Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Penyebab Bayi Bermata Juling dan Cara Mengatasinya agar Kembali Normal

Penyebab Bayi Bermata Juling dan Cara Mengatasinya agar Kembali Normal

Bukan hanya orang dewasa, mata juling juga bisa terjadi pada bayi. Jika anak Anda mengalami hal ini, tentu ada rasa khawatir dan bertanya-tanya apakah ini berbahaya untuk kondisinya atau tidak. Agar tahu lebih lanjut, berikut ulasan lengkap mengenai mata juling pada bayi.

Mengenal mata juling pada bayi

mata juling pada bayi

Mata juling pada bayi, atau dalam istilah kedokteran disebut dengan strabismus, adalah kondisi di mana kedua bola mata melihat ke arah yang berbeda pada satu waktu.

Kondisi ini biasanya sudah terlihat sejak kecil dan bisa berlanjut hingga dewasa jika tidak ditangani dengan benar.

Melansir American Optometric Association (AOA), strabismus biasanya terjadi jika otot bola mata lemah atau menderita rabun dekat yang parah.

Anda mungkin mendapati salah satu mata si kecil berputar ke bagian dalam rongga mata, ke atas, atau ke bawah tanpa ia sadari.

Hal ini mungkin terjadi sepanjang waktu atau hanya pada saat ia merasa lelah.

Mengutip Mayo Clinic, mata juling pada bayi dan anak termasuk kondisi yang umum terjadi. Sekitar 1 dari 20 anak mengalami kondisi ini.

Terkadang, kondisi mata juling ini tidak langsung terlihat sejak bayi, melainkan pada usia 3 atau 4 tahun.

Penyebab mata juling pada bayi

Beberapa hal yang menjadi penyebab mata bayi juling antara lain sebagai berikut.

1. Lemahnya otot mata

Ada enam otot yang mengontrol pergerakan bola mata. Otot-otot inilah yang memungkinkan kita untuk melihat ke berbagai arah.

Jika salah satu atau lebih otot tersebut lemah, pergerakan mata menjadi terganggu dan menjadi juling.

2. Gangguan pada otak

Selain lemahnya otot, mata juling pada bayi juga dapat terjadi karena adanya gangguan pada otak bayi, misalnya pada penyakit cerebral palsy atau lumpuh otak.

Perlu Anda ketahui bahwa otot-otot mata menerima perintah dari otak untuk bergerak ke arah tertentu.

Ketika anak mengalami gangguan pada otak, ia mungkin kesulitan mengontrol pergerakan kedua bola matanya dengan baik.

3. Gangguan pada saraf mata

Mata juling pada bayi juga mungkin terjadi jika terdapat gangguan saraf pada salah satu bola mata. Ini membuat mata tersebut sulit melihat dengan jelas.

Anak akan lebih suka menggunakan mata yang dapat melihat dengan lebih baik.

Jika ini berlangsung terus menerus, mata yang jarang dipakai akan mengalami mata malas atau amblyopia sehingga akhirnya menjadi juling.

4. Benturan dan guncangan yang terlalu keras

Menurut The Royal Children’s Hospital Melbourne, mata juling pada bayi dapat terjadi jika kepalanya terbentur dengan keras.

Benturan tersebut berisiko menyebabkan kerusakan pada saraf yang mengontrol pergerakan mata.

Selain itu, shaken baby syndrome yaitu sindrom akibat mengguncang bayi terlalu keras juga berpotensi menyebabkan hal ini.

5. Katarak

Katarak tidak hanya terjadi pada lansia, tetapi bisa pula terjadi sejak masih kanak-kanak.

Menurut American Academy of Ophthalmology, katarak yang tidak tertangani dapat menyebabkan kebutaan permanen pada anak.

Katarak yang terdapat pada salah satu mata juga dapat menyebabkan mata juling pada bayi.

6. Kelahiran prematur

National Eye Institute menyatakan bahwa bayi yang lahir prematur lebih berisiko mengalami cacat pada mata atau retinopathy of prematurity (ROP).

Terutama jika ia lahir kurang dari 31 minggu kehamilan dan memiliki berat badan di bawah 1,25 kilogram.

Selain menyebabkan mata juling, ROP juga dapat menyebabkan rabun jauh, mata malas (amblyopia), ablasi retina, dan glaukoma.

7. Tumor

Benjolan atau tumor yang terdapat di area sekitar mata bisa menekan bola mata sehingga mempengaruhi posisinya.

Hal ini menyebabkan mata bayi menjadi juling. Terutama jika ukuran tumor tersebut besar.

8. Kanker mata

Kanker mata atau retinoblastoma merupakan penyebab mata bayi juling yang perlu Anda waspadai. Selain juling, bayi juga akan menunjukkan gejala leukokoria (pupil berwarna putih).

Pemeriksaan dokter sangat diperlukan untuk memastikan kondisi ini.

Faktor-faktor yang berisiko menyebabkan mata juling pada bayi

keluarga

Selain mewaspadai penyebabnya, Anda juga perlu mengantisipasi hal-hal yang berisiko menyebabkan strabismus pada bayi.

Menurut studi yang diterbitkan oleh jurnal JAMA Ophthalmology, faktor-faktor risiko tersebut antara lain sebagai berikut.

1. Riwayat keluarga

Mata juling pada bayi lebih berisiko terjadi jika terdapat anggota keluarga yang juga mengalaminya, seperti ayah, ibu, atau saudaranya.

2. Ibu merokok saat hamil

Ibu hamil yang merokok berisiko menyebabkan masalah pada pertumbuhan janin.

Gangguan perkembangan otak dan saraf mata dapat menyebabkan mata juling pada bayi yang dilahirkannya.

3. Gangguan refraksi mata

Anak yang mengalami gangguan refraksi pada mata lebih berisiko mengalami juling. Ini karena ia kesulitan melihat benda dengan jelas pada jarak dekat.

4. Penyakit pada saraf

Bayi yang menderita penyakit pada saraf, baik karena kelainan genetis seperti Down Syndrome maupun karena cedera, berisiko lebih tinggi mengalami strabismus.

Jenis-jenis mata juling pada bayi

Melansir AOA, strabismus terdiri dari beberapa jenis menurut arah tatapan mata.

  • Esotropia (juling ke dalam): salah satu mata menatap lurus, mata yang lain menatap ke arah hidung.
  • Exotropia (juling ke luar): salah satu mata menatap lurus, sedangkan mata lainnya menatap ke arah sisi luar mata.
  • Hypertropia (juling ke atas): salah satu mata menatap lurus, sedangkan mata lainnya menatap ke atas.
  • Hypotropia (juling ke bawah): salah satu mata menatap lurus, sedangkan mata yang lain menatap ke arah bawah.

Selain itu, strabismus juga dapat dibedakan berdasarkan faktor-faktor berikut:

  • terjadi setiap saat atau hanya pada saat tertentu,
  • juling pada kedua mata atau salah satunya saja, dan
  • juling pada satu mata yang sama atau bergantian.

Mata juling palsu pada bayi

Meskipun strabismus merupakan kondisi yang berpotensi bahaya, sebaiknya Anda tidak terlalu cepat menyimpulkan kalau si kecil memiliki mata yang melihat ke arah yang berbeda satu sama lain.

Pasalnya, tidak semua bayi yang terlihat juling itu berarti strabismus. Sebab, bisa saja ia hanya mengalami mata juling palsu atau pseudoesotropia.

Melansir Clinical Ophthalmology Resource for Education, beberapa bayi yang baru lahir memiliki lipatan kulit pada sudut matanya sehingga ia terlihat juling padahal sebenarnya tidak.

Hal ini biasanya terjadi pada bayi baru lahir hingga berusia 6 bulan.

Pseudoesotropia merupakan kondisi yang umum terjadi pada bayi ras Asia, terutama yang memiliki hidung kecil dan jarak antara kedua mata yang dekat.

Mata si kecil mungkin akan bergerak ke arah hidung jika melihat sesuatu dari jarak dekat..

Kondisi ini bukanlah hal yang berbahaya jadi ibu tidak perlu khawatir. Seiring bertambahnya usia, lipatan pada sudut mata bayi akan hilang dan tulang hidung akan terbentuk.

Itu sebabnya, posisi matanya akan tampak normal dengan sendirinya.

Mengatasi mata juling pada bayi

protein nabati untuk mpasi

Kebanyakan orang tua tidak menyadari anaknya mengalami strabismus. Akibatnya, mereka tidak mengupayakan cara untuk mengatasi mata juling pada bayi.

Ini karena kondisi ini biasanya baru terlihat saat anak berusia 3-4 tahun. Padahal, semakin cepat ditangani, kemungkinan sembuh akan semakin besar.

Jika kondisi ini sudah dideteksi sejak masih berusia 3-6 bulan, dokter akan menyarankan operasi untuk mengobatinya.

Potensi keberhasilannya lebih tinggi jika dilakukan operasi pada usia tersebut sehingga anak dapat melihat ke segala arah.

Selain operasi, tindakan-tindakan berikut juga dapat dilakukan sebagai cara mengatasinya.

1. Kacamata

Penggunaan kacamata akan membantu anak untuk melihat dengan kedua bola mata sehingga terhindar dari mata malas yang menjadi salah satu penyebab juling.

Beberapa anak dapat menunjukkan kemajuan dengan menggunakan cara ini.

2. Penutup mata

Jika bayi belum nyaman menggunakan kacamata, dokter mungkin akan memberikan penutup pada mata yang normal.

Ini bertujuan untuk melatih otot mata yang juling agar dapat melihat dan bergerak dengan benar.

3. Lensa kontak khusus

Cara lain yang mungkin dokter lakukan adalah dengan memasang lensa kontak khusus pada mata yang juling.

Lensa ini didesain lebih tebal dan dapat mencegah pergerakan mata yang tidak normal.

4. Obat tetes mata

Terkadang si kecil merasa tidak nyaman pada sesuatu yang menempel pada tubuhnya seperti kacamata, penutup mata, dan lensa kontak.

Jadi, untuk mengobati mata juling pada bayi, dokter dapat memberikan obat tetes mata bernama atropine drops.

Tetes mata akan diberikan pada mata yang normal untuk memberikan efek kabur sementara. Ini bertujuan untuk memancing mata yang juling untuk bekerja.

Kapan harus ke dokter jika mendapati mata juling pada bayi

Sebaiknya Anda tidak menebak-nebak dan segera berkonsultasi ke dokter saat mendapati hal yang tidak wajar pada mata si kecil.

Dokter akan memastikan apakah benar anak Anda mengalami mata juling ataukah hanya mata juling palsu.

Segeralah ke dokter jika anak Anda mengalami hal-hal seperti:

  • kedua matanya tidak sejajar,
  • kedua mata tidak bergerak bersamaan,
  • sering berkedip atau menyipitkan mata, dan
  • memiringkan kepala untuk melihat sesuatu.

Dokter akan melakukan pemeriksaan mata secara menyeluruh untuk memastikan kondisi strabismus dan mencari tahu penyebab julingnya mata pada bayi Anda.

Bahaya mata juling pada bayi jika tidak diobati

Kemungkinan sembuh lebih tinggi jika Anda segera mengobati mata juling sejak bayi. Upaya pengobatan sebaiknya tidak Anda tunda hingga ia semakin besar.

Melansir Mayo Clinic, strabismus yang tidak diobati hingga usia 8 atau 9 tahun sangat berisiko menyebabkan kebutaan secara permanen.

Untuk mengantisipasi mata juling sejak dini, sebaiknya ibu melakukan pemeriksaan menyeluruh pada si kecil pada usia 4 bulan.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Strabismus (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2017). Retrieved 9 June 2021, from https://kidshealth.org/en/parents/strabismus.html

Strabismus (crossed eyes). Retrieved 9 June 2021, from https://www.aoa.org/healthy-eyes/eye-and-vision-conditions/strabismus?sso=y

Amblyopia. Retrieved 9 June 2021, from https://www.aoa.org/healthy-eyes/eye-and-vision-conditions/amblyopia?sso=y

Moran CORE | Pseudoesotropia. (2019). Retrieved 9 June 2021, from http://morancore.utah.edu/section-06-pediatric-ophthalmology-and-strabismus/pseudoesotropia/

Strabismus: The importance of timely, specialized care – Mayo Clinic. (2019). Retrieved 8 June 2021, from https://www.mayoclinic.org/medical-professionals/pediatrics/news/strabismus-the-importance-of-timely-specialized-care/mqc-20452790

Shaken Baby Syndrome – American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus. (2020). Retrieved 9 June 2021, from https://aapos.org/glossary/shaken-baby-syndrome

Melbourne, T. (2020). Kids Health Information : Brain injury – Eyes and vision. Retrieved 9 June 2021, from https://www.rch.org.au/kidsinfo/fact_sheets/Brain_injury_Eyes_and_vision/

Pediatric Cataracts. (2021). Retrieved 9 June 2021, from https://www.aao.org/eye-health/diseases/what-are-pediatric-cataracts

Retinopathy of Prematurity | National Eye Institute. (2019). Retrieved 9 June 2021, from https://www.nei.nih.gov/learn-about-eye-health/eye-conditions-and-diseases/retinopathy-prematurity

Retinoblastoma – American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus. (2020). Retrieved 9 June 2021, from https://aapos.org/glossary/retinoblastoma

Maconachie, G., Gottlob, I., & McLean, R. (2013). Risk Factors and Genetics in Common Comitant Strabismus. JAMA Ophthalmology, 131(9), 1179. doi: 10.1001/jamaophthalmol.2013.4001

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Indah Fitrah Yani Diperbarui 4 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita