Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 1.5 juta orang meninggal dikarenakan komplikasi terkait HIV pada tahun 2013. Walau kesadaran akan HIV telah meningkat selama beberapa dekade terakhir, tingkat kematian dan penularan HIV yang masih tinggi menunjukkan bahwa kesadaran yang terlebih lagi diperlukan untuk mencegah penyebaran virus.

Membongkar mitos penularan HIV

HIV hanya ditularkan melalui cairan tubuh, seperti: darah, cairan vagina, sperma, ASI.

HIV tidak dapat bertahan di luar tubuh manusia (seperti pada permukaan benda) untuk waktu yang lama, dan tidak dapat bereproduksi di luar inang manusia. HIV tidak disebarkan melalui:

  • Nyamuk, kutu, atau serangga lainnya.
  • Air liur, air mata, atau keringat yang tidak bercampur dengan darah dari orang yang positif HIV.
  • Pelukan, jabatan tangan, berbagi toilet, berbagi alat makan, atau ciuman dengan mulut terkatup atau cipika-cipiki dengan orang yang positif HIV.
  • Aktivitas seksual lainnya yang tidak melibatkan pertukaran cairan tubuh (misalnya, bersentuhan).

Ketika viral load dari orang yang positif HIV berkurang, peluang penularan juga berkurang. Rutin mengonsumsi obat-obatan HIV atau memiliki viral load yang sangat rendah atau tidak terdeteksi, akan mengurangi kemungkinan Anda untuk menularkan HIV daripada orang yang memiliki viral load tinggi.

Namun, seseorang yang terinfeksi HIV masih dapat berpeluang menularkan HIV kepada pasangannya meskipun ia memiliki viral load yang tidak terdeteksi. Ini dikarenakan:

  • HIV masih dapat ditemukan dalam cairan kelamin (sperma, cairan vagina). Tes viral load hanya mengukur virus dalam darah
  • Viral load seseorang dapat meningkat di antara tes. Jika ini terjadi, orang tersebut lebih berpeluang untuk menularkan HIV kepada pasangannya
  • Penyakit menular seksual meningkatkan viral load dalam cairan kelamin

Tiga metode penularan HIV yang paling umum

1. Melalui donor darah yang terinfeksi

HIV paling umum disebarkan melalui darah. Transfusi darah secara langsung dari donor darah yang terinfeksi adalah cara penularan HIV dengan probabilitas tertinggi untuk menjadi terinfeksi. Meski demikian, langkah pengujian untuk darah yang terinfeksi telah diperketat sejak 1985. Donasi darah telah dites untuk HIV. Jika ada hanya satu saja donasi yang diketahui positif, darah tersebut dibuang. Terlepas dari langkah keamanan, risikonya kecil bahwa darah yang terinfeksi HIV masih digunakan dalam transfusi.

Berbagi jarum suntik dalam penggunaan obat-obatan terlarang dan tertusuk alat tajam secara tidak sengaja dalam fasilitas kesehatan merupakan cara lain yang dapat menularkan HIV. Namun, penyebaran penyakit HIV melalui cara tersebut lebih kecil peluangnya daripada melalui transfusi darah. CDC memperkirakan bahwa 63 dari setiap 10,000 paparan terhadap penggunaan bersama jarum yang terinfeksi akan menyebabkan penularan. Dalam hal tertusuk alat tajam, angka tersebut berkurang ke 23 dari setiap 10,000 paparan.

Penularan HIV melalui gigitan, ludahan, atau cipratan cairan tubuh (termasuk sperma atau air liur) memiliki risiko “tak berarti.”

2. Lewat hubungan seksual tanpa kondom

Anda dapat beresiko tinggi tertular HIV ketika melakukan hubungan seks dengan seseorang yang terinfeksi HIV. Segala macam aktivitas seksual, vaginal maupun anal, dapat menularkan HIV dalam hubungan seks heteroseksual, khususnya tanpa kondom.

Semua bentuk hubungan seks oral dianggap berisiko rendah. Meskipun begitu, Anda masih dapat menularkan atau tertular HIV selama hubungan seks oral, khususnya jika melibatkan ejakulasi di dalam mulut.

Sangatlah penting untuk selalu melindungi diri Anda selama aktivitas seksual. Jika Anda akan berpatisipasi dalam kontak seksual dengan orang lain, kondom yang dianggap sebagai penghalang antara sperma dan cairan vagina merupakan cara terbaik untuk mencegah infeksi HIV.

Hubungan seks dengan kondom tidak dapat menghilangkan resiko penularan HIV dikarenakan masalah pada penyalahgunaan dan kerusakan kondom. Jika Anda aktif secara seksual, Anda dan pasangan harus mempertimbangkan untuk menjalani tes HIV untuk meningkatkan keamanan bagi Anda berdua.

3. Penularan HIV dari ibu ke anak

Selain dari darah dan cairan ejakulasi, ketika seorang perempuan terinfeksi oleh HIV, virus tersebut dapat menular kepada bayinya selama masa kehamilan, persalinan dan melahirkan, atau dengan cara menyusui karena HIV dapat ditularkan melalui ASI. Selain itu, HIV juga dapat ditularkan kepada bayi melalui makanan yang terlebih dulu dikunyahkan oleh ibu atau perawat yang terinfeksi HIV, meskipun rIsikonya sangatlah rendah.

Obat terapi antiretrovirus dapat mengurangi resiko penularan HIV pada semua jenis paparan. Meskipun begitu, metode ini tidaklah sepenuhnya efektif, dan tidak boleh menjadi satu-satunya sumber pencegahan penularan Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca