Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

1

ask-doctor-icon

Tanya Dokter Gratis

Kirimkan pertanyaan atau pendapatmu di sini!

Daftar Imunisasi yang Penting untuk Anak Usia Sekolah

    Daftar Imunisasi yang Penting untuk Anak Usia Sekolah

    Sebagian besar dari Anda mungkin berpikir bahwa imunisasi hanya dilakukan ketika anak masih bayi dan balita. Tapi, tahukah Anda bahwa imunisasi anak juga harus dilakukan kembali ketika ia memasuki usia sekolah, termasuk sekolah dasar (SD)? Lalu, apa saja jenis imunisasi yang harus diberikan pada anak pada usia ini.

    Kenapa imunisasi anak usia sekolah juga penting?

    Pada dasarnya, imunisasi merupakan kegiatan pencegahan. Kegiatan ini dilakukan agar seseorang terhindar dari penyakit infeksi atau meringankan gejala penyakit tersebut bila suatu saat ia terinfeksi.

    Melalui imunisasi, kekebalan tubuh seseorang terhadap suatu penyakit akan ditingkatkan. Inilah mengapa imunisasi disebut sebagai metode yang paling efektif untuk mencegah berbagai penyakit infeksi yang mungkin menyerang Anda.

    Imunisasi wajib diberikan kepada bayi dan balita mengingat sistem kekebalan tubuhnya belum berkembang sempurna. Ini membuatnya lebih rentan terhadap berbagai penyakit infeksi pada anak.

    Lalu, bagaimana dengan anak usia sekolah atau yang sudah melewati usia tersebut?

    Seiring bertambah usia, sistem kekebalan tubuh anak juga semakin berkembang. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan mereka untuk terserang berbagai penyakit infeksi.

    Oleh karena itu, setelah melakukan imunisasi dasar pada usia bayi dan balita, anak juga harus mendapatkan imunisasi lanjutan ketika memasuki usia sekolah.

    Tujuan pemberian imunisasi untuk anak usia sekolah dasar ini, yaitu guna mempertahankan kekebalan tubuh serta memperpanjang masa perlindungan pada anak yang sudah mendapatkan imunisasi dasar.

    Ini terutama perlindungan terhadap penyakit difteri, tetanus, campak, dan rubella. Apalagi, penyakit-penyakit tersebut tidak hanya dapat dialami oleh bayi dan balita, tetapi juga pada anak usia sekolah dasar.

    Pada akhirnya, imunisasi ini bukan hanya melindungi anak dari serangan infeksi, tetapi juga membantu meningkatkan performa belajar dan membuat anak sukses di sekolah dasar.

    Sebab, anak yang sehat lebih mungkin bersekolah dan tidak menderita akibat sakit yang dialaminya.

    Imunisasi juga dapat melindungi perkembangan otak anak, sehingga bisa berdampak positif pada fungsi kognitifnya.

    Imunisasi apa saja yang harus diberikan pada anak usia SD?

    jarak imunisasi

    Di Indonesia sendiri, telah ada jadwal imunisasi lanjutan untuk anak usia SD yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI berdasarkan Permenkes RI No. 12 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi.

    Jenis Imunisasi anak usia sekolah yang dicanangkan di Indonesia ini adalah diphtheria tetanus (DT), campak, dan tetanus diphteria (Td).

    Berikut adalah jadwal imunisasi anak usia sekolah dasar yang telah diatur oleh Kementerian Kesehatan.

    • Anak kelas 1 SD: diberikan imunisasi campak dengan waktu pelaksanaan setiap bulan Agustus dan imunisasi DT setiap bulan November.
    • Kelas 2 SD: diberikan imunisasi Td pada bulan November.
    • Kelas 5 SD: diberikan imunisasi Td pada bulan November.

    Sementara itu, menurut Center for Disease Control and Prevention, berikut jenis imunisasi anak usia sekolah lainnya yang juga sebaiknya dilakukan.

    • Imunisasi influenza bisa dilakukan mulai usia 6 bulan hingga seterusnya, termasuk usia sekolah, yaitu 7 tahun ke atas. Jenis vaksin ini merupakan imunisasi yang aman diberikan pada semua anak, kecuali yang memiliki kondisi tertentu.
    • Imunisasi Human papillomavirus sudah bisa diberikan ketika anak berusia 11-12 tahun. Namun, vaksin ini juga bisa diberikan saat anak mencapai usia 9-10 tahun jika memang kondisi kesehatan anak memerlukannya sesuai rekomendasi dokter.
    • Imunisasi meningitis untuk anak bisa diberikan saat berusia 11-12 tahun. Namun, imunisasi ini bisa diberikan pada anak usia 7-10 tahun dengan kondisi tertentu sesuai rekomendasi dokter.

    Meski begitu, untuk mengetahui apakah semua jenis imunisasi tersebut diperlukan atau tidak untuk anak, Anda harus mendiskusikannya terlebih dahulu dengan dokter dan tim medis.

    Dokter yang akan mempertimbangkan apakah anak Anda harus diberikan imunisasi tertentu atau tidak.

    Selain imunisasi-imunisasi di atas, pemberian vaksin COVID-19 juga sudah bisa diberikan pada anak SD atau tepatnya saat anak berusia 6-11 tahun.

    Pemberian vaksin COVID-19 untuk anak diberikan dua kali dengan jarak imunisasi minimal 28 hari. Tanyakan pada tim medis di puskesmas terdekat untuk informasi lebih lanjut.

    Jika saya melewatkan jadwal imunisasi anak, apa yang harus dilakukan?

    imunisasi MR campak rubella

    Apabila Anda terlambat membawa anak untuk diimunisasi, jangan cemas. Selama anak Anda tidak terinfeksi penyakit infeksi tertentu, anak masih bisa mendapatkannya pada kemudian hari.

    Kementerian Kesehatan pun menyebutkan bahwa jika ada imunisasi yang belum diberikan sesuai jadwal seharusnya atau yang tertunda, imunisasi harus secepatnya diberikan atau dikejar.

    Pemberian imunisasi kejar ini tetap dapat memberikan perlindungan yang optimal pada anak terhadap penyakit infeksi tertentu.

    Misalnya, anak yang tidak mendapatkan imunisasi campak ketika balita, maka anak Anda bisa saja mendapatkannya ketika ia sudah usia sekolah dasar.

    Pemberiannya bisa bersamaan dengan jadwal imunisasi yang sudah rutin atau pada kegiatan imunisasi khusus.

    Untuk lebih jelasnya, konsultasikan hal ini kepada dokter anak Anda. Ini termasuk untuk mengetahui jadwal, jenis, serta dosis imunisasi yang tepat bagi anak Anda.

    health-tool-icon

    Pengingat Jadwal Imunisasi Bayi dan Anak

    Gunakan pengingat jadwal ini untuk mempelajari imunisasi apa yang dibutuhkan oleh anak Anda dan kapan waktu tepatnya.

    Apa jenis kelamin anak Anda?

    Laki-laki

    Wanita

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Growing Up with Vaccines: What Should Parents Know?. CDC. (2022). Retrieved 17 May 2022, from https://www.cdc.gov/vaccines/growing/images/global/CDC-Growing-Up-with-Vaccines.pdf?CDC_AA_refVal=https%3A%2F%2Fwww.cdc.gov%2Fvaccines%2Fgrowing%2Fschool-vaccinations.html

    Imunisasi Kejar, Lengkapi Imunisasi Dasar Anak yang Tertunda. Sehat Negeriku. (2022). Retrieved 17 May 2022, from https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20220411/5839627/imunisasi-kejar-lengkapi-imunisasi-dasar-anak-yang-tertunda/

    Kids and the Immune System – Children’s Health Orange County. Children’s Health Orange County. (2022). Retrieved 17 May 2022, from https://www.choc.org/health-topics/kids-immune-system/

    Making the Vaccine Decision: Addressing Common Concerns. CDC. (2022). Retrieved 17 May 2022, from https://www.cdc.gov/vaccines/parents/why-vaccinate/vaccine-decision.html

    PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN IMUNISASI. Hukor.kemkes.go.id. (2022). Retrieved 17 May 2022, from http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No._12_ttg_Penyelenggaraan_Imunisasi_.pdf

    Recommended Vaccinations for Children 7 to 18 Years Old, Parent-Friendly Version. CDC. (2022). Retrieved 17 May 2022, from https://www.cdc.gov/vaccines/schedules/easy-to-read/adolescent-easyread.html

    Suntikan untuk Melindungi Anak. Sehat Negeriku. (2022). Retrieved 17 May 2022, from https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/mediakom/20220105/0339130/39130/

    Vaccination: Helping children think, learn and thrive – VoICE. Immunizationevidence.org. (2022). Retrieved 17 May 2022, from https://immunizationevidence.org/featured_issues/vaccination-helping-children-think-learn-and-thrive/

    Vaksinasi COVID-19 untuk Anak Upaya Lindungi Anak Indonesia. Satuan Tugas Penanganan COVID-19. (2022). Retrieved 17 May 2022, from https://covid19.go.id/artikel/2022/02/12/vaksinasi-covid-19-untuk-anak-upaya-lindungi-anak-indonesia

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Ihda Fadila Diperbarui Jun 06
    Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto
    Next article: