backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Diagnosis Asma, Tes Apa Saja yang Perlu Dilakukan?

Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa · General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 24/08/2023

Diagnosis Asma, Tes Apa Saja yang Perlu Dilakukan?

Sesak napas, mengi, dan batuk-batuk bisa menandakan bahwa Anda mengidap asma. Namun, untuk memastikan diagnosis asma, tentu saja Anda perlu melakukan pemeriksaan dengan dokter.

Dengan mengetahui diagnosis asma secara pasti, Anda bisa mendapatkan perawatan yang tepat sehingga tidak lagi kesulitan untuk bernapas.

Berbagai tes kesehatan untuk diagnosis asma

Meski memiliki gejala yang cukup jelas, bukan berarti asma tidak perlu didiagnosis oleh dokter.

Justru dengan diagnosis melalui pemeriksaan kesehatan, Anda bisa mengetahui penyebab asma secara pasti dan sejauh mana penyakit ini mengganggu kesehatan Anda.

Berikut adalah beberapa pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan untuk memastikan keberadaan asma di dalam tubuh Anda.

1. Pemeriksaan fisik untuk asma

Diagnosis asma

Saat konsultasi pertama, dokter biasanya akan bertanya tentang riwayat kesehatan pasien, termasuk gejala yang dialami, seberapa sering gejala muncul, dan apakah terdapat riwayat asma di dalam keluarga.

Beberapa gejala yang kerap dokter tanyakan adalah sesak napas, mengi (napas berbunyi), dan batuk.

Penting juga untuk mengingat apakah gejala tersebut lebih sering terjadi pada malam hari, saat berolahraga, ketika merokok, atau tidak bisa diprediksi.

Setelah mengajukan pertanyaan, dokter akan memeriksa kecepatan pernapasan, detak jantung, dan kondisi paru-paru Anda menggunakan stetoskop.

Dokter mungkin juga melakukan pemeriksaan saluran pernapasan atas, seperti hidung dan tenggorokan.

2. Tes peak flow meter (PFM)

Pemeriksaan selanjutnya yang dilakukan dalam proses diagnosis asma adalah tes peak flow meter (PFM).

Fungsi tes ini kurang-lebih sama dengan spirometri. Namun, PFM umumnya dilakukan berkali-kali dalam beberapa minggu dengan tujuan memantau fungsi paru-paru dari waktu ke waktu.

Laman National Health Service menyebutkan bahwa PFM akan menunjukkan seberapa cepat Anda bisa bernapas.

Semakin rendah nilai PFM, semakin besar pula kemungkinan Anda mengidap masalah pada saluran pernapasan.

Karena dilakukan secara berulang, PFM juga bisa digunakan untuk melihat apakah asma yang Anda alami semakin buruk atau tidak.

Tahukah Anda?

Selain asma, tes peak flow meter merupakan salah satu pemeriksaan yang disarankan untuk pengidap penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

3. Tes spirometri

Pemeriksaan dengan alat bernama spirometer ini berfungsi untuk mengukur fungsi paru-paru, tepatnya seberapa cepat dan banyak udara bisa dikeluarkan.

Selama tes spirometri, Anda akan diminta mengambil napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan kuat melalui tabung (mouthpiece) yang sudah terpasang pada spirometer.

Hasil pengukuran tes spirometri dapat membantu dokter mengetahui seberapa baik paru-paru Anda bekerja.

Jika nilai tes spirometri berada di bawah batas normal, dokter mungkin melakukan pemeriksaan kembali, tetapi dengan memberikan obat bronkodilator terlebih dahulu.

Nantinya, dokter akan melihat apakah obat bronkodilator memang membuka saluran pernapasan Anda. Ketika obat bronkodilator bekerja, ini bisa menandakan bahwa Anda mengidap asma.

4. Uji oksida nitrat (FeNO)

Oksida nitrat (FeNO) merupakan salah satu gas yang diproduksi paru-paru. Nilai FeNO akan meningkat setiap kali terjadi peradangan paru-paru yang merupakan salah satu gejala asma.

Cara diagnosis asma dengan uji oksida nitrat hampir sama dengan spirometri. Hanya saja, Anda harus membuang napas secara perlahan sampai terdengar bunyi bip atau lampu menyala pada alat yang digunakan.

Banyaknya oksida nitrat pada napas yang Anda embuskan akan langsung terhitung dan muncul pada layar alat ukur.

Meski hanya dilakukan kurang-lebih selama 10 menit, hasil uji oksida nitrat dapat memberikan hasil yang cukup akurat.

5. Challenge test

Jika pemeriksaan dengan berbagai tes di atas tidak memberikan hasil diagnosis yang pasti, dokter mungkin melakukan pengujian lanjutan.

Saat melakukan pengujian lanjutan, dokter akan membiarkan pasien menghirup aerosol dengan kandungan methacholine (zat yang bisa mempersempit saluran pernapasan) untuk memicu gejala asma. 

Setelah itu, Anda akan diminta melakukan beberapa aktivitas fisik untuk melihat apakah ada gejala asma yang muncul.

Terlepas dari muncul atau tidaknya gejala asma, Anda akan diminta untuk kembali menjalani cek spirometri. Jika hasilnya di bawah normal, artinya Anda memang mengidap asma.

Pemeriksaan penunjang untuk diagnosis asma

Plasma darah

Jika diperlukan, dokter mungkin meminta Anda menjalani pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis asma. Berikut adalah beberapa jenis pemeriksaan penunjang untuk asma.

1. Tes darah dan dahak

Tes darah dan tes dahak dapat mendeteksi peradangan atau infeksi pada saluran pernapasan.

Peradangan merupakan salah satu gejala asma. Dengan demikian, tes ini bisa memastikan hasil diagnosis asma.

2. Tes alergi

Gejala asma bisa menyerupai rinitis alergi atau reaksi alergi yang menyebabkan gangguan pernapasan.

Untuk itu, dalam beberapa kasus, dokter mungkin melakukan tes alergi untuk memastikan apakah pasiennya mengidap asma atau sebatas rinitis alergi.

3. Rontgen dada

Pemeriksaan dengan sinar X atau rontgen dada sebenarnya bukanlah prosedur wajib dalam penegakan diagnosis asma.

Namun, dokter mungkin menyarankan rontgen dada untuk memastikan bahwa tidak ada kondisi lain yang menyebabkan permasalahan pada pernapasan Anda, seperti sinusitis.

Prosedur diagnosis asma memang tidak akan membuat penyakit ini menghilang secara total, sebab bagaimanapun asma bukanlah penyakit yang bisa disembuhkan.

Meski begitu, hasil diagnosis akan membantu dokter menentukan perawatan yang tepat supaya asma tidak mudah kambuh.

Setiap pasien bisa mendapatkan obat asma yang berbeda. Selalu ikuti saran perawatan dari dokter Anda.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 24/08/2023

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan