Berbagai Cara Penularan HIV, dari yang Umum Sampai Lewat Hal-hal Tak Terduga

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Kesadaran masyarakat dunia akan penyakit HIV dan AIDS (HIV/AIDS) telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Namun, bukan berarti upaya kita mencari cara memberantas penularan HIV berhenti sampai di situ, sebab kenyataannya kasus penularan HIV dan angka kematian akibat AIDS secara global masih cukup tinggi.

Memahami bagaimana cara penularan HIV merupakan inti dari pencegahan kemunculan infeksi baru beserta komplikasinya di waktu mendatang. Terlebih, masih banyak mitos tentang penularan HIV dan AIDS beredar di luaran sana yang harus diluruskan agar kesalahpahaman tidak lagi menelan korban.

Gambaran situasi penularan HIV dan AIDS di dunia

Merangkum rilis media dari Kementerian Kesehatan RI, jumlah kasus AIDS yang dilaporkan dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2019 relatif stabil setiap tahunnya. Total jumlah pengidap AIDS dari tahun 1987 sampai dengan Juni 2019 terhitung sebanyak 117.064 orang.

Sementara itu, jumlah kasus baru HIV di Indonesia masih terus mengalami kenaikan sejak tahun 2005 sampai 2019. Total jumlah kasus infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2019 sebanyak 349.882 orang. Artinya, persentase kasus HIV di Indonesia sampai Juni 2019 naik sekitar 60,7% dari estimasi jumlah ODHA pada tahun 2016 yang sebanyak 640.443 jiwa.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 1.5 juta orang di dunia meninggal dikarenakan komplikasi terkait HIV pada tahun 2013. Sementara menurut laporan UNAIDS, ada sekitar 36,9 juta orang yang hidup dengan HIV/AIDS alias ODHA pada akhir 2017.

Gambaran situasi ini menunjukkan bahwa kita masih perlu meningkatkan kesadaran yang lebih tinggi lagi agar berhasil mencegah penularan HIV semakin meluas.

Mekanisme penularan infeksi HIV dari satu orang ke lainnya

Sering disejajarkan sebagai satu “paket” penyakit, HIV dan AIDS sebenarnya merupakan dua kondisi berbeda. HIV adalah jenis virus yang menyebabkan infeksi dan melemahkan sistem imun. Sementara AIDS adalah kumpulan penyakit yang muncul sebagai perwujudan dari stadium akhir HIV. Artinya, kondisi yang bisa ditularkan dari satu orang ke orang lain adalah infeksi HIV-nya dan bukan AIDS itu sendiri.

Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), penularan HIV hanya bisa terjadi lewat perantara cairan tubuh tertentu, yaitu darah, air mani, cairan pra-ejakulasi, cairan anus, cairan vagina, dan ASI.

Namun agar virus penyebab HIV dapat berpindah dari si inang penyakit (ODHA), cairan tersebut haruslah masuk ke dalam tubuh orang yang sehat lewat luka terbuka di kulit, selaput lendir (seperti dinding vagina, sariawan terbuka di bibir, luka pada gusi atau lidah), jaringan tubuh yang rusak (seperti luka lecet pada anus), atau disuntikkan langsung ke dalam aliran darah (dari jarum biasa atau jarum suntik).

Cara penularan HIV yang tidak mungkin

HIV tidak dapat bereproduksi dalam inang selain manusia, dan tidak mampu bertahan di luar tubuh manusia dalam waktu yang lama.

Maka, penularan HIV tidak akan mungkin terjadi lewat cara berikut:

  • Gigitan hewan, seperti gigitan nyamuk, kutu, atau serangga lainnya
  • Interaksi fisik antarmanusia yang tidak melibatkan pertukaran cairan tubuh, misalnya:
    • bersentuhan dan berpelukan
    • berjabat atau berpegangan tangan
    • tidur bersama di satu ranjang tanpa melakukan aktivitas seksual
    • cipika-cipiki
  • Berbagi alat makan dan saling pinjam pakaian atau handuk dengan pengidap HIV
  • Menggunakan kamar mandi/toilet yang sama
  • Berenang di kolam renang umum bersama pengidap HIV
  • Air liur, air mata, atau keringat yang tidak bercampur dengan darah dari orang yang positif HIV
  • Aktivitas seksual lainnya yang tidak melibatkan pertukaran cairan tubuh, misalnya, ciuman bibir atau petting (menggesekkan alat kelamin) dengan masih saling berpakaian lengkap.

Air liur, air mata, dan keringat bukanlah perantara penularan HIV yang ideal karena pada dasarnya cairan-cairan tersebut tidak mengandung jumlah virus aktif (viral load) yang cukup banyak untuk bisa menularkan infeksi ke orang lain.

Selain itu, virus HIV hanya bisa bertahan selama beberapa hari atau minggu di laboratorium dengan kondisi yang benar atau sesuai dengan di dalam tubuh manusia. Berikut adalah prinsip-prinsip yang perlu dipahami soal peluang virus HIV bertahan hidup:

  • HIV sensitif terhadap suhu tinggi. Penelitian telah menunjukkan bahwa HIV akan mati pada suhu panas, yaitu di atas 60 derajat Celcius.
  • HIV lebih mampu bertahan hidup di laboratorium pada suhu dingin, yaitu sekitar 4 hingga -70 derajat Celsius.
  • HIV sangat sensitif terhadap perubahan kadar pH atau tingkat basa-asam. Kadar pH di bawah 7 (asam) atau di atas 8 (basa) tidak mendukung kelangsungan hidup HIV.
  • HIV bisa bertahan dalam darah kering di laboratorium pada suhu kamar selama 5 sampai 6 hari, tapi harus dengan tingkat pH yang mendukung. 

Akan tetapi, prinsip-prinsip di atas disimpulkan dalam sebuah penelitian yang masih perlu didalami lagi.

Risiko penularan HIV tinggi apabila viral load tinggi

Selain mempertimbangkan risiko penularan dari jenis cairan perantaranya, Anda juga perlu mempertimbangkan jumlah viral load dalam tubuh pengidap HIV.

Viral load adalah jumlah partikel virus dalam 1 ml atau 1 cc darah. Semakin banyak jumlah virus dalam darah berarti semakin tinggi risiko Anda untuk menularkan HIV pada orang lain. Maka ketika viral load dari orang yang positif HIV berhasil dikurangi lewat pengobatan, peluang penularan HIV juga berkurang.

Namun, penularan HIV dari seseorang yang terinfeksi HIV kepada pasangannya masih mungkin terjadi meski hasil tes viral loadnya menunjukkan virus sudah tidak lagi terdeteksi.

Risiko penularan HIV dari ODHA ke pasangan seksnya tetap akan ada karena:

  • HIV masih dapat ditemukan dalam cairan kelamin (sperma, cairan vagina). Tes viral load hanya mengukur jumlah virus dalam darah.
  • Viral load dapat meningkat di antara jadwal tes rutin. Jika ini terjadi, orang tersebut lebih berpeluang untuk menularkan HIV kepada pasangannya.
  • Memiliki penyakit menular seksual lainnya dapat meningkatkan viral load dalam cairan kelamin.

Jika Anda aktif secara seksual, Anda dan pasangan harus mempertimbangkan menjalani tes HIV sebagai langkah mencegah penularan penyakit.

Cara penularan HIV yang paling umum

Ada berbagai cara penularan HIV dari yang umum sampai “langka”, yang sama-sama dapat membuat Anda berisiko lebih tinggi terkena AIDS. Nah seperti yang dijelaskan di atas, risiko penularan HIV baru akan ada apabila cairan tubuh ODHA berhasil masuk ke dalam tubuh Anda; terutama melalui perantara cara berikut ini:

1. Hubungan seks tanpa kondom

Hubungan seks yang melibatkan penetrasi vaginal (penis ke vagina) atau penetrasi anus (penis ke dubur) tanpa menggunakan kondom merupakan cara penularan HIV paling umum.

Penularan HIV lewat hubungan seks rentan terjadi dari kontak darah, air mani, cairan vagina, atau cairan praejakulasi milik orang yang terinfeksi HIV dengan luka terbuka atau lecet pada alat kelamin orang sehat, misalnya dinding dalam vagina, bibir vagina, bagian penis mana pun (termasuk lubang bukaan penis), ataupun jaringan dalam dan cincin otot anus.

Hubungan seks vaginal adalah cara penularan HIV yang paling umum pada kelompok pasangan heteroseksual, sedangkan seks anal adalah cara hubungan seksual yang paling rentan menularkan HIV pada kelompok pasangan homoseksual (gay).

Oleh sebab itu, sangatlah penting untuk selalu melindungi diri Anda dengan menggunakan kondom dalam segala bentuk aktivitas seksual apa pun. Kondom dianggap sebagai metode penghalang terbaik antara sperma dan cairan vagina untuk mencegah penularan HIV AIDS.

Namun, cara pakai yang keliru, penyalahgunaan, dan kerusakan kondom tidak dapat mengurangi risiko penularan HIV.

2. Memakai jarum suntik bekas atau bergantian

Menggunakan jarum suntik bekas secara bergantian juga merupakan cara penularan HIV yang umum. Risiko ini terutama tinggi di kalangan pengguna narkoba suntik.

Jarum yang telah digunakan oleh orang lain akan meninggalkan sisa-sisa darah. Jika orang tersebut positif memiliki HIV (baik sudah terdiagnosis resmi maupun belum ketahuan), darah mengandung virus yang tertinggal pada jarum dapat berpindah ke tubuh pemakai jarum selanjutnya melalui luka bekas suntikan.

Virus HIV nyatanya dapat hidup di dalam jarum selama 42 hari setelah kontak pertama kali, tergantung pada suhu dan faktor lainnya. Maka, ada kemungkinan bahwa satu jarum bekas dapat menjadi perantara penularan HIV kepada banyak orang yang berbeda.

Maka dari itu, pastikan untuk selalu minta peralatan seperti jarum atau alat kesehatan lainnya yang masih dalam kemasan baru tersegel, atau belum pernah dipakai sebelumnya.

3. Penularan HIV dari ibu ke bayi

Ibu hamil yang terjangkit HIV sebelum maupun masa kehamilan dapat menularkan infeksi kepada bayinya selama masih dalam kandungan lewat tali plasenta.

Risiko penularan HIV dari ibu ke bayi juga dapat terjadi selama proses persalinan apabila bayi terpapar darah, cairan ketuban yang pecah, cairan vagina, atau cairan tubuh ibu lainnya yang mengandung virus HIV dan keluar selama proses melahirkan.

Sebagian besar kasus penularan HIV dari ibu ke bayi disebabkan oleh proses melahirkan. Di sisi lain, menyusui juga dapat menjadi cara penularan HIV karena virus ini bisa berpindah melalui ASI. Selain itu, penularan HIV dapat terjadi pada bayi melalui makanan yang terlebih dulu dikunyahkan oleh ibu atau perawat yang terinfeksi HIV, meski risikonya sangatlah rendah.

Untuk mencegah penularan HIV, penting untuk selalu konsultasi ke dokter sebelum mencoba hamil. Apabila HIV pada ibu bisa dideteksi sejak awal, penularan ke bayi bisa dicegah dengan minum obat rutin.

Berbagai cara penularan HIV yang tidak umum

Hubungan seks tanpa kondom, pemakaian jarum yang sama (sengaja maupun tidak), dan penularan HIV dari ibu ke bayi adalah tiga cara yang paling umum. Namun sayang, penularan HIV tidak hanya itu saja.  Ada berbagai cara lain yang bisa memfasilitasi penularan virus tersebut ke tubuh Anda.

Berikut ini adalah cara penularan tidak terduga atau kurang umum yang dapat menyebabkan Anda mengidap HIV dan kemudian, AIDS:

1. Seks oral

Semua bentuk hubungan seks oral dianggap berisiko rendah untuk penularan HIV, namun bukan berarti mustahil. Risiko penularan HIV masih tetap ada, bahkan mungkin dapat meningkat, khususnya jika melibatkan ejakulasi di dalam mulut dan tidak menggunakan kondom atau pelindung mulut lain (seperti dental dam/kondom wanita)

Penularan HIV dapat terjadi saat Anda merangsang kelamin pasangan dengan lidah atau mengulum kelamin pasangan yang terinfeksi HIV, sementara mulut Anda terdapat luka atau sariawan terbuka.

Bagaimana dengan ciuman? Jika ciuman hanya terjadi pertukaran liur saja, virus HIV tidak akan menyebar kecuali ada luka atau kontak darah. Maka apabila bibir atau lidah Anda tak sengaja tergigit oleh pasangan selama berciuman, luka baru itu dapat menjadi gerbang masuk bagi virus HIV dalam liur pasangan untuk masuk ke dalam tubuh Anda.

2. Donor darah dan cangkok organ

Penularan HIV yang paling umum adalah melalui darah. Transfusi darah langsung dari donor darah yang terinfeksi memiliki probabilitas tertinggi untuk menularkan HIV.

Pun demikian, cara penularan HIV melalui donor darah dan cangkok organ termasuk kurang umum. Pasalnya, penyeleksian calon donor serta ketentuan prosedur medis dan langkah pengujian untuk darah yang terinfeksi telah diperketat sejak 1985.

Orang yang akan menyumbang darah atau organ biasanya akan diperiksa hingga menjalani tes darah HIV sehingga meminimalisir cara penularan HIV melalui donor organ dan darah.

Terlepas dari langkah keamanan, risikonya sebenarnya kecil bahwa darah yang terinfeksi HIV masih digunakan dalam transfusi. Penyeleksian donatur darah dan organ cangkok wajib melalui prosedur pengujian yang ketat.

Maka, produk transfusi yang Anda akan terima sebenarnya aman.  Jika ada satu saja donasi yang terlambat diketahui positif, darah akan langsung dibuang sementara organ calon pencangkokan juga tidak akan dipakai.

Sayangnya, beberapa negara berkembang mungkin tidak memiliki teknologi atau peralatan terkait untuk menguji semua darah dan mencegah penularan HIV/AIDS. Jadi mungkin ada beberapa sampel sumbangan produk darah yang telah diterima ternyata mengandung HIV. Untungnya, kejadian ini terhitung langka.

3. Digigit oleh orang dengan HIV

Menurut sebuah penelitian tahun 2011 dari jurnal AIDS Research and Therapy, ada kemungkinan biologis yang menyatakan gigitan sesama manusia dapat menjadi cara penularan HIV yang tak terduga.

Seperti yang telah dipaparkan di atas, air liur sebetulnya memiliki jumlah viral load yang lebih sedikit dibanding darah. Air liur selama ini diteliti kurang efektif sebagai perantara pembawa virus HIV karena punya sifat penghambat virus.

Namun kasus yang diteliti dalam jurnal tersebut terbilang unik. Diceritakan bahwa jari tangan seorang pria sehat non-HIV yang memiliki diabetes digigit oleh anak angkatnya yang positif HIV. Jari tangan bapak pria tersebut digigit cukup keras dan dalam sehingga sampai berdarah di dalam kukunya.

Beberapa waktu setelah digigit, pria tersebut dinyatakan positif HIV dan terdeteksi memiliki viral load tinggi setelah mengalami demam tinggi dan berbagai infeksi.

Para ahli setuju bahwa penularan HIV pada dasarnya hanya bisa terjadi apabila mulut penderita HIV terdapat luka atau sariawan dan penerima gigitan mengalami luka sampai berdarah juga. Namun setelah anak yang memiliki HIV tersebut diperiksa, diketahui bahwa kondisi mulutnya baik; tidak adanya luka, goresan, atau masalah infeksi apa pun. Luka pada kuku si ayah juga tidak sampai keluar darah merah segar.

Para dokter dan peneliti pada akhirnya menyimpulkan sementara bahwa air liur bisa menjadi media penularan HIV, meski belum yakin benar bagaimana mekanisme pastinya. Diperlukan penelitian dan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan cara penularan HIV yang satu ini.

4. Pakai mainan seks (sex toys)

Penetrasi seks, entah itu lewat vaginal (penis ke vagina), oral (alat kelamin dan mulut), atau anal (penis ke dubur) dengan pasangan yang mengidap HIV bisa membuat Anda tertular AIDS.

Tidak hanya lewat kelamin ke kelamin secara langsung. Penggunaan benda atau mainan seks, juga bisa menjadi cara penularan HIV yang mungkin terjadi. Apalagi jika mainan seks yang Anda pakai tidak dilapisi pelindung.

Penularan virus HIV dan AIDS dari satu orang ke yang lainnya sering terjadi ketika mainan seks dipakai bergantian. Bila Anda atau pasangan Anda mengidap HIV, jangan menggunakan mainan seks secara bergantian dalam satu sesi bercinta.

Virus HIV memang umumnya tidak bisa hidup lama-lama di permukaan benda mati. Namun, mainan seks yang masih basah oleh sperma, darah, atau cairan vagina mungkin saja menjadi perantara virus untuk berpindah ke pasangan.

5. Melakukan piercing, sulam alis, tato alis, sulam bibir

Menindik bagian tubuh atau membuat tato juga dapat meningkatkan risiko penularan HIV. Cara penularan HIV pada proses ini terjadi apabila menindik bagian tubuh atau membuat tato, biasanya kulit ditusuk dan kemudian terluka hingga mengeluarkan darah.

Jika pemakaian alat bergantian, maka bisa saja orang yang terinfeksi HIV meninggalkan bekas darahnya yang mengandung virus HIV.

Sebenarnya melakukan sulam alis, tato alis, dan sulam bibir cukup aman untuk kesehatan. Tapi tren kecantikan yang sedang naik daun ini dapat menjadi cara penularan HIV dan AIDS  jika dilakukan oleh pegawai yang tidak berpengalaman atau berlisensi, juga yang tidak menggunakan peralatan steril. Pasalnya, prosedur sulam atau tato wajah ini melibatkan pengirisan kulit terbuka.

Untuk mencegah penularan HIV ini, sebelum Anda duduk dan disulam alis atau bibirnya, pastikan bahwa semua peralatan yang digunakannya steril. Khususnya, pastikan bahwa mata pisau bedah jarum yang digunakan adalah yang sekali pakai.

Minta petugas untuk membuka segel jarum baru di depan Anda sebelum memulai prosedur, dan minta ia langsung membuangnya di tempat sampah begitu selesai. Kewaspadaan seperti ini penting untuk menghindari cara penularan HIV melalui darah.

6. Bekerja di rumah sakit

Mungkin sekilas Anda berpikir bahwa petugas medis adalah orang paling sehat karena memiliki akses dan pengetahuan yang mumpuni dalam bidang kesehatan.

Namun selain pada pengguna narkoba yang berbagi jarum suntik secara sengaja, risiko penularan HIV juga termasuk tinggi pada tenaga kesehatan medis, seperti dokter, perawat, petugas laboratorium, hingga petugas pembersih limbah fasilitas kesehatan lewat perantara alat medis.

Darah dari pasien yang positif HIV dapat berpindah kepada petugas kesehatan jika mereka memiliki luka terbuka yang terekspos (tidak terlindungi oleh pakaian) dan kemudian mengambil darah pasien yang positif HIV. Maka bukan tidak mungkin jarum suntik atau benda tajam lainnya dapat menjadi perantara dan mentransfer HIV.

HIV juga dapat ditularkan ke petugas kesehatan lewat cara berikut:

  • Jika jarum suntik yang telah dipakai oleh pasien positif HIV tidak sengaja tertancap ke petugas kesehatan (disebut juga needle-stick injury)
  • Jika darah yang terkontaminasi HIV mengenai membran mukosa seperti misalnya mata, hidung, dan mulut.
  • Lewat peralatan kesehatan lain yang digunakan berbarengan tanpa disterilkan.

Namun begitu, peluang penularan HIV di antara petugas medis di fasilitas kesehatan melalui jarum suntik bekas tergolong kecil, kurang dari satu persen. Ini karena semua fasilitas kesehatan, dari yang paling kecil maupun skala internasional memiliki protokol keamanan yang sudah terstandarisasi.

Risiko penularan HIV pada petugas layanan kesehatan termasuk sangat rendah terutama karena mereka selalu memakai alat pelindung diri (seperti masker, scrub/jubah rumah sakit, penutup kepala, kacamata khusus, hingga sarung tangan) dengan lengkap dan benar ketika bertugas.

Mereka juga selalu diwanti-wanti untuk berhati-hati dalam menangani benda-benda tajam dan bekas darah yang berceceran.

Cara mencegah penularan HIV

HIV adalah virus yang berkembang dengan cepat, tetapi, untungnya penyebaran virus ini dapat sepenuhnya dicegah.

Obat terapi antiretrovirus terbukti dapat mengurangi risiko penularan HIV pada semua jenis paparan. Meskipun begitu, cara ini tidaklah sepenuhnya efektif, dan tidak boleh menjadi satu-satunya sumber pencegahan penularan HIV.

Maka, ada baiknya setiap pasangan rutin menjalani tes penyakit kelamin tahunan, sekalipun status Anda dan pasangan sudah resmi menikah.

Pasalnya, banyak orang-orang yang tidak mengetahui atau bahkan menyadari bahwa dirinya telah terjangkit HIV. Gejala HIV pun pada umumnya muncul bertahun-tahun setelah infeksi pertama, yang membuatnya sulit untuk didiagnosis.

Share now :

Direview tanggal: Maret 3, 2017 | Terakhir Diedit: Maret 19, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca