7 Hal yang Wajib Wanita Pahami Tentang Kemoterapi untuk Kanker Payudara

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Kemoterapi (disingkat kemo) adalah salah satu pengobatan utama untuk pengidap kanker payudara. Prosedur ini efektif mematikan dan menghilangkan sel kanker agar tidak kembali lagi. Namun, cukup banyak wanita yang masih ragu-ragu menjalani kemo karena risiko efek sampingnya yang kadang memberatkan. Benarkah selalu begitu? Baca selengkapnya di sini.

Apa itu kemoterapi kanker payudara?

Kemoterapi adalah pengobatan kanker menggunakan obat-obatan khusus yang berfungsi mematikan sel kanker, dalam hal ini kanker payudara.

Obat biasanya disuntikkan ke pembuluh darah atau langsung diminum. Kadang obat diberikan lewat suntikan langsung ke cairan tulang belakang yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Mana pun jalur yang digunakan, obat akan ikut mengalir dalam aliran darah untuk mencapai sel kanker yang ada di sekitar jaringan payudara.

Kemoterapi biasanya mencakup rangkaian pengobatan yang bisa terdiri dari 4 sampai 8 siklus. Satu siklus biasanya terdiri dari beberapa macam pengobatan. Setiap pengobatan bisa berlangsung beberapa jam, atau beberapa hari, tergantung dosis dan jenis obatnya.

Membagi sesi kemoterapi dalam beberapa siklus dapat membunuh lebih banyak sel kanker, dan memberikan waktu yang cukup buat tubuh Anda pulih. Pada umumnya satu rangkaian kemoterapi bisa berlangsung dari 3 sampai 6 bulan, atau bisa lebih lama dari itu.

Setiap mau memulai siklus baru, dokter akan memeriksa kondisi Anda saat ini dan seberapa baik pengobatan sebelumnya bekerja. Kemudian, dokter dapat menyesuaikan rencana pengobatan selanjutnya agar proses pemulihannya lancar.

Obat-obatan yang digunakan dalam kemoterapi kanker payudara

Kemoterapi paling efektif jika ada beberapa kombinasi obat yang digunakan. Beberapa jenis obat yang biasanya diberikan dalam kemoterapi adjuvant dan neoadjuvant yaitu:

  • Antrasiklin, seperti doxorubicin (Adriamycin) dan epirubicin (Ellence)
  • Taxanes, seperti paclitaxel (Taxol) dan docetaxel (Taxotere)
  • 5-fluorouracil (5-FU)
  • Cyclophosphamide (Cytoxan)
  • Carboplatin (Paraplatin)

Biasanya dokter paling sering mengombinasikan 2 sampai 3 obat-obatan ini dalam kemoterapi.

Sementara untuk kanker payudara stadium lanjut, obat kemoterapi yang digunakan yaitu:

  • Taxanes, seperti paclitaxel (Taxol), docetaxel (Taxotere), dan paclitaxel yang terikat albumin (Abraxane)
  • Antrasiklin (Doksorubisin, liposomal doxorubicin pegilasi, dan Epirubisin)
  • Agen Platinum (cisplatin, carboplatin)
  • Vinorelbine (Navelbine)
  • Capecitabine (Xeloda)
  • Gemcitabine (Gemzar)
  • Ixabepilone (Ixempra)
  • Eribulin (Halaven)

Meski kombinasi obat sering digunakan, kanker payudara stadium lanjut lebih sering diobati dengan kemo tunggal. Namun, masih ada kombinasi obat seperti paclitaxel plus carboplatin untuk mengobati kanker payudara lebih lanjut.

Untuk kanker HER2-positif, dokter akan memberikan satu atau lebih obat yang menargetkan HER2 untuk dikombinasikan dengan kemo.

Obat kemoterapi biasanya diberikan melalui pembuluh darah melalui jarum dan kateter di tangan atau pergelangan tangan. Kateter ini akan ditaruh di dada sebelum memulai kemoterapi.

Tes yang harus dijalani sebelum kemoterapi kanker payudara

Anda akan dianjurkan untuk menjalani tes darah, X-ray, atau CT scan dulu sebelum mulai kemo. 

Kemoterapi dapat membuat tulang berhenti melepaskan sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Oleh karena itu, dokter akan memeriksa darah Anda sebelum sebelum Anda memulai siklus baru.

Dokter akan menentukan obat apa yang bisa dipakai setelah membaca hasilnya. Hasil skrining juga disimpan untuk dibandingkan dengan hasil tes di kemudian hari, agar tahu apakah pengobatan Anda bekerja. Dokter juga akan memeriksa tinggi dan berat badan Anda untuk menentukan dosis obat.

Dokter selanjutnya dapat menganjurkan tes untuk paru-paru, jantung, ginjal, dan hati untuk memeriksa apakah tubuh bisa menerima obat yang diberikan.

Kapan wanita butuh kemoterapi untuk kanker payudara?

Tidak semua wanita pengidap kanker payudara langsung membutuhkan kemoterapi. Biasanya prosedur ini akan direkomendasikan pada kondisi dan waktu tertentu, misalnya:

Setelah operasi (kemo adjuvant)

Kemoterapi biasanya dibutuhkan setelah operasi untuk membunuh sel kanker yang mungkin tertinggal atau menyebar tetapi tidak terlihat oleh tes pencitraan. Jika dibiarkan tumbuh, sel kanker bisa membentuk tumor baru di bagian tubuh lain.

Selain itu, prosedur ini juga bisa menurunkan risiko kanker payudara untuk tumbuh kembali.

Kemo setelah operasi sering disebut dengan kemoterapi adjuvant. Prosedur ini biasanya diberikan untuk Anda yang berisiko tinggi terkena kanker berulang, atau jika sel kanker telah menyebar ke bagian tubuh lain.

Sebelum operasi (kemo neoadjuvant)

Kemoterapi jenis ini biasanya digunakan untuk mengobati kanker payudara yang terlalu besar untuk diangkat lewat operasi langsung.

Kemoterapi dapat dilakukan sebelum operasi kanker payudara untuk mengecilkan ukuran tumor. Ini selanjutnya akan lebih memudahkan operasi karena area tumor yang diangkat tidak terlalu luas.

Selain itu, kemoterapi neoadjuvant bisa membantu dokter melihat bagaimana kanker merespon obat yang diberikan. Jika rangkaian kemoterapi pertama ternyata tidak mengecilkan tumor, tandanya Anda butuh obat lain yang lebih kuat.

Prosedur ini juga dapat menurunkan risiko kambuhnya kanker payudara.

Tidak semua orang dengan kanker payudara perlu menjalani kemoterapi sebelum operasi. Kemoterapi neoadjuvant biasanya kerap digunakan untuk:

Kanker payudara stadium lanjut

Kemoterapi biasa dilakukan untuk kasus kanker payudara yang telah menyebar hingga ke luar payudara, termasuk ketiak.

Lama durasi perawatan biasanya tergantung pada seberapa baik obat bekerja dan kemampuan tubuh menoleransi obat. Biasanya prosedur ini digunakan dengan kombinasi terapi yang ditargetkan.

Tujuan utama kemoterapi jenis ini bukan menyembuhkan tetapi lebih pada meningkatkan kualitas hidup pasien dan memperpanjang angka harapan hidup.

Apa yang harus dipersiapkan sebelum kemoterapi kanker payudara?

Kemoterapi bisa mengenai sel sehat seperti sel darah putih, trombosit, dan sel darah merah, untuk itu minimalkan efek sampingnya dengan menjaga kondisi. Untuk menjaga tubuh tetap fit, Anda perlu:

  • Banyak beristirahat
  • Rutin berolahraga ringan
  • Makan makanan gizi seimbang misal buah, sayur, dan biji-bijian
  • Kurangi stres dengan melakukan berbagai hal menyenangkan
  • Menghindari berbagai infeksi seperti flu misalnya dengan memakai masker agar tidak tertular dari orang lain
  • Pergi ke dokter gigi untuk memeriksa tanda infeksi pada gigi dan gusi
  • Menjalani tes darah untuk memeriksa fungsi hati dan ginjal
  • Melalukan tes elektrokardiogram (EKG) untuk memeriksa kondisi jantung

Sebelum melakukan kemoterapi untuk kanker payudara, Anda juga perlu memberi tahu dokter mengenai obat dan suplemen yang sedang diminum. Ini karena obat-obatan tertentu bisa mengganggu kerja obat kemoterapi.

Selain melakukan hal yang berkaitan dengan kondisi tubuh, dokter juga akan memberikan formulir untuk ditandatangi. Formulir ini biasanya berisi kesediaan Anda untuk mengikuti kemoterapi berikut penjelasan tentang manfaat dan risikonya.

Sebelum prosedur, dokter biasanya akan memberikan obat antinyeri. Selain itu, dokter atau perawat juga akan memberi tahu makanan dan minuman pantangan yang sebaiknya tidak dikonsumsi.

Efek samping kemoterapi kanker payudara

Kemoterapi dapat memunculkan efek samping, baik jangka pendek hingga jangka panjang atau permanen. Efek yang dirasakan umumnya tergantung pada jenis obat yang digunakan dan kemampuan tubuh untuk menoleransinya.

Efek samping jangka pendek

Efek samping jangka pendek hampir pasti dirasakan oleh semua orang yang menjalani kemoterapi. Obat-obatan kemoterapi akan menyebar ke seluruh tubuh sehingga umumnya ikut merusak sel sehat lain yang ada di tubuh, terutama folikel rambut, sumsum tulang, dan saluran pencernaan.

Selain itu, obat kemoterapi juga bisa memengaruhi ujung saraf di tangan dan kaki, membuat bagian tersebut mengalami mati rasa, nyeri, terbakar atau kesemutan, sensitif terhadap dingin atau panas, atau lemah.

Secara umum, kemoterapi memberikan berbagai efek seperti:

  • Rambut rontok
  • Kelelahan
  • Kehilangan selera makan
  • Mual dan muntah
  • Sembelit atau diare
  • Luka pada mulut
  • Kuku lebih rapuh
  • Risiko infeksi meningkat karena sel darah putih yang melawan infeksi lebih sedikit
  • Kerusakan saraf atau neuropati
  • Masalah dengan fungsi kognitif yang memengaruhi daya ingat dan konsentrasi

Semua efek ini biasanya akan hilang setelah perawatan selesai atau setahun pascakemoterapi selesai.

Selalu ceritakan pada dokter mengenai efek samping yang dirasakan. Jika efeknya sudah terasa terlalu parah, dokter akan memberikan obat penawar untuk meminimalisir efek samping.

Efek samping jangka panjang

Obat kemoterapi untuk kanker payudara bisa menyebabkan berbagai efek samping jangka panjang seperti:

Infertilitas atau gangguan kesuburan

Beberapa obat anti-kanker bisa merusak indung telur dan membuat wanita menjadi tidak subur. Efek ini bisa menyebabkan gejala menopause seperti hot flashes dan vagina yang kering. Selain itu, menstruasi juga bisa jadi tidak teratur atau bahkan berhenti total.

Jika ovulasi berhenti, kehamilan menjadi hal yang mustahil untuk terjadi. Sebagian wanita juga bisa mengalami menopause dini akibat obat kemoterapi yang diberikan.

Osteopenia dan osteoporosis

Wanita yang mengalami menopause dini karena kemoterapi kanker payudara berisiko tinggi mengalami pengeroposan tulang. Pengeroposan tulang adalah faktor penyebab osteopenia dan osteoporosis.

Hal inilah yang membuat banyak dokter menyarankan pasiennya untuk melakukan tes kepadatan tulang secara berkala.

Kerusakan jantung

Kemoterapi kanker payudara berisiko melemahkan otot jantung dan menyebabkan masalah jantung lainnya. Meski risikonya kecil, Anda tetap perlu waspada dan memeriksakan diri ke dokter jika ada gejala tidak biasa pada jantung.

Leukimia

Kemoterapi untuk kanker payudara juga bisa memicu kemunculan kanker lain seperti leukimia. Kondisi ini kerap muncul beberapa tahun setelah kemoterapi selesai.

Selain berbagai keluhan fisik, kemoterapi juga bisa memunculkan masalah mental serius. Kecemasan hingga depresi sering kali jadi masalah mental yang dialami oleh para pengidap kanker payudara. Untuk itu, berkonsultasi ke psikolog atau bergabung dalam kelompok pengidap kanker payudara bisa jadi solusi yang patut dicoba.

Apa yang perlu dilakukan setelah kemoterapi?

Setelah kemoterapi, dokter akan meminta Anda untuk rutin memeriksakan diri setiap 4 hingga 6 bulan. Hal ini dilakukan untuk memantau kondisi dan efek samping jangka panjang yang Anda alami. Dokter juga akan terus memantau keberadaan sel kanker apakah berrisiko muncul kembali atau tidak.

Umumnya dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik seperti pemeriksaan payudara dan gejala lain yang Anda alami. Selain pemeriksaan fisik payudara, Anda akan disarankan untuk menjalani mammogram tahunan. Dokter juga akan meminta Anda untuk melakukan tes lainnya jika dibutuhkan.

Jika merasa ada gejala tidak biasa, Anda bisa mencatatnya untuk kemudian dilaporkan ke dokter yang bersangkutan. Jangan sungkan untuk memeriksakan diri ke dokter jika Anda menemukan berbagai gejala yang mengkhawatirkan selama pemulihan kemoterapi kanker payudara.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca