Pastinya Anda sering menghirup polusi udara di jalan. Asap dari berbagai kendaraan bermotor, asap rokok, asap dari kegiatan rumah tangga, atau asap dari kegiatan industri, semuanya bercampur menjadi satu di jalanan dan Anda hirup. Hal ini tentu dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan, terutama bagi ibu hamil. Penelitian telah membuktikan bahwa polusi udara saat hamil dapat memicu risiko autisme pada bayi.

Apa itu autisme?

Gejala autisme biasanya muncul selama tiga tahun pertama kehidupan. Beberapa anak juga dapat menunjukkan gejala autisme sejak lahir. Awalnya mungkin anak tampak seperti anak normal, namun tiba-tiba anak bisa menunjukkan gejala autisme pada usia 18-36 bulan.

Autisme atau juga disebut dengan gangguan spektrum autisme merupakan kondisi neurobehavioral kompleks yang mencakup gangguan interaksi sosial, perkembangan bahasa, dan kemampuan komunikasi yang dikombinasikan dengan perilaku kaku dan berulang. Autisme biasa dihubungkan dengan faktor genetik, namun faktor lain juga dapat berkontribusi terhadap autisme.

Anak dengan autisme bisa mengalami kesulitan berkomunikasi, dan juga sulit dalam memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain. Mereka juga bisa sangat terganggu dengan suara, sentuhan, bau, atau pemandangan yang tampak normal bagi orang lain.

Hubungan antara polusi udara saat hamil dengan risiko bayi autisme

Sebuah penelitian dari Harvard School of Public Health menunjukkan bahwa paparan polusi udara saat hamil yang tinggi, terutama selama trimester ketiga, dapat meningkatkan risiko bayi autisme dua kali lipat. Semakin besar paparan polusi udara, semakin besar juga risiko yang dapat diterima ibu dan calon bayinya.

Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data tempat tinggal partisipan selama kehamilan. Paparan polusi udara di tempat tinggal ibu selama kehamilan yang mengandung partikulat halus  PM2,5 (partikel polusi udara halus berdiameter 2,5 mikro atau lebih kecil) dihubungkan dengan autisme selama kehamilan. Secara khusus, paparan PM2,5 yang lebih sering selama trimester ketiga kehamilan dapat meningkatkan risiko autisme.

Penelitian lainnya juga menunjukkan hubungan yang sama antara polusi udara saat hamil dan risiko bayi autisme. Penelitian yang dilakukan oleh University of Pittsburgh School of the Health Sciences ini membuktikan bahwa paparan polusi udara saat hamil sampai bayi berusia 2 tahun berhubungan dengan peningkatan risiko bayi mengembangkan autisme.

Penelitian yang dilakukan pada tahun 2015 ini juga menghubungkan polusi udara PM2,5 dengan kejadian autisme pada bayi. PM2,5 berukuran sangat kecil sehingga jika dihirup bisa sampai ke paru-paru dan masuk ke dalam aliran darah. PM2,5 meliputi debu, kotoran, jelaga, dan asap. Polusi udara dengan ukuran yang lebih besar dari PM2,5 terbukti dapat menurunkan risiko bayi autisme.

Selain PM2,5, senyawa dalam polusi juga dikaitkan dengan risiko bayi mengalami autisme. Analisis dari Pitt Public Health menunjukkan hubungan antara autisme dengan peningkatan kadar racun dari udara, termasuk kandungan kromium dan stirena dalam polusi udara.

Kesimpulan

Walaupun autisme cenderung terjadi karena faktor genetik dari keluarga, namun ada faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan bayi mengalami autisme. Salah satunya adalah polusi udara yang sering ibu hirup selama kehamilan.

Sehingga, untuk mencegah autisme pada bayi Anda, ada baiknya Anda menghindari menghirup udara dengan tingkat polusi tinggi, terutama selama kehamilan trimester ketiga Anda. Carilah tempat dengan udara bersih untuk Anda berekreasi atau sekadar menghabiskan waktu luang. Anda juga bisa menggunakan masker saat sedang berada di luar rumah/di jalan sebagai upaya untuk mengurangi polusi yang Anda hirup.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca