home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Nebulizer: Fungsi, Efek Samping, Cara Pemakaian, dan Perawatannya

Nebulizer: Fungsi, Efek Samping, Cara Pemakaian, dan Perawatannya

Sesak napas tentu membuat Anda merasa seperti kehabisan napas dan tersiksa. Terdapat beberapa metode pengobatan untuk mengatasi masalah yang menyebabkan sesak napas. Mulai dari pengobatan oral sampai dengan obat hirup menggunakan nebulizer yang dinilai paling efektif. Simak ulasan lengkap soal nebulizer, dari kegunaan hingga cara merawatnya.

Apa fungsi nebulizer?

alat nebulizer

Nebulizer adalah alat mesin yang mengubah obat cair menjadi uap untuk dihirup ke dalam paru-paru. Fungsi nebulizer adalah untuk melegakan saluran napas yang menyempit.

Nebulizer terdiri dari mesin kompresor udara, wadah kecil untuk obat cair, dan selang elastis yang menghubungkan kompresor udara ke wadah obat. Di atas wadah obat terdapat corong atau masker yang akan digunakan untuk menghirup kabut.

Ada dua versi daya nebulizer, yaitu menggunakan listrik dan menggunakan baterai. Anda dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui cara memilih jenis nebulizer yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Alat ini umum digunakan sebagai terapi pengobatan penyakit pernapasan kronis, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Ini karena dibanding dengan inhaler, uap yang dihasilkan nebulizer amat sangat kecil sehingga obat akan bisa lebih cepat meresap ke bagian paru yang ditargetkan.

Bagaimana cara kerja nebulizer?

Alat bantu pernapasan ini bekerja dengan cara mengubah obat cair menjadi uap. Udara yang mengandung uap obat kemudian akan ditekan naik melalui selang ke masker.

Dari situ, Anda akan menghirup obat Anda. Obat yang dihantarkan oleh nebulizer akan diserap perlahan, dan Anda mungkin harus duduk diam selama 10 sampai 15 menit.

Nebulizer lebih sering digunakan dalam serangan asma dan PPOK karena alat ini tidak memerlukan teknik pernapasan yang rumit. Pasalnya, saat menggunakan inhaler, Anda perlu mengambil napas dalam terlebih dulu sebelum menyemprotkan obat.

Hal tersebut akan menyulitkan orang yang sedang mengalami serangan asma atau PPOK. Itu sebabnya alat ini menjadi pilihan yang lebih efektif untuk menghantarkan obat dibandingkan inhaler dalam situasi memburuknya gejala PPOK.

Penyakit yang bisa diatasi dengan nebulizer

Berikut adalah daftar penyakit yang dapat diatasi dengan pemakaian nebulizer:

1. Asma

Asma adalah kondisi di mana saluran pernapasan menyempit dan membengkak, serta memproduksi lendir berlebih. Kondisi ini dapat menyebabkan kesulitan bernapas, serta menimbulkan gejala-gejala seperti batuk dan mengi (napas berbunyi).

2. Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)

Penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK adalah penyakit pernapasan yang menyebabkan seseorang sulit karena tersumbatnya saluran udara di paru-paru. PPOK merupakan penyakit progresif, artinya penyakit ini akan semakin memburuk seiring berjalannya waktu.

3. Pneumonia

Pneumonia adalah penyakit infeksi yang menyerang paru, sehingga menyebabkan kantung udara di dalam paru (alveolus) meradang dan membengkak. Kondisi kesehatan ini sering kali disebut dengan paru-paru basah, sebab paru bisa saja dipenuhi dengan air atau cairan lendir.

4. Bronkiektasis

Bronkiektasis adalah kondisi yang ditandai dengan saluran napas yang luka dan meradang. Kondisi ini membuat saluran napas dipenuhi lendir kental yang meningkatkan risiko infeksi bakteri.

Nebulizer membantu membersihkan lendir. Dengan begitu, Anda lebih mudah mengeluarkan lendir dan obat-obatan untuk infeksi bakteri jadi lebih mudah diserap.

5. Bronkiolitis

Bronkiolitis adalah peradangan dan pembengkakan saluran udara kecil (bronkiolus) akibat infeksi virus. Kondisi ini sering ditemukan pada bayi dan bisa jadi salah satu risiko penyebab asma di kemudian hari.

Dokter atau perawat mungkin menganjurkan nebulizer untuk mengatasi bronkiolitis, tergantung pada kondisi dan kebutuhan masing-masing.

6. Fibrosis kistik

Fibrosis kistik adalah penyakit genetik yang menyerang kemampuan tubuh mengendalikan gerakan garam dan air di antara sel. Akibatnya, terbentuklah lendir yang sangat kental di paru-paru dan sistem pencernaan. Hal ini membuat Anda susah bernapas dan meningkatkan risiko infeksi paru.

Nebulizer berguna untuk mengencerkan dahak (lendir) atau mengatasi gejala fibrosis kistik lainnya. Obat-obatan kistik fibrosis yang bisa digunakan dalam nebulizer adalah bronkodilator, kortikosteroid, dan enzim dornase alfa.

Pengobatan dengan alat ini tak hanya melegakan pernapasan, tapi juga mengatur produksi lendir dan mencegah infeksi bertambah parah.

7. Sinusitis

Sinusitis adalah peradangan pada area hidung dan sinus. Menurut berbagai laporan, nebulizer tipe ultrasonik cukup ampuh mengurangi gejala-gejala sinusitis seperti hidung tersumbat atau nyeri di area hidung dan wajah.

Alat ini bahkan disebutkan mampu mengatasi infeksi bakteri pada 76 persen pasien yang diberikan obat antibiotik lewat mesin uap ini.

Dalam sebuah survei yang dilakukan pada pasien pengguna nebulizer di rumah, terbukti bahwa manfaat alat hirup uap ini jauh lebih besar daripada potensi risiko apa pun. Alat ini sendiri bisa menjadi alat yang sangat membantu dalam mengendalikan penyakit paru kronis, serta bisa membantu para pasien lebih berhemat.

Apakah ada efek samping dari penggunaan nebulizer?

Umumnya, efek samping dari pemakaian nebulizer tergantung pada cairan obat sesak napas yang digunakan.

Penggunaan obat bronkodilator, misalnya, mungkin akan menyebabkan efek samping tertentu. Menurut NHS, berikut adalah beberapa efek dari pemakaian bronkodilator:

  • tangan gemetar
  • sakit kepala
  • detak jantung tidak beraturan
  • kram otot
  • mual
  • mulut kering
  • batuk
  • diare

Lain lagi dengan saline atau larutan garam steril, jenis obat lain yang biasa dipakai dengan alat ini. Beberapa efek samping yang biasanya muncul akibat pemakaian saline dengan nebulizer adalah:

Cara menggunakan nebulizer langkah demi langkah

Cara yang tepat saat menggunakan nebulizer memungkinkan obat bisa bekerja secara efektif, terutama untuk mengobati gejala sesak napas.

Untuk itu, coba ikuti cara-cara pemakaiannya berikut ini, mulai dari mempersiapkannya hingga memakainya.

  1. Cuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir untuk mencegah kuman ikut masuk ke paru-paru lewat tangan yang menyentuh alat.
  2. Siapkan obat yang akan digunakan. Jika obat sudah dicampur, tuang langsung ke dalam wadah obat nebulizer. Jika belum, masukkan satu per satu dengan menggunakan pipet atau alat suntik.
  3. Tambahkan cairan saline jika diperlukan dan diresepkan dokter.
  4. Hubungkan wadah obat ke mesin dan juga masker ke bagian atas wadah.
  5. Pasang masker di wajah hingga menutupi hidung dan mulut. Pastikan pinggiran masker tersegel baik dengan wajah, agar tidak ada uap yang keluar dari sisi-sisi masker.
  6. Hidupkan mesin kemudian tarik napas dengan hidung dan keluarkan perlahan melalui mulut.
  7. Anda bisa mengakhirinya saat tidak ada lagi uap yang keluar. Ini tandanya obat sudah habis.

Pemakaian nebulizer umumnya memakan waktu kurang lebih 15-20 menit.

Cara merawat nebulizer agar awet dan tidak cepat rusak

Alat hirup uap obat nebulizer harus dibersihkan setiap kali digunakan. Hal ini penting untuk menghindari pertumbuhan bakteri, yang membuat Anda berisiko kena infeksi bakteri.

Lakukanlah hal berikut ini setiap kali Anda selesai menggunakan alat ini:

  1. Langsung cuci wadah obat dan masker dengan sabun cuci piring. Bilaslah dengan air panas. Usahakan semua bagian dibersihkan tanpa terlewat.
  2. Lap bersih setiap bagian alat hingga benar-benar kering. Agar lebih cepat kering, Anda juga bisa memasang setiap bagian nebulizer ke mesin dan menghidupkannya. Udara yang dikeluarkan dari mesin membantu mengeringkan alat dengan cepat dan praktis.
  3. Pastikan semua bagian telah benar-benar kering sebelum menyimpannya dan menggunakannya kembali.

Selain dibersihkan, Anda juga perlu mensterilkan alat bantu napas tersebut setiap dua hari sekali setelah digunakan. Caranya dengan merendam bagian-bagian alat hirup ini (kecuali bagian masker) ke dalam baskom berisi tiga gelas air panas yang dicampur satu sendok cuka putih encer. Anda juga bisa meminta larutan pembersih khusus dari dokter atau apoteker.

Diamkan selama satu jam atau sesuai yang diinstruksikan di kardus kemasan. Setelah itu, keringkan dengan memasang potongan nebulizer ke mesin dan kemudian hidupkan.

Setelah dibersihkan dan disterilkan, pastikan untuk menyimpan alat sesuai dengan petunjuk agar tetap awet dan terus berfungsi dengan baik.

Selang perlu diganti secara teratur agar lebih higienis dan memastikan bahwa Anda tidak menghirup kuman berbahaya. Hindari mencuci selang dengan air. Penggantian selang harus dilakukan secara berkala karena mustahil untuk membersihkan bagian dalam selang sepenuhnya.

Dengan mengetahui cara pemakaian serta perawatan yang benar, Anda pun bisa mendapatkan pengobatan dengan nebulizer secara maksimal.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Albuterol (inhalation route) – Mayo Clinic. (2015). Retrieved June 17, 2020, from http://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/albuterol-inhalation-route/proper-use/drg-20073536

What’s the difference between a nebulizer and inhaler? – KidsHealth. (2014). Retrieved June 17, 2020, from http://kidshealth.org/parent/medical/asthma/nebulizer_inhaler.html

Using a Nebulizer – National Jewish Health. (2015). Retrieved June 17, 2020, from https://www.nationaljewish.org/conditions/medications/asthma-medications/devices/nebulizers/instructions

Getting emergency treatment through a nebuliser – Asthma UK. (n.d.). Retrieved June 17, 2020, from https://www.asthma.org.uk/advice/nhs-care/emergency-asthma-care/nebulisers/

Nebulizer Care at Home – Cystic Fibrosis Foundation. (n.d.). Retrieved June 17, 2020, from https://www.cff.org/Life-With-CF/Treatments-and-Therapies/Medications/Nebulizer-Care-at-Home/

Mucus Thinners – Cystic Fibrosis Foundation. (n.d.). Retrieved June 17, 2020, from https://www.cff.org/Life-With-CF/Treatments-and-Therapies/Medications/Mucus-Thinners/

Bronchodiator: Side Effects – NHS. (2019). Retrieved June 17, 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/bronchodilators/side-effects/

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Novita Joseph
Tanggal diperbarui 24/02/2021
x