Perkembangan Sosial dan Emosional Anak Usia Dini 1-5 Tahun

    Perkembangan Sosial dan Emosional Anak Usia Dini 1-5 Tahun

    Perkembangan sosial dan emosional anak usia dini tidak hanya tentang mengatur emosi yang ada di dalam dirinya, tapi lebih dari itu. Tentunya, hal ini sangat berpengaruh pada perilaku anak sampai ia dewasa. Berikut penjelasan lengkap seputar perkembangan sosial dan emosional anak usia dini yang perlu diketahui orangtua.

    Apa itu perkembangan sosial emosional anak pada usia dini?

    Children’s Therapy and Family Resource Centre menjelaskan bahwa perkembangan emosional anak adalah salah satu tahap tumbuh kembang anak untuk berinteraksi dengan orang lain dan mengendalikan emosi sendiri.

    Dalam perkembangan emosional, anak mulai belajar menjalin hubungan dengan teman dan lingkungannya.

    Menjalin hubungan sosial dengan teman dan lingkungan juga sebuah proses untuk belajar berkomunikasi, berbagi, dan berinteraksi.

    Sementara itu, mengutip dari Scan of North Virginia, perkembangan sosial anak adalah proses belajar dalam berinteraksi dengan orang lain.

    Selain mengembangkan rasa kemandiriannya, anak juga belajar bersosialisasi dengan teman seusianya.

    Adapun kemampuan sosial dan emosional balita yang baik berpengaruh pada kecerdasannya ketika dewasa nanti.

    Tahapan perkembangan sosial dan emosional anak

    Semakin bertambahnya usia, kemampuan sosial dan emosional anak semakin bertambah, dan setiap anak memiliki tahapan yang berbeda.

    Berikut perkembangan sosial dan emosional anak usia 1 – 5 tahun yang bisa menjadi acuan.

    1. Anak usia 1 – 2 tahun

    Meski usianya terbilang dini, perkembangan sosial dan emosional anak sudah terlihat semakin baik dan kemampuannya bertambah.

    Mengutip dari Kids Health, salah satu kecerdasan emosional anak usia 1 – 2 tahun, yaitu menangis saat melihat Anda meninggalkannya.

    Tidak hanya itu, buah hati Anda juga sudah memiliki kepercayaan diri menunjukkan kemampuan barunya, seperti saat ia belajar berjalan, berdiri, atau berbicara.

    2. Usia 2 – 3 tahun

    gendongan bayi terbaik

    Pada rentang umur 2 – 3 tahun, perkembangan sosial dan emosional anak usia dini cukup dinamis dan belum stabil. Pasalnya, tantrum masih menjadi kebiasaan si Kecil.

    Contoh perkembangan sosial emosional anak usia dini ini adalah mulai mau dibantu orang lain saat melakukan sesuatu. Selain itu, anak usia 2 tahun juga senang saat digendong oleh orang yang disukainya.

    3. Usia 3 – 4 tahun

    Pada usia ini, anak perlahan mengenali emosinya. Pada rentang usia 3 tahun, anak dianggap cukup mengerti dan bisa mengendalikan emosi yang ada di dalam dirinya.

    Sebagai contoh, ketika ia menemukan sesuatu yang lucu, ia sangat histeris akan hal itu. Begitu juga ketika anak menemukan hal yang membuatnya marah, teriakan dan tangisan menjadi pelampiasan emosi si Kecil.

    4. Usia 4 – 5 tahun

    Pada usia 4 – 5 tahun, anak sudah mampu menenangkan teman yang sedang bersedih dan bisa merasakan yang dirasakan temannya.

    Namun, si Kecil tidak selalu bisa kooperatif. Sisi egois anak juga bisa muncul ketika suasana hatinya kurang baik.

    Pada usia ini, selera humor anak mulai muncul dan ia mulai berusaha melucu dalam beberapa kesempatan.

    Anda akan melihat anak usia 4 tahun berusaha melucu dengan melakukan hal konyol untuk membuat orang lain tertawa.

    Cara mengasah perkembangan sosial dan emosional anak usia dini

    Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengasah dan melatih perkembangan sosial dan emosional anak usia dini, di antaranya sebagai berikut.

    1. Usia 1 – 2 tahun

    Pada usia 1 – 2 tahun, anak Anda sedang merasakan separate anxiety atau merasa tidak nyaman ketika berpisah dengan seseorang.

    Untuk melatih agar ia lebih mandiri, Anda bisa terpisah sebentar dengan si Kecil. Tidak perlu terlalu lama, paling tidak sekitar 10 – 15 menit dan bisa ditingkatkan bila si Kecil tenang.

    Saat akan pergi, hindari untuk pergi secara tiba-tiba dan biasakan untuk berpamitan. Katakan padanya kalau Anda akan pergi sebentar dan kembali.

    Ketika Anda pulang, sambut si Kecil dengan antusias dan beri perhatian penuh padanya. Ini membuat anak merasa nyaman dan aman.

    2. Usia 2 – 3 tahun

    Contoh perkembangan sosial dan emosional pada anak usia 2-3 tahun, yaitu si Kecil cenderung lebih meledak-ledak.

    Saat emosi anak meledak-ledak, lebih baik minta ia menceritakan apa yang sedang dirasakan daripada memarahinya. Ini bisa membantu anak untuk mengenali perasaan yang sedang ia rasakan.

    3. Usia 3 – 4 tahun

    perkembangan emosional sosial anak

    Saat anak Anda terlihat emosional, hindari untuk memarahi atau membentak anak karena ia bisa merasa diabaikan dan tidak dipedulikan.

    Ubah sudut pandang Anda dan mulai berempati pada perasaan si Kecil. Pada usia ini, jadilah teman yang mengerti posisi si Kecil agar anak merasa nyaman dan aman di dekat Anda.

    4. Usia 4 – 5 tahun

    Salah satu bagian penting dalam membangun perkembangan sosial dan emosional anak usia dini adalah mengajari anak cara menyelesaikan masalah atau problem solving.

    Anak usia 4 – 5 tahun sudah bisa diajari tentang mengatasi persoalan sederhana yang dihadapinya.

    Jika anak Anda tidak sengaja membuat temannya menangis, ajaklah ia berbicara dan berdiskusi. Tanyakan apa alasannya membuat anak lain menangis.

    Ajarkan juga anak meminta maaf. Secara tidak langsung, anak akan berlatih untuk menyelesaikan masalah sendiri dengan baik.

    Hal yang juga dapat Anda lakukan untuk mendukung perkembangan sosial dan emosional anak usia dini adalah memberi contoh cara mengeskpresikan emosi.

    Cara yang dapat dilakukan, yaitu berbagi cerita dengan si Kecil tentang apa yang terjadi pada kesehariannya.

    Ceritakan betapa senangnya Anda hari itu, kesal, kecewa, dan perasaan lain. Ketika anak sedang mendengarkan cerita, secara tidak langsung dia akan meniru Anda pada kemudian hari.

    Hal ini akan membantu meningkatkan kecerdasan emosional dan sosial anak pada usia dini dan mencegah gangguan tumbuh kembang anak.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Carla Pramudita Susanto

    General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


    Ditulis oleh Riska Herliafifah · Tanggal diperbarui 13/12/2022

    Iklan
    Iklan
    Iklan
    Iklan