Mengulik Penyebab dan Faktor Risiko dari Penyakit Alzheimer

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 24 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Penyakit Alzheimer adalah salah satu jenis demensia yang paling umum menyerang lanjut usia. Salah satu gejala khasnya adalah membuat penderitanya mudah lupa atau hilang ingatan alias linglung. Namun, tahukah Anda apa penyebab dari penyakit Alzheimer? Yuk, cari tahu jawabannya pada ulasan berikut ini.

Penyebab utama penyakit Alzheimer

Efek obat stroke alami pada otak

Penyakit Alzheimer merupakan penyakit progresif yang menyebabkan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir, dan berperilaku. Hingga kini, penyebab pasti dari penyakit Alzheimer tidak sepenuhnya dipahami.

Namun, ilmuwan berpendapat bahwa penyakit ini terjadi akibat kombinasi faktor genetik, gaya hidup dan lingkungan yang memengaruhi otak dari waktu ke waktu.

Di samping itu, penyakit ini juga memiliki keterkaitan dengan masalah pada protein di otak yang gagal berfungsi secara normal, mengganggu kinerja sel-sel otak, dan melepaskan racun. Inilah yang membuat sel-sel otak menjadi rusak, kehilangan koneksi satu sama lain, dan akhirnya mati.

Kerusakan paling sering terjadi di wilayah otak yang mengontrol memori, tetapi prosesnya dimulai bertahun-tahun sebelum gejala pertama muncul. Seiring waktu kerusakan otak dapat menyebar membentuk pola dan pada tahap akhir otak akan mengalami penyusutan.

Guna mencari tahu penyebab dari penyakit Alzheimer, hingga kini meneliti hal-hal berikut ini:

Plak

Plak dapat terbentuk di otak dan dicurigai dapat merusak jaringan di otak. Plak ini terbuat dari beta-amiloid, yakni protein yang ada di otak. Ketika protein ini berkumpul dan mengendap, kemungkinan ada efek toksik (racun) yang dihasilkan. Racun tersebut dapat mengganggu komunikasi sel ke sel, sehingga menyebabkan kerusakan.

Protein Tau

Protein Tau di otak berfungsi sebagai sistem transportasi untuk membawa nutrisi dan bahan penting lainnya. Pada penyakit Alzheimer, protein tau berubah bentuk dan mengatur dirinya sendiri menjadi struktur yang  kusut. Kekusutan struktur ini mengganggu sistem transportasi sel di otak dan menimbulkan efek racun bagi otak.

Faktor penyebab tingginya risiko penyakit Alzheimer

akibat stroke otak rusak

Meskipun penyebab dari penyakit ini tidak diketahui secara pasti. Peneliti sudah menemukan berbagai faktor yang bisa meningkatkan risikonya seperti diansir dari laman National Health Service:

  • Usia

Penyakit Alzheimer akan semakin meningkat risikonya seiring bertambahnya usia. Pada kebanyakan kasus penyakit Alzheimer juga ditemukan pada orang-orang yang berusia 65 tahun ke atas.

Perlu diketahui bahwa risikonya menjadi berlipat ganda setiap 5 tahun sekali, setelah Anda mencapai usia 65 tahun. Walaupun begitu, tidak menutup kemungkinan 1 dari 20 orang bisa terkena penyakit ini di usia yang lebih muda daripada usia rata-rata.

  • Riwayat kesehatan keluarga

Salah satu penyebab tingginya risiko penyakit Alzheimer adalah riwayat kesehatan keluarga. Gen yang Anda warisi dari orang tua dapat menyumbangkan risiko penyakit Alzheimer, meskipun peningkatan risikonya kecil.

Jika ada anggota keluarga Anda terkena penyakit ini dari generasi ke generasi, terutama di usia muda, konseling dan tes genetik perlu dilakukan. Tujuannya, untuk mendapatkan informasi peluang terkena penyakit di usia tua dan tindakan pencegahan penyakit Alzheimer yang bisa dilakukan.

  • Down syndrome

Masalah kesehatan tertentu, contohnya Down syndrome dapat menjadi faktor penyebab tingginya risiko penyakit Alzheimer. Meski tidak semua, beberapa orang yang mengidap penyakit ini diketahui mengembangkan penyakit Alzheimer di usia tua.

Orang dengan sindrom Down dilahirkan dengan salinan ekstra kromosom 21, yang membawa gen APP. Gen ini menghasilkan protein spesifik yang disebut protein prekursor amiloid (APP). Terlalu banyak protein APP menyebabkan penumpukan gumpalan protein yang disebut plak beta-amiloid di otak.

Pada usia 40, hampir semua orang dengan sindrom Down memiliki plak amiloid, bersama dengan endapan protein lainnya yang menyebabkan kekusutan di otak. Kondisi tersebut nantinya akan menyebabkan masalah dengan fungsi sel otak dan meningkatkan risiko terkena Alzheimer.

Namun, tidak semua pasien dengan plak otak ini akan mengalami gejala Alzheimer. Menurut perkiraan, jumlahnya mencapai 50% atau lebih. Orang dengan sindrom Down biasanya mulai menunjukkan gejala penyakit Alzheimer di usia 50-an atau 60-an.

  • Cedera kepala

Faktor lain yang dapat menyebabkan tingginya risiko penyakit Alzheimer adalah mengalami cedera pada kepala yang parah.

Studi menunjukkan bahwa risiko ini umumnya dimiliki oleh orang yang mewarisi gen apolipoprotein E (APOE) atau disebut juga dengan APOE-e4. Namun hingga kini, peneliti masih melakukan pengamatan lebih dalam.

  • Penyakit kardiovaskular (penyakit jantung dan pembuluhnya)

Penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup tertentu yang terkait dengan penyakit jantung dan masalah pembuluh darah di sekitarnya, dapat menjadi penyebab risiko penyakit Alzheimer meningkat. Gaya hidup yang dimaksud adalah:

Kualitas tidur yang buruk, seperti mengalami insomnia, dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan. Salah satunya penyakit Alzheimer. Ini karena kualitas tidur yang buruk berpengaruh pada kesehatan otak dan mental yang bisa meningkatkan risiko penyakit demensia.

  • Gangguan kognitif ringan

Gangguan kognitif ringan adalah penurunan daya ingat atau kemampuan berpikir. Akan tetapi, kondisi ini tidak menghalangi seseorang untuk berfungsi dalam lingkungan sosial atau kerja. Orang yang mengidap gangguan ini diketahui memiliki risiko tinggi terkena penyakit Alzheimer.

Selain faktor-faktor yang disebutkan di atas, ada juga beberapa hal yang bisa jadi penyebab tingginya risiko penyakit Alzheimer, yaitu:

  • Memiliki gangguan pendengaran.
  • Mengalami depresi dan tidak mendapat pengobatan atau depresi sudah parah.
  • Kesepian dan merasa terisolasi dalam lingkungan sosial.
  • Gaya hidup yang buruk, yakni malas bergerak dan malas untuk olahraga.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

3 Gerakan Dasar Senam Otak untuk Meningkatkan Fokus, Juga Mengasah Kreativitas

Senam tak hanya untuk tubuh, senam otak yang dapat mengasah pikiran Anda dan membuat Anda lebih fokus. Bagaimana gerakan dasar senam otak dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Otak dan Saraf 29 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

Kejang Parsial

Kejang parsial bisa terjadi pada siapa saja. Seberapa umumkah kondisi ini? Bisakah dicegah dan bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Otak dan Saraf, Epilepsi 23 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Perdarahan Subarachnoid

Perdarahan subarachnoid adalah perdarahan mendadak di celah antara otak dan membran tengah yang membungkus otak. Apa gejala, penyebab dan pengobatannya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Otak dan Saraf, Penyakit Saraf Lainnya 22 Desember 2020 . Waktu baca 10 menit

Trauma Otak

Trauma otak adalah penyakit. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, pengobatan, obat, diet, serta cara mengontrol dan mencegahnya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph

Direkomendasikan untuk Anda

meningioma adalah

Meningioma

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 9 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
gegar otak adalah

Gegar Otak

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
manfaat efek musik pada otak

5 Efek Musik Terhadap Kinerja Otak Manusia

Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 1 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
mitos tentang tidur

Mengenal 4 Tahapan Tidur: Dari “Tidur Ayam” Hingga Tidur Pulas

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 1 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit