Pencegahan menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan dari penyakit berbahaya. Nah, salah satu perawatan medis untuk pencegahan penyakit adalah profilaksis. Telusuri lebih jauh seputar perawatan profilaksis berikut ini.
Pencegahan menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan dari penyakit berbahaya. Nah, salah satu perawatan medis untuk pencegahan penyakit adalah profilaksis. Telusuri lebih jauh seputar perawatan profilaksis berikut ini.

Profilaksis adalah istilah medis untuk serangkaian perawatan yang dilakukan untuk mengurangi kemungkinan seseorang terkena penyakit atau mencegah perkembangan penyakit.
Upaya ini meliputi pemberian vaksin, obat-obatan preventif, melakukan prosedur medis tertentu, atau pemberian antibiotik sebelum operasi untuk mencegah infeksi.
Perawatan ini berperan penting dalam membantu dokter atau tenaga kesehatan dalam mencegah perkembangan penyakit sebelum menjadi lebih parah. Dengan begitu, pasien dapat terhindar dari risiko komplikasi serius.
Berdasarkan tingkat keparahan kondisi pasien, profilaksis terbagi menjadi 4 jenis, yakni primer, sekunder, tersier, dan kuartener. Simak selengkapnya berikut ini.

Perawatan ini bertujuan untuk mencegah penyakit dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap virus.
Hal ini dapat dilakukan dengan mengurangi faktor risikonya, seperti menjaga pola makan, olahraga secara rutin, dan berhenti merokok.
Profilaksis primer juga termasuk pemberian vaksin dan pemeriksaan kesehatan rutin, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa.
Profilaksis sekunder merupakan tindakan pencegahan atau perawatan yang dilakukan setelah seseorang terdiagnosis suatu penyakit.
Perawatan ini bertujuan untuk memperlambat perkembangan penyakit, mencegah kekambuhan, dan mengurangi risiko komplikasi lebih lanjut.
Salah satu contohnya adalah menjalani program menurunkan berat badan untuk mencegah perkembangan penyakit diabetes tipe 2 pada penderita prediabetes.
Perawatan ini dilakukan untuk meminimalkan dampak penyakit yang sudah ada, terutama pada pasien dengan kondisi serius.
Tujuannya adalah untuk mengurangi gejala, memperlambat risiko komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain perawatan paliatif untuk kanker atau program rehabilitasi setelah stroke.
Profilaksis kuartener merupakan upaya pencegahan yang bertujuan untuk menghindari tindakan medis yang berlebihan dan mencegah efek samping yang tidak perlu dari pengobatan.
Contohnya, pada pasien kanker yang telah menjalani kemoterapi tetapi tidak ada respons atau perubahan pada tubuhnya, dokter dapat memutuskan untuk tidak melanjutkan kemoterapi.
Keputusan ini diambil karena efek samping kemoterapi lebih memberatkan daripada efek pemulihan yang diberikan oleh pengobatan ini.
Berikut ini beberapa pengobatan yang bisa dilakukan sebagai tindakan pencegahan penyakit.

Melakukan medical check-up atau pemeriksaan kesehatan secara rutin juga merupakan bentuk tindakan profilaksis untuk memantau kondisi kesehatan dan mencegah penyakit berkembang tanpa disadari.
Pemeriksaan kesehatan biasanya dilakukan dengan mengukur tinggi dan berat badan, tekanan darah, denyut jantung, fungsi pernapasan, kesehatan mata, telinga, hidung, dan kulit.
Seberapa sering melakukan pemeriksaan kesehatan umumnya bergantung pada usia Anda. Contohnya, orang berusia 20 tahun mungkin hanya memerlukan satu kali pemeriksaan setiap tiga tahun.
Namun, orang berusia 50 tahun ke atas mungkin memerlukan pemeriksaan kesehatan setiap tahun.
Pemberian vaksin bisa jadi salah satu tindakan profilaksis untuk mengurangi risiko penyakit.
Vaksin bekerja dengan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan melawan patogen tertentu sebelum menyebabkan infeksi.
Sebagai contoh, jenis vaksin atau imunisasi untuk anak-anak, meliputi tuberkulosis, polio, campak, gondongan, rubella, hepatitis B, atau DPT (difteri, pertusis, dan tetanus)
Sementara itu, jenis vaksin untuk dewasa, antara lain vaksin influenza, pneumokokus, DPT, hepatitis A, HPV, atau vaksin COVID-19.
Antibiotik profilaksis mengacu pada penggunaan antibiotik untuk mencegah infeksi sebelum terjadi, bukan untuk mengobati infeksi yang sudah ada.
Dalam dunia medis, pemberian antibiotik ini biasanya dihindari sebisa mungkin sehingga tidak terjadi resistensi antibiotik yang membuat bakteri menjadi kebal terhadap obat.
Antibiotik biasanya diberikan kepada pasien yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah atau memiliki kondisi medis tertentu yang membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi.
Selain itu, antibiotik profilaksis dapat diberikan pada pasien yang akan menjalani operasi (preoperative antibiotic prophylaxis).
Menurut National Institute of Health, pemberian antibiotik ini bertujuan untuk mengurangi risiko infeksi setelah operasi.
Selain antibiotik, dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan tertentu sebagai upaya pencegahan penyakit yang disesuaikan dengan kondisi medis dan kebutuhan spesifik pasien.
Sebagai contoh, dokter dapat melakukan pengobatan pre-exposure prophylaxis (PeP), yakni obat yang dikonsumsi untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual atau penggunaan suntikan.
Contoh lainnya, dokter mungkin akan memberikan obat khusus untuk mencegah penyakit malaria pada orang yang akan pergi ke daerah endemis malaria. Jenis obatnya, antara lain atovaquone, chloroquine, atau doxycycline.
Upaya profilaksis juga dapat dilakukan dengan melaksanakan pemeriksaan atau prosedur medis berikut untuk mendeteksi penyakit sejak dini.
Profilaksis merupakan salah satu metode penting dalam dunia medis yang dibutuhkan untuk mengurangi risiko penyakit dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Untuk mencegah penyakit, Anda juga bisa menerapkan gaya hidup sehat dengan pola makan bergizi seimbang, olahraga teratur, berhenti merokok, atau menghindari konsumsi alkohol berlebihan.
Kesimpulan
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Mark, A. M. (2016). What is antibiotic prophylaxis?. The Journal of the American Dental Association, 147(6), 526.
Versi Terbaru
24/03/2025
Ditulis oleh Zulfa Azza Adhini
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes.
Diperbarui oleh: Fidhia Kemala