Sebuah penelitian seperti yang dikutip dari Livescience menyatakan bahwa anak obesitas dapat meningkatkan kesehatannya jika ia mengurangi asupan gula dalam makanan dan minumannya. Selain, itu risiko mereka terkena penyakit kronis seperti diabetes tipe 2 ataupun penyakit jantung jadi lebih sedikit risikonya. Bagaimana bisa demikian? Yuk, simak ulasannya di bawah ini.

Hubungan antara gula dengan kesehatan anak obesitas

Dalam penelitian tersebut, para peneliti memantau secara ketat sebanyak 43 anak obesitas, dan menemukan bahwa dengan mengurangi konsumsi gula tambahan ataupun tidak menambah asupan gula sehari-hari, bisa meningkatkan kesehatan tubuh anak dalam waktu 10 hari saja.

Studi ini dilakukan peneliti dengan cara membuat aturan diet untuk 43 anak obesitas dan yang memiliki kelainan metabolisme, seperti adanya tekanan darah tinggi atau kolesterol. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan adakah pengaruh efek pengurangan atau penambahan gula terhadap metabolisme anak-anak tersebut.

Jadi, para peneliti ini membuat diet dengan mengurangi makanan seperti kue kering atau sereal sarapan dan menggantinya dengan roti bagel, misalnya. Tingkat keseluruhan lemak, protein, karbohidrat dan kalori dalam makanan sehari-hari mereka tidak berubah.

Mereka masih diizinkan makan makan keripik dan makanan berlemak. Namun para peneliti mengurangi konsumsi gula tambahan anak-anak dari 28 persen menjadi 10 persen, terhitung dari total kalori harian mereka, sesuai dengan rekomendasi WHO. Hasilnya, ditemukan hampir adanya peningkatan secara signifikan dalam waktu 10 hari.

Peningkatan yang dimaksud adalah terdapat dalam normalnya tekanan darah, kadar lemak, kadar gula dalam darah, dan bahkan peningkatan fungsi hati dan pankreas para anak obesitas tersebut. Kondisi ini terjadi meskipun mereka tidak mengurangi asupan kalori atau tidak beraktivitas lebih, ya.

Kalori yang terdapat pada makanan manis bisa membahayakan kesehatan

Selain itu, Dr. Robert Lustig, seorang ahli endokrinologi pediatrik di Rumah Sakit Anak Benioff di University of California, menyatakan bahwa gula yang ada pada biskuit, coklat atau minuman dengan pemanis lainnya harus benar-benar dihindari dari anak-anak

Semua pemanis yang ditambahkan dalam makanan atau minuman, umumnya ditambah agar rasanya semakin nikmat, memperpanjang masa layak makan, dan bahkan bisa memangkas biaya produksi pabrikan makanan tersebut. Pemanis atau gula tambahan tersebut biasanya berasal dari gula, sirup, sorgum, dan madu.

Dr. Lustig juga mengatakan kalau kalori yang terdapat dari gula adalah kalori yang berbahaya. Karena jika dikonsumsi, mereka akan berubah menjadi lemak di hati, meningkatkan resistensi insulin, meningkatkan risiko diabetes, jantung, dan penyakit liver.

Bagaimana orangtua bisa mengurangi asupan gula pada anak?

1. Berikan sayur dan buah lebih banyak

Sediakan banyak sayur dan buah di rumah. Jika di rumah Anda banyak kue manis dalam kaleng atau cokelat dalam toples, pindahkan makanan tersebut sehingga jauh dari jangkauan anak. Ganti dengan buah dalam keranjang atau sayuran dalam keranjang agar anak tidak asing dengan makanan sehat tersebut.

2. Lebih baik berikan anak makanan manis yang dibuat sendiri

Makanan manis yang dibuat di rumah, lebih baik dikonsumsi jika dibandingkan makanan manis dalam kemasan. Ajak anak untuk membuat sendiri kue kesukaannya sambil ajari anak tentang makanan yang sehat dan makanan yang harus dibatasi.

Anda juga dapat bercerita mengenai dampak buruk jika terlalu banyak makan makanan manis agar anak mengetahui mengapa mereka dibatasi makan makanan manis.

Jika anak senang dengan rasa manis, Anda bisa gunakan pemanis rendah gula dan rendah kalori, yang tak akan menambah berat badan anak, sekaligus menjaga gula darahnya tetap stabil. Pilih pemanis buatan dari bahan alami yang aman untuk anak-anak, misalnya pemanis dari daun stevia yang mengandung nol kalori.

3. Jangan jadikan makanan manis menjadi hidangan spesial (hadiah) untuk anak

Coba berikan anak hidangan spesial yang lebih sehat. Studi menunjukkan bahwa menjadikan permen sebagai hadiah untuk anak yang berhasil menghabiskan sayuran, malah turut meningkatkan kesukaan anak terhadap hadiah permen tersebut. Hadiah permen tersebut menjadikan permen sebagai makanan spesial yang lebih tinggi derajatnya dari makanan lain di mata anak.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca