Jalan Panjang Indonesia dalam Membuat Vaksin COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Para ilmuwan di seluruh dunia sedang bergegas mencari penangkal penyakit akibat coronavirus baru (COVID-19). Sudah banyak lembaga dan negara meneliti untuk mengembangkan vaksin COVID-19, termasuk Indonesia.

Namun, apa yang saat ini menjadi fokus utama Indonesia terkait vaksin COVID-19 ini?

Indonesia membuka jalan mencari vaksin COVID-19 sendiri

Vaksin hepatitis

Dalam upaya pengembangan vaksin COVID-19, pemerintah Indonesia membentuk satu konsorsium (perkumpulan) berisi ilmuwan berbagai bidang kepakaran dari beberapa lembaga penelitian dan universitas. 

Lembaga Biologi Molekular (LBM) Eijkman menjadi lembaga yang ditugasi pemerintah Indonesia untuk memimpin konsorsium ini.

Pembentukan konsorsium pengembangan vaksin COVID-19 ini sudah dimulai sejak (9/3) atau pekan kedua sejak diumumkannya kasus positif pertama di Indonesia. 

Konsorsium ini ditugaskan untuk mengembangkan seed (bibit) atau bahan pembuat vaksin dalam waktu 12 bulan. Setelah selesai, bibit ini akan diserahkan ke lembaga Biofarma untuk dilakukan rangkaian tahapan uji coba.

Meski begitu pengembangan vaksin adalah tugas sulit. Herawati Sudoyo, Wakil Kepala Bidang Penelitian Fundamental LBM Eijkman mengatakan pengembangan vaksin adalah proses panjang dan mahal.

Ada banyak tingkatan dalam pembuatan vaksin, tahapan pertama adalah menyelidiki dan memahami genom virus. Yang dimaksud genom virus adalah keseluruhan informasi genetika dari virus, dalam hal ini virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.  

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

25,216

Terkonfirmasi

6,492

Sembuh

1,520

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

“Membuat seed vaksin kalau bisa dilihat dari data genom virusnya dan jika itu memang (SARS-CoV-2 yang beredar) di Indonesia. Kita akan mencari bagian dari virus tersebut yang spesifik Indonesia. Tapi misalnya kita bandingkan dengan data dunia itu sama maka kita pakai data universal,” jelas Herawati kepada Hello Sehat.

Sebuah studi menunjukkan SARS-CoV-2 ini bermutasi menjadi dua bentuk virus baru. Mutasi menyebabkan perubahan pada susunan genetik virusMutasi ini bisa menjadi salah satu dari banyak hambatan yang dihadapi para ilmuwan Indonesia dalam mempelajari virus dan vaksin COVID-19.

Perlu diketahui, saat ini fokus utama LBM Eijkman adalah deteksi kasus positif COVID-19 di mana pemerintah memberikan target 1.000 deteksi spesimen per hari.

Ilmuwan berbagai negara mencari vaksin COVID-19

vaksin Indonesia COVID-19

Saat ini, banyak lembaga dan negara meneliti vaksin coronavirus. Negara-negara ini, termasuk Indonesia mencoba sesegera mungkin menemukan vaksin COVID-19.

Data World Health Organization (WHO) menyatakan ada 60 kandidat vaksin yang saat ini sedang dikembangkan oleh berbagai lembaga di seluruh dunia. Beberapa di antaranya bahkan telah memasuki tahap uji klinis pertama pada manusia. 

China

Akademi Sains Medis Militer China bekerja sama dengan CanSino Biologics, sebuah perusahaan bioteknologi asal Hongkong untuk menciptakan vaksin.

Mereka sudah memulai tahap uji coba pada manusia sejak 16 Maret lalu. Rencananya uji coba ini akan dilakukan pada 108 orang relawan secara bertahap hingga Desember 2020.

self-limiting disease COVID-19

Amerika Serikat

Pada Maret 2020, Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (National Institute of Allergy and Infectious Diseases atau NIAID) Amerika sudah melakukan uji coba vaksin COVID-19 pertama pada manusia. 

Dalam sebuah konferensi pers, direktur NIAID Anthony Fauci mengatakan vaksin COVID-19 mereka akan memakan waktu 12-18 bulan untuk sampai pada tahap persetujuan penggunaan.

Israel

Ilmuwan Israel dari Galilee Research Institute (Migal) mengklaim tengah memodifikasi vaksin Infectious Bronchitis Virus (IBV) untuk dijadikan vaksin COVID-19. Migal juga merupakan pembuat vaksin IBV, yakni vaksin untuk avian coronavirus atau coronavirus menyerang unggas. 

“Sekarang berupaya menyesuaikan sistem vaksin generik kami dengan  COVID-19. MigVax (institusi afiliasi Migal) sedang mencari bahan yang siap untuk uji klinis dalam beberapa bulan,” ujar CEO Migal, David Zigdon, seperti dikutip dari New York Times (22/4).

Cara Perawatan di Rumah Jika Mengalami Gejala Ringan COVID-19

Kabar estimasi waktu yang diumumkan oleh lembaga-lembaga tersebut seperti membawa angin segar pada kondisi saat ini. 

Tapi banyak ilmuwan skeptis vaksin bisa selesai secepat itu. 18 bulan terdengar waktu yang lama. Namun, 18 bulan sesungguhnya terasa hanya sekedipan mata untuk menemukan sebuah vaksin. 

Menjadi skeptis bukan berarti pesimis. Tidak terlalu menaruh harapan besar pada janji ketersedian vaksin COVID-19 mungkin bisa membuat masyarakat Indonesia tetap siaga dan melakukan physical distancing dalam beberapa waktu ke depan.

Bagaimana jika ada negara yang selesai mengembangkan vaksin?

vaksin covid-19 indonesia

Para peneliti sudah memperingatkan bahwa jika vaksin COVID-19 sudah berhasil dikembangkan, kemungkinan besar kemampuan produksinya tidak akan cukup untuk semua orang.

Setiap negara yang belum berhasil mengembangkan vaksin akan berusaha membeli. Sedangkan negara yang punya vaksin belum tentu melepas stoknya karena harus terlebih dahulu memenuhi kebutuhan negara mereka.

“Meskipun ada industri yang punya kelebihan dia akan jual dengan harga pandemi. (Yang artinya) bisa sepuluh kali dari harga normal,” kata Direktur LBM Eijkman, Amin Soebandrio.

Itulah kenapa penting Indonesia berusaha untuk mengembangkan vaksin COVID-19 sendiri.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro juga telah menegaskan dalam sebuah wawancara acara d’Rooftalk bahwa Indonesia tidak boleh bergantung pada impor vaksin.

“Kita harus bisa memproduksinya, paling tidak membuat dari prototipe (contoh) yang sudah ada di negara lain,” kata Bambang.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ajakan pemerintah yang meminta untuk berdamai dengan COVID-19 disertai dengan rilisnya panduan new normal dari BPOM. Simak isinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Beberapa gejala COVID-19 memang diketahui mirip dengan gejala penyakit lain, salah satunya penyakit Kawasaki pada anak. Apakah keduanya berhubungan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Penderita asma adalah salah satu kelompok yang berisiko mengembangkan kondisi parah akibat COVID-19. Apa saja yang perlu diperhatikan saat menderita asma?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

herd immunity swedia covid-19

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
berat badan naik saat karantina

Berat Badan Naik Jadi Efek Serius Selama Karantina

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020