Bell’s Palsy

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Definisi Bell's palsy

Pernahkah Anda mendengar apa itu Bell’s palsy? Bell’s palsy adalah kelumpuhan atau kelemahan otot wajah yang tidak dapat dijelaskan apa penyebabnya. Biasanya kondisi ini muncul secara tiba-tiba dan bertambah semakin parah setelah lebih dari 48 jam atau dua hari. 

Bell’s palsy bisa terjadi jika terjadi kerusakan pada saraf wajah. Hal ini menyebabkan perubahan bentuk pada salah satu sisi wajah, di mana wajah akan terlihat “melorot”. Bahkan, kondisi ini menyebabkan rasa sakit dan tak nyaman yang muncul di salah satu sisi wajah atau kepala.

Kondisi ini bisa dialami oleh siapa saja. Namun, Bell’s palsy paling sering muncul pada wanita hamil dan penderita diabetes, influenza, flu, dan berbagai gangguan pernapasan lainnya.

Meski begitu, Bell’s palsy bukan merupakan penyakit permanen, meski pada kasus tertentu, kondisi ini tidak bisa hilang. Sayangnya, tidak ada pengobatan khusus yang bisa benar-benar menyembuhkan kondisi ini.

Hanya saja, pengobatan yang biasanya dilakukan selama dua minggu hingga enam bulan ini dilakukan untuk mengurangi atau meredakan berbagai gejala yang muncul.

Seberapa umumkah Bell’s palsy?

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Bell’s palsy bisa menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita. Namun, penyakit ini biasanya terjadi pada kisaran usia 15 tahun hingga 60 tahun.

Anda bisa membatasi peluang terkena penyakit ini dengan mengurangi faktor risiko. Selalu konsultasi kepada dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda dan gejala Bell's palsy

Gejala penyakit ini biasanya muncul secara mendadak dan dapat membaik dalam beberapa minggu, dengan pemulihan total sekitar 6 bulan. 

Gejala utama dan paling khas dari Bell’s palsy adalah kelumpuhan saraf pada satu sisi wajah yang terjadi secara mendadak. Kelumpuhan saraf ini membuat wajah dan bibir jadi tidak simetris, alias mencong, mirip dengan gejala stroke.

Dikutip dari Mayo Clinic, beberapa gejala paling umum dari Bell’s palsy adalah:

  • Kulit wajah tampak “melorot” di satu atau kedua sisi wajah.
  • Mengeluarkan air liur
  • Sensitif terhadap suara.
  • Nyeri pada rahang atau di belakang telinga.
  • Sakit kepala.
  • Berkurangnya kemampuan indera perasa.
  • Kesulitan menunjukkan ekspresi pada wajah dan bahkan kesulitan menutup mata atau tersenyum.
  • Lumpuh total pada salah satu sisi wajah. Umumnya, gejala dapat berlangsung selama beberapa jam, atau mungkin bahkan beberapa hari.

Ada beberapa hal yang bisa mengindikasikan adanya kelainan saraf pada wajah Anda. Namun, perlu Anda ketahui bahwa tingkat kelumpuhan saraf ini umumnya berbeda-beda dan tergantung pada kerusakan yang ditimbulkan oleh saraf kranial (saraf yang ada di kepala).

Contoh kecilnya, mungkin Anda mulai merasa sulit untuk menggerakkan pipi dan tersenyum lebar terbuka.

Untuk mendiagnosis kelainan saraf ini, Anda membutuhkan tes pemeriksaan visual dan tes gerakan. Biasanya, dokter juga akan meminta Anda untuk mencoba dan menggerakkan otot wajah tertentu untuk mengevaluasi kondisi kelainan saraf yang  dialami.

Mungkin masih ada gejala lain yang tidak tercantum di atas. Jika ingin bertanya tentang tanda ini, konsultasikanlah kepada dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda perlu menghubungi dokter jika:

  • Memiliki gejala di atas.
  • Terkena tinnitus (telinga berdenging), vertigo, atau sulit mendengar.
  • Bagian tubuh melemah atau lumpuh.
  • Mata memerah, sakit, iritasi, atau sulit berhenti mengeluarkan air mata.
  • Mengalami efek samping obat.

Penyebab Bell's palsy

Walaupun penyebab terjadinya penyakit Bell’s palsy belum dapat dipastikan, sering kali penyakit ini dikaitkan dengan infeksi virus. Beberapa virus yang berhubungan dengan Bell’s palsy termasuk virus yang menyebabkan beberapa penyakit di bawah ini:

Sekali terinfeksi, saraf wajah pada pasien dengan radang dan bengkak menyebabkan kelumpuhan total atau pada salah satu sisi wajah.

Faktor risiko Bell's palsy

Beberapa faktor  yang meningkatkan risiko terkena kondisi ini adalah:

  • Wanita hamil, terutama pada masa kehamilan di trimester terakhir atau pada beberapa minggu pertama setelah melahirkan.
  • Infeksi pernapasan seperti influenza atau flu.
  • Diabetes.
  • Riwayat anggota keluarga yang mengidap Bell’s palsy.

Komplikasi Bell's palsy

Bell’s palsy yang tidak terlalu parah biasanya bisa menghilang dalam kurun waktu satu bulan saja. Namun, pada kasus yang lebih parah, kondisi ini bisa menyebabkan berbagai komplikasi, seperti: 

  • Kerusakan pada saraf wajah yang tidak bisa disembuhkan.
  • Pertumbuhan serat saraf yang terjadi secara tak normal. Kondisi ini bisa menyebabkan kontraksi otot yang tidak diinginkan saat Anda berusaha menggerakkan otot lainnya.
  • Kebutaan sebagian atau seluruhnya pada mata yang tidak dapat ditutup. Kondisi ini bisa terjadi karena kekeringan parah dan goresan pada kornea. 

Diagnosis & Pengobatan Bell's palsy

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk Bell’s palsy?

Kondisi lain, seperti stroke, infeksi, penyakit Lyme, dan tumor, juga dapat menyebabkan otot wajah melemah, sehingga memunculkan gejala mirip Bell’s palsy. Jika penyebab dari gejala yang Anda alami tidak jelas, dokter mungkin akan melakukan serangkaian tes. 

Dokter memeriksa ulang riwayat pengobatan dan telinga, hidung, dan mulut. Lalu, dokter akan melakukan CT scan atau MRI otak, ditambah dengan tes darah untuk menemukan penyebab Bell’s palsy.

Selain itu, dokter juga mungkin melakukan tes yang lebih spesial seperti tanda elektromekanikal (EMG) untuk mempelajari aktivitas saraf dan memprediksi peluang sembuhnya penyakit.

Apa saja pilihan pengobatan untuk Bell’s palsy?

Pengobatan penyakit ini biasanya tergantung berdasarkan tingkat keparahan risiko dan gejalanya. Pengobatan Bell’s palsy biasanya mencakup rencana terapi, pengobatan, dan pemulihan. 

Namun, ada kalanya, penggunaan obat dan pengobatan lain juga diperlukan. Tujuannya untuk memperbaiki fungsi saraf wajah, mengurangi kerusakan saraf, dan melindungi bagian mata.

Pengobatan yang paling umum termasuk penggunaan prednison untuk mengurangi peradangan pada saraf. Lalu, penggunaan agen antivirus seperti acyclovir (biasanya digunakan untuk mengobati infeksi herpes).

Khususnya,  bila dokter mencurigai adanya peran infeksi virus pada penyakit yang Anda alami. Tak lupa, perawatan mata untuk mencegah mata kering dan abrasi pada kornea.

Beberapa pilihan pengobatan untuk Bell’s palsy adalah:

Obat-obatan

Umumnya, obat-obatan yang digunakan untuk menangani kondisi ini adalah:

1. Kortikosteroid

Obat-obatan kortikosteroid seperti prednison merupakan agen anti-peradangan yang kuat. Obat-obatan ini dapat mengurangi pembengkakan saraf-saraf wajah. Kortikosteroid dapat bekerja maksimal jika dikonsumsi beberapa hari ketika gejala dimulai. 

2. Obat antivirus

Antivirus yang diberikan bersamaan dengan steroid mungkin bermanfaat bagi beberapa orang, tetapi ini masih belum terbukti. 

Terapi fisik

Otot yang lumpuh dapat menyusut dan memendek, menyebabkan kontraktur permanen. Seorang ahli terapi fisik dapat menunjukkan Anda cara memijat dan melatih otot-otot wajah untuk mencegah hal ini terjadi. 

Operasi

Umumnya pasien dengan gejala-gejala yang ringan akan membaik tanpa pengobatan. Namun, dalam beberapa kasus langka, pasien yang tidak dapat pulih total harus menjalani operasi untuk meredakan tekanan pada permukaan saraf atau meningkatkan pergerakan.

Pada masa lampau, operasi dekompresi dilakukan untuk menghilangkan tekanan pada saraf wajah dengan membuka bagian tulang yang melewati saraf. Namun kini, operasi tersebut tidak lagi dianjurkan. 

Pada kasus yang langka, operasi plastik mungkin diperlukan untuk memperbaiki masalah saraf wajah yang permanen. 

Pengobatan di rumah untuk Bell's palsy

Beberapa perubahan gaya hidup dan pengobatan rumahan yang mungkin membantu mengatasi Bell’s palsy adalah:

1. Melindungi mata yang tidak bisa ditutup

Gunakan obat pelumas mata pada pagi dan siang hari, lalu gunakan salep mata pada malam hari untuk menjaga mata agar tetap lembab.

Jika memungkinkan, gunakan kacamata atau alat pelindung mata lainnya pada siang hari. Sementara, gunakan penutup mata pada malam hari agar tidak tergaruk atau tergores.

2. Gunakan obat pereda rasa sakit

Jika Anda merasa sakit, Anda boleh menggunakan obat pereda rasa sakit yang dapat dibeli di apotek tanpa resep dokter. Contohnya, aspirin, ibuprofen, atau acetaminophen untuk mengurangi rasa sakit.

3. Latihan terapi fisik

Idealnya, terapi fisik memang didampingi oleh ahli terapi. Namun, jika Anda sudah bisa melakukannya secara mandiri, tak ada salahnya melakukan terapi di rumah tanpa bantuan orang lain.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Psikopat

Psikopat adalah gangguan kepribadian yang penderitanya cenderung bertindak kriminal. Simak informasi lengkap mengenai psikopat di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 10 Februari 2021 . Waktu baca 12 menit

Lebih Baik Kompres Dingin atau Hangat untuk Menurunkan Demam?

Mana yang lebih baik untuk menurunkan demam: kompres dingin atau hangat? Simak masing-masing penjelasannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan, Gejala dan Kondisi Umum 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Apa yang Terjadi pada Pasien Setelah Stroke Berlalu?

Setelah kondisi stroke, terdapat beberapa dampak yang mungkin muncul pada tubuh. Berikut adalah hal yang dapat terjadi pasca stroke.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Stroke, Kesehatan Otak dan Saraf 10 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

4 Jenis Narkotika Populer di Indonesia dan Bahayanya Bagi Tubuh

Dari sekian banyak obat-obatan terlarang, BNN mencatat empat jenis narkotika yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia. Apa saja? Yuk cari tahu di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Obat A-Z, Obat-obatan & Suplemen A-Z 8 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit

Direkomendasikan untuk Anda

oral thrush

Meski Tampak Sama, Ini Beda Oral Trush, Lidah Peta, dan Oral Hairy Leukoplakia (OHL)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
posisi tidur baik dan buruk

Berbagai Posisi Tidur yang Baik dan Buruk untuk Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Dipublikasikan tanggal: 15 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
sindrom pura-pura sakit

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 13 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
komplikasi stroke

13 Komplikasi yang Mungkin Terjadi Akibat Stroke, Apa Saja?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 12 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit