Serba-serbi Kemoterapi Kanker Payudara yang Perlu Anda Tahu

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11/05/2020
Bagikan sekarang

Kemoterapi (disingkat kemo) adalah salah satu pengobatan utama untuk pengidap kanker payudara. Kemoterapi efektif mematikan dan menghilangkan sel kanker pada payudara agar tidak kembali lagi. Namun, cukup banyak wanita yang ragu menjalani kemoterapi kanker payudara karena risiko efek sampingnya. Benarkah selalu begitu? Baca selengkapnya di sini.

Apa itu kemoterapi kanker payudara?

Kemoterapi adalah pengobatan kanker menggunakan obat-obatan khusus yang berfungsi mematikan sel kanker, dalam hal ini kanker payudara.

Obat dalam kemoterapi kanker payudara biasanya disuntikkan ke pembuluh darah atau langsung diminum. Kadang obat kemoterapi diberikan lewat suntikan langsung ke cairan tulang belakang yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang.

Mana pun jalur kemoterapi yang digunakan, obat akan ikut mengalir dalam aliran darah untuk mencapai sel kanker yang ada di sekitar jaringan payudara.

Kemoterapi kanker payudara biasanya mencakup rangkaian pengobatan yang bisa terdiri dari 4-8 siklus. Satu siklus biasanya terdiri atas beberapa macam pengobatan.

Setiap pengobatan kemoterapi kanker payudara bisa berlangsung beberapa jam atau beberapa hari, tergantung dosis dan jenis obatnya.

Membagi sesi kemoterapi kanker payudara dalam beberapa siklus dapat membunuh lebih banyak sel kanker, dan memberikan waktu yang cukup buat tubuh Anda pulih. Pada umumnya, satu rangkaiankemoterapi bisa berlangsung dari 3-6 bulan, atau lebih lama.

Setiap mau memulai siklus baru, dokter akan memeriksa kondisi Anda saat ini dan seberapa baik pengobatan sebelumnya bekerja. Baru dokter dapat menyesuaikan rencana pengobatan selanjutnya agar proses pemulihannya lancar.

Obat-obatan yang digunakan dalam kemoterapi kanker payudara

Kemoterapi kanker payudara paling efektif jika ada beberapa kombinasi obat yang digunakan. Beberapa jenis obat yang biasanya diberikan dalam kemoterapi, yaitu:

Biasanya dokter paling sering mengombinasikan 2-3 obat-obatan ini dalam kemoterapi kanker payudara.

Sementara untuk kanker payudara stadium lanjut, obat kemoterapi kanker payudara yang digunakan, yaitu:

  • Taxanes, seperti paclitaxel (Taxol), docetaxel (Taxotere), dan paclitaxel yang terikat albumin (Abraxane)
  • Antrasiklin (Doksorubisin, liposomal doxorubicin pegilasi, dan Epirubisin)
  • Agen Platinum (cisplatin, carboplatin)
  • Vinorelbine (Navelbine)
  • Capecitabine (Xeloda)
  • Gemcitabine (Gemzar)
  • Ixabepilone (Ixempra)
  • Eribulin (Halaven)

Meski kombinasi obat sering digunakan, kanker payudara stadium lanjut lebih sering diobati dengan kemoterapi tunggal. Namun, masih ada kemoterapi dengan kombinasi obat seperti paclitaxel plus carboplatin untuk mengobati kanker payudara lebih lanjut.

Untuk kanker HER2-positif, dokter akan memberikan satu atau lebih obat yang menargetkan HER2 untuk dikombinasikan dengan kemo.

Obat kemoterapi kanker payudara biasanya diberikan melalui pembuluh darah melalui jarum dan kateter di tangan atau pergelangan tangan. Kateter ini akan ditaruh di dada sebelum memulai kemoterapi kanker payudara.

Tes yang harus dijalani sebelum kemoterapi kanker payudara

Anda akan dianjurkan untuk menjalani tes darah, X-ray, atau CT scan dulu sebelum mulai kemoterapi kanker payudara. 

Kemoterapi, termasuk dalam pengobatan kanker payudara, dapat membuat tulang berhenti melepaskan sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Oleh karena itu, dokter akan memeriksa darah Anda sebelum sebelum Anda memulai siklus baru.

Dokter juga akan memeriksa tinggi dan berat badan Anda untuk menentukan dosis obat.

Dokter selanjutnya dapat menganjurkan tes untuk paru-paru, jantung, ginjal, dan hati untuk memeriksa apakah tubuh bisa menerima obat yang diberikan.

Kapan wanita butuh kemoterapi untuk kanker payudara?

Tidak semua wanita pengidap kanker payudara langsung membutuhkan kemoterapi. Biasanya prosedur ini akan direkomendasikan pada kondisi dan waktu tertentu, misalnya:

Setelah operasi (kemo adjuvant)

Kemoterapi biasanya dibutuhkan setelah operasi untuk membunuh sel kanker payudara yang mungkin tertinggal atau menyebar tetapi tidak terlihat oleh tes pencitraan. Jika dibiarkan tumbuh, sel kanker bisa membentuk tumor baru di bagian tubuh lain.

Selain itu, prosedur ini juga bisa menurunkan risiko kanker payudara untuk tumbuh kembali.

Kemo setelah operasi sering disebut dengan kemoterapi adjuvant. Prosedur ini biasanya diberikan untuk Anda yang berisiko tinggi terkena kanker berulang, atau jika sel kanker telah menyebar ke bagian tubuh lain.

Sebelum operasi (kemo neoadjuvant)

Kemoterapi jenis ini biasanya digunakan untuk mengobati kanker payudara yang terlalu besar untuk diangkat lewat operasi langsung.

Kemoterapi dapat dilakukan sebelum operasi kanker payudara untuk mengecilkan ukuran tumor. Ini selanjutnya akan lebih memudahkan operasi karena area tumor yang diangkat tidak terlalu luas.

Selain itu, kemoterapi neoadjuvant bisa membantu dokter melihat bagaimana kanker merespons obat yang diberikan. Jika rangkaian kemoterapi pertama ternyata tidak mengecilkan tumor, tandanya Anda butuh obat lain yang lebih kuat.

Kemoterapi ini juga dapat menurunkan risiko kambuhnya kanker payudara.

Tidak semua orang dengan kanker payudara perlu menjalani kemoterapi sebelum operasi. Kemoterapi kanker payudara neoadjuvant biasanya kerap digunakan untuk:

  • Kanker payudara yang meradang
  • Kanker payudara HER2-positif
  • Kanker payudara triple negatif
  • Kanker yang telah menyebar ke kelenjar getah bening
  • Tumor yang berukuran besar
  • Tumor yang agresif atau mudah dan cepat menyebar

Kanker payudara stadium lanjut

Kemoterapi biasa dilakukan untuk kasus kanker payudara yang telah menyebar hingga ke luar payudara, termasuk ketiak.

Lama durasi perawatan biasanya tergantung pada seberapa baik obat bekerja dan kemampuan tubuh menoleransi obat. Biasanya prosedur ini digunakan dengan kombinasi terapi yang ditargetkan.

Tujuan utama kemoterapi jenis ini bukan menyembuhkan tetapi lebih pada meningkatkan kualitas hidup pasien dan memperpanjang angka harapan hidup.

Persiapan sebelum kemoterapi kanker payudara

efek samping jangka panjang pengobatan kemoterapi

Kemoterapi kanker payudara bisa memengaruhi sel sehat, seperti sel darah putih, trombosit, dan sel darah merah. Itu sebabnya Anda perlu menjaga tubuh tetap fit untuk meminimalisasi efek sampingnya, dengan cara:

  • Banyak beristirahat
  • Rutin berolahraga ringan
  • Makan makanan gizi seimbang, seperti buah, sayur, dan biji-bijian
  • Kurangi stres dengan melakukan berbagai hal menyenangkan
  • Menghindari berbagai infeksi seperti flu dengan memakai masker agar tidak tertular dari orang lain
  • Pergi ke dokter gigi untuk memeriksa tanda infeksi pada gigi dan gusi
  • Menjalani tes darah untuk memeriksa fungsi hati dan ginjal
  • Melalukan tes elektrokardiogram (EKG) untuk memeriksa kondisi jantung

Sebelum melakukan kemoterapi untuk kanker payudara, Anda juga perlu memberi tahu dokter mengenai obat dan suplemen yang sedang diminum. Ini karena obat-obatan tertentu bisa mengganggu kerja obat kemoterapi.

Selain melakukan hal yang berkaitan dengan kondisi tubuh, dokter juga akan memberikan formulir untuk ditandatangi. Formulir ini biasanya berisi kesediaan Anda untuk mengikuti kemoterapi berikut penjelasan tentang manfaat dan risikonya.

Sebelum prosedur, dokter biasanya akan memberikan obat antinyeri. Selain itu, dokter atau perawat juga akan memberi tahu makanan dan minuman pantangan yang sebaiknya tidak dikonsumsi.

Efek samping kemoterapi yang paling sering terjadi

Kemoterapi memiliki beberapa efek samping umum. Kemoterapi dapat menurunkan jumlah sel darah putih, sel darah merah, dan platelet yang Anda miliki.

Artinya, Anda lebih mudah mengalami infeksi, lelah, dan rentan mimisan dan masalah perdarahan lainnya.

Kelelahan adalah efek paling umum dari kemoterapi. Hal ini dapat berlangsung untuk beberapa bulan setelah perawatan usai. Seberapa cepat Anda dapat pulih tergantung pada kondisi kesehatan, banyaknya perawatan yang Anda lalui, dan pengobatan lain yang Anda gunakan.

Kemoterapi dapat memunculkan efek samping, baik jangka pendek hingga jangka panjang atau permanen. Efek yang dirasakan umumnya tergantung pada jenis obat yang digunakan dan kemampuan tubuh untuk menoleransinya.

Efek samping jangka pendek

Efek samping jangka pendek hampir pasti dirasakan oleh semua orang yang menjalani kemoterapi, termasuk untuk kanker payudara. Obat-obatan kemoterapi kanker payudara akan menyebar ke seluruh tubuh sehingga umumnya ikut merusak sel sehat lain yang ada di tubuh, terutama folikel rambut, sumsum tulang, dan saluran pencernaan.

Selain itu, obat kemoterapi kanker payudara juga bisa memengaruhi ujung saraf di tangan dan kaki, membuat bagian tersebut mengalami mati rasa, nyeri, terbakar atau kesemutan, sensitif terhadap dingin atau panas, atau lemah.

Secara umum, kemoterapi untuk kanker payudara memberikan berbagai efek seperti:

  • Rambut rontok
  • Kelelahan
  • Kehilangan selera makan
  • Mual dan muntah
  • Sembelit atau diare
  • Luka pada mulut
  • Kuku lebih rapuh
  • Risiko infeksi meningkat karena sel darah putih yang melawan infeksi lebih sedikit
  • Kerusakan saraf atau neuropati
  • Masalah dengan fungsi kognitif yang memengaruhi daya ingat dan konsentrasi

Selalu ceritakan pada dokter mengenai efek samping yang dirasakan. Jika efeknya sudah terasa terlalu parah, dokter akan memberikan obat penawar untuk meminimalisir efek samping.

Efek samping jangka panjang

Beberapa kemoterapi dapat menyebabkan efek samping jangka panjang. Anda mungkin akan merasa lelah untuk beberapa waktu setelah perawatan usai.

Untuk beberapa orang, dibutuhkan hingga hampir setahun sampai energi kembali. Obat kemoterapi untuk kanker payudara bisa menyebabkan berbagai efek samping jangka panjang, seperti:

Infertilitas atau gangguan kesuburan

Beberapa obat anti-kanker bisa merusak indung telur dan membuat wanita menjadi tidak subur. Efek ini bisa menyebabkan gejala menopause, seperti hot flashes dan vagina yang kering.

Selain itu, menstruasi juga bisa jadi tidak teratur atau bahkan berhenti total.

Jika Anda belum mengalami menopause sebelum terkena kanker payudara, Anda perlu mengetahui bahwa kemoterapi dapat memengaruhi kemampuan Anda untuk hamil.

Hal ini tergantung pada seberapa dekat usia Anda pada usia normal menopause. Menstruasi akan kembali dari 6 bulan sampai 1 tahun setelah perawatan selesai, atau mungkin tidak terjadi lagi dan Anda mengalami menopause dini. Jika Anda kembali mengalami menstruasi, kemungkinan tidak serutin sebelumnya.

Jika menstruasi Anda berhenti, hal ini dikarenakan perawatan yang menghentikan ovarium dalam memproduksi hormon wanita.

Osteopenia dan osteoporosis

Wanita yang mengalami menopause dini karena kemoterapi kanker payudara berisiko tinggi mengalami pengeroposan tulang. Pengeroposan tulang adalah faktor penyebab osteopenia dan osteoporosis.

Hal inilah yang membuat banyak dokter menyarankan pasiennya untuk melakukan tes kepadatan tulang secara berkala.

Kerusakan jantung

Kemoterapi kanker payudara berisiko melemahkan otot jantung dan menyebabkan masalah jantung lainnya. Meski risikonya kecil, Anda tetap perlu waspada dan memeriksakan diri ke dokter jika ada gejala tidak biasa pada jantung.

Leukemia

Kemoterapi untuk kanker payudara juga bisa memicu kemunculan kanker lain, seperti leukemia. Kondisi ini kerap muncul beberapa tahun setelah kemoterapi selesai.

Selain berbagai keluhan fisik, kemoterapi untuk kanker payudara juga bisa memunculkan masalah mental serius. Kecemasan hingga depresi sering kali jadi masalah mental yang dialami oleh para pengidap kanker payudara.

Untuk itu, berkonsultasi ke psikolog atau bergabung dalam kelompok pengidap kanker payudara bisa jadi solusi yang patut dicoba.

Efek samping lainnya dapat meliputi:

  • Perubahan rasa dan nafsu makan
  • Perubahan siklus menstruasi
  • Sakit mata – terasa seperti ada pasir pada mata, dapat diatasi dengan obat tetes mata
  • Diare
  • Mual
  • Rambut rontok
  • Rasa nyeri pada mulut
  • Sembelit

Efek samping mungkin akan terasa sulit dilalui. Namun kebanyakan efek samping akan hilang begitu perawatan selesai.

Beberapa jenis kemoterapi dapat meningkatkan risiko kanker lainnya di masa mendatang. Tim perawat Anda akan memberi tahu Anda jika kasus ini terjadi pada perawatan yang Anda jalani.

Apa yang perlu dilakukan setelah kemoterapi?

setelah kemoterapi rambut rontok tumbuh

Setelah kemoterapi kanker payudara, dokter akan meminta Anda untuk rutin memeriksakan diri setiap 4-6 bulan. Hal ini dilakukan untuk memantau kondisi dan efek samping jangka panjang yang Anda alami. Dokter juga akan terus memantau keberadaan sel kanker apakah berisiko muncul kembali atau tidak.

Umumnya dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik, seperti pemeriksaan payudara dan gejala lain yang Anda alami.

Anda juga disarankan menjalani mammogram setiap tahunnya. Dokter akan meminta Anda untuk melakukan tes lainnya jika dibutuhkan.

Jika merasa ada gejala tidak biasa, Anda bisa mencatatnya untuk kemudian dilaporkan ke dokter yang bersangkutan. Jangan sungkan untuk memeriksakan diri ke dokter jika Anda menemukan berbagai gejala yang mengkhawatirkan selama pemulihan kemoterapi kanker payudara.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, atau pengobatan.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"

Yang juga perlu Anda baca

7 Tips Merawat Pasien Kanker Payudara dalam Pengobatan

Merawat pasien kanker payudara membutuhkan kesabaran dan tanggung jawab yang begitu besar. Berikut tips yang bisa membantu Anda.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu

Kanker Usus Besar

Kanker usus besar adalah penyakit yang menyerang sistem pencernaan. Yuk, pelajari lebih dalam mengenai gejala, penyebab, dan cara mengatasiny berikut ini.

Ditulis oleh: Aprinda Puji

Seberapa Sering Wanita Perlu Melakukan Tes Mamografi?

Rutin melakukan tes mamografi dapat mendeteksi dini kanker payudara. Namun, kapan perlu memulai dan seberapa sering tes mamografi perlu dilakukan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila

Pewarna Rambut Permanen Ternyata Dapat Meningkatkan Risiko Kanker Payudara

Selain dapat menimbulkan kerontokan parah, ternyata pewarna rambut juga bisa meningkatkan risiko kanker payudara. Benarkah demikian?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi

Direkomendasikan untuk Anda

gerimis bikin sakit

Benarkah Gerimis Lebih Bikin Sakit Daripada Hujan?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 31/05/2020

Berbagai Manfaat Daun Kale, Si Hijau yang Kaya Zat Gizi

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
diagnosis hiv

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020
mengukur tekanan darah anak

Panduan Lengkap Mengukur Tekanan Darah Anak di Rumah

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 22/04/2020