home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Revenge Porn, Balas Dendam Ketika Hubungan Cinta Kandas

Revenge Porn, Balas Dendam Ketika Hubungan Cinta Kandas

Kita kerap mendengar berita tersebarnya video hubungan seksual antar sepasang kekasih terutama di kalangan remaja. Kerap disebut revenge porn, tindakan ini masih menjadi keprihatinan yang perlu ditelisik lebih jauh.

Apa itu revenge porn?

revenge porn

Revenge porn merupakan sebuah tindakan penyebaran materi pribadi yang bersifat seksual tanpa persetujuan orang yang muncul di dalamnya. Materi tersebut paling sering berupa video dan foto, tapi bisa juga berupa pesan ancaman.

Sama seperti namanya, tindakan ini dilakukan untuk balas dendam pada pihak yang telah membuat si pelaku sakit hati. Biasanya, hal ini dilakukan saat salah satu pihak tidak senang dengan kandasnya hubungan percintaannya.

Sering kali video atau foto yang tersebar juga disertai oleh informasi seputar pihak yang menjadi korban revenge porn. Dari nama lengkap sampai informasi tentang di mana ia bekerja atau belajar kerap disebar kepada publik.

Alasan seseorang melakukan revenge porn

break up

Memang, ketika manusia merasa terluka dan dikhianati, seringnya perasaan ini juga diikuti dengan kemarahan dan dorongan untuk menimbulkan rasa sakit yang sama pada orang yang menyebabkannya.

Sayangnya, tak semua orang memiliki kontrol yang baik terhadap emosinya masing-masing. Beberapa yang sudah terlanjur mendendam pun memikirkan sebuah cara yang sekiranya tidak berbahaya tapi tetap dapat membuat sasarannya malu dan tersakiti.

Revenge porn dianggap menjadi sebuah cara yang lebih mudah dilakukan. Pasalnya pelaku tidak harus menyerang sasarannya secara langsung. Terlebih perbuatan ini seringnya dilakukan di ranah media sosial.

Tujuannya, semakin banyak orang yang melihat video atau foto yang dibagikan, maka semakin besar pula rasa malu yang akan ditanggung oleh sasarannya.

Selain itu, menonton atau melihat konten-konten yang berbau porno bukanlah hal yang tidak biasa mengingat seks merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia.

Saking sering dianggap menjadi sesuatu yang wajar, pornografi membuat seseorang memandang revenge porn sebagai tindakan yang dibenarkan atau dalam kata lain bukanlah masalah yang besar.

menonton porno

Sebagai contoh, pada 2010 seorang pemuda pernah membuat situs web yang memperbolehkan para pengunjungnya untuk mengirimkan foto-foto vulgar secara anonim.

Kebanyakan yang dikirim adalah foto-foto mantan pasangan yang nantinya akan diunggah di situs tersebut.

Hanya dalam waktu 3 bulan, situs web sudah menerima lebih dari 10.000 kiriman foto. Hal ini tentunya menjadi kontroversi, apalagi dalam situs tersebut juga disediakan forum yang berisi komentar-komentar tidak senonoh dan bersifat melecehkan.

Kejadian di atas semakin membenarkan secara sadar ataupun tidak, pornografi dapat berkontribusi pada berkurangnya empati terhadap orang lain.

Mereka memposisikan orang dalam video tersebut bukan sebagai korban pelecehan.

Mereka yang menikmati konten revenge porn mungkin tidak berpikir bahwa di balik video itu, ada orang-orang yang tersakiti dan tertekan secara mental.

Revenge porn bisa terjadi pada siapa saja, tapi umumnya terjadi pada perempuan terutama di kisaran umur belasan sampai 24 tahun. Pelaku tindakan ini juga biasanya adalah kaum laki-laki.

Dari survei yang dilakukan tahun 2004 pada 310 laki-laki, peneliti menemukan bahwa laki-laki memiliki tendensi untuk mengerahkan kekuasaan atas perempuan termasuk melalui seks.

Lewat ancaman revenge porn, laki-laki mungkin merasa memiliki kekuatan dari reaksi pasangannya yang ketakutan.

Dampak yang dirasakan oleh korban

mengatasi trauma pelecehan seksual

Pengacara Sarah Bloom mengatakan sudah seharusnya revenge porn diklasifikasikan sebagai pelanggaran seksual karena dampak yang ditimbulkan serupa dengan kekerasan dan pelecehan seksual lainnya.

Luka batin yang timbul akibat perbuatan ini bisa saja memberikan efek yang mengubah hidup korban.

Hampir semua partisipan yang memberikan tanggapan pada sebuah penelitian menyatakan bahwa mereka jadi sulit percaya pada orang lain, meski orang tersebut tidak memiliki maksud yang buruk.

Para korban juga tentunya merasa malu dan terkadang menyalahkan diri mereka sendiri. Besarnya rasa malu itu membuat mereka ragu untuk melapor ke pihak yang berwenang.

Mereka takut jika masa lalu dan kehidupan pribadi mereka akan dipublikasikan. Terutama jika pelakunya adalah pasangan sendiri, bisa saja mereka tidak akan mendapat keadilan yang seharusnya.

Mereka pun merasa melaporkan kejadian ini adalah hal yang sia-sia.

Dalam jurnalnya, Frazier mengatakan bahwa korban kekerasan seksual kerap kehilangan kontrol akan dirinya sendiri. Ketika hal ini terjadi, mereka akan merasakan lebih banyak tekanan dan trauma.

Mereka merasa bahwa reputasi mereka di depan orang lain telah menjadi buruk. Mereka enggan untuk bertemu banyak orang karena takut akan mendapatkan penilaian yang tidak menyenangkan dari masyarakat di sekitarnya.

Beberapa masalah mental yang sering mendera korban revenge porn juga bisa berupa PTSD (post-traumatic stress disorder) dan serangan panik.

Pada beberapa kasus, sebagian dari mereka mengalihkan perasaan tersebut dengan konsumsi alkohol berlebihan sebagai cara instan untuk melupakan kejadian tersebut walau hanya sejenak.

Biasanya hal ini dilakukan ketika mereka tidak menemukan jalan keluar atas efek yang diderita.

Jika terjadi, cari bantuan profesional

psikolog dan psikiater

Terkadang, korban tidak memiliki kendali atas terjadinya revenge porn. Tidak ada yang mengetahui kondisi psikologis korban saat mengalami hal tersebut, apalagi jika korban diancam.

Kemungkinan lainnya, foto dan video yang disebar merupakan sesuatu yang diambil tanpa sepengetahuan korban.

Bila telah terjadi, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

  • Cari bantuan profesional yang bisa melindungi korban secara mental dan hukum. Beberapa lembaga seperti Komnas Perempuan akan menerima laporan dengan tangan terbuka. Anda juga bisa menghubungi Lembaga Bantuan Hukum yang ada di kota masing-masing untuk mendapat perlindungan hukum.
  • Bicaralah dengan orang terdekat yang terpercaya, mau mendengar keluhan, dan bersedia menemani korban melalui proses pemulihan. Cari seorang psikiater atau seorang ahli yang berspesialisasi di bidang seksual agar bisa memahami trauma Anda. Perawatan ini juga akan memberikan strategi pemulihan yang tepat dan bisa dilakukan sehari-hari.
  • Hubungi akun-akun media sosial yang ikut menyebarkan untuk menghapus foto dan video, atau bisa juga gunakan fitur report yang telah disediakan.
  • Jika hal ini terjadi pada teman atau orang terdekat Anda, dampingi terus sambil melakukan bantuan yang sekiranya bisa Anda berikan tanpa menghakimi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Kurt Smith, A. (2020). What Is Revenge Porn?. Retrieved 27 February 2020, from https://psychcentral.com/blog/what-is-revenge-porn/

Kamal, M., & Newman, W. (2020). Revenge Pornography: Mental Health Implications and Related Legislation. Retrieved 27 February 2020, from http://jaapl.org/content/44/3/359

What to Do if You’re a Victim of Revenge Porn. (2020). Retrieved 27 February 2020, from https://dworakpeck.usc.edu/news/what-to-do-if-youre-victim-of-revenge-porn

Bates, S. (2016). Revenge Porn and Mental Health: A Qualitative Analysis of the Mental Health Effects of Revenge Porn on Female Survivors. Retrieved 27 February 2020, doi:10.1177/1557085116654565

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Winona Katyusha Diperbarui 01/04/2020
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x