home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Neuropati Perifer

Definisi neuropati perifer |Jenis-jenis neuropati perifer|Tanda-tanda & gejala neuropati perifer|Penyebab neuropati perifer|Faktor-faktor risiko neuropati perifer|Diagnosis neuropati perifer|Pengobatan neuropati perifer|Pengobatan di rumah untuk neuropati perifer
Neuropati Perifer

Definisi neuropati perifer

Neuropati perifer atau dikenal juga sebagai peripheral neuropathy adalah istilah yang menggambarkan kerusakan pada saraf tepi yang berada di luar otak dan sumsum tulang belakang.

Kondisi ini sering kali menyebabkan kelemahan, mati rasa, dan timbul rasa sakit pada area tangan, kaki, dan berbagai area lainnya pada tubuh Anda.

Sistem saraf tepi mengirimkan informasi dari otak dan sumsum tulang belakang (sistem saraf pusat) menuju ke seluruh area lain pada tubuh. Sebaliknya, saraf tepi juga mengirimkan informasi sensorik menuju ke sistem saraf pusat.

Sistem saraf tepi mungkin terjadi dari trauma karena cedera, infeksi, gangguan metabolisme, hingga penyakit keturunan. Namun, salah satu penyebab yang paling umum adalah diabetes.

Biasanya, orang yang memiliki masalah pada sistem saraf tepinya akan merasakan sakit seperti terbakar atau tersengat. Akan tetapi, rasa sakit yang dirasakan bisa berkurang, apalagi jika disebabkan oleh kondisi yang bisa diatasi dengan pengobatan.

Seberapa umum neuropati perifer?

Ada sekitar 1,6% hingga 8,2% populasi yang mengalami penyakit ini dan sering terjadi pada pasien diabetes. Hal tersebut dapat dikontrol dengan mengurangi faktor-faktor risiko. Silakan konsultasikan dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

Jenis-jenis neuropati perifer

Setelah mengetahui apa itu neruopati perifer, kini saatnya Anda memahami jenis-jenis dari penyakit saraf tepi ini. Sebenarnya, terdapat lebih dari 100 jenis neruopati perifer yang ditemukan.

Masing-masing jenisnya memiliki gejala yang berbeda. Biasanya, gejala dari neuropati perifer ditentukan berdasarkan jenis saraf yang mengalami kerusakan.

Berikut adalah saraf tepi beserta fungsinya yang mungkin mengalami kerusakan saat Anda mengalami neuropati perifer. Di antaranya adalah:

1. Saraf motorik

Saraf yang mengatur pergerakan seluruh otot di dalam tubuh yang digerakkan secara sadar, seperti otot yang digunakan untuk berjalan kaki, meraih benda, atau berbicara.

2. Saraf sensorik

Saraf sensorik berfungsi untuk mengirimkan informasi seperti perasaan saat mendapatkan sentuhan, merasakan suhu, atau rasa sakit karena mengalami luka.

3. Saraf Otonom

Saraf ini mengontrol organ-organ tubuh untuk mengatur aktivitas yang tidak bisa dikontrol secara sadar, misalnya bernapas, mencerna makanan, serta menjalankan fungsi hati dan fungsi kelenjar.

Sebagian besar neuropati dapat menyerang ketiga jenis saraf dengan tingkat keparahan yang berbeda, tapi beberapa jenis lainnya hanya menyerang satu hingga dua jenis saraf saja.

Dokter biasanya menggunakan istilah neuropati motorik dominan, neuropati sensorik dominan, neuropati sensori-motorik, atau neuropati autonom untuk menjelaskan berbagai kondisi yang berbeda-beda.

Tanda-tanda & gejala neuropati perifer

Setiap saraf di sistem perifer Anda memiliki fungsi tertentu, sehingga gejala yang muncul juga tergantung pada jenis saraf yang terkena dampak.

Gejala dari neuropati perifer termasuk:

  • Kelemahan otot.
  • Sensasi terbakar pada tangan atau kaki yang lama-kelamaan bisa menyebar hingga ke lengan dan betis.
  • Rasa sakit yang terasa seperti terbakar.
  • Lebih sensitif terhadap sentuhan.
  • Rasa sakit yang muncul saat melakukan aktivitas yang biasanya tidak menyebabkan rasa sakit.
  • Kehilangan koordinasi dan rentan jatuh.
  • Kelumpuhan.

Sementara itu, Anda mungkin juga merasakan beberapa gejala berikut ini, jika saraf autonom yang mengalami kerusakan:

  • Tidak bisa tahan terhadap suhu atau udara yang panas.
  • Tidak bisa berkeringat atau keringat berlebih.
  • Susah buang air atau mencerna makanan.
  • Perubahan pada tekanan darah, menyebabkan pusing atau kepala terasa ringan seperti melayang.

Kapan sebaiknya saya ke dokter?

Anda sebaiknya menghubungi dokter Anda jika Anda merasakan hal-hal berikut:

  • Gejala memburuk atau tidak membaik setelah pengobatan.
  • Gejala baru muncul.

Penyebab neuropati perifer

Ada banyak penyebab neuropati perifer, seperti:

1. Diabetes

Salah satu penyebab utama dari gangguan saraf tepi yang satu ini adalah diabetes, baik diabetes tipe 1 maupun diabetes tipe 2. Kondisi ini disebut polineuropati diabetik.

Neuropati perifer ini mungkin terjadi karena kadar gula darah yang terlalu tinggi di dalam darah merusak pembuluh darah yang menyuplai darah pada sistem saraf.

Semakin lama Anda memiliki diabetes, semakin tinggi pula risiko Anda mengalami neuropati perifer. Diabetesi memiliki risiko polineuropati yang lebih tinggi apabila kadar gula darah tidak terkontrol, atau memiliki faktor pendukung lain, seperti memiliki kebiasaan merokok atau mengonsumsi alkohol, dan berusia lebih dari 40 tahun.

2. Cedera fisik (trauma)

Selain diabetes, cedera fisik dapat menyebabkan cedera pada saraf. Sebagai contoh, cedera karena kecelakaan kendaraan, jatuh, olahraga, dan berbagai prosedur medis dapat membuat meregangkan, menghancurkan, atau menekan saraf.

Bahkan, trauma yang tidak terlalu parah pun bisa menyebabkan kerusakan saraf yang cukup serius. Tak hanya itu, patah tulang atau terkilir juga dapat menyebabkan kerusakan pada saraf di sekitarnya.

3. Masalah autoimun

Gangguan dan infeksi autoimun juga dapat menyebabkan neuropati perifer. Contohnya, sindrom Guillain-Barre, lupus, rematik, dan sindrom Sjogren, adalah gangguan autoimun yang dapat menyebabkan neuropati perifer.

Sementara itu, infeksi seperti cacar air, HIV, herpes, sifilis, penyakit Lyme, leprosi, virus Epstein-Barr, dan hepatitis C juga dapat menyebabkan neuropati.

4. Gangguan pembuluh darah

Gangguan pembuluh darah atau gangguan darah dapat menyebabkan penurunan suplai oksigen untuk saraf perifer dan berujung pada kerusakan jaringan saraf.

Oleh karena itu, diabetes, kebiasaan merokok, dan penyempitan pembuluh darah yang terjadi karena tekanan darah tinggi atau aterosklerosis dapat menyebabkan neuropati perifer.

Pasalnya, dinding pembuluh darah yang menebal dan luka dapat menghalangi aliran darah dan menyebabkan kerusakan saraf.

5. Tumor

Tumor, baik yang dapat menyebabkan kanker maupun yang tidak, dapat terbentuk pada sistem saraf atau menekan saraf di sekitarnya sehingga menyebabkan neuropati perifer.

Tak hanya itu, sindrom Paraneoplastik, atau masalah kesehatan degeneratif yang terjadi karena respons sistem imun tubuh terhadap kanker, juga dapat menyebabkan kerusakan saraf di berbagai area tubuh.

6. Ketidakseimbangan hormon

Hormon yang tidak seimbang dapat mengganggu proses metabolisme secara normal. Jika sudah demikian, kondisi tersebut bisa menyebabkan pembengkakan pada jaringan yang dapat menekan saraf tepi, sehingga menyebabkan neuropati perifer.

7. Gangguan ginjal dan liver

Gangguan ginjal dan liver dapat menyebabkan peningkatan jumlah zat beracun di dalam darah yang dapat memicu kerusakan jaringan saraf. Sebagian besar orang yang menjalani dialisis karena gagal ginjal mengalami berbagai jenis polineuropati.

8. Penggunaan obat kemoterapi

Obat-obatan kemoterapi yang biasanya dikonsumsi untuk mengatasi berbagai jenis kanker dapat menyebabkan polineuropati pada 30-40% penggunanya. Namun, hanya obat-obatan kemoterapi tertentu yang dapat menyebabkan neuropati dan tidak semua orang mendapatkannya.

Sayangnya, neuropati perifer yang terjadi akibat penggunaan obat-obatan kemoterapi bisa berlangsung untuk waktu yang lama, meski Anda sudah tidak menjalani kemoterapi lagi.

Tak hanya itu, terapi radiasi juga dapat menyebabkan kerusakan pada sistem saraf, tapi baru akan terjadi setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah menjalani radiasi.

9. Kecanduan alkohol

Bagi Anda yang mengalami kecanduan terhadap alkohol, risiko untuk mengalami gangguan saraf tepi akan meningkat. Pasalnya, alkohol dapat menyebabkan neuropati dalam dua cara.

Pertama, alkohol secara langsung meracuni saraf. Lalu, kecanduan alkohol membuat orang cenderung memiliki gaya hidup yang buruk. Hal ini menyebabkan kurangnya asupan nutrisi sehingga mengakibatkan defisiensi vitamin B dan nutrisi lain yang penting bagi fungsi saraf.

Faktor-faktor risiko neuropati perifer

Ada banyak faktor yang meningkatkan risiko kerusakan saraf, termasuk neuropati perifer, seperti:

  • Diabetes, khususnya jika kontrol gula darah buruk.
  • Penyalahgunaan alkohol.
  • Kekurangan vitamin, khususnya vitamin B.
  • Infeksi seperti penyakit Lyme, cacar, virus infeksi Epstein-Barr, hepatitis C dan HIV.
  • Penyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis dan lupus, di mana sistem imun menyerang jaringan dalam tubuh Anda sendiri.
  • Penyakit ginjal, liver atau kelenjar tiroid.
  • Terpapar racun.
  • Gerakan yang berulang saat melakukan suatu aktivitas atau pekerjaan.
  • Riwayat kesehatan keluarga yang berkaitan dengan neuropati.

Diagnosis neuropati perifer

Informasi yang disediakan bukan sebagai pengganti saran medis. SELALU konsultasikan dengan dokter Anda.

Apa saja tes paling umum untuk mendiagnosis kondisi ini?

Dokter akan menyiapkan diagnosis berdasarkan catatan klinis dan pemeriksaan. Selain itu, Anda juga dapat melakukan tes lain untuk memastikan diagnosis dan menemukan penyebabnya seperti:

  • Magnetic resonance image (MRI) pada otak dan tulang belakang.
  • Pemeriksaan konduksi saraf.
  • Elektromyografi (EMG).
  • Biopsi saraf.
  • Biopsi kulit.
  • Lumbal pungsi.

Pengobatan neuropati perifer

Tujuan dari pengobatan neuropati perifer adalah untuk mengontrol penyebab dan meredakan gejalanya. Pengobatan untuk kondisi ini sangat beragam, mulai dari penggunaan obat, terapi, hingga pengobatan alternatif, seperti berikut ini:

Penggunaan obat-obatan

Obat-obatan yang dapat dikonsumsi untuk mengurangi gejala yang muncul:

  • Obat-obatan pereda rasa sakit, seperti nonsteroidal anti-inflammatory drugs untuk mengurangi rasa nyeri atau sakit yang dirasakan.
  • Obat antikejang, seperti gabapentin dan pregabalin yang digunakan untuk mengatasi nyeri saraf.
  • Obat-obatan topikal seperti krim capsaicin dapat mengurangi gejala dari neuropati perifer.
  • Antidepresan, seperti amitriptyline, doxepin dan nortriptyline dapat meredakan rasa sakit yang dari proses kimia yang terjadi di otak atau sumsum tulang belakang.

2. Terapi

Tak hanya obat-obatan, Anda juga bisa mengikuti terapi dan prosedur medis yang dapat meredakan gejala dari neuropati perifer, seperti:

  • Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS), dilakukan dengan memasang elektroda pada kulit untuk menghantarkan listrik dengan beragam frekuensi, sebaiknya diaplikasikan selama 30 menit setiap hari selama satu bulan.
  • Plasma exchange and intravenous immune globulin, prosedur yang dapat membantu menekan aktivitas sistem imun, sehingga menguntungkan bagi orang yang memiliki peradangan.
  • Terapi fisik, khususnya jika Anda memiliki kelemahan otot.
  • Operasi, jika neuropati yang muncul terjadi karena ada tekanan pada saraf, Anda mungkin membutuhkan operasi untuk mengurangi tekanan pada saraf.

3. Pengobatan alternatif

Anda mungkin tidak suka mengonsumsi obat-obatan dan lebih merasa cocok menjalani pengobatan alternatif. Nah, ada beberapa jenis pengobatan yang bisa Anda lakukan untuk meredakan gejala, seperti:

  • Akupuntur, yang dilakukan dengan memasukkan jarum tipis pada titik-titik tertentu pada tubuh demi meredakan gejala dari neuropati perifer. Agar ada kemajuan, Anda mungkin harus menjalani sesi akupuntur beberapa kali.
  • Obat-obatan herbal, seperti minyak primrose, dapat meredakan neuropati, khususnya pada penderita diabetes. Namun, pastikan penggunaan obat ini sudah atas persetujuan dokter Anda.
  • Asam amino, seperti acetyl-L-carnitine, yang dapat memberikan manfaat pada orang yang menjalani kemoterapi.

Pengobatan di rumah untuk neuropati perifer

Dikutip dari Mayo Clinic, berikut adalah saran yang bisa Anda ikuti untuk membantu Anda mengelola neuropati perifer:

  • Jaga kaki Anda, terutama jika Anda mengidap diabetes. Periksa setiap hari untuk lecet, luka, atau kapalan. Kenakan kaus kaki katun yang lembut, longgar, dan sepatu yang empuk.
  • Berolahraga. Tanyakan kepada dokter Anda tentang olahraga rutin yang bisa Anda lakukan. Olahraga teratur, seperti berjalan tiga kali seminggu, bisa mengurangi rasa sakit neuropati, meningkatkan kekuatan otot, dan membantu mengendalikan kadar gula darah. Rutinitas ringan seperti yoga dan tai chi mungkin juga membantu.
  • Berhenti merokok. Merokok dapat mempengaruhi sirkulasi, meningkatkan risiko masalah kaki dan komplikasi neuropati lainnya.
  • Makan makanan yang sehat. Makan sehat sangat penting untuk memastikan bahwa Anda mendapatkan vitamin dan mineral penting. Konsumsi daging rendah lemak dan produk susu dan termasuk banyak buah-buahan, sayuran dan biji-bijian dalam diet Anda.
  • Hindari alkohol yang berlebihan. Alkohol dapat memperburuk neuropati perifer.
  • Pantau kadar glukosa darah Anda. Jika Anda memiliki diabetes, pemantauan kadar glukosa darah Anda akan membantu menjaga gula darah Anda di bawah kontrol dan dapat membantu menyembuhkan neuropati Anda.

Setiap orang dapat mengurangi risiko neuropati perifer dengan menjaga asupan alkohol yang masuk akal sesuai panduan medis. Diet seimbang yang sehat juga penting untuk mencegah kekurangan nutrisi makanan.

Diabetes tipe 2 adalah penyebab paling umum dari neuropati perifer kronis. Diabetes lebih sering terjadi pada orang yang kelebihan berat badan atau obesitas.

Oleh karena itu, mengontrol berat badan dapat membantu mengurangi risiko perkembangan diabetes. Jika Anda mengalami diabetes atau masalah medis lain yang dapat menyebabkan neuropati perifer, kontrol yang baik terhadap kondisi Anda dapat mencegah munculnya neuropati.

Jika Anda memiliki pertanyaan, silakan konsultasikan dengan dokter Anda. Biasanya, dokter akan membantu Anda untuk lebih paham terhadap kondisi kesehatan, sekaligus mencarikan solusi terbaik untuk kesehatan Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, atau pengobatan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Ferri, F. F. (2012). Ferri’s Netter patient advisor E-book. Elsevier Health Sciences.

Tidy, D. (2017). Peripheral Neuropathy. Neuropathy treatment and symptoms. Retrieved 1 December 2020, from https://patient.info/brain-nerves/peripheral-neuropathy-leaflet

Peripheral neuropathy . (2017). Retrieved 1 December 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/peripheral-neuropathy/

Peripheral neuropathy – Diagnosis and treatment – Mayo Clinic. (2020). Retrieved 1 December 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/peripheral-neuropathy/diagnosis-treatment/drc-20352067

neuropathy, P. (2020). Peripheral neuropathy: MedlinePlus Medical Encyclopedia. Retrieved 1 December 2020, from https://medlineplus.gov/ency/article/000593.htm

Peripheral Neuropathy Fact Sheet. Retrieved 1 December 2020, from https://www.ninds.nih.gov/Disorders/Patient-Caregiver-Education/Fact-Sheets/Peripheral-Neuropathy-Fact-Sheet

Neuropathy (Neuropathy Peripheral). Retrieved 1 December 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/14737-neuropathy

Peripheral Neuropathy. Retrieved 1 December 2020, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/peripheral-neuropathy

Peripheral Neuropathy. Retrieved 1 December 2020, from https://brainfoundation.org.au/disorders/peripheral-neuropathy/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Annisa Hapsari Diperbarui 21/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x