Naiknya asam lambung ke kerongkongan kerap menyebabkan sejumlah gejala, seperti heartburn, mual, muntah, dan nyeri ulu hati. Akan tetapi, kondisi ini juga sering kali menimbulkan sesak napas. Lantas, kenapa asam lambung menyebabkan sesak napas?
Naiknya asam lambung ke kerongkongan kerap menyebabkan sejumlah gejala, seperti heartburn, mual, muntah, dan nyeri ulu hati. Akan tetapi, kondisi ini juga sering kali menimbulkan sesak napas. Lantas, kenapa asam lambung menyebabkan sesak napas?

Masalah asam lambung naik, seperti maag atau GERD, dapat memicu gangguan pernapasan, termasuk sesak napas. Hal ini berkaitan dengan iritasi saluran napas dan hubungan asma dengan GERD.
Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasan lengkap bagaimana naiknya asam lambung menyebabkan sesak napas.
Sesak napas bisa terjadi pada penderita GERD karena asam lambung yang naik ke kerongkongan dapat mengiritasi saluran udara dan bahkan mencapai paru-paru.
Ketika asam lambung naik, iritasi ini bisa memicu respons inflamasi di saluran pernapasan, yang menyebabkan pembengkakan.
Pembengkakan tersebut membuat saluran udara menyempit sehingga menyebabkan kesulitan bernapas atau sesak napas.
Pada beberapa kasus, asam yang mencapai paru-paru dapat memicu gejala yang mirip dengan asma, termasuk batuk, mengi, dan napas pendek.
Salah satu penelitian dalam The Journal of Allergy and Clinical Immunology: In Practice mengatakan bahwa GERD bisa menyebabkan asma.
Asma dan asam lambung saling berkaitan, artinya orang yang memiliki GERD lebih berpotensi memiliki asma dan sebaliknya.
Hal ini juga tertulis dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Medicine.
Penelitian ini memperkirakan bahwa sekitar 89% penderita asma juga mengalami gejala GERD. Hal ini terjadi karena adanya hubungan antara kedua kondisi tersebut.
Peneliti menduga asam lambung yang naik ke kerongkongan membuat saraf di sekitar lambung mengirimkan sinyal peringatan ke otak.
Otak kemudian merespons dengan memicu kontraksi di saluran pernapasan yang pada akhirnya memperburuk gejala asma.
Kondisi ini menciptakan siklus di mana asma dapat memperparah GERD, dan sebaliknya GERD bisa memperburuk gejala asma.

Jika sesak napas terjadi akibat asam lambung naik (GERD), berikut beberapa langkah pertolongan pertama yang dapat dilakukan untuk meredakan gejalanya.
Ada beberapa tindakan yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi risiko munculnya gejala GERD seperti berikut ini.
Ada beberapa tindakan yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi risiko munculnya gejala GERD.
Pertama, hindari makanan yang memicu asam lambung, seperti gorengan, makanan tinggi lemak, kafein, makanan pedas, serta minuman berkarbonasi.
Coba juga makan dengan porsi kecil tapi lebih sering sepanjang hari untuk mengurangi beban pada lambung.
Banyak penderita GERD yang mengalami sesak napas lebih parah di malam hari.
Posisi berbaring membuat gravitasi tidak lagi menjaga asam lambung tetap di perut sehingga lebih mudah naik ke kerongkongan.
Posisi tidur untuk asam lambung yang tepat yaitu dengan posisi kepala lebih tinggi atau miring ke kiri bisa membantu mencegah hal ini.

Stres dapat memicu asam lambung yang bisa menyebabkan sesak napas. Stres juga memicu ketegangan otot di dada dan perut, yang dapat memperparah sesak napas.
Oleh karena itu, memiliki manajemen stres yang baik sangat penting untuk mencegah gejala asam lambung semakin memburuk.
Beberapa hal yang bisa Anda coba untuk menghilangkan stres yaitu olahraga teratur, latihan pernapasan, tidur yang cukup, serta menekuni hobi.
Perubahan gaya hidup merupakan faktor penting dalam mencegah kambuhnya gejala GERD. Cara yang bisa Anda terapkan yaitu pola makan sehat dan seimbang.
Selain itu, turunkan berat badan jika Anda memiliki obesitas. Pasalnya, obesitas dapat meningkatkan tekanan di area perut, yang membuat asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan.
Merokok juga dapat memicu asam lambung. Kebiasaan ini dapat memperburuk fungsi otot di antara lambung dan kerongkongan.
Mengatur porsi dan jadwal makan juga penting untuk mencegah sesak napas karena asam lambung.
Makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering dapat membantu meringankan beban pada lambung dan mengurangi risiko asam lambung naik ke kerongkongan.
Selain itu, menjaga jadwal makan yang teratur dapat membantu tubuh mencerna makanan dengan lebih baik.
Usahakan untuk tidak makan sebelum waktu tidur, idealnya 2 – 3 jam sebelumnya.
Apabila Anda merasakan sesak napas karena GERD semakin memburuk dan muncul gejala lain, segera periksa ke dokter.
Dengan begitu, dokter dapat memeriksa kondisi Anda dan melakukan perawatan sesuai kondisi kesehatan yang Anda alami.
Ringkasan
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). (2022). Retrieved 10 October 2024, from https://aafa.org/asthma/asthma-triggers-causes/health-conditions-that-trigger-asthma/gastroesophageal-reflux-disease/
James T C Li, M. D. (2023). Asthma and acid reflux: Are they linked? Retrieved 10 October 2024, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/asthma/expert-answers/asthma-and-acid-reflux/faq-20057993
Grandes, X. A., Talanki Manjunatha, R., Habib, S., Sangaraju, S. L., & Yepez, D. (2022). Gastroesophageal Reflux Disease and Asthma: A Narrative Review. Cureus, 14(5), e24917. https://doi.org/10.7759/cureus.24917
Can Acid Reflux Cause Shortness of Breath? (2022). Retrieved 10 October 2024, from https://health.mountsinai.org/blog/can-acid-reflux-cause-shortness-of-breath/
Zhang, J. X., Zhan, X. B., Bai, C., & Li, Q. (2015). Belching, regurgitation, chest tightness and dyspnea: not gastroesophageal reflux disease but asthma. World journal of gastroenterology, 21(5), 1680–1683. https://doi.org/10.3748/wjg.v21.i5.1680
Kim, S. Y., Min, C., Oh, D. J., & Choi, H. G. (2020). Bidirectional association between GERD and asthma: two longitudinal follow-up studies using a national sample cohort. The Journal of Allergy and Clinical Immunology: In Practice, 8(3), 1005-1013.
Gaude, G. S., Hattiholi, J., Bhoma, G., & Hajare, S. (2016). Risk of gastro-esophageal reflux disease in bronchial asthma-a prospective study using FSSG scale and gastroesophageal endoscopy. Archives of Medicine, 8(3), 1-6.
Versi Terbaru
15/10/2024
Ditulis oleh Annisa Nur Indah Setiawati
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa
Diperbarui oleh: Fidhia Kemala
Ditinjau secara medis oleh
dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa
General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro