalah pasca melahirkan (Postnatal)

  • Gangguan di otak seperti hypoxic-ischemic encephalopathy
  • Infeksi, seperti meningitis, ensefalitis
  • Perdarahan di dalam kepala
  • Kelainan faktor pembekuan darah
  • Periventricular leukomalacia pada bayi prematur
  • Kernicterus, kuning pada bayi akibat penumpukan pigmen empedu di ganglia basalis otak, tulang belakang, dan jaringan saraf lainnya

Perlu diketahui, infeksi TORCH  (Toksoplasmosis, Other Diseases, Rubella, Citomegalovirus, Herpes Simpleks) pada ibu hamil merupakan salah satu penyebab CP.

Gejala serebral palsi

Sebagai deteksi awal, dokter umum atau dokter spesialis anak (ahli pediatri) akan memperhatikan tiga hal utama yang jelas terlihat pada anak CP, yakni:

  • Keterlambatan perkembangan motorik
  • Gangguan gerak akibat kelumpuhan
  • Gangguan postur tubuh

Gejala unik yang dapat dilihat langsung dan menandakan anak mengalami serebral palsi adalah:

  • Saat berjalan kedua tungkai tampak bergerak kaku dan lurus, gaya berjalan seperti ini disebut scissors gait.
  • Terkadang berjalan tidak stabil dengan gaya berjalan kaki terbuka lebar.
  • Anak alami tremor, menggigil
  • Terlambat berjalan, baru bisa berjalan di usia 24 bulan, 3 tahun, atau bahkan tidak bisa berjalan sama sekali
  • Gerakan menulis yang tak terkontrol dan perlahan, ini meningkat saat anak stres dan menghilang saat tidur.
  • Anak terlihat menyeringai, tampak selalu mengeluarkan air liur
  • Sulit makan dan menelan, sulit bicara
  • Buang air kecil tak terkontrol, misal: ngompol
  • Gangguan belajar
  • Gangguan penglihatan sampai kebutaan
  • Menurunnya intelektual hingga retardasi mental (IQ < 50)

Tes yang dilakukan untuk mendiagnosis serebral palsi

Untuk mengetahui apakah seorang anak alami serebral palsi, maka diperlukan tes darah dan urin. Dokter juga akan melakukan tes seperti berikut:

  • Fungsi tiroid
  • Kadar piruvat dan laktat
  • Protein cerebrospinal
  • Kadar amonia
  • Kadar asam organik kuantitatif urin dan asam amino kuantitatif serum
  • Tes original Tardieu Scale, untuk mengetahui ketahanan otot pasien
  • Elektromiografi
  • USG kepala
  • CT scan dan MRI dilakukan sesuai indikasi
  • EEG jika dicurigai kejang yang mengarah epilepsi
  • Analisis kromosom, termasuk karyotype analysis dan specific DNA testing

Sampai sekarang belum ada tes laboratorium spesifik untuk memastikan diagnosis serebral palsi. Pencitraan radiologis dengan MRI dan/atau CT scan otak dapat mengidentifikasi daerah otak di mana CP disebabkan oleh suatu lesi non-progresif.

Mulai bulan Maret 2017, telah terbentuk International Cerebral PalsyGenomics Consortium (ICPGC). Tujuan utamanya untuk memfasilitasi koleksi, analisis, interpretasi, dan diseminasi temuan genomik CP dan data klinis terkait lainnya untuk memaksimalkan upaya riset dan nilai translasional.

Pengobatan serebral palsi

Untuk mengobati srebral palsi, ada berbagai pengobatan yang mesti dilakukan, seperti:

  • Memberikan obat Botulinum toxin type A intramuscular (BOTOX®), efek terapeutiknya bertahan selama 3-6 bulan.
  • Fisioterapi untuk melatih otot yang lemah.
  • Stem sel yang diinjeksikan intratekal satu kali kepada pasien dengan tipe CP yang berbeda.

Pilihan terapi untuk mengontrol kejang dan spasme otot yang biasanya dialami oleh pasien serebral palsi:

  • Obat golongan benzodiazepin, seperti diazepam
  • Golongan antikonvulsan, seperti: asam valproat, fenobarbital
  • Golongan relaksan otot rangka, seperti: baclofen, dantrolene
  • Agen agonis adrenergik alfa-2 yang berefek pereda nyeri, seperti: tizanidine
  • Golongan dopamine prodrugs, seperti: levodopa, carbidopa
  • Golongan antikolinergik, seperti: trihexyphenidyl, untuk mengatasi tremor

Terapi penunjang lainnya seperti:

  • Manajemen orthopaedic, seperti: posturing, seating, bracing
  • Manajemen orthotic, seperti menggunakan splint, cast untuk meningkatkan fungsi, atau penyangga khusus untuk kompensasi keseimbangan otot.
  • Konseling, terapi perilaku, terapi fisik, terapi bicara.
  • Terapi okupasi, seperti: menyuapi, melatih makan-minum, berpakaian, berdandan, bersih diri (mandi, buang air kecil-besar) hingga dapat mandiri.
  • Recreational therapy, seperti: bernyanyi, menggambar, mendongeng, mengenal huruf dan angka dengan kartu/jari, bercanda, bermain bongkar pasang, puzzle, game di komputer
  • Pembedahan bila perlu, misalnya: dengan teknik percutaneous myofascial lengthening (PERCS)
  • Teknologi terbaru “hyperbaric oxygen therapy” relatif mahal, namun juga efektif untuk penderita CP.

Jika penderita CP sulit makan dan menelan, dapat diberi sayur dan buah yang dilembutkan. Agar tak tersedak, sebaiknya ia duduk dan menegakkan leher saat makan atau minum. Pada kondisi yang lebih parah, direkomendasikan dengan gastrostomy, di mana dokter bedah akan memasang selang langsung ke lambung.

Diperlukan kerjasama dan koordinasi yang baik antara dokter spesialis anak, dokter saraf, psikiatri anak, dokter orthopedi, terapis fisik dan okupasi, pelatih bicara dan bahasa, psikolog, guru, pekerja sosial, pengasuh.

Cara mencegah serebral palsi

Cedera kepala dicegah dengan helm pelindung, pengawasan saat mandi dan bermain, jangan menggunakan kekerasan fisik pada anak. Ikterus neonatorum dicegah dengan fototerapi atau transfusi tukar. Infeksi rubella (campak Jerman) dicegah dengan imunisasi sebelum hamil.

Tim medis dan keluarga perlu mewaspadai berbagai potensi komplikasi pada penderita CP. Misalnya: kejang, infeksi, malnutrisi, problematika berkomunikasi, ketidakmampuan beraktivitas di dalam kehidupan sehari-hari, disabilitas (cacat kognitif, cacat fisik, gangguan penglihatan, penurunan pendengaran).

dr. Dito Anurogo, M.Sc. Teknologi Medis

Dokter Dito adalah, penulis 20 buku (salah satunya The Art of Medicine  dan ratusan karya tulis terpublikasi di media massa lokal, nasional, hingga jurnal Internasional.

dr. Dito pernah menjadi delegasi Indonesia untuk riset ke Italia dan training HIV/AIDS, kesehatan reproduksi, bank darah ke Hungaria (CIMSA-IFMSA). Ia juga memiliki sertifikasi kegawatdaruratan, trauma, dan neurologi (ATLS, ACLS, ANLS, TCD), herbal dan tanaman obat, grafologi dasar, jurnalistik (PWI).

Ia juga adalah seorang pembelajar medis-kesehatan, kearifan lokal, sel punca, kepemimpinan, pemberdayaan-penguatan perempuan dan organisasi, dunia digital, literasi, riset (Nanoimmunobiotechnomedicine), hematopsikiatri, nanorobotics, medicopomology, manajemen bencana, anak berkebutuhan khusus, sastra, filsafat.

Dokter penyuka filateli, numismatik, paremiologi, dan poliglot ini mendapatkan CME dari Harvard, Oxford University, John Hopkins, dsb. Ia berpengalaman di lebih dari 20 organisasi (sebagai penasihat, pendiri, inisiator, ketua, anggota).

Alumnus S-2 IKD Biomedis FK UGM ini juga telah menerima beberapa penghargaan, di antaranya Gadjah Mada Awards 2015 (The Most Inspiring Student and The Best Writer Student categories); Seed Grant Award Blended Learning batch II, 2015 Health Management Policy Center, Medical Faculty , Universitas Gadjah Mada; The Best Winner, science category, national essay competition, AGRINOVA forum, held by HIMMP AS IPB 2015; dan First Winner “2013 World Young Doctors' Organization (WYDO) Indonesia Essay Contest Award”.

Selengkapnya
Artikel Terbaru