Temuan Baru dari Tim Peneliti Australia Seputar Vaksin Coronavirus

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13 Agustus 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Para ahli masih berusaha membuat vaksin untuk mencegah penularan wabah novel coronavirus. Ada penelitian baru di Australia yang mengembangkan virus hidup untuk membantu mendiagnosis dan menahan penularannya. Bagaimana perkembangannya?

Vaksin novel coronavirus, bagaimana kelanjutannya?

Sampai saat ini sebenarnya vaksin untuk mencegah novel coronavirus atau 2019-nCoV masih belum ditemukan. Namun, dikarenakan jumlah kasus kini mencapai lebih 40.000 dan menelan lebih dari 900 korban jiwa, para ilmuwan di seluruh dunia sedang berusaha mempercepat perkembangan pembuatan vaksin. 

Salah satu negara yang memiliki kemajuan yang cukup pesat adalah Australia. Seperti yang dilansir dari laman University of Sydney, tim peneliti dari New South Wales telah berhasil menumbuhkan virus dari penderita 2019-nCoV. 

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

282,724

Terkonfirmasi

210,437

Sembuh

10,601

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Pertumbuhan virus ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk memahami diagnosis dan cara mencegah penularannya.

Tim yang terdiri dari 10 ilmuwan dan ahli patologi serta dokter dari University of Sydney ini telah bekerja sepanjang waktu untuk mengembangkan replika virus. Di dalam penelitian tersebut, mereka mengisolasi virus hidup dari pasien berusia 43 tahun di rumah sakit Westmead. 

Isolasi virus ini bertujuan agar dapat dilakukan tes yang tepat dan membantu mengembangkan vaksin. 

Dengan demikian, proses pembuatan vaksin novel coronavirus mungkin dapat dipercepat hingga memakan waktu beberapa bulan saja. Selain itu, temuan ini juga diharapkan dapat membantu peneliti memahami mengapa virus dapat mengembangkan penyakit paru yang cukup parah. 

Oleh karena itu, mari berharap semoga para peneliti dapat menemukan vaksin untuk mencegah coronavirus agar wabah ini dapat dihentikan. 

Proses pembuatan vaksin

Setelah mengetahui perkembangan vaksin terhadap novel coronavirus, mungkin sebagian dari Anda ingin mengetahui bagaimana proses pembuatan vaksin

Pembuatan vaksin dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari melemahkan virus, menggunakan sebagian bakteri, hingga menonaktifkan virus. Berikut ini terdapat beberapa jenis pembuatan vaksin yang biasa dilakukan oleh tim peneliti, termasuk novel coronavirus. 

1. Melemahkan virus

Eksperimen vaksin hepatitis C

Salah satu proses pembuatan vaksin yang mungkin juga dapat terjadi pada kandidat vaksin novel coronavirus adalah dengan melemahkan virus. 

Umumnya, pada proses ini virus akan dilemahkan, sehingga mereka tidak bereproduksi dengan baik dalam tubuh. Biasanya, proses ini digunakan pada vaksin untuk campak, rubella, influenza, dan cacar air

Hal ini dikarenakan virus normalnya tidak menyebabkan penyakit dengan mereproduksi dirinya sendiri dalam tubuh manusia. Di sisi lain, virus alami akan memperbanyak jumlahnya ribuan kali ketika infeksi terjadi. 

Virus vaksin memang tidak dapat memperbanyak jumlahnya dalam waktu singkat, melainkan hanya kurang dari 20 kali. Walaupun demikian, virus ini menduplikasi selnya dengan baik untuk menginduksi sel yang melindungi tubuh dari infeksi tersebut di kemudian hari. 

Dengan begitu, virus dapat menjadi lemah dan tidak menggandakan jumlahnya dalam waktu yang singkat ketika ‘disisipi’ virus vaksin. 

Keuntungan dari cara ini adalah satu atau dua dosis menawarkan kekebalan terhadap virus seumur hidup. Namun, vaksin dengan melemahkan virus ini biasanya tidak dapat diberikan kepada orang dengan sistem imun yang lemah, seperti penderita kanker atau AIDS. 

2. Mematikan virus

novel coronavirus 2019 adalah virus corona

Selain melemahkan virus, pembuatan vaksin yang mungkin juga terjadi pada novel coronavirus adalah dengan mematikan virus secara keseluruhan. 

Penggunaan cara ini biasanya dilakukan dengan senyawa kimia tertentu agar virus tidak dapat mereproduksi dirinya sendiri atau menyebarkan infeksi penyakit. 

Vaksin polio, hepatitis A, influenza (shot), dan rabies dibuat dengan metode ini karena virus masih ‘terlihat’ oleh tubuh, sehingga dibantu oleh sistem kekebalan tubuh Anda. 

Manfaat dari pembuatan vaksin dengan mematikan virus ini adalah tidak menyebabkan efek samping dan dapat diberikan kepada orang dengan sistem imun yang lemah. Akan tetapi, peneliti masih perlu melihat berapa dosis aman yang dibutuhkan setiap individu untuk mencapai kekebalan terhadap infeksi virus. 

3. Memakai bagian dari virus coronavirus

vaksin novel coronavirus

Tahukah Anda dalam proses pembuatan vaksin novel coronavirus para peneliti memakai bagian dari virus untuk memahami diagnosisnya?

Salah satu metode pembuatan vaksin ini mengambil satu hingga beberapa bagian dari virus untuk digunakan sebagai vaksin. Normalnya, cara ini digunakan pada pembuatan vaksin hepatitis B, HPV, dan herpes zoster. 

Vaksin yang terdiri dari protein dan berada di permukaan virus ini cukup efektif untuk perlindungan terhadap penyakit tertentu. 

4. Menggunakan sebagian bakteri jenis tertentu

infeksi bakteri streptococcus

Tidak hanya menggunakan bagian dari virus, pembuatan vaksin juga dapat memakai satu atau beberapa bagian dari bakteri jenis tertentu. Metode pembuatan vaksin ini mungkin dapat efektif untuk novel coronavirus, tetapi perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hal ini. 

Pada jenis bakteri tertentu bisa menyebabkan penyakit dengan menciptakan protein yang berbahaya, yaitu toksin. Vaksin dapat dibuat dengan mengambil racun dan mematikannya dengan senyawa kimia tertentu. 

Jika hal tersebut terjadi, tentu virus tidak lagi dapat menimbulkan penyakit. Jenis vaksin yang dibuat melalui cara ini adalah vaksin difteri dan tetanus. 

Selain itu, vaksin juga dapat dibuat dari lapisan bakteri atau polisakarida. Lapisan gula ini digunakan sebagai perlindungan terhadap infeksi, tetapi metode ini tidak cukup efektif pada anak-anak. 

Hal ini dikarenakan anak tidak dapat membuat respon kekebalan tubuh yang baik terhadap lapisan gula bakteri, melainkan diperlukan juga protein yang tidak berbahaya. Pembuatan vaksin dengan lapisan gula dan protein bakteri ini biasa dipakai dalam vaksin HiB (influenza tipe B) dan pneumokokus. 

Proses pembuatan vaksin, terutama novel coronavirus, sangat rumit dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan temuan dari tim peneliti Australia ini dapat menyingkat proses pembuatan vaksin.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Klaster Penularan COVID-19 di Perkantoran Terus Bertambah, Apa yang Salah?

Memasuki new normal, angka penularan COVID-19 klaster perkantoran terus bertambah. Data terbaru mencatat setidaknya ada 90 klaster perkantoran di Jakarta.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 21 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Kortikosteroid dan Keampuhannya Menyelamatkan Pasien COVID-19 Gejala Berat

Obat kortikosteroid terbukti ampuh menyelamatkan pasien COVID-19 dari keadaan kritis. Beberapa bukti ilmiah membuat obat ini dapat digunakan secara luas.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 21 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Penularan COVID-19 dalam Aktivitas Sehari-hari, dari Makan Hingga Berenang

Berikut penjelasan ahli atas pertanyaan-pertanyaan seputar penularan COVID-19 dalam kehidupan sehari-hari. COVID-19 tidak menular dari air di kolam renang.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 21 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Memilih Jenis Masker yang Paling Efektif Menangkal Virus

Jenis masker untuk menjaga kesehatan Anda ada beragam. Lantas, apakah benar alat itu efektif menurunkan risiko penularan penyakit?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Hidup Sehat, Tips Sehat 16 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

hidup sehat dan bersih di rumah

Pentingnya Menerapkan Protokol Kesehatan untuk Melindungi Keluarga di Rumah

Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 26 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Indonesia bisa menjadi episentrum covid-19 dunia

Apakah Indonesia akan Menjadi Episentrum COVID-19 di Dunia?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit
thermo gun tidak merusak otak

Thermo Gun Tidak Merusak Saraf dan Otak, Cek Suhu di Dahi Lebih Akurat

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit
dampak jangka panjang covid-19

Dampak Jangka Panjang Setelah Pasien Sembuh dari COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit