home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenal Terapi Komplenter, Pengobatan Tambahan untuk Bantu Menyembuhkan Penyakit

Mengenal Terapi Komplenter, Pengobatan Tambahan untuk Bantu Menyembuhkan Penyakit

Penyakit bisa menyerang siapa pun, termasuk Anda dan orang yang Anda sayangi. Biasanya, ketika mengalami gangguan kesehahan tertentu, beragam cara akan dilakukan. Tidak hanya pengobatan medis dari dokter, tapi juga menjalani pengobatan komplementer (terapi komplementer). Namun, tahukah Anda mengenai terapi ini?

Apa itu terapi komplementer?

Terapi komplementer adalah terapi untuk mengobati gejala penyakit yang bukan merupakan bagian dari pengobatan standar dokter. Terapi ini biasanya pasien jalani bersamaan dengan pengobatan dokter sebagai pengobatan tambahan, pelengkap, atau pendukung. Penggabungan terapi ini dengan pengobatan dokter dikenal dengan istilah pengobatan intergratif.

Meskipun sama-sama bertujuan untuk meringankan gejala tertentu suatu penyakit, pengobatan komplementer tidak boleh Anda gunakan sebagai pengganti pengobatan medis dokter yang meliputi operasi pembedahan, kemoterapi, atau perawatan hormonal. Memangnya, kenapa?

Pengobatan komplementer menurut pengamatan ahli kesehatan masih memiliki berbagai kekurangan. Salah satunya adalah keterbatasan keterampilan praktisi yang menjalankan pengobatan. Sebagian besar praktisi tidak memiliki spesialisasi yang umumnya dokter miliki.

Hal ini membuat mereka lebih terbatas dalam menafsirkan suatu kondisi yang dialami pasien. Di samping itu, efektivitas pengobatan juga belum sepenuhnya terbukti ampuh dan aman karena minimnya penelitian yang mendukung.

Apa saja jenis terapi komplementer?

Pengobatan ini meliputi pengobatan teknik alternatif dan penggunaan obat-obatan herbal. Berdasarkan situs John Hopkins Medicine, pembagian jenis terapi komplementer meliputi:

1. Pengobatan alternatif tradisional

Bidang pengobatan ini telah dipraktikkan selama ratusan tahun yang lalu di berbagai penjuru dunia. Jenis pengobatan alternatif tradisional ini, antara lain:

Akupuntur

Akupuntur adalah pengobatan tradisional Tiongkok yang menggunakan penyisipan jarum tipis ke kulit pada titik-titik tertentu di tubuh Anda.

Pengobatan ini paling sering digunakan untuk mengurangi nyeri karena menstimulasi penghilang rasa sakit alami yang ada pada tubuh. Contohnya, nyeri akibat kemoterapi, sakit kepala, nyeri punggung dan leher, serta nyeri saat menstruasi.

Praktisi akan memanaskan ujung jarum atau mengaliri aliran listrik lingan ke jarum dan memasukkan jarum akupuntur ke dalam titik-titik tubuh melalui kulit. Prosesnya bisa saja tidak sakit, tapi juga bisa menimbulkan sensasi nyeri ringan ketika jarum menusuk ke kulit lebih dalam.

Setelah itu, praktisi akan membiarkan jarum yang menusuk kulit pasien selama 10 hingga 20 menit dan kemudian mencabutnya.

Ayurveda

Ayurveda adalah konsep pengobatan alami dari India yang dicapai dengan menjaga keseimbangan tubuh, pikiran, dan lingkungan.

Tujuan dari terapi komplementer ini adalah membantu seseorang mengurangi gejala dan rasa cemas, meningkatkan keharmonisan dalam hidup, serta meningkatkan ketahanan seseorang terhadap penyakit. Dalam pengobatan ini, herbal, rempah, dan ekstrak minyak digunakan secara esktensif.

Homeopati

Homeopati adalah pengobatan yang pertama kali muncul akhir tahun 1700-an di Jerman, yang konsepnya adalah meningkatkan pemulihan tubuh secara alami terhadap penyakit.

Dalam pengobatan ini, praktisi akan menggunakan pil atau larutan yang mengandung sedikit bahan aktif (biasanya ekstrak tumbuhan atau mineral) untuk mengobati penyakit.

Perawatan homeopati bertujuan untuk menjaga kesehatan dan membantu pengobatan penyakit jangka panjang, seperti alergi, eksim, dan rematik. Bisa juga untuk mengatasi cedera ringan, seperti keseleo atau otot-otot tubuh yang menegang.

Pengobatan komplementer ini tidak cocok sebagai perawatan pendamping untuk kondisi yang darurat seperti penyakit jantung, kanker, atau infeksi yang parah.

Naturopati

Menurut American Association of Naturopathic Physicians (AANP), naturopati adalah sistem perawatan kesehatan yang meliputi praktik diagnosis, pengobatan, pencegahan penyakit. Konsep pengobatan ini berkembang di abad ke-19 di Eropa.

Teknik pengobatannya menggunakan metode modern dan tradisional, yang bisa mencakup perubahan gaya hidup, pengurangan stres, psikoterapi dan konseling, penggunaan obat herbal dan suplemen, termasuk homeopati.

2. Pengobatan berbasis sentuhan dan teknik tubuh

Selain mengandalkan tumbuhan herbal, sejak lama orang-orang menggunakan sentuhan (pijatan) dan teknik tubuh sebagai pengobatan. Dasar dari pengobatan ini adalah gagasan bahwa penyakit atau cecera yang terjadi di satu area tubuh dapat memengaruhi bagian tubuh lain.

Dengan kata lain, meningkatkan kesehatan bagian tubuh tertentu juga bisa membantu penyembuhan area tubuh yang bermasalah. Selain pijatan dan gerakan tubuh, biasanya pengobatan juga mengombinasikan dengan ketenangan pikiran.

Contoh pengobatan komplementer yang berbasis pijatan dan teknik tubuh adalah:

Chiropractic dan osteopati

Chiropractic adalah metode pengobatan untuk gangguan yang memengaruhi sistem muskuloskeletal dan sistem saraf, serta nyeri tubuh lewat manipulasi manual dengan tangan. Perawatan chiropractic dapat membantu meredakan nyeri sendi atau nyeri otot yang mengganggu aktivitas Anda.

Sementara osteopati adalah cabang ilmu kedokteran yang menangani gangguan medis dengan pemijatan atau manipulasi tulang, sendi, dan otot. Biasanya, terapi komplementer ini dilakukan untuk meningkatkan mobilitas, meredakan otot tegang, dan meningkatkan suplai darah ke jaringan.

Pijat

Pengobatan ini sangat umum di Indonesia, karena penerapannya sudah ada sejak zaman dahulu. Perawatan ini menggunakan teknik manipulasi jaringan lunak berupa pijatan tangan untuk mengurangi rasa sakit dan kecemasan, membantu melancarkan sirlukasi darah, dan melemaskan otot yang tegang.

Taichi dan yoga

Pengobatan komplementer selanjutnya berupa latihan fisik, yakni yoga dan taichi. Keduanya cukup populer sebagai perawatan pendukung untuk masalah kesehatan yang menyerang tulang dan sendi, seperti osteoartitis dan rematik.

Menurut studi tahun 2012 pada Clinical rheumatology menunjukkan bahwa gerakan taichi dan yoga dapat membantu mengurangi rasa nyeri, meningkatkan fungsi fisik, dan kualitas hidup pasien menjadi lebih baik. Ini karena latihan fisik ini membantu mengurangi stres, melatih keseimbangan, dan meningkatkan mobilitas tubuh.

3. Pengobatan berbasis diet dan herbal

Proses pemulihan tubuh dari suatu penyakit bisa dengan memenuhi kebutuhan nutrisi. Pendekatan inilah yang menjadi fokus utama pada terapi komplementer ini.

Pasien perlu menambahkan jenis makanan tertentu yang kaya vitamin, mineral, serat, atau minyak sehat. Selain lewat makanan, kebutuhan nutrisi juga bisa pasien penuhi dengan suplemen.

Sementara penggunaan obat herbal, kemungkinan pasien tempuh karena obat tersebut diyakini memiliki senyawa aktif antiradang, antioksidan, atau antimikroba yang bisa membantu penyembuhan penyakit, contohnya jamu.

4. Pengobatan dengan energi eksternal dan indera tubuh

Penggunaan energi eksternal (energi dari luar tubuh) dapat secara langsung memengaruhi kesehatan. Begitu pula dengan perawatan yang melibatkan ketajaman indera, mulai dari penglihatan, pendengaran, dan penciuman juga dapat memberikan pengaruh positif pada kesehatan.

Beberapa contoh terapi komplementer berbasis energi eksternal dan indera, di antaranya: adalah terapi elektromagnetik,

  • Reiki: pengobatan alternatif jepang dengan terapi relaksasi sekaligus mengalirkan energi healing (energi penyembuhan).
  • Qigong: Terapi asal Tiongkok yang berupa aktivitas fisik yang mengintegrasikan gerakan tubuh, dengan pikiran, dan pengaturan napas.
  • Terapi elektromagnetik: terapi menggunakan medan magnet frekuensi rendah untuk mengatasi nyeri.
  • Terapi indera: perawatan yang meliputi terapi visualisasi, terapi musik, atau terapi seni yang biasanya berguna untuk membantu meringankan stres atau kecemasan.

5. Pengobatan berbasis pengendalian pikiran

Kondisi emosional dapat berkaitan dengan kesehatan tubuh. Contohnya, orang dengan penyakit kronis yang mengalami stres, akan mengalami gejala yang lebih parah. Nah, terapi komplementer berbasis pengendalian pikiran yang bisa membantu efektivitas pengobatan utama dari dokter, umumnya meliputi:

  • Hipnosis: praktik psikologis yang melibatkan sugesti dan induksi untuk membantu merelaksasikan pikiran.
  • Biofeedback: serangkain teknik untuk mengendalikan respons tubuh yang tidak terkendali dengan bantuan alat pembaca suhu tubuh, pendeteksi aktivitas gelombang otak, dan pembaca ketegangan otot.
  • Meditasi: latihan untuk memfokuskan pikiran sehingga otak jadi lebih jernih dan pikiran jadi lebih tenang.

Risiko efek samping dari terapi komplementer

Meski memberikan manfaat untuk mengatasi masalah kesehatan tertentu, pengobatan alternatif dan herbal ini tetap memiliki efek samping. Contoh orang yang menjalani akupuntur bisa mengalami efek samping berupa perdarahan atau memar pada kulit.

Sementara pada terapi homeopati, penggunaan obat bisa saja menimbulkan intetaksi dengan obat lain yang juga diminum pasien.

Risiko efek samping tersebut bisa terjadi pada siapa saja. Akan tetapi, lebih tinggi terjadi pada orang dengan alat pacu jantung, sedang hamil, memiliki kelainan darah, atau masalah kesehatan lainnya. Oleh karena itu, Anda perlu mempertimbangkan manfaat sekaligus keamanan terapi komplementer sebelum mencobanya.

Jadi, Anda boleh saja mengikuti terapi komplementer sebagai pengobatan tambahan. Akan tetapi, konsultasikan lebih dahulu hal ini dengan dokter yang menangani kondisi Anda. Kemudian, minta juga rekomendasi klinik atau tempat pengobatan pada dokter supaya Anda tidak salah pilih.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Uhlig T. (2012). Tai Chi and yoga as complementary therapies in rheumatologic conditionsBest practice & research. Clinical rheumatology26(3), 387–398. https://doi.org/10.1016/j.berh.2012.05.006 [Accessed on March 9th, 2021]

Paolucci, T., Pezzi, L., Centra, A. M., Giannandrea, N., Bellomo, R. G., & Saggini, R. (2020). Electromagnetic Field Therapy: A Rehabilitative Perspective in the Management of Musculoskeletal Pain – A Systematic ReviewJournal of pain research13, 1385–1400. https://doi.org/10.2147/JPR.S231778 [Accessed on March 9th, 2021]

Hill, M. (2017, May 3). What is Reiki? Johns Hopkins Medicine, based in Baltimore, Maryland. https://www.hopkinsmedicine.org/integrative_medicine_digestive_center/services/reiki.html [Accessed on March 9th, 2021]

Hypnosis. (2018, November 1). Mayo Clinic – Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/hypnosis/about/pac-20394405 [Accessed on March 9th, 2021]

What are the health benefits of qigong? (2020, September 23). Health Essentials from Cleveland Clinic. https://health.clevelandclinic.org/what-are-the-health-benefits-of-qigong/ [Accessed on March 9th, 2021]

What is complementary medicine. (2020, May 5). Breastcancer.org. https://www.breastcancer.org/treatment/comp_med/what_is_it [Accessed on March 9th, 2021]

Traditional, complementary and integrative medicine. (2019, November 25). https://www.who.int/health-topics/traditional-complementary-and-integrative-medicine#tab=tab_1 [Accessed on March 9th, 2021]

Types of complementary and alternative medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/wellness-and-prevention/types-of-complementary-and-alternative-medicine [Accessed on March 9th, 2021]

Naturopathy. NCCIH. https://www.nccih.nih.gov/health/naturopathy [Accessed on March 9th, 2021]

Naturopathy. Taking Charge of Your Health & Wellbeing. https://www.takingcharge.csh.umn.edu/naturopathy [Accessed on March 9th, 2021]

Acupuncture. (2020, March 3). Mayo Clinic – Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/acupuncture/about/pac-20392763 [Accessed on March 9th, 2021]

Ayurveda. Johns Hopkins Medicine, based in Baltimore, Maryland. https://www.hopkinsmedicine.org/health/wellness-and-prevention/ayurveda [Accessed on March 9th, 2021]

Biofeedback. (2019, February 6). Mayo Clinic – Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/biofeedback/about/pac-20384664 [Accessed on March 9th, 2021]

Chiropractic. (2017). Better Health Channel. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/ConditionsAndTreatments/chiropractic [Accessed on March 9th, 2021]

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 24/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x