Semua Hal yang Harus Anda Ketahui Tentang Penyakit Hepatitis B

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Penyakit hepatitis B adalah infeksi hati menular yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Bagi sebagian orang, penyakit ini bisa menjadi kronis dan bisa berlangsung selama lebih dari enam bulan. Total orang dengan hepatitis B di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Berdasarkan Riskesda 2017, sebanyak 7,1 persen penduduk Indonesia mengidap infeksi ini. Bahkan dikutip dari laman Depkes, diketahui bahwa setiap tahun diperkirakan terdapat 150 ribu bayi yang 95 persennya berpotensi mengalami hepatitis kronis pada 30 tahun ke depan.

Jika tidak ditangani dengan baik, infeksi ini dapat meningkatkan risiko Anda untuk terkena gagal hati, kanker hati atau sirosis — kondisi kerusakan hati permanen. Berikut segala informasi dasar seputar penyakit hepatitis B yang perlu Anda ketahui.

Apa penyebab penyakit hepatitis B?

Hepatitis B adalah salah satu penyakit yang sangat mudah menular. Virus hepatitis B (HBV) ditularkan dari satu orang ke orang lainnya melalui darah, air mani, atau cairan tubuh lainnya yang terkontaminasi virus. Orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah berisiko tinggi terinfeksi penyakit ini. 

Ada beberapa cara penularan HBV yang umum, di antaranya:

  • Melakukan hubungan seks tanpa kondom (termasuk oral dan seks anal) dengan orang yang terinfeksi.
  • Berbagi jarum dan alat suntik narkoba yang sama dengan orang yang terinfeksi.
  • Menjalani perawatan gigi di rumah sakit ataupun di klinik gigi yang tidak menggunakan peralatan steril.
  • Menerima suntikan di rumah sakit atau dokter dari jarum yang tidak steril.
  • Bikin tato atau tindik tubuh dengan peralatan yang tidak steril.
  • Saling meminjam barang pribadi dengan orang yang terinfeksi, seperti alat cukur, sikat gigi, atau handuk. 
  • Memiliki luka terbuka dan terpapar darah orang lain yang terinfeksi.

Ibu hamil yang terinfeksi HBV bisa menularkan virus ke bayinya saat persalinan. Namun dalam hampir semua kasus, bayi yang baru lahir bisa langsung vaksin hepatitis B untuk mencegah infeksi lebih lanjut.

Perbedaan penyakit hepatitis B akut dan kronis

Infeksi HBV bisa bersifat akut (jangka pendek) atau kronis (jangka panjang). Lantas, apa yang membedakan keduanya?

Infeksi HBV akut biasanya berlangsung kurang dari enam bulan. Tubuh Anda masih mampu untuk benar-benar sembuh sepenuhnya dari hepatitis B akut dalam beberapa bulan. Kebanyakan orang yang tertular hepatitis B sewaktu dewasa mengalami infeksi akut, tetapi ini bisa berlanjut menjadi infeksi kronis.

Sementara infeksi HBV kronis berlangsung selama enam bulan atau lebih. Infeksi bisa bertahan lama jika sistem kekebalan tubuh Anda gagal bekerja melawan infeksi.  Infeksi HBV kronis berisiko tinggi menyebabkan penyakit serius, seperti sirosis dan kanker hati. 

Semakin muda usia Anda saat terinfeksi HBV, semakin tinggi pula risiko infeksi Anda berkembang jadi kronis — terutama untuk bayi baru lahir atau anak-anak balita. Gejala hepatitis B kronis bisa tidak terdeteksi selama beberapa tahun sampai orang tersebut benar-benar jatuh sakit akibat penyakit hati.

Siapa saja yang berisiko tinggi terinfeksi penyakit hepatitis B?

Semua orang bisa terinfeksi penyakit ini. Namun ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko Anda terkena infeksi HBV, di antaranya:

  • Hubungan seks tanpa kondom dengan bergonta-ganti pasangan atau dengan seseorang yang terinfeksi HBV — baik hubungan seks antar pria dan wanita maupun pria dengan pria (homoseksual).
  • Menggunakan jarum suntik bekas orang yang terinfeksi.
  • Merupakan bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi.
  • Memiliki pekerjaan yang membuat Anda terpapar darah orang lain, misal dokter atau perawat di rumah sakit.
  • Berbagi barang pribadi seperti alat cukur dan sikat gigi bersama dengan orang yang terinfeksi.
  • Berpegian ke tempat dengan tingkat infeksi HBV yang tinggi, seperti Asia, Afrika, dan Eropa Timur.

Apa saja tanda dan gejala hepatitis B?

sakit perut saat malam hari

HBV dapat bertahan hidup setidaknya 7 hari di luar tubuh manusia, tapi pada saat itu virus tetap bisa menginfeksi dan masuk ke dalam tubuh yang belum terlindungi dengan vaksin.

Berikut ini beberapa gejala hepatitis B yang harus Anda waspadai meliputi:

  • Nyeri perut
  • Urin berwarna gelap seperti teh
  • Warna feses yang pucat seperti dempul
  • Demam 
  • Nyeri sendi 
  • Hilang nafsu makan
  • Mual dan muntah
  • Kelemahan dan kelelahan
  • Kulit dan bagian putih mata menguning (jaundice)

Dalam banyak kasus, gejala hepatitis B tidak langsung disadari oleh penderita. Pasalnya, beberapa orang tidak memunculkan gejala hepatitis B yang berarti. Gejala hepatitis B juga biasanya muncul sekitar satu sampai empat bulan setelah Anda terinfeksi.

Selain itu, tanda dan gejala hepatitis B bervariasi antara satu orang dan yang lain, bisa ringan mirip gejala flu biasa hingga berat. Nah, karena minimnya kesadaran gejala hepatitis B, maka tingkat penularan penyakit ini pun semakin tinggi.

Oleh karena itu, segera temui dokter jika Anda mencurigai salah satu gejala hepatitis B seperti yang sudah disebutkan di atas. Jika Anda menyadari bahwa Anda telah terpapar virus hepatitis, segera hubungi dokter. Risiko infeksi berkembang parah bisa menurun drastis jika Anda menerima pengobatan atau pencegahan dalam 24 jam sejak terpapar virus.

Apa saja komplikasi penyakit hepatitis B yang mungkin terjadi?

Ada beberapa komplikasi serius yang disebabkan oleh infeksi HBV kronis. Misalnya:

  • Kerusakan jaringan hati (sirosis) yang mengganggu fungsi hati
  • Kanker hati
  • Gagal hati — Anda mungkin perlu transplantasi hati untuk bertahan hidup
  • Kondisi lainnya, seperti penyakit ginjal, peradangan pembuluh darah atau anemia

Bagaimana dokter mendiagnosis penyakit hepatitis B?

Dokter biasanya menyarankan Anda untuk tes darah untuk mendeteksi keberadaan virus hepatitis dalam tubuh, dan apakah penyakit tersebut akut atau kronis. Dokter juga mungkin ingin mengambil sampel jaringan hati untuk diperiksa (biopsi) untuk menentukan apakah Anda mengalami kerusakan hati.

Beberapa orang dianjurkan untuk menjalani tes infeksi HBV karena virus tersebut bisa merusak hati sebelum menimbulkan tanda-tanda dan gejala. Kelompok orang yang perlu skrining HBV termasuk mereka yang:

  • Tinggal dengan orang yang terinfeksi HBV (perawat atau anggota keluarga)
  • Baru-baru ini berhubungan seks tanpa kondom dengan orang yang menderita HBV
  • Mendapatkan hasil tes fungsi hati dengan kelainan yang tidak dapat dijelaskan
  • Menderita HIV atau hepatitis C
  • Traveling ke negara dengan kasus hepatitis B yang tinggi, termasuk Asia, Kepulauan Pasifik, Afrika, dan Eropa Timur
  • Menggunakan narkoba suntik
  • Merupakan narapidana
  • Merupakan pria yang berhubungan seks dengan pria lainnya
  • Menjalani dialisis ginjal (cuci darah)
  • Menggunakan obat-obatan yang menekan sistem kekebalan tubuh, seperti obat anti-penolakan yang digunakan setelah transplantasi organ
  • Sedang hamil

Apa saja obat hepatitis B yang tersedia?

obat diabetes sulfonilurea

Obat hepatitis B yang diberikan oleh spesialis hepatologi (dokter spesialis hati) pada orang dengan HPV sebenarnya hanya untuk menekan pertumbuhan virus di dalam tubuh. Oleh karena itu, orang yang terinfeksi HBV harus melakukan pengobatan seumur hidupnya.

Jika Anda didiagnosis dengan virus HBV, segera hubungi dokter. Menerima suntikan imunoglobulin hepatitis B dalam 12 jam sejak terinfeksi virus bisa membantu melindungi Anda dari infeksi.

Terutama jika Anda belum pernah vaksin hepatitis B atau tidak yakin apakah pernah vaksin hepatitis B. Jika begini, Anda harus segera vaksin hepatitis B sesegera mungkin.

Untuk obat yang diberikan, tergantung pada jenis hepatitis yang dialami pasien. Berikut ini beberapa pilihan obat hepatitis B.

Obat hepatitis B akut

Penanganan akan lebih difokuskan untuk mengurangi gejala-gejala yang Anda alami. Infeksi hepatitis B akut masih memiliki kemungkinan untuk sembuh sendiri sehingga tidak membutuhkan obat khusus. Namun terdapat pula kemungkinan untuk infeksi ini berkembang menjadi infeksi kronis.

Untuk infeksi HBV akut, dokter mungkin akan menganjurkan Anda untuk: 

  • Lebih sering beristirahat
  • Membagi makanan menjadi beberapa porsi kecil
  • Mengonsumsi lebih banyak makanan berkalori tinggi untuk mencukupi kebutuhan energi

Jika Anda kondisi Anda sudah dirasa membaik, bukan berarti Anda sudah terbebas dari penyakit infeksi HBV. Anda dianjurkan untuk rutin menjalani pemeriksaan kesehatan guna memantau infeksi virus HBV dalam tubuh Anda.

Obat hepatitis B kronis

Jika Anda didiagnosis dengan infeksi HBV kronis, Anda bisa mengonsumsi obat hepatitis B untuk mengurangi risiko penyakit hati dan mencegah penularan infeksi ke orang lain. Berbagai obat hepatitis B kronis meliputi:

  • Obat-obatan antivirus. Infeksi HBV diobati dengan obat antivirus yang dimaksudkan untuk membersihkan virus dari dalam tubuh, termasuk lamivudine (Epivir), adefovir (Hepsera), telbivudine (Tyzeka) and entecavir (Baraclude).
  • Interferon alfa-2b (Intron A). Obat ini digunakan dengan injeksi terutama bagi anak muda untuk melawan infeksi, yang tidak ingin menjalani pengobatan jangka panjang atau yang mungkin ingin hamil dalam beberapa tahun. Efek samping bisa meliputi depresi, sulit bernapas dan sesak dada.
  • Transplantasi hati. Jika hati Anda telah mengalami kerusakan parah, transplantasi hati bisa menjadi pilihan. Dokter akan mengangkat hati Anda yang rusak dan menggantinya dengan hati yang sehat.
  • Obat lain untuk mengobati infeksi ini masih dikembangkan.

Berbagai cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan penyakit hepatitis B

vaksin tbc imunisasi tbc vaksin BCG

Infeksi ini memang mudah menular, tapi bukan berarti tidak dapat dicegah. Berikut ini beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mencegah penularan penyakit hepatitis B:

1. Vaksin hepatitis B

Menerima vaksin hepatitis B adalah perlindungan yang terbaik. Jika Anda terpapar virus dari orang lain, hubungi dokter. Setelah itu, dokter akan merekomendasikan obat hepatitis B khusus yang disebut immunoglobulin untuk Anda pakai rutin dalam 2 minggu.

Vaksin hepatitis B (Recombivax HB, Comvax, dan Engerix-B), yaitu vaksin yang dibuat dari virus yang tidak aktif dan dapat diberikan 3 atau 4 kali dalam waktu 6 bulan.

Ketika vaksin hepatitis B diberikan pada orang yang berisiko terkena infeksi ini, maka tubuh akan dirangsang untuk membuat antibodi. Antibodi tersebutlah yang akan ‘melawan’ virus hepatitis jika sewaktu-waktu masuk ke dalam tubuh.

Vaksin hepatitis B dianjurkan bagi:

  • Bayi baru lahir
  • Anak-anak dan remaja yang tidak divaksinasi saat kelahirannya
  • Siapapun yang menderita penyakit menular seksual, termasuk HIV
  • Petugas layanan kesehatan, petugas gawat darurat, dan orang lain yang mengalami kontak dengan darah
  • Pria yang melakukan hubungan seks dengan pria lainnya
  • Seseorang yang bergonta-ganti pasangan seks
  • Penderita penyakit hati kronis
  • Orang yang menggunakan narkoba suntik
  • Penderita penyakit ginjal stadium akhir
  • Merupakan pasangan seks dari penderita hepatitis B
  • Pelancong (Traveler) yang berencana bepergian ke wilayah di dunia dengan tingkat infeksi hepatitis B tinggi

Jika Anda sedang hamil dan berniat untuk vaksin hepatitis B, ada baiknya diskusikan hal ini dengan dokter terlebih dahulu karena takut berdampak pada kesehatan janin yang Anda kandung.

2. Hati-hati dengan penggunaan jarum

Penggunaan jarum ataupun peralatan medis yang tidak steril meningkatkan risiko Anda terkena infeksi ini. Hal ini harus diwaspadai terutama oleh tenaga medis yang melakukan kontak langsung dengan pasien hepatitis.

Selain itu, penggunaan jarum sembarangan seperti jarum yang digunakan untuk membuat tato atau jarum yang digunakan bergantian ketika memakai obat-obatan terlarang, dapat menjadi sarana yang paling mungkin dan sering menyebabkan terjadinya hepatitis.

3. Jangan berbagi peralatan pribadi

Berbagi dengan orang lain bukanlah hal yang buruk untuk dilakukan, namun Anda dan keluarga Anda harus mengetahui kapan waktu yang tepat untuk berbagi dan hal apa yang sebaiknya dibagikan. Berbagi barang seperti mainan, buku, atau hal lainnya mungkin tidak bermasalah.

Hindari berbagi sikat gigi, pisau cukur, gunting kuku, dan berbagai barang pribadi lainnya. Darah yang terinfeksi bisa menempel di alat pribadi yang Anda gunakan sehingga meningkatkan risiko penularan penyakit ini ada orang lain.

Dalam banyak kasus, pasien yang mengalami hepatitis tidak menunjukkan gejala dan tanda yang terlihat, sehingga pilihlah mana barang-barang yang bisa dibagi dan mana yang tidak bisa dipakai bersama.

5. Melakukan hubungan seksual yang aman

Penting untuk Anda mengetahui riwayat penyakit pasangan Anda sebelum melakukan hubungan seksual. Seperti yang sudah disebutkan di atas, penyakit ini dapat ditularkan melalui air mani, darah, dan cairan tubuh.

Itu sebabnya, selalu lakukan hubungan seksual yang aman dengan menggunakan kondom termasuk saat Anda dan pasangan melakukan seks oral dan anal. Selain itu, beri tahu pasangan bahwa Anda menderita HBV dan konsultasikan risiko penularan kepadanya.

Penting untuk diketahui bahwa kondom hanya mengurangi risiko penularan, tidak mengeliminasinya.

4. Rajin cuci tangan

Meski terdengar sepele, cara ini nyatanya efektif untuk mencegah penularan penyakit ini. Oleh sebab itu, buatlah kebiasaan di keluarga Anda untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, setelah dari kamar mandi, serta sebelum dan setelah mengolah bahan makanan. Selain itu, menjaga kebersihan tubuh juga penting dilakukan, sehingga risiko terkena hepatitis semakin kecil.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca