backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

2

Tanya Dokter
Simpan
Konten

Thoracentesis

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Fidhia Kemala · Tanggal diperbarui kemarin

Thoracentesis

Paru-paru seharusnya menjadi tempat pertukaran oksigen. Namun, ada sejumlah kondisi medis yang bisa menyebabkan paru-paru terisi cairan. Pada kondisi seperti ini, salah satu perawatan yang bisa diberikan adalah thoracentesis.

Seperti apa prosedur torakosentesis? Apakah diperlukan persiapan khusus sebelum menjalani tindakan medis ini? Simak ulasan berikut untuk jawabannya.

Apa itu thoracentesis?

Thoracentesis adalah prosedur medis untuk menyedot cairan yang menumpuk di dalam rongga pleura dengan cara menusukkan sebuah jarum. Prosedur ini juga dikenal sebagai pleurocentesis serta pleural tap.

Pleura adalah jaringan tipis yang terdiri dari dua lapisan untuk menyelimuti paru-paru. Celah di antara dua lapisan tersebut disebut sebagai rongga pleura.

Normalnya, rongga pleura memang terisi sedikit cairan. Namun, masalah medis seperti pneumonia, kanker paru-paru, dan gagal jantung bisa meningkatkan produksi cairan pada rongga pleura.

Penumpukan cairan pada rongga pleura disebut dengan efusi pleura.

Apa fungsi torakosentesis?

Torakonsentesis siapa yang perlu

Torakosentesis atau thoracentesis bertujuan untuk mengurangi jumlah cairan yang menumpuk di dalam rongga pleura.

Dengan begitu, paru-paru bisa berfungsi lebih baik sehingga gangguan pernapasan akan berkurang atau bahkan teratasi sepenuhnya. 

Melansir situs American Thoracic Society, dokter juga bisa menjalankan torakosentesis untuk kebutuhan pemeriksaan dan diagnosis.

Artinya, dokter akan mengambil sampel cairan dari pleura (biopsi pleura) untuk dianalisis di laboratorium.

Siapa saja yang perlu melakukan torakosentesis?

Thoracentesis biasanya disarankan untuk seseorang yang mengalami salah satu atau berbagai kondisi berikut.

1. Infeksi paru-paru

Penyakit infeksi paru-paru bisa disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Untuk menentukan jenis mikroorganisme penyebab infeksi paru-paru, dokter bisa melakukan thoracentesis.

Selain untuk diagnosis, tindakan penyedotan cairan dari paru-paru juga kerap dilakukan untuk mengatasi infeksi paru-paru.

Pasalnya, infeksi paru-paru bisa menyebabkan peradangan yang kemudian meningkatkan produksi cairan di dalam rongga pleura.

2. Efusi pleura

Meski serupa, efusi pleura dan paru-paru basah adalah dua kondisi yang berbeda. Namun, paru-paru basah atau pneumonia adalah salah satu kondisi yang bisa menyebabkan efusi pleura.

Efusi pleura sendiri merupakan kondisi ketika rongga pleura dipenuhi oleh cairan yang tidak dibutuhkan.

Torakosentesis dapat dilakukan untuk mengurangi penumpukan cairan serta mengetahui penyebab utama dari kondisi tersebut.

3. Kanker

Sel kanker bisa merusak sel-sel sehat pada paru-paru sehingga menyebabkan penumpukan cairan di dalam rongga pleura.

Dalam kondisi tersebut, penyedotan cairan dibutuhkan untuk memastikan keberadaan sel kanker paru.

Ketika sel kanker sudah dipastikan, thoracentesis dibutuhkan untuk mengangkat cairan berlebih untuk meredakan gejala kanker.

4. Kesulitan bernapas

Thoracentesis bisa dilakukan pada seseorang yang mengeluhkan sesak napas atau rasa tidak nyaman selama bernapas.

Pasalnya, gangguan pernapasan dengan gejala tersebut sering kali berkaitan dengan penumpukan cairan pada paru-paru meskipun penyebab utamanya tidak diketahui secara pasti.

Apa yang perlu diperhatikan sebelum thoracocentesis?

Meski termasuk sebagai prosedur bedah minimal invasif yang risikonya kecil, tidak semua orang bisa menjalani torakosentesis.

Dokter tidak menyarankan seseorang dengan kondisi berikut untuk menjalani thoracentesis.

  • Gangguan pembekuan darah.
  • Seseorang yang baru saja menjalani operasi paru-paru dan memiliki jaringan yang terluka.
  • Sedang mengonsumsi obat pengencer darah.
  • Punya riwayat gagal jantung atau pembesaran katup jantung yang menghalangi paru-paru.

Bagaimana prosedur thoracentesis?

Sebagai bedah minimal invasif, tidak banyak persiapan khusus yang perlu Anda lakukan sebelum menjalani torakosentesis. 

Supaya Anda lebih tenang saat menjalani proses penyedotan cairan di paru-paru, simak informasi berikut.

1. Persiapan thoracocentesis

uretrotomi adalah prosedur operasi

Sebelum melakukan penyedotan cairan di paru-paru, Anda biasanya perlu menjalani pemeriksaan rontgen dada atau CT scan.

Berdasarkan hasil tes ini, dokter dapat mengetahui seberapa serius penumpukan cairan yang terdapat di dalam rongga pleura. 

Setelah itu, dokter dan petugas medis akan menjelaskan kepada Anda bagaimana prosedur thoracentesis serta menyampaikan beberapa informasi berikut.

  • Obat-obatan yang sebaiknya dihindari sebelum tindakan, misalnya aspirin, clopidogrel, dan warfarin.
  • Alergi obat-obatan, gangguan darah, atau riwayat penyakit paru-paru. Pastikan Anda memberikan jawaban lengkap terkait pertanyaan ini.
  • Pengobatan yang perlu dijalani setelah thoracentesis, seperti jenis obat yang dikonsumsi dan lama waktu pemulihan.

Selama proses persiapan, jangan ragu untuk menanyakan berbagai hal terkait thoracentesis yang masih membuat Anda penasaran atau ketakutan.

2. Selama prosedur thoracocentesis

Berikut ini adalah tahapan dari prosedur thoracocentesis.

  1. Dokter akan meminta pasien duduk atau berbaring.
  2. Tubuh pasien akan dihubungkan dengan monitor agar detak jantung dan tanda-tanda vitalnya bisa dipantau.
  3. Dokter akan memasangkan oksigen melalui tabung (kanula) atau masker.
  4. Sebelum menyuntikkan jarum, dokter akan memberikan anestesi lokal dan mensterilkan area yang akan diberi tindakan.
  5. Dokter akan menyuntikan jarum di sekitar paru-paru dan rongga pleura. Untuk mengalirkan cairan, dokter akan memasang selang plastik. 
  6. Setelah jarum disuntikan, kelebihan cairan di paru-paru akan mulai keluar.
  7. Setelah proses penyedotan selesai, dokter akan memasang plester pada area suntikan. Anda tidak membutuhkan jahitan untuk menutup bekas suntikan.
  8. Di akhir prosedur, dokter mungkin melakukan rontgen untuk memastikan kondisi paru-paru. 

National Heart, Lung, and Blood Institute menyebutkan bahwa penyedotan cairan di paru-paru biasanya berlangsung selama 10–15 menit.

Namun, prosedur ini bisa saja berlangsung lebih lama apabila volume cairan yang perlu dikeluarkan cukup banyak.

Volume cairan yang dikeluarkan tergantung dengan tujuan dilakukannya prosedur. Jika tindakan ini dilakukan untuk pemeriksaan atau biopsi pleura, dokter tidak akan mengambil terlalu banyak cairan.

Efek samping dari torakosentesis

Secara umum, torakosentesis atau sedot cairan di paru-paru tidak akan menyebabkan efek samping yang serius selama Anda menjalani tahap persiapan dan prosedur yang tepat.

Meski begitu, seperti prosedur medis lainnya, beberapa efek samping berikut bisa terjadi pada seseorang yang menjalani torakosentesis.

  • Perdarahan.
  • Gangguan sirkulasi udara di paru-paru.
  • Pneumotoraks (paru-paru kolaps/turun).
  • Infeksi.

Efek samping di atas terbilang langka. Sekalipun terdapat efek samping, biasanya gangguannya cukup ringan dan bisa diatasi dengan pengobatan selama masa pemulihan.

Untuk menghindari komplikasi serius, lakukan berbagai anjuran yang diberikan oleh dokter. Artinya, jika dokter tidak mengizinkan Anda melakukan torakosentesis, jangan memaksakannya.

Kesimpulan

  • Thoracentesis adalah prosedur medis yang dilakukan untuk mengeluarkan cairan berlebih pada rongga pleura.
  • Beberapa kondisi yang membuat seseorang harus menjalani torakosentesis adalah infeksi paru-paru, kanker, dan kondisi lain yang membuat Anda sulit bernapas.
  • Thoracentesis dilakukan dengan cara menusukkan jarum yang tersambung pada selang untuk mengeluarkan cairan. Prosedur ini dilakukan dengan bius lokal dan tidak membutuhkan jahitan.
  • Torakosentesis adalah tindakan medis minim risiko. Namun, karena beberapa kondisi, prosedur ini bisa menyebabkan perdarahan, gangguan sirkulasi udara, pneumotoraks, dan infeksi.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Fidhia Kemala · Tanggal diperbarui kemarin

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan