Batuk Rejan (Pertusis)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 November 2020 . Waktu baca 12 menit
Bagikan sekarang

Pengertian

Apa itu pertusis (batuk rejan)?

Batuk rejan atau pertusis merupakan batuk yang sangat menular akibat infeksi bakteri Bordetella pertussis di saluran pernapasan. Kondisi ini dapat berlangsung selama 4-8 minggu sehingga dikenal juga dengan sebutan batuk seratus hari. Selain batuk berkepanjangan, pertusis juga disertai dengan tarikan napas mengi (berbunyi ngik-ngik). Mulanya batuk berlangsung ringan, tapi semakin bertambah parah dan dapat disertai beberapa gangguan kesehatan lainnya, seperti hidung tersumbat, mata berair, tenggorokan kering, dan demam.  Pertusis dapat menular dengan cepat umumnya di antara anak-anak dan remaja dan berpotensi menimbulkan komplikasi atau dampak kesehatan yang berbahaya. Untungnya, Anda bisa mencegah batuk rejan atau pertusis dengan memberikan vaksin DPT (difteri, pertusis, dan tetanus).

Seberapa umumkah kondisi ini?

Anak-anak dan balita adalah kelompok usia yang paling rentan terjangkit batuk rejan. Terutama bayi berumur 12 bulan dan anak-anak kecil berusia 1-4 tahun yang tidak melakukan vaksinasi. Dalam riset yang dipublikasikan The Lancet tahun 2017, terdapat 24,1 juta kasus batuk rejan per tahunnya di seluruh dunia yang umumnya diderita oleh anak-anak. Badan Kesehatan Dunia (WHO), mengestimasi setidaknya terdapat 300.000 kasus kematian pada anak di negara berkembang yang disebabkan oleh pertusis setiap tahunnya. Akan tetapi, bayi yang masih berumur kurang dari 12 bulan belum bisa mendapatkan vaksin pertusis. Oleh sebab itu, ia lebih mungkin terkena batuk rejan jika semasa mengandung ibunya tidak melakukan vaksinasi. Meskipun batuk pertusis lebih umum dialami anak-anak, penyakit ini juga mugkin saja terjadi pada orang dewasa.

Tanda-tanda dan gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala pertusis (batuk rejan)?

Tanda-tanda gangguan kesehatan yang menandai batuk rejan biasanya baru muncul sekitar 5-10 hari setelah terinfeksi oleh bakteri. Pada anak-anak, gejala pertusis yang dialami bisa lebih spesifik, seperti sesak napas ketika berbaring atau tidur. Tahapan infeksi batuk rejan sendiri terdiri dari tiga fase yang mana setiap fasenya menunjukkan gejala yang berbeda-beda.

1. Gejala pertusis fase 1

Tanda-tanda dan gejala dari batuk rejan pada tahap awal yang berlangsung selama 1-2 minggu biasanya ringan dan mirip dengan gejala pilek biasa, seperti:

2. Gejala pertusis fase 2

Setelah lebih dari 2-3 minggu, tanda-tanda dan gejala batuk rejan akan memburuk. Fase kedua infeksi bakteri pertusis ini juga dikenal dengan fase paroksismal. Pada fase ini kondisi batuk semakin intens dan kadang tidak dapat berhenti selama 10 menit. Kondisi ini dapat berulang sampai 10-15 kali dalam sehari. Fase ini dapat berlangsung dalam 1-6 minggu . Pada orang dewasa, selama periode batuk berlangsung suara napas yang meninggi (whooping) akan terdengar lebih jelas. Produksi lendir pada saluran pernapasan juga bertambah banyak dan pekat sehingga batuk semakin sulit untuk berhenti.  Fase kedua infeksi juga lebih berisiko mengancam keselamatan bayi dan anak-anak. Bayi bisa mengalami sesak napas yang semakin lama bertambah parah. Berikut adalah gejala-gejala lain yang kerap muncul pada fase kedua infeksi bakteri yang menyebabkan batuk rejan:

  • Mual
  • Wajah berubah pucat membiru (biasanya pada anak-anak) atau memerah
  • Merasakan kelelahan ekstrem
  • Dada terasa sakit saat batuk
  • Suara mengi semakin tinggi, terutama saat menarik napas setelah batuk

3. Gejala pertusis fase 3

Fase akhir adalah fase penyembuhan yang umumnya berlangsung selama 1-3 bulan. Gangguan kesehatan yang dialami biasanya mulai berangsur membaik, frekuensi, dan lamanya periode batuk mulai menurun. Meskipun pada fase ini penderita tidak lagi menularkan bakteri, mereka tetap berisiko terkena infeksi dari virus atau bakteri lain sehingga memperlambat proses penyembuhan. Batuk rejan tidak memiliki karakteristik gejala yang spesifik yang bisa membedakannya dengan jenis batuk lain. Apalagi, tidak semua penderita pertusis mengeluarkan suara mengi saat batuk atau ketika kesulitan bernapas. Oleh sebab itu terkadang sulit menentukan bahwa batuk berkepanjangan yang diderita merupakan batuk rejan.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Fase pertama dari perkembangan batuk pertusis adalah masa di mana infeksi sangat rentan menular. Meskipun begitu, orangtua perlu sangat berhati-hati dan jangan sampai menunda pengobatan medis, terutama ketika gejala telah menunjukkan perkembangan infeksi di fase kedua. Pasalnya, risiko kematian akibat pertusis yang paling tinggi terjadi di fase paroksismal ini. Jika Anda mencurigai gejala yang muncul adalah tanda pertusis, periksakanlah ke dokter sekalipun batuk masih bersifat ringan.  Selain itu, Anda juga harus segera menghubungi dokter bila Anda atau si kecil mengalami gejala-gejala berikut ini:

  • Muntah
  • Wajah menjadi kemerahan atau kebiruan
  • Kesulitan bernapas 
  • Napas semakin memendek

Penyebab

Apa penyebab batuk rejan?

Batuk rejan terjadi akibat infeksi pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Pertusis merupakan jenis batuk yang sangat mudah ditularkan dari satu orang ke orang lainnya. Penularan pertusis pada orang dewasa bisa berasal dari paparan bakteri yang berada di lingkungan sekitar. Bakteri Bordetella pertussis dapat keluar melalui droplet atau percikan dahak/lendir yang keluar saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, dan berbicara. Penderita yang belum diberikan pengobatan paling berisiko menularkan bakteri selama fase pertama, yaitu selama 2-3 minggu gejala batuk berlangsung.  Bakteri penyebab batuk masuk ke dalam tubuh melalui hidung, mulut, atau mata. Infeksi bakteri penyebab batuk rejan kemudian berlangsung di permukaan saluran pernapasan, yaitu pada trakea dan bronkus. Keduanya merukan bagian batang tenggorokan yang berfungsi menjadi saluran yang membawa udara masuk ke paru-paru dan ke alveoli (kantung) paru-paru.  Sesaat setelah Bordetella pertussis berada di saluran pernapasan, bakteri tersebut mulai memperbanyak diri, memproduksi racun yang melumpuhkan kerja sel-sel yang bertugas untuk membersihkan lendir pada dinding paru-paru. Akibatnya, terjadi penumpukan dahak pada saluran pernapasan. Selama berkembang biak, B. pertussis memproduksi berbagai macam zat antigenik sekaligus zat beracun seperti pertussis toxin (PT), filamentous hemagglutinin (FHA), agglutinogens, adenylate cyclase, pertactin, dan tracheal cytotoxin. Racun-racun inilah yang bertanggung jawab atas peradangan dan pembengkakan yang terjadi pada saluran pernapasan. Selain itu, racun dari bakteri penyebab batuk rejan juga dapat menyerang sistem kekebalan tubuh. Seiring bertambah parahnya infeksi yang disebabkan bakteri, bertambah banyak pula jumlah dahak. Alhasil, batuk pun akan berlangsung semakin sering. Lama-kelamaan penderita akan semakin sulit untuk bernapas karena sirkulasi udara dalam saluran pernapasan kian terhambat akibat dahak yang menumpuk. Udara yang tidak bisa sepenuhnya masuk sampai ke paru-paru akan menimbulkan suara mengi saat penderita bernapas.

Faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko untuk mengalami batuk rejan?

Pertusis merupakan jenis batuk yang sangat menular. Terdapat sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan peluang seseorang untuk terjangkit penyakit ini.  Orang-orang dengan kondisi berikut ini lebih berisiko mengalami batuk pertusis:

  • Bayi di bawah 12 bulan yang masih belum bisa menerima vaksin
  • Orang yang berinteraksi secara dekat dan sering dengan penderita pertusis
  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti ibu hamil, penderita autoimun atau yang sedang menjalani pengobatan yang menurunkan kerja sistem imun

Diagnosis

Bagaimana cara mendiagnosis batuk rejan?

Pada tahap awal diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, menganalisis riwayat kesehatan, dan mencoba mengidentifikasi gangguan kesehatan yang menyerupai gejala pertusis. Dari sini, dokter bisa saja salah menentukan diagnosis karena karena dalam banyak kasus gejala yang muncul mirip dengan penyakit pilek atau flu biasa. Oleh karena itu, dokter biasanya akan mulai mencari analisis pembanding dengan menanyakan separah apa batuk yang dialami atau mendengarkan bunyi batuk untuk mendeteksi adanya suara mengi. Untuk memperoleh hasil diagnosis yang lebih pasti,  dokter biasanya akan meminta Anda menjalani beberapa tes kesehatan sebagai berikut:

  • Tes dahak atau sputum: pemeriksaan laboratorium untuk menganalisis sampel lendir yang diambil dari tenggorokan dan hidung sehingga dapat diketahui ada atau tidaknya bakteri Bordetella pertussis di dalam tubuh.
  • Tes darah: untuk mengetahui jumlah elemen sel darah, terutama sel darah putih. Jika jumlahnya tinggi, maka mengindikasikan terdapatnya beberapa infeksi.
  • Tes rontgen dada: mengambil gambar bagian dalam dada menggunakan X-ray untuk memeriksa adanya peradangan atau cairan pada paru-paru.

Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana cara mengobati batuk rejan?

Pengobatan pertusis sebaiknya dilakukan sesegera mungkin setidaknya pada 1-2 minggu pertama sebelum gejala yang lebih serius muncul. Oleh karena batuk rejan atau pertusis disebabkan infeksi bakteri, maka jenis obat yang tepat digunakan adalah antibiotik. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), jenis antibiotik yang efektif diguanakan sebagai obat untuk membasmi infeksi bakteri penyebab batuk rejan adalah golongan makrolida, seperti:

Ketiga obat antibiotik untuk batuk rejan ini akan bekerja dengan efektif terutama saat infeksi masih berlangsung pada fase awal (2-3 minggu). Namun, obat-obatan ini hanya aman diberikan pada pasien yang telah berusia 1 bulan atau lebih. Penggunaan obat pertusis ini pada bayi berusia di bawah 1 bulan membutuhkan penanganan medis khusus.  Sangat penting untuk mengonsumsi obat batuk rejan sesuai dengan dosis yang diberikan dokter karena sehingga lebih efektif menghentikan infeksi bakteri.  Selain antibiotik, biasanya dokter juga dapat memberikan  obat tambahan untuk mengatasi gejala batuk rejan, seperti kortikosteroid yang dapat membantu mengurangi peradangan di saluran pernapasan. Sementara obat batuk nonresep  atau over-the-counter (OTC) sebaiknya tidak digunakan sebagai obat pengganti antibiotik untuk batuk rejan. Pasalnya, obat batuk nonresep hanya berfungsi meringankan batuk, rasa sakit di tenggorokan ataupun mengencerkan dahak. Obat ini tidak bekerja secara langsung membunuh bakteri penyebab infeksinya.

Apa saja pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi batuk rejan?

Pengobatan pertusis bisa dilakukan secara rawat jalan, terutama pada pasien yang tidak menunjukkan gejala berat. Rawat inap di rumah sakit biasanya hanya diperlukan oleh anak-anak atau orang dewasa yang mengalami penyakit komplikasi dari batuk rejan seperti pneumonia. Proses pemulihan bisa berlangsung semakin cepat apabila selama mengonsumsi obat batuk rejan, Anda juga melakukan perawatan suportif sebagai cara menyembuhkan batuk seperti ini di rumah:

  • Mengurangi aktivitas berat dan memperbanyak istirahat.
  • Mewaspadai tanda-tanda dehidrasi. Cegahlah dehidrasi dengan mencukupi kebutuhan cairan melalui minum air putih, mengonsumsi makanan berkuah, atau minum jus buah-buahan bervitamin.
  • Sesuaikan porsi makan Anda untuk mencegah muntah setelah batuk. Bila perlu, bagi porsi makan Anda ke dalam beberapa porsi yang lebih kecil tapi sering.
  • Membersihkan udara di dalam ruangan dengan menggunakan humidifier guna membersihkan udara dari partikel kotor pemicu batuk seperti polusi, asap rokok, dan senyawa kimia.
  • Cegah penularan penyakit dengan mencuci tangan secara rutin dan mengenakan masker saat bersama orang lain.

Komplikasi

Komplikasi apa yang mungkin disebabkan batuk rejan?

Batuk rejan juga berpotensi menyebabkan masalah kesehatan lain yang lebih serius atau komplikasi baik pada penderita. Masalah-masalah kesehatan umum yang disebabkan oleh batuk rejan pada orang dewasa meliputi:

  • Kesulitan untuk tidur di malam hari atau insomnia
  • Kesulitan bernapas saat tidur
  • Penurunan berat badan
  • Pneumonia

Anak-anak lebih rentan mengalami komplikasi yang disebabkan oleh pertusis. Batuk yang terus-menerus berlangsung dalam beberapa menit dapat menyebabkan penurunan kerja pada paru-paru. Anak mengalami napas yang berhenti sementara (apnea) dan dalam kondisi yang lebih parah. Jika terus berlangsung, otak bisa mengalami hipoksia, yaitu kekurangan pasokan oksigen.  Sekitar setengah dari jumlah bayi berusia kurang 1 tahun yang terinfeksi batuk pertusis harus menjalani perawatan rumah sakit akibat komplikasi pernapasan serius seperti pneumonia atau gangguan fungsi otak ini. Selain itu, sebuah penelitian dari University Aarhus N Denmark juga  mengungkap bahwa bayi yang terserang batuk rejan berisiko lebih tinggi untuk mengalami epilepsi pada masa kanak-kanaknya nanti. Komplikasi yang paling fatal adalah batuk rejan berkepanjangan dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah sehingga terjadi pendarahan di dalam otak. 

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah batuk rejan?

Anak-anak adalah kelompok usia yang paling rentan terjangkit batuk rejan dan lebih berisiko mengalami komplikasi. Itu sebabnya, mereka perlu mendapatkan imunisasi untuk mencegah batuk rejan. Vaksin untuk batuk rejan bisa diperoleh pada program imunisasi dasar untuk difteri, pertusis, dan tetanus (DPT) atau vaksin pentavalen yang juga membangun kekebalan untuk penyakit hepatitis, pneumonia, dan meningitis yakni vaksin DPT-HB-Hib. Berdasarkan Kementrian Kesehatan RI, imunisasi rutin untuk difteri pada anak biasanya diberikan dalam 3 dosis, yaitu ketika bayi berusia 2, 3 dan 4 bulan. Imunisasi difteri lanjutan dilakukan pada saat anak berusia 18 bulan dan 6-7 tahun.  Penyakit batuk rejan atau pertusis bisa menyebabkan komplikasi berbahaya pada anak-anak apabila tidak segera ditangani melalui pengobatan medis yang tepat. Namun, penyakit ini dicegah dengan melakukan imunisasi untuk memberikan perlindungan dari infeksi bakteri penyebab pertusis sejak dini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Direkomendasikan untuk Anda

penyebab batuk berdahak dan batuk kering

Mengulik Berbagai Penyakit Penyebab Batuk dan Faktor Risikonya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 3 Desember 2018 . Waktu baca 7 menit
batuk pada anak

Batuk pada Anak: Penyebab, Jenis dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 29 Maret 2018 . Waktu baca 8 menit
suntik tetanus

Apakah Orang Dewasa Masih Perlu Suntik Tetanus?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 4 September 2017 . Waktu baca 5 menit
anak diimunisasi

Apa Bedanya Imunisasi Dt dan Imunisasi Td? Kapan Anak Perlu Vaksin Ini?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 6 Juli 2017 . Waktu baca 3 menit