Mengenal Bronkodilator, Obat Sesak Napas untuk PPOK dan Asma

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 25 September 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Asma dan PPOK (penyakit paru obstruktif kronis) menyerang kesehatan paru. Keduanya menyebabkan penyempitan saluran pernapasan di paru-paru sehingga mengakibatkan terjadinya kondisi sesak napas. Salah satu pengobatan yang digunakan untuk sesak napas adalah bronkodilator. Simak tentang obat ini lebih dalam ulasan berikut.

Apa itu bronkodilator?

Bronkodilator adalah jenis obat yang membuat pernapasan lebih mudah dengan cara melebarkan saluran pernapasan dan melemaskan otot-otot pada paru. Obat ini termasuk ke dalam golongan obat nonsteroid.

Jika Anda memiliki asma atau PPOK, dokter biasanya akan meresepkan obat bronkodilator agar pernapasan jadi lebih lega. Menurut situs University of Virginia, cara kerja bronkodilator adalah melemaskan otot-otot di sekitar saluran pernapasan menuju paru-paru sehingga memperlebar saluran napas dan tabung bronkial.

Obat ini sebenarnya sebenarnya bukan pengobatan utama untuk pasien asma yang mengalami sesak napas. Orang asma lebih diutamakan menggunakan kortikosteroid inhalasi untuk mengurangi peradangan dan mencegah gejala kembali kambuh.

Namun, beberapa pasien bisa menggunakan obat jenis ini agar saluran udara tetap terbebas dari penyempitan dan meningkatkan keampuhan kortikosteroid yang digunakan.

Sementara itu, untuk pengobatan PPOK, obat ini dapat digunakan secara tunggal. Penambahan obat kortikosteroid biasanya hanya diberikan kepada pasien yang gejalanya lebih parah.

Tipe bronkodilator berdasarkan efek kerjanya

Berdasarkan cara kerjanya, obat ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu efek cepat dan efek lama. Agar lebih jelas, mari bahas satu per satu.

1. Bronkodilator efek cepat

Bronkodilator efek cepat adalah bronkodilator yang bekerja lebih cepat, tapi hanya bertahan selama 4-5 jam. Biasanya tipe ini digunakan untuk mengobati gejala sesak napas yang muncul tiba-tiba, seperti mengi, sesak napas, dan nyeri di dada.

Saat gejala tidak muncul, pasien mungkin tidak membutuhkan obat ini. Beberapa contoh dari obat bronkodilator kerja cepat, antara lain:

  • albuterol (ProAir HFA, Ventolin HFA, Proventil HFA)
  • levalbuterol (Xopenex HFA)
  • pirbuterol (Maxair)

2. Bronkodilator efek lama

Jenis ini merupakan kebalikan dari yang sebelumnya. Obat ini bekerja lebih lama dan bertahan selama 12 jam hingga satu hari penuh.

Jenis ini biasanya diperuntukkan untuk penggunaan harian, bukan untuk meredakan gejala yang muncul mendadak. Beberapa bronkodilator kerja lambat, meliputi:

  • salmeterol (Serevent)
  • formoterol (Perforomist)
  • aclidinium (Tudorza)
  • tiotropium (Spiriva)
  • umeclidinium (Incruse)

Tipe bronkodilator berdasarkan komponennya

nebulizer dan inhaler

Selain efek kerja obat, bronkodilator juga dikategorikan berdasarkan komponen obatnya, yakni:

1. Agonis beta-2

Bronkodilator agonis beta-2 terdiri atas:

Obat ini dapat digunakan pada efek cepat dan lama. Biasanya, digunakan dengan cara dihirup dengan inhaler genggam kecil atau nebulizer. Bisa juga dalam bentuk tablet kecil atau sirup.

Namun, orang dengan kondisi tertentu perlu berhati-hati menggunakan obat ini, yaitu orang dengan kondisi:

Jenis agonis beta yang disetujui penggunaannya antara lain:

  • Agonis beta short acting: albuterol, xopenex, metaproterenol, dan terbutaline
  • Agonis beta long actingsalmeterol, performomist, bambuterol, dan indacaterol

2. Antikolinergik

Bronkodilator ini dapat terdiri atas:

  • ipratropium
  • tiotropium
  • aclidinium
  • glikopirronium

Obat ini termasuk ke dalam kategori efek cepat dan lama dan utamanya digunakan untuk orang PPOK. Meski begitu, pasien asma juga bisa menggunakan obat ini.

Antikolinergik paling sering digunakan memakai inhaler. Namun, Anda lebih disarankan menggunakan nebulizer jika gejalanya cukup parah agar obat bekerja lebih optimal.

Cara kerja obat ini adalah melebarkan saluran udara dengan menghalangi saraf kolinergik, yakni saraf yang melepaskan bahan kimia untuk mengencangkan otot di sekitar saluran paru-paru.

Orang dengan pembesaran prostat, gangguan pada kandung kemih, dan glaukoma perlu berhati-hati menggunakan obat ini.

3. Methylxanthine

Jenis bronkodilator ini bekerja meringankan penyumbatan aliran udara, mengurangi peradangan, dan meredakan kontraksi bronkial.

Obat ini dijadikan pilihan terakhir saat agonis-beta maupun antikolinergik tidak memberikan efek maksimal. Sayangnya, obat ini menimbulkan efek samping yang lebih besar dibanding obat lain.

Obat ini tidak dapat dihirup, melainkan diminum dalam bentuk pil secara oral, supositoria, atau disuntikkan pada pembuluh darah vena. Obat methylxanthine yang disetujui penggunaannya, antara lain teofilin dan aminofilin.

Efek samping lebih umum terjadi ketika methylxanthines diberikan lewat suntikan. Efek sampingnya yang biasanya terjadi adalah sakit kepala, susah tidur, mual, diare, dan mulas.

Efek samping obat bronkodilator

jenis bronkodilator untuk PPOK

Efek samping penggunaan obat ini bisa bervariasi, tergantung pada jenis mana yang Anda gunakan.

1. Efek samping bronkodilator agonis beta-2

Beberapa efek samping yang terjadi setelah penggunaan bronkodilator agonis beta-2 seperti salbutamol, meliputi:

  • gemetar, terutama di tangan
  • saraf menegang
  • sakit kepala
  • detak jantung tidak beraturan
  • kram otot

Efek-efek di atas umumnya akan menghilang dengan sendirinya setelah beberapa hari atau minggu. Meski sangat jarang, kemungkinan efek samping yang lebih serius dapat terjadi, seperti penyempitan saluran pernapasan akut (bronkospasme paradoksikal).

Dosis agonis beta-2 yang berlebihan juga berpotensi menyebabkan serangan jantung dan rendahnya kadar kalium dalam darah (hipokalemia).

2. Efek samping bronkodilator antikolinergik

Efek samping utama dari pemakaian antikolinergik adalah sebagai berikut:

  • mulut kering
  • sembelit
  • batuk
  • sakit kepala

Beberapa efek lainnya yang lebih jarang terjadi adalah:

  • mual
  • heartburn
  • kesulitan menelan (disfagia)
  • detak jantung tidak beraturan
  • iritasi tenggorokan
  • sulit buang air kecil

3. Efek samping bronkodilator methylxanthine

Menggunakan obat methylxanthine seperti teofilin mungkin dapat menyebabkan efek samping berikut:

  • mual dan muntah
  • diare
  • detak jantung tidak beraturan, atau lebih cepat
  • sakit kepala
  • sulit tidur (insomnia)

Efek samping di atas lebih mungkin terjadi pada orang-orang berusia lanjut. Hal ini disebabkan karena fungsi hati lansia telah menurun, sehingga kemampuan tubuh untuk membuang obat pun memburuk. Obat yang menumpuk terlalu banyak di dalam tubuh meningkatkan risiko terjadinya efek samping.

Sebelum menggunakan bronkodilator, pastikan Anda berkonsultasi lebih dahulu pada dokter. Terutama jika Anda memiliki masalah medis tertentu, sedang hamil, atau menyusui. Dokter akan membantu memilih obat yang tepat untuk menangani gejala asma atau PPOK yang Anda miliki.

Apa yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan obat ini?

Setelah memilih jenis bronkodilator yang tepat, langkah selanjutnya adalah mengecek tanggal kedaluwarsa yang tercantum di tabung atau kemasan obat.

Anda juga harus menyimpannya dengan benar. Jangan meletakkan obat ini di tempat yang terkena sinar matahari atau menggunakannya di dekat api.

Hindari memakai tabung bronkodilator milik orang lain atau meminjamkan tabung milik Anda pada orang lain. Bila merasakan efek samping yang mengganggu setelah menggunakan obat, jangan ragu konsultasi pada dokter. Dokter akan mengganti atau menambahkan obat lain untuk mengurangi efek samping tertentu.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Benar Cuaca Dingin Dapat Memicu Asma Kambuh?

Saat udara dingin, asma seseorang bisa lebih rentan kambuh. Apa yang menyebabkan hal ini? Apa kambuhnya asma berhubungan dengan alergi dingin?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Asma, Kesehatan Pernapasan 13 April 2020 . Waktu baca 4 menit

Pentingnya Membersihkan Ruangan untuk Penderita Sakit Paru Kronis

Membersihkan ruangan dapat menjadi hal yang sedikit sulit untuk penderita PPOK. Namun jangan khawatir, berikut tips untuk bantu Anda.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Hidup Sehat, Tips Sehat 30 Januari 2020 . Waktu baca 4 menit

5 Prinsip Pola Hidup Sehat yang Harus Dijalani Penderita Asma

Selain pakai obat, penderita asma juga disarankan untuk menjalani pola hidup yang lebih sehat guna mencegah gejala sering kambuh. Bagaimana memulainya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kebugaran, Tips Sehat 8 Desember 2019 . Waktu baca 6 menit

Daftar Makanan yang Direkomendasikan dan yang Harus Dibatasi Penderita Asma

Tidak banyak yang tahu bahwa apel dan pisang termasuk makanan terbaik untuk penderita asma, tapi tidak dengan kubis atau kol. Kenapa bisa begitu?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Asma, Kesehatan Pernapasan 30 November 2019 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

efek samping salep obat kortikosteroid

Hati-hati Penggunaan Obat Kortikosteroid Berlebihan

Ditulis oleh: dr. Angga Maulana
Dipublikasikan tanggal: 28 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit
obat herbal paru-paru kronis

Berbagai Pilihan Obat Herbal untuk Atasi Penyakit Paru-Paru Obstruksi Kronis

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 23 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit

Waspada Komplikasi Akibat Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 7 Juli 2020 . Waktu baca 8 menit
penderita asma covid-19

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 24 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit