Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Dengue Shock Syndrome, Komplikasi DBD yang Mematikan

Dengue Shock Syndrome, Komplikasi DBD yang Mematikan

Memasuki musim penghujan, masyarakat diminta untuk waspada terhadap penularan demam berdarah. Sebab pada musim tersebut, perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti meningkat. Meski banyak pasien yang bisa sembuh, penyakit ini bisa berkembang dan berakibat fatal jika terjadi dengue shock syndrome.

Apa itu dengue shock syndrome?

Dengue shock syndrome atau dengue haemorrhagic fever adalah komplikasi dari demam berdarah dengue yang sudah parah.

Demam berdarah merupakan penyakit infeksi akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti. Bila kasusnya ringan, demam berdarah akan menimbulkan demam dan gejala lain yang serupa dengan gejala flu.

Namun, pada orang yang mengalami dengue shock syndrome, gejala yang muncul bisa lebih serius dan bahkan dapat berujung pada perdarahan, syok (penurunan tekanan darah secara tiba-tiba, hingga kematian.

Kasus demam berdarah banyak ditemukan pada negara yang terletak di daerah tropis dan subtropis. Hingga saat ini, Indonesia masih termasuk dalam salah satu wilayah endemik DBD.

Ini artinya, penyakit demam berdarah sudah menjadi wabah penyakit yang selalu ada dan biasa ditemukan di masyarakat Indonesia.

Apa saja gejala dengue shock syndrome?

Pada awal kemunculannya, gejala dengue shock syndrome sama dengan demam berdarah. Biasanya, pasien akan mengalami fase demam tinggi dalam waktu tiga hari setelah tergigit nyamuk yang terinfeksi.

Kemudian ketika demam menurun, pasien mulai mengalami tanda-tanda yang serius. Tanda-tanda ini dapat meliputi:

  • sakit perut yang parah,
  • muntah terus menerus,
  • perubahan suhu yang sangat drastis (dari demam ke hipotermia),
  • napas menjadi cepat,
  • denyut nadi melemah,
  • kelelahan hebat,
  • gelisah,
  • gusi atau hidung berdarah, dan
  • kebingungan.

Bila pasien mengalami salah satu atau beberapa tanda-tanda di atas, maka pasien harus segera mencari pertolongan ke rumah sakit.

Menurut kriteria yang ditetapkan oleh WHO, seseorang dapat dikatakan mengalami dengue shock syndrome bila mengalami kondisi berikut ini.

Tanda hemoragik yang paling umum dan ringan dapat meliputi tes turniket (untuk deteksi dengue) yang positif, perdarahan kulit, perdarahan hidung (epistaksis), perdarahan gusi, dan ditemukan darah pada urine.

Jenis perdarahan yang lebih serius termasuk perdarahan vagina, muntah darah, perdarahan pada saluran pencernaan atas yang membuat feses menjadi hitam, dan perdarahan tulang tengkorak.

Bagaimana kondisi ini bisa terjadi?

Pada dasarnya, demam berdarah dapat terjadi ketika seseorang digigit nyamuk yang telah terinfeksi virus dengue. Virus dengue terdiri dari empat jenis yang berbeda, masing-masing bernama DENV-1, DENV-2, DENV-3, DAN DENV-4.

Ketika tergigit oleh nyamuk yang membawa penyakit, virus akan masuk ke aliran darah Anda dan menyebabkan infeksi.

Penularan bisa terjadi dari satu orang ke yang lain bila nyamuk yang menggigit orang yang sakit bergantian menggigit Anda setelahnya.

Setelah Anda sembuh dari infeksi salah satu virus demam berdarah, Anda akan memiliki kekebalan jangka panjang terhadap virus tersebut. Namun, hal ini tidak berlaku pada tiga jenis virus lainnya yang belum pernah menginfeksi Anda.

Bila di kemudian hari Anda terpapar oleh jenis virus yang berbeda, maka Anda jadi lebih rentan mengalami gejala demam berdarah yang parah. Dengan kata lain, paparan berulang dari virus dengue yang berbeda dapat membuat Anda berisiko terhadap dengue shock syndrome.

Meski demam berdarah lebih banyak terjadi pada remaja dan orang dewasa, sindrom syok ini lebih sering ditemukan pada anak-anak di bawah usia 15 tahun.

Perawatan untuk mengobati dengue shock syndrome

Belum ada obat khusus yang bisa menyembuhkan infeksi virus dengue termasuk untuk mengatasi dengue shock syndrome.

Maka dari itu, perawatan standar yang bisa dilakukan untuk pasien adalah memberikan cairan intravena guna meningkatkan volume plasma darah. Pasien juga akan mendapatkan terapi penggantian cairan menggunakan elektrolit melalui intravena.

Selama perawatan, dokter dan petugas kesehatan lainnya akan selalu memantau tekanan darah pasien. Terkadang, transfusi darah juga diperlukan untuk mengganti caira darah yang hilang.

Begitu syok terjadi, kemungkinan kematian bisa mencapai 12 – 44%. Kendati demikian, ini bergantung pada pencegahan atau seberapa cepat perawatan diberikan.

Bila kondisi ini lebih cepat ditangani di awal gejalanya, maka kemungkinan sembuh juga akan lebih besar. Maka dari itu, pastikan Anda tidak menunda-nunda pemeriksaan ketika mengalami gejala yang tidak biasa.

Mencegah dengue shock syndrome

Sulit untuk memprediksi apakah orang yang terkena demam berdarah akan berkembang kondisinya menjadi dengue shock syndrome. Karena alasan ini, tentu melakukan langkah-langkah yang dapat mencegah Anda dari demam berdarah akan menjadi cara terbaik.

Anda bisa cegah gigitan nyamuk penyebab demam berdarah dengan:

  • menggunakan losion anti nyamuk,
  • menggunakan kelambu saat tidur,
  • menanam tanaman pengusir nyamuk,
  • menggunakan pakaian yang panjang saat bepergian ke tempat-tempat yang dipenuhi nyamuk,
  • memasang kawat kasa di lubang ventilasi dan alat penjebak nyamuk, serta
  • memberantas jentik nyamuk dengan menaburkan bubuk larvasida pada tempat-tempat yang tertutup atau sulit dijangkau.

Selain itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga menyarankan masyarakat untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3M.

1. Menguras dan membersihkan tempat penampungan air secara rutin

Ini termasuk bak mandi, kendi, toren air, drum, dan tempat penampungan air lainnya. Gosok dinding penampungan air sampai bersih guna membasmi telur nyamuk yang menempel.

2. Menutup rapat-rapat

Pastikan bak mandi atau drum penampungan air ditutup rapat-rapat. Menutup juga termasuk mengubur barang bekas yang sudah tak terpakai di dalam tanah agar tidak membuat lingkungan semakin kotor dan menimbulkan sarang nyamuk.

3. Mendaur ulang barang bekas

Manfaatkan kembali atau daur ulang barang-barang bekas yang bisa menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk penyebab demam berdarah.


Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Alejandria M. M. (2015). Dengue haemorrhagic fever or dengue shock syndrome in children. BMJ clinical evidence, 2015, 0917.  Retrieved 11 January 2022.

Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever. (n.d.). Centers for DIsease Control and Prevention. Retrieved 11 January 2022, from https://www.cdc.gov/dengue/resources/denguedhf-information-for-health-care-practitioners_2009.pdf

Dengue Fever. (2020). Mayo Clinic. Retrieved 11 January 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dengue-fever/symptoms-causes/syc-20353078

Dengue and Severe Dengue. (2022). World Health Organization. Retrieved 11 January 2022, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue

Upaya Pencegahan DBD dengan 3M Plus. (2019). Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Retrieved 11 January 2022, from https://promkes.kemkes.go.id/upaya-pencegahan-dbd-dengan-3m-plus

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Winona Katyusha Diperbarui Jan 27
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa