Dermatitis Atopik (Eksim)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu dermatitis atopik (eksim)?

Eksim adalah penyakit kulit kronis (menahun) yang membuat kulit merah meradang, bengkak, gatal, dan pecah-pecah. Eksim secara umum dikenal sebagai penyakit kulit dermatitis atopik.

Penyakit kulit ini ditandai dengan gatal yang amat parah sehingga mengganggu tidur dan aktivitas sehari-hari. Jika digaruk, area kulit yang terasa gatal akan menjadi kering dan bahkan mengelupas.

Dermatitis atopik biasanya muncul pertama kali pada bayi berusia di bawah satu tahun. Penyakit yang juga dikenal sebagai eksim kering ini bisa terus kambuh hingga dewasa, meski bagi sebagian anak gejalanya dapat membaik atau bahkan hilang.

Eksim lebih umum terjadi pada orang yang memiliki riwayat keluarga yang mengidap eksim, alergi, atau asma. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan, tapi perawatan yang tepat bisa membantu mengendalikan dan meringankan gejalanya.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja ciri dan gejala dermatitis atopik (eksim)?

Peradangan kulit akibat dermatitis atopik biasanya muncul pada bagian tubuh yang berlipatan, seperti siku bagian dalam, belakang lutut, dan bagian depan leher.

Meski demikian, American Academy of Dermatology mengatakan gejala eksim pada bayi, anak-anak, dan orang yang lebih tua mungkin saja berbeda.

Berikut berbagai gejalanya sesuai kelompok usia.

1. Dermatitis atopik pada bayi

Gejala eksim pada bayi umumnya pertama kali muncul saat usia 2 sampai 3 bulan dalam bentuk berikut.

  • Ruam kemerahan yang muncul tiba-tiba di kulit kepala dan wajah, terutama di pipi (bisa juga muncul di area lain).
  • Kulit kering, bersisik, dan gatal; sisik bisa retak dan mengeluarkan cairan.
  • Sulit tidur karena kulit terasa sangat gatal
  • Munculnya infeksi akibat menggaruk kulit hingga terluka

2. Dermatitis atopik pada anak-anak

Gejala eksim pada anak kecil biasanya muncul di usia 2 tahun hingga masa pubertas. Adapun berbagai gejala dermatitis atopik yang biasanya muncul pada anak sebagai berikut.

  • Ruam terutama di lipatan siku atau lutut. Terkadang, gejala eksim muncul di kaki, tangan, atau lipatan bokong.
  • Rasa gatal yang tak tertahankan di area kulit yang meradang.
  • Permukaan kulit bergelombang karena ada tonjolan atau penebalan kulit yang kadang permanen.
  • Kulit di area yang terdampak tampak lebih terang atau lebih gelap.

3. Dermatitis atopik pada orang dewasa

Dermatitis atopik jarang muncul pertama kali saat dewasa. Kebanyakan orang dewasa dengan penyakit eksim biasanya sudah pernah terserang di masa kanak-kanak.

Berikut gejala-gejala eksim pada orang dewasa yang kerap muncul.

  • Ruam bercak merah menyerang bagian tubuh dengan area yang cukup luas.
  • Rasa gatal yang parah dan tak tertahankan, terutama di kulit yang tertekuk seperti siku dalam, tengkuk leher, depan leher, dan belakang lutut.
  • Ruam yang berkerak dan bisa pecah mengeluarkan air jika tergores.
  • Kulit kasar, bersisik, dan menjadi sangat kering.
  • Mengalami tanda-tanda infeksi kulit di bagian yang terdampak.

Eksim yang telah menjadi penyakit menahun dapat membuat kulit tampak lebih tebal dan gelap dibanding bagian kulit lain. Kulit yang menebal juga bisa terasa gatal setiap saat.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala eksim yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus segera periksa ke dokter bila mengalami gejala-gejala di bawah ini.

  • Sulit tidur karena rasa gatal memburuk pada malam hari.
  • Aktivitas sehari-hari menjadi terganggu.
  • Kulit terasa sakit.
  • Kulit terlihat terinfeksi misalnya dengan muncul garis-garis merah, nanah, keropeng.
  • Perawatan rumahan yang sudah dilakukan tidak membantu meringankan gejala.
  • Mata atau pandangan terganggu.

Jika Anda atau buah hati mengalami berbagai gejala tersebut, sebaiknya jangan tunda untuk memeriksakannya ke dokter.

Penyebab

Apa penyebab dermatitis atopik (eksim)?

Para peneliti belum mengetahui pasti apa penyebab dermatitis atopik. Namun, mereka percaya bahwa kemunculan dan kekambuhan eksim dapat dipicu oleh faktor genetik dan banyak hal eksternal lainnya.

Eksim kering bisa muncul sewaktu-waktu, terutama saat Anda berada dekat dengan pemicunya. Pemicu utama eksim yakni:

  • kulit yang kering,
  • logam dalam perhiasan atau aksesori pakaian,
  • parfum dan produk-produk mengandung zat pewangi,
  • sabun, sampo, dan produk pembersih sejenisnya,
  • salep antibakteri seperti neomycin dan bacitracin,
  • losion dan produk-produk perawatan kulit,
  • paraphenylenediamine yang terdapat dalam pewarna pakaian, tato sementara, dan lain-lain.

Faktor-faktor risiko

Apa yang membuat saya berisiko terkena dermatitis atopik?

Ada banyak faktor yang meningkatkan risiko Anda terkena dermatitis atopik, yaitu:

  • adanya anggota keluarga yang menderita eksim, alergi, atau asma,
  • mengidap alergi atau asma,
  • berjenis kelamin perempuan,
  • memiliki kulit kering,
  • memiliki kesalahan pada sistem imun,
  • terkena infeksi bakteri pada kulit, serta
  • sering terkena zat pemicu alergi atau iritasi dari lingkungan.

Sementara itu, faktor-faktor lain yang meningkatkan risiko eksim pada anak-anak meliputi:

  • tinggal di area kota,
  • sering dititipkan di tempat penitipan anak, dan
  • memiliki gangguan hiperaktif (ADHD).

Diagnosis dan pengobatan

Bagaimana cara mendiagnosis dermatitis atopik?

Diagnosis untuk penyakit dermatitis atopik cukup sederhana. Dokter spesialis kulit umumnya mengawali diagnosis dengan memeriksa penampilan kulit Anda.

Dokter juga dapat memeriksa apakah Anda merasakan sakit saat area kulit disentuh dan melakukan pemeriksaan mata untuk melihat apakah mata Anda terpengaruh.

Selain itu, dokter juga akan bertanya tentang riwayat kesehatan keluarga Anda untuk mengetahui apakah ada yang memiliki eksim.

Tes laboratorium biasanya tidak diperlukan untuk mendiagnosis eksim atopik. Dokter mungkin dapat melakukan tes menggunakan sampel kulit untuk mengesampingkan kemungkinan infeksi lain atau alergi yang Anda miliki.

Apa saja pilihan pengobatan untuk dermatitis atopik (eksim)?

Tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan eksim secara tuntas. Namun, ada beberapa pilihan pengobatan eksim yang dapat meringankan gejala dermatitis atopik.

Adapun tujuan dari perawatan penyakit eksim yaitu sebagai berikut.

  • Mencegah dermatitis atopik agar tidak memburuk atau kambuh.
  • Meringankan rasa sakit dan gatal.
  • Mengurangi stres emosional dan pemicu lainnya.
  • Mencegah infeksi.
  • Menghentikan penebalan kulit.

Program pengobatan dapat meliputi kombinasi terapi obat, perawatan kulit, serta perubahan gaya hidup. Terapi obat untuk dermatitis atopik biasanya meliputi atau salep yang dapat mengendalikan rasa gatal, peradangan, dan memperbaiki kulit.

Dokter biasanya tidak memberikan banyak obat untuk bayi. Anda mungkin disarankan untuk sering melumasi kulit bayi dengan minyak, krim, atau salep. Jika kondisinya cukup parah, dokter akan meresepkan krim yang aman dan tidak mengiritasi kulit.

Berikut berbagai pilihan obat eksim yang biasanya diresepkan dokter.

1. Krim untuk mengendalikan gatal

Krim untuk penyakit eksim biasanya diberikan supaya rasa gatal yang dirasakan berkurang. Dengan begitu, keinginan untuk menggaruk bisa dikendalikan.

Menggaruk kulit yang eksim tidak akan menyembuhkan penyakit, melainkan hanya memperparah kondisi. Selain mengakibatkan infeksi, hal ini juga bisa memperburuk tampilan kulit.

Biasanya krim atau salep kortikosteroid akan diresepkan untuk membantu meredakan gatal. Anda wajib mengoleskannya sesuai anjuran, sebab terlalu sering menggunakan obat ini bisa menyebabkan efek samping termasuk penipisan kulit.

Selain kortikosteroid, krim mengandung inhibitor kalsineurin seperti tacrolimus serta pimecrolimus juga bisa membantu mengendalikan gatal dan peradangan. Keduanya mampu meredakan reaksi pada kulit dengan cara memengaruhi sistem imun.

2. Obat untuk melawan infeksi

Jika eksim sudah mengalami infeksi yang ditandai dengan kemunculan luka terbuka atau retakan yang bernanah, antibiotik jadi salah satu obat yang akan diresepkan.

Biasanya dokter akan meresepkan antibiotik oles dan minum untuk melawan bakteri penyebab infeksi agar tak menyebar luas. Antibiotik minum kemungkinan diresepkan saat obat oles tak mampu bekerja dengan efektif.

3. Obat minum untuk mengendalikan peradangan

Untuk kasus yang lebih parah, dokter akan meresepkan kortikosteroid minum seperti prednison. Obat ini cukup efektif, tapi sayangnya tidak bisa dikonsumsi dalam jangka panjang karena efek sampingnya cukup serius.

Efek samping prednison yang paling sering terjadi adalah mual, muntah, mulas, susah tidur, hilang nafsu makan, dan tumbuhnya jerawat. Apabila efek tersebut berlangsung dalam waktu yang lama atau bertambah buruk, segera hubungi dokter.

4. Suntikan antibodi monoklonal

Dupilumab termasuk obat yang disetujui oleh Badan Administrasi Pengawas Makanan dan Obat di Amerika Serikat untuk mengatasi eksim parah. Obat ini ditujukan untuk orang-orang yang penyakitnya tak lagi merespon obat-obatan lain.

5. Perban basah

Perawatan ini dilakukan dengan cara membungkus area kulit yang bermasalah dengan kortikosteroid oles dan perban basah. Biasanya prosedur ini dilakukan secara intensif untuk orang dengan dermatitis atopik yang sudah parah.

Di awal pengobatan, dokter atau petugas medis akan membantu memasangkan perban ini pada Anda. Namun, nantinya Anda juga akan diajari cara memasangnya supaya bisa melakukannya sendiri di rumah.

6. Terapi cahaya

Prosedur ini dianjurkan untuk orang-orang yang yang kulitnya tidak kunjung membaik meski sudah diberikan obat oles. Selain itu, orang yang eksimnya mudah kambuh setelah perawatan juga biasanya disarankan untuk melakukan terapi cahaya.

Bentuk terapi cahaya yang paling sederhana yaitu fototerapi. Terapi dilakukan dengan memberikan kulit paparan sinar matahari alami secara terkendali.

Selain itu, terapi juga bisa menggunakan sinar ultraviolet UVA dan UVB buatan yang terkadang dikombinasikan dengan obat tertentu.

Meski cukup efektif, terapi cahaya jangka panjang bisa menyebabkan penuaan dini pada kulit dan meningkatkan risiko kanker kulit. Oleh karena itu, terapi cahaya biasanya jarang digunakan untuk bayi dan anak-anak.

Pengobatan di rumah

Apa saja pengobatan rumahan yang dapat membantu mengatasi eksim?

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi eksim atopik.

1. Menghindari pemicunya

Dermatitis atopik adalah penyakit kambuhan. Oleh karena itu, Anda perlu tahu apa saja bahan, kondisi, atau apa saja yang bisa memicu gejalanya. Coba awali dengan mencatat tiap produk atau makanan yang menjadi pantangan eksim.

Selain mencegah kambuhnya eksim, cara ini juga akan membantu Anda menemukan pemicu eksim yang mungkin selama ini tidak Anda sadari.

2. Menjaga kulit tetap lembap

Kulit penderita eksim perlu diberi pelembap setidaknya dua kali sehari. Waktu terbaik memakai pelembap adalah setelah mandi agar kulit dapat mengunci kelembapannya dengan lebih baik.

Pilihlah minyak atau krim pelembap sesuai jenis kulit Anda. Jika ragu, tanyakan pada dokter kira-kira produk apa yang cocok untuk kondisi kulit Anda.

3. Tidak menggaruk kulit

Menggaruk kulit hanya akan membuat kondisi penyakit menjadi makin parah. Sebisa mungkin, tahanlah keinginan untuk menggaruk kulit. Anda sebaiknya juga memakai pakaian tertutup agar kulit terhindar dari gesekan atau garukan yang bisa melukainya.

Jangan lupa untuk menggunting kuku dan jangan membiarkannya panjang. Pasalnya, di malam hari ada kemungkinan bahwa Anda akan menggaruk kulit tanpa sadar. Pakai sarung tangan bila perlu agar kulit tidak terluka atau lecet akibat digaruk dengan kuku.

4. Mengompres kulit

Mengompres kulit dengan air dingin atau hangat menjadi salah satu solusi agar rasa gatal bisa berkurang. Anda hanya perlu menyiapkan sebaskom kecil air panas atau dingin lengkap dengan handuk kecilnya.

Kemudian, kompreslah kulit kapan pun terasa gatal. Jangan gunakan air yang terlalu panas karena bisa membuat kulit menjadi semakin kering.

5. Mandi air hangat

Mandi air hangat membantu meredakan kulit yang terasa gatal. Agar lebih efektif, masukkan baking soda atau oatmeal mentah (koloid) ke dalam bak mandi. Kemudian, berendamlah sekitar 10 hingga 15 menit.

Setelahnya, jangan lupa untuk mengoleskan pelembap ke seluruh tubuh saat kondisi kulit masih lembap.

6. Gunakan sabun berbahan ringan

Saat kulit bermasalah akibat eksim, ada baiknya mencari sabun berbahan ringan. Hindari sabun yang mengandung pewarna atau parfum karena bisa mengiritasi kulit. Pastikan Anda membilas sabun dengan bersih dan jangan sampai ada yang tersisa.

7. Menggunakan humidifier

Humidifier membantu melembapkan udara di rumah Anda. Dengan menjaga udara tetap lembap, kulit Anda tidak akan menjadi kering sehingga gejala eksim juga tidak bertambah parah.

8. Menggunakan pakaian bertekstur halus

Pakaian dengan bahan yang halus dan menyerap keringat mencegah kulit dari iritasi. Saat terkena dermatitis atopik, kulit sangat rentan terluka. Jika kulit terluka, bakteri akan dengan mudah menginfeksi dan membuat eksim menjadi semakin parah.

9. Mengelola stres sebaik mungkin

Stres dan kecemasan menjadi salah satu pemicu penyakit eksim yang bisa membuat kondisinya semakin parah. Anda bisa mencoba mengelola stres dengan melakukan teknik meditasi ringan seperti menarik napas dalam-dalam.

Anda juga bisa mencari komunitas orang dengan eksim untuk saling bertukar cerita dan pengalaman. Dengan mengetahui bahwa Anda tidak sendirian, kekhawatiran akan kondisi yang menjadi pemicu stres biasanya otomatis akan berkurang.

Eksim merupakan penyakit kulit yang menyebabkan peradangan kronis pada kulit. Meski tak bisa disembuhkan, obat-obatan dan perubahan gaya hidup bisa membantu mengatasi gejala dan mencegah kekambuhan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Komplikasi yang Mungkin Muncul Akibat Penyakit Dermatitis

Pada kasus tertentu, penyakit dermatitis dapat menyebabkan komplikasi kesehatan selain gejala yang muncul pada kulit. Cari tahu di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Penyakit Kulit, Dermatitis 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Dermatitis Numularis (Eksim Diskoid)

Eksim numular, dikenal juga sebagai dermatitis numular atau eksim discoid, adalah kondisi kronis yang menyebabkan bercak berbentuk koin pada kulit.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Penyakit Kulit, Dermatitis 13 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Bagaimana Cara Menghilangkan Bekas Eksim yang Menghitam?

Eksim tidak hanya menyebabkan gatal hebat, tapi juga bisa menimbulkan bekas di kulit. Cari tahu cara menghilangkan bekas eksim di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Penyakit Kulit, Dermatitis 12 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Pilihan Obat dan Terapi untuk Mengatasi Eksim yang Kambuh

Peradangan oleh eksim bisa menyebabkan kulit menjadi kering atau luka terbuka yang basah. Apa saja jenis obat yang tepat untuk eksim kering dan basah?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Penyakit Kulit, Dermatitis 11 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

intertrigo dermatitis intertriginosa

Dermatitis Intertriginosa (Intertrigo)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
Kulit bayi Sensitif

Ketahui 4 Tips Merawat Kulit Bayi Sensitif

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
cara mengobati eksim di kaki

7 Cara Ampuh Mengobati Dermatitis Stasis, Eksim yang Muncul di Kaki

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 14 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
Dermatitis herpetiformis

Dermatitis Herpetiformis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit