backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Mengapa Ada Orang yang Suka Mencium Bau Ketiak Pasangan?

Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro · General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)


Ditulis oleh Diah Ayu Lestari · Tanggal diperbarui 30/10/2023

Mengapa Ada Orang yang Suka Mencium Bau Ketiak Pasangan?

Meski terdengar kurang lazim bagi sebagian pasangan, mencium ketiak bisa menjadi salah satu cara meningkatkan keintiman. Lantas, apa yang membuat beberapa orang suka mencium ketiak pasangan mereka? Simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

Fakta ilmiah di balik harumnya bau badan pasangan

penyebab kulit ketiak sensitif

Bau badan umumnya terkait dengan bau ketiak. Secara alamiah, bau badan adalah bagian dari daya tarik seksual

Anda mungkin saja tertarik dengan orang yang berwajah tampan maupun pintar. Namun, aroma yang menguar dari tubuhnya juga berperan besar untuk menimbulkan ketertarikan.

Dari sisi biologis, aroma tubuh menandakan seberapa potensial seseorang untuk menjadi pasangan dan menghasilkan keturunan. Bau badan yang sedap juga menandakan tubuh yang sehat.

Claus Wedekind, ahli biologi dari University of Lausanne, Swiss melakukan studi untuk mencari tahu alasan orang-orang suka mencium bau badan pasangan mereka.

Pada penelitian ini, sebanyak 44 pria diminta mengenakan kaus baru selama dua malam berturut-turut. 

Setelah para pria berganti pakaian, sebanyak 49 wanita diminta mencium bau kaus tersebut dan menentukan bau kaus mana yang lebih mereka sukai.

Diketahui bahwa wanita lebih menyukai bau kaus yang dikenakan pria dengan susunan sistem kekebalan tubuh yang berbeda dengan dirinya.

Sistem kekebalan tubuh mengandung lebih dari 100 kode genetik yang dikenal sebagai major histocompatibility complex (MHC).

Pasangan dengan kode genetik yang berbeda berpeluang memiliki anak dengan sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat, sebab kode genetiknya lebih bervariasi.

Dengan begitu, perilaku menyukai bau badan pasangan ini menandakan bahwa terdapat kode genetik yang berbeda dalam sistem kekebalan tubuh Anda dan pasangan.

Secara biologis, hal ini memberikan keuntungan karena keturunan yang dihasilkan lebih tahan terhadap serangan berbagai penyakit.

Feromon, hormon yang memengaruhi bau badan

pheromone memikat pasangan

Kode genetik dalam MHC turut berperan dalam produksi hormon. Karena kode genetik setiap orang berbeda, karakteristik hormon yang dihasilkan pun saling berlainan.

Hormon yang punya andil dalam memengaruhi keunikan bau badan seseorang adalah feromon.

Feromon sebenarnya adalah sinyal kimiawi yang dihasilkan hewan untuk memengaruhi perilaku hewan lain dari spesies yang sama, terutama saat berkembang biak.

Senyawa ini tidak berbau, tetapi bisa menghasilkan bau badan yang unik antara satu orang dengan yang lainnya.

Kondisi inilah yang selanjutnya membuat Anda menyukai bau badan pasangan serta tidak bisa menemukan hal serupa pada orang lain.

Feromon pada manusia mungkin terdapat pada cairan tubuh, seperti urine, air mani, dan cairan vagina. Senyawa ini juga dapat dikeluarkan melalui kelenjar keringat pada ketiak.

Ketiak merupakan area lipatan tubuh yang banyak menghasilkan keringat. Feromon bisa keluar dalam jumlah banyak dari area ini sehingga banyak orang suka mencium ketiak pasangan mereka.

Namun, fungsi feromon pada manusia masih menjadi perdebatan. Meskipun ada pada hewan, bukti keberadaan senyawa ini pada tubuh manusia masih tergolong lemah.

Berbagai penelitian pun dilakukan untuk mencari tahu keberadaan feromon, salah satunya yang diterbitkan dalam jurnal Advances in Experimental Medicine and Biology (2016).

Dijelaskan bahwa fungsi feromon pada wanita dilakukan oleh senyawa 4,16-androstadien-3-one (AND). Sementara pada pria, fungsi ini terdapat hormon androstenon.

Lantas, adakah manfaat mencium bau ketiak pasangan?

komunikasi dengan pasangan

Menyukai bau ketiak pasangan, terlepas dari aspek biologis atau ada tidaknya feromon, tetap menjadi suatu fenomena yang unik.

Beberapa kalangan juga mempercayai bahwa mencium ketiak pasangan juga punya beberapa manfaat seperti berikut ini.

1. Meningkatkan keintiman pasangan

Mencium bau badan pasangan merupakan salah satu cara yang unik dalam mengekspresikan keintiman dan kedekatan dengan pasangan Anda.

Indra penciuman menjadi salah satu indra pada tubuh manusia yang sangat sensitif. Mencium bau yang menenangkan dari pasangan juga terkait dengan perasaan aman.

2. Menambah gairah seksual

Untuk sebagian orang, mencium ketiak pasangan bisa menjadi bagian dari fantasi seksual. Hal ini juga membantu meningkatkan gairah seksual atau libido sebelum bercinta.

Asalkan dilakukan dengan persetujuan atau konsen dengan pasangan, tindakan ini membantu menciptakan pengalaman yang lebih memuaskan.

3. Membantu mengurangi stres dan kecemasan

Aroma pasangan yang romantis membantu menurunkan tingkat stres dan kecemasan. Hal ini terbukti melalui studi dalam Journal of Personality and Social Psychology (2017).

Ketika Anda mencium bau ketiak dan tubuh pasangan yang familiar, hal ini akan memicu pelepasan oksitosin atau hormon cinta. Hormon ini memiliki efek menenangkan tubuh.

Anda tentu tidak perlu merasa aneh bila mendapati diri Anda sendiri menikmati aroma tubuh pasangan yang begitu hangat dan menenangkan.

Hal ini lazim dilakukan oleh banyak orang dan dapat dijelaskan secara ilmiah. Namun, penting untuk menjaga komunikasi dengan pasangan terkait dengan preferensi Anda.

Dengan berbicara tentang apa yang disukai dan tidak disukai, Anda dan pasangan bisa makin meningkatkan keintiman dalam hubungan.

Kesimpulan

  • Mencium ketiak pasangan adalah cara unik untuk meningkatkan keintiman hubungan.
  • Aroma ketiak yang menenangkan mungkin dipengaruhi oleh feromon. Meski begitu, masih menjadi perdebatan apakah senyawa ini juga terdapat pada tubuh manusia.
  • Walau begitu, tindakan ini dapat membantu meningkatkan keintiman, gairah seksual, serta mengurangi stres dan kecemasan.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Patricia Lukas Goentoro

General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)


Ditulis oleh Diah Ayu Lestari · Tanggal diperbarui 30/10/2023

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan